
Jangan pernah berubah,
Aku mencintaimu wahai pembuat ulah
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Silver Coorporation digegerkan dengan hal yang menurut mereka tidak wajar. Seperti biasa, Sherly selalu acuh dengan kasak-kusuk para karyawannya. Dia tidak akan mengganggu urusan bergosip mereka selagi semua menjalankan tugasnya dengan benar.
"Eh, kok Tuan Dave yang jalan di depan terus Nona Sherly di belakang? Apa formasi mereka udah berubah?," ucap salah satu karyawan yang berada di depan lobby.
Sherly menghentikan langkah karena sosok di hadapannya mendadak berhenti. Hampir saja Sherly menabrak jika dia tidak memiliki, jarak beberapa jengkal. Dave membalikkan badannya. Melihat CEO Angel yang berada di belakangnya.
"Kenapa?," tanya Dave.
"Kamu yang kenapa?"
"Kok aku?"
"Ngapain berhenti? Jalan masih panjang Dave."
"Oh sorry, i'm forget (Oh maaf, aku lupa)"
Saat Dave hendak berjalan, sebuah genggaman membuatnya urung melakukan. Sherly menggenggam tangan Dave di hadapan karyawannya. Bukan Sherly tidak menjaga image-nya. Justru ini moment terbaik yang akan dilakukan untuk mengubah pandangan mereka.
"Ada apa nona?"
"Tidaklah kamu merasa ada yang janggal?"
"Oh Lord! Maaf nona, saya lupa. Anda yang harusnya berjalan di depan bukan saya," sesal Dave seraya menundukkan kepala.
"Good," puji Sherly.
Kini formasi mereka telah benar. Sherly berjalan di depan sebagai pimpinan, sedangkan Dave mengikuti di belakang sebagai tangan kanan. Karyawan wanita kembali berbisik. Kali ini bukan tentang Sherly yang menggenggam jemari asistennya, tapi tentang tanda merah yang ada di leher Dave.
"Lihat! Leher Tuan Dave merah, apa dia baru saja digigit semut? Tapi kenapa itu membuat Tuan Dave semakin imut?"
"Hei! Sadar diri dong. Tuan Dave mana mau sama kita."
"Iya, sama Nona Sherly aja dia nggak tergoda apalagi kaum jelata."
Begitulah obrolan yang dapat Sherly dengarkan.
__ADS_1
"Tuan Dave? Aku nggak salah lihat lehernya kaya bekas gigitan?" gumam karyawan wanita.
Dave mendengar satu lagi karyawan yang membicarakan lehernya. Refleks laki-laki itu mengambil ponsel lalu memeriksa wajahnya di sana. Benar, tanda merah sangat jelas tepat di bawah anugrah lelakinya.
"Shit!" umpat Dave.
"Kamu harus membayar semuanya bee. Membuatku malu di pagi hari mengingatkanku tentang keindahan di malam hari. Oke, next time."
"Ting" lift terbuka, Sherly segera masuk ke dalam benda kotak besi diikuti Dave yang tergesa menyusulnya.
"Ting" lift kembali tertutup.
Kini dua manusia berada di dalam ruang yang sama. Dave mengumpat dalam hati juga sibuk menyusun rencana di benaknya. Sementara Sherly sibuk mengamati pergantian detik di jarum jam pergelangan tangannya.
Suasana hening sangat terasa. Biasanya Dave yang lebih dulu memulai pembicaraan. Namun kali ini laki-laki itu memilih diam.
"Ehem" Dave berdehem membuat Sherly mengernyitkan dahi.
"Kenapa Dave?," tanya Sherly.
Dave tidak menjawab, tapi laki-laki itu berjalan mendekat. Sherly berjalan maju mengikuti irama yang Dave ciptakan. Jarak keduanya sangat dekat. Bahkan Dave mampu merasakan hembusan nafas Sherly yang menyapu lehernya.
Sorot teduh yang biasanya dilihat Sherly sekarang berubah menjadi tatapan membenci. Aura dendam terlihat di sana. Sherly bisa dengan jelas mengamati mata elang yang selama ini hampir tidak pernah terlihat.
"Dave," gumam Sherly pelan.
Seringai licik terbit di bibir Dave memaksa Sherly untuk menjauhkan diri. Wanita itu hendak melangkah, tapi Dave telah lebih dulu mencegah.
