Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Siapa Dia?


__ADS_3

Saat pagi menjelang, kuingin melihatmu di satu ranjang.


Namun sayang, ternyata Tuhan belum mengizinkan.


Berapa lama lagi aku harus berjuang?


Tuhan, komohon kabulkan yang selalu kupanjatkan


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Good job ndra," puji Sherly.


"Anda yakin nona? Apa tidak ada kesalahan sama sekali? Padahal itu hasil revisi."


Sherly menghentikan aksinya. Wanita itu menatap tajam bawahannya.


"Maksud kamu apa ndra?"


Sorot mata Andra menatap tajam ke arah ruangan Sherly. Dia melihat sosok laki-laki di sana. Sedetik kemudian laki-laki itu melesat pergi saat tanpa sengaja mata Andra bertabrakan dengannya.


"Shit," umpat laki-laki di ruangan Sherly.


"Siapa dia?"


"Apa maksudmu?"


Melihat Andra mengawasi ruangannya, Sherly segera mengikuti. Tidak ada apa-apa di sana. Bahkan posisi semua benda masih pada posisinya. Sherly menatap ke arah Andra dan ruangannya bergantian.


"Maafkan saya karena berani melirik ruangan anda nona," sesal Andra.


"Tidak papa ndra. Memang apa yang kamu lihat?"


Sherly penasaran. Tadi dia merasa aneh dengan ruangannya. Ternyata bawahannya juga sama.


"Gimana kalau ada hantu di ruanganku? YaTuhan, aku nggak mau itu ," batin Sherly.


Wanita itu meringis. Membuat Andra mengerutkan dahi.


"Kenapa dia?"


"Bolehkan saya bertanya sesuatu?"


"Apa ndra."


"Apa ada orang di ruangan anda? Saya rasa ada yang tidak beres di sini.'


" Tadi sih nggak ada siapa-siapa ndra, tapi aku juga ngrasa ada yang beda. Cuma aku nggak tau itu apa," jelas Sherly.


"Aku melihat ada laki-laki di sana nona, tapi entahlah. Mungkin saya salah lihat."


Sherly melirik ke ruangannya. Kalau ada laki-laki di sana berarti dialah pembuat kekacauan hari ini. Sherly bangkit dan berlari ke sana. Sebatas mata memandang memang tidak ada siapa-siapa, tapi Sherly yakin ada seseorang di sana.


"Klotak" kalender meja jatuh karena Sherly tanpa sengaja menyentuh.


Aroma parfum familiar memenuhi indra penciuman. Sherly menghirup dalam seraya memejamkan mata.


"Aroma ini?" gumam Sherly.


"Tapi dimana dia?" imbuhnya.


Sedetik kemudian wanita itu membuka mata. Wanita itu yakin dia masih ada di sana. Sherly menuju privat roomnya. Ranjangnya penuh dengan lembaran kertas. Sherly membulatkan mata. Baru kali ini ada teror di kantornya.

__ADS_1


Tanpa membaca, Sherly memunguti lalu menyimpan ke dalam laci. Wanita itu segera keluar menuju ruangan Dave. Dia menemui Andra yang masih setia di sana.


Raut wajah Andra terlihat cemas. Dia bukan khawatir karena ada sosok lain di sana, tapi takut jika atasannya mendua. Bagaimanapun Dave adalah teman baiknya.


"Bagaimana nona?"


"Jujur ya ndra. Pas aku ke sana ada aroma laki-laki, tapi aku nggak lihat kemana perginya. Aku masuk ke kamar pribadi, tapi tetep nggak ada orang. Makanya aku ke sini lagi. Gimana kalau tadi teror ndra? Serius aku takut. Mana Dave nggak tau kemana."


"Iya juga sih. Yaudah nona tutup semua pintu. Sekarang apa nona mau bahas laporan di ruangan saya aja?"


Andra menawarkan diri, Sherly tentu menyetujui. Dia tidak ingin lama-lama karena tidak ada kekasihnya. Sherly keluar dari ruangan Dave, diikuti Andra yang berada di belakangnya.


Keduanya berjalan beriringan. Siapapun yang berada di sana iri melihat Sherly yang pantas menggandeng siapa saja. Jangan lupakan, selalu ada mata yang membenci walaupun Sherly selalu menjadi diri sendiri. Dia bahkan hanya berjalan di dekat Andra bukan berpaling dari Dave-nya.


"Ndra, Dave dimana?"


"Klek" Andra membuka pintu ruangannya.


"Silahkan masuk nona. Ini merupakan suatu kehormatan anda rela berkunjung ke sini."


"Terima kasih."


Sherly duduk di sofa kecil yang ada di depan meja kerja Andra. Wanita itu kembali meneliti laporan secara rinci. Apa yang dipikirkan CEO Angel sama dengan apa yang dipikirkan Kepala Divisi Keuangan.


Andra membuka file laporan yang menurutnya janggal. Lalu mencetak ulang dan memberikan kepada Sherly. Andra menunjukkan adanya perbedaan walau sebenarnya Andra sendiri tidak yakin dengan pencapaiannya saat ini.


"Dalam laporan ini saya merasa ada yang tidak logis nona. Bisa anda lihat sendiri bagaimana nominal di sini berubah signifikan menjadi nominal yang ini," jelas Andra seraya menunjuk angka yang menurutnya salah.


Sherly menangguk paham. Hal rumit seperti ini adalah ahlinya.


"Ndra, kamu lihat Dave nggak?" tukas Sherly.


"Dia... " Andra menggantung kalimatnya.


"Dia kenapa?'


