
Jika dia menyayangimu, maka dia tidak akan meninggalkanmu
Yakinlah, kadang kala cinta menjadi dasar atas kelemahan seseorang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terlelap dalam keadaan gelisah membuat Sherly semakin resah. Berkali-kali mencari posisi nyaman, tapi tetap tidak bisa didapatkam.
"Huuuufftttt" Sherly menghembuskan nafas berat.
Wanita itu sungguh gusar. Dia mengacak rambutnya kasar. Dia terbangun karena ada sesuatu yang mengganjal. Tidur saja tidak mampi membuatnya lupa.
Jam di atas nakas menunjukkan pukul 03.00 WIB. Dini hari di sepertiga malam. Sherly mencoba kembali terpejam. Namun masih gagal. Wanita itu akhirnya bangun dari tidurnya. Melangkah pelan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
"Wuushhh" Sherly membasuh wajahnya dengan air berharap semya kenyataan buruk segera berakhir.
"Nggak mungkin Silver Coorporation mengalami kerugian," gumamnya.
Wanita itu mengambil handuk untuk mengeringkan sisa air yang ada. Tidak lupa dia memberanikan diri untuk bercermin. Wajah cantik itu berubah menjadi sedikit jelek.
Kantung mata mulai terlihat. Kelopak matanya berwarna merah muda. Terlihat seperti balon udara yang siap diterbangkan. Wajahnya juga kusut. Sherly meringis. Hidupnya terasa miris.
Dia kembali ke kamarnya. Kali ini menghampiri meja rias. Duduk di kursi miliknya lalu mengambil ponsel yang berada di dekat tatanan make up.
Tangannya dengan lincah mencari nama di icon kontak. Tidak menunggu lama, dia berhasil menemukan. Panggilan terhubung, lalu terangkat.
"Hallo," sapa suara bariton di seberang.
"Hei ini tengah malam, kenapa langsung diangkat? Jangan bilang kamu lagi selesai main," ucap Sherly seraya mengerucutkan bibir.
Laki-laki di seberang tampak mendesah. Sherly selalu saja menganggap dia seperti itu.
"Bukankah itu kebiasaanmu?"
"Hei, pelankan suaramu nona. Jangan berisik. Nanti tetangga ada yang denger."
Dahi Sherly berkerut. Dia saja tidak tau laki-laki yang ada di telepon itu berada dimana.
"Kamu dimana?" tanya Sherly.
"Kenapa menghubungiku hm? Apa hal buruk terjadi kepadamu?"
Garis lengkung terlihat di bibir Sherly. Wanita itu tersenyum. Laki-laki di seberang selalu tau tujuannya.
__ADS_1
"Apa aku mudah ditebak?"
"Kamu bahkan hanya menghubungiku saat keadaanmu buruk. Sekarang katakan apa yang harus ku lakukan sayang."
Wanita itu membulatkan mata. Apa seseorang di sana sedang bercanda. Dia memanggilnya sayang? Tuhan, Sherly merasa menjadi wanita yabg selalu dipermainkan.
"Berhenti memanggilku sayang. Aku bukan kekasihmu," rengek Sherly.
"Wah, sifat manjamu muncul lagi ya? Kirainudah dewasa nggak bakal manja lagi."
Di dalam kamarnya, Sherly mengedipkan kedua mata. Wanita itu tertawa mengamati wajah imutnya. Dia mirip seperti topi kelinci yang akan berkedip dan menyala saat kupingnya di tarik.
..."Duh, imut banget sih," batin Sherly....
"Sherly, katakan sayang apa yang harus kulakukan? Kenapa malah diem sih?"
"Maaf aku lupa," sesal Sherly.
Sedetik kemudian wanita itu tergelak. Bagaimana bisa hanya menghubungi laki-laki itu bisa membuat moodnya berubah seketika.
"Aku kangen," ucap Sherly lirih.
"Eh," imbuhnya.
"Nggak, bukan gitu."
"Serius?"
"Iya."
Hening. Kalimat lakna* itu muncul begitu saja membuat wajah Sherly merona seketika. Dia mengutuk kebodohannya. Sementara laki-laki yang berada di tempatnya telah tertawa bahagia.
Keberuntungan entah yang keberapa. Sherly menghubunginya saja dia sudah bahagia. Apalagi mengucapkan rindu kepadanya.
"Sher, aku juga kangen kamu. Dari tadi aku cuma bisa bayangin kamu. Nggak tau kenapa, aku ngerasa kamu lagi butuh aku dan ternyata benar dugaanku."
"Stop! Hentikan ocehanmu. Aku membencimu."
"Nutt nutt nutt" Sherly memutuskan panggilan secara sepihak.
Tidak dipungkiri ada bahagia dalam relung hatinya. Laki-laki yang baru saja dihubungi selalu bisa membuat mood Sherly kembali baik. Setelah obrolan panjang mereka, kini wanita itu merasa lega.
Sherly berjalan pelan menuju ke pembaringan. Wanita itu merangkak naik ke atas ranjang. Dia menarik selimut tebal hingga sebatas leher.
__ADS_1
Tak berselang lama suara dengkuran mulai terdengar. Sherly akhirnya bisa bernafas dengan lega. Dia tidak lagi peduli dengan perusahaannya. Wanita itu percaya esok hari akan terbangun dengan sejuta ide yang tak terduga.
Di tempat lain, Dave semalam menginap di apartement Andra. Dua laki-laki itu tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Andra dari divisi keuangan terus melakukan pemantauan.
Bagaimanapun