Nyali Sherly menciut. Namun bukan Sherly jika menunjukkan kelemahan di depan tangan kanannya. Meskipun Dave telah mengibarkan bendera merah, Sherly tetap menyambutnya dengan ramah.
Senyum miring terbit di bibir Sherly. Kini status mereka imbang. Dave dan Sherly memperoleh skor satu sama. Tanpa aba-aba, Dave mendorong tubuh Sherly ke belakang. Tanpa permisi, Sherly mendekap punggung Dave dengan erat.
"What?," batin Dave.
Ketika kamu menemukan lawan yang tepat, maka saat itu bendera orang mulai berkibar. Musuh yang sama akan melakukan keseimbangan. Tidak seperti mereka yang pasif saat ada sesuatu yang menyerang.
Dave melepas pelukan Sherly, tapi sayang wanita itu terus mengeratkan. Jauh di bawah sana, benda yang diapit kedua paha mulai bergejolak tak terkira.
Milik Dave mulai bangkit dari tidurnya. Sang empu menahan sakit yang dibuat oleh juniornya. Semakin berusaha terlepas, semakin Sherly berusaha keras.
"Sher, please," ucap Dave pasrah.
__ADS_1
Sherly pura-pura tidak mendengar. Dia ingin Dave juga merasakan apa yang dirasakan. Pelan, Sherly mulai mendongakkan kepala. Leher adalah tujuan utama sebelum memilih bibir menjadi yang kedua.
"Cup" kecupan singkat mendarat di leher Dave.
Refleks laki-laki itu membulatkan kedua matanya. Jiwa lelaki miliknya sungguh sedang diuji.
"Hei, diamlah jika kamu masih ingin bangun ketika pagi hari. Dave junior, tolong patuhi tuanmu ini."
"Huuuuffttt" Dave menghembuskan nafas kasar.
Tidak disengaja, tapi justru berakhir di telinga. Sherly merinding ketika sapuan angin singgah di indra pendengarannya. Wanita itu membulatkan bola mata.
Impas, lagi-lagi skor keduanya berada di titik seri. Dave tersenyum lembut. Laki-laki itu mendekat, menyentuh bibir Sherly dengan ibu jarinya.
Sorot mata kembali teduh. Itulah yang mampu membuat Sherly luluh. Untuk kesekian kali CEO Silver Coorporation mengibarkan bendera putih. Dia mengaku kalah saat berhadapan dengan tatapan sekretarisnya.
"Da-" belum sempat Sherly menyelesaikan kalimatnya, Dave telah lebih dulu menyela.
Laki-laki itu membawa jari telunjuknya untuk menyentuh bibir seksi di depannya. Pikiran liar mulai menjalar. Dave memejamkan mata, aliran darahnya mulai terasa.
"Cup" Sherly memberanikan diri menyatukan bibirnya dengan milik Dave.
Sontak Dave membuka mata. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja menimpanya. Atasan kesayangannya telah membuat sisi agresif Dave muncul.
Tangan kanan Dave menarik tengkuk Sherly. Menyatukan bibir mereka untuk kedua kali. Dave menyadari dia jauh lebih berani daripada Sherly. Namun untuk melakukannya di tempat seperti ini, dia tidak mengira Sherly terus memancingnya.
"Ting" pintu lift terbuka.
Sherly menjauhkan kepala lalu berjalan santai melewati lorong di lantai khusus petinggi perusahaan. Senyum kemenangan tergambar jelas di bibir Sherly.
Berbeda dengan Dave yang terus mengutuk Sherly. Laki-laki itu terus memberikan sumpah serapah atas apa yang Sherly lakukan. Wanita itu dengan sengaja selalu bermain manja. Selalu memulai, tapi berakhir sebelum semuanya selesai.
"Kamu tau, sakitnya menahan sesuatu terlarang sama sakitnya dengan melihatmu bermain di dalam sarang," gumam Dave.
"Tapp tapp tapp" suara high hells yang beradu dengan keramik menciptakan alunan merdu.
Beberapa langkah lagi Sherly akan tiba di pintu ruangan Dave. Ruangan milik sekretarisnya itu harus dilewati karena ruangan Khusus Sherly berada di dalam ruangan Dave.
"Klek" Sherly membuka pintu.
Wanita itu mengerutkan dahi. Dia tidak mengenal sosok wanita di sana.
__ADS_1