" Dia dari tadi malam berada di apartement saya nona. Dave yang menyelidiki semuanya hingga pukul 03.00 dini hari. Dia baru tidur saat saya dengan sengaja menguncinya di luar balkon. Pagi tadi saya baru memindahkan Dave ke kamar."


Sherly mengerutkan dahi. Wanita itu tidak mengerti dengan cara berpikir Andra.


"Kamu gendong dia sampai kamar?"


"Iya nona."


Sherly membuka bibirnya sedikit. Bola matanya bergerak bebas.


"Kalian?"


Andra membulatkan mata. Dia tau kemana Sherly akan membahas.


"Saya dan Dave normal nona," ucap Andra cepat.


"Syukurlah."


"Hufftt" Andra menghembuskan nafas kesal.


Baru kali ini ada yang menganggapnya suka sesama jenis padahal Andra laki-laki gagah dan tampan. Tubuhnya juga atletis, dan siapa tau miliknya besar.


"Berati Dave nggak berangkat ndra? Tapi kok nggak bilang sama aku."


"Saya tadi sudah mengajukan cuti di bagian HRD nona karena besar kemungkinan Dave tidak akan mencari surat dokter untuk alpanya hari ini. Pihak HRD menyetujui, hanya saja dia tetap menunggu Dave mengklaim cutinya sendiri."

__ADS_1


Sherly mengangguk. Dia bersyukur Dave punya teman sebaik Andra. Kini wanita itu mengamati setiap inchi tubuh Andra yang terbalut helaian kain. Wanita itu menilai seberapa pantas kepemilikannya mendapatkan skor. Matanya menyipit saat tiba di area int*m.


Wanita itu menghentikan penjuriannya. Di depannya ada benda yang mulai menentang. Sherly melihat dengan mata kepalanya. Wajah wanita itu merona tidak kuasa menahan kebodohannya.


"Don't Sherly!"


Dia terkekeh geli. Sementara Andra menahan amarahnya. Laki-laki itu tidak menyangka sama sekali. Atasan yang anggun dan menjaga sikapnya ternyata jelalatan juga.


"Jangan bilang Dave suka karena dia jago main di ranjang. Please Dave, nanti malem kamu harus jelasin semuanya," batin Dave.


Waktu berlalu, hingga tanpa sadar memasuki jam makan siang. Sherly lapar, tapi dia tidak punya makan. Sekedar pesen via go food sih oke, tapi dia nggak mau lagi ke ruangannya tanpa Dave. Wanita itu melirik ke arah Andra. Tentu saja Andra tersenyum dibuatnya.


"Ada yang bisa saya bantu nona?"


"Ndra, aku nggak mau makan di ruanganku. Aku takut orang itu datang lagi."


"Jika berkenan, saya akan membawa makanan ke ruangan ini saja. Untuk nona, apapun akan saya lakukan. Nona Sherly baik hati, tidak seperti wanita lain yang selalu menggoda saya."


Sherly dan Andra tertawa. Mereka seolah lupa apa statusnya. Jujur saja Sherly tidak nyaman dihormati seperti ini, tapi Andra lebih tidak enak hati untuk memanggil nonanya tanpa embel-embel depannya.


"Kalau saja Dave menyakitimu, aku bersedia menjadi yang kedua untukmu."


Pekerjaan sudah selesai, tapi Sherly berniat menuntaskan seluruh pekerjaan di ruangan Andra. Dia akan memastikan tidak ada kekeliruan di divisinya.


Jam makan siang tiba dan Andra menepati ucapannya. Laki-laki itu membawakan makanan untuk atasannya. Sherly pun bahagia. Dia tidak menyangka masih ada manusia yang tulus baik hati kepadanya.


"Ndra, makasih ya."


"Sama-sama nona."


Setelah makan siang, Sherly menempati ruangan Andra hingga sore hari. Laki-laki itu tidak keberatan seperti saat atasan berkunjung di kawasannya. Dia justru bahagia bisa melihat wajah cantik pemilik perusahaannya. Ya meskipun statusnya adalah kekasih temannya.


"Ayo ndra pulang. Kamu nggak lembur kan?" ajak Serly.


"Tidak nona. Baik saya akan membereskan meja kerja dulu."


"Yaudah.Aku duluan ya. Kamu nanti pulangnya hati-hati di jalan."


"Siap nona."


Sherly meninggalkan Andra. Wanita itu berjalan menuju parkiran lalu melajukan mobilnya pelan. Gedung pencakar langit yang menjadi sejarah hidup mulai ditinggalkan.


Tiba di bassement apartement, Sherly segera memarkirkan mobil lalu menuju lift. Benda itu terbuka lalu tertutup kembali hingga tiba di lorong tempat unit Sherly berada.


Pintu terbuka saat Sherly selesai memasukkan kode akses. Matanya membulat sempurna saat melihat ada laki-laki yang membelakanginya. Sherly berlari, dia berhambur memeluk dari belakang.


"Udah pulang sher?"


Sherly mengangguk. Dia tidak berniat melepas pelukannya. Tepat saat itu juga, Dave yang hendak memasukkan kode akses menganga. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Di depan mata dia melihat Sherly memeluk pria. Tanpa sadar sekotak coklat yang dibawanya lepas dari genggaman.


"Bruk"


Sherly yang mendengar ada benda jatuh segera membalikkan badan. Matanya membulat, bibirnya sedikit terbuka.


"Dave?" gumamnya.


"Apakah cinta yang kedua akan sama dengan yang pertama? Kenapa wanita tega membuatku kecewa?"


Jika kamu ragu, maka ambilah titik tengahmu. Jalan pintasmu adalah mencari kebenaran dengan pura-pura memupuk kebodohan. Karena banyak dari mereka yang akan membuka aibnya saat tau kelemahan lawan mainnya

__ADS_1


__ADS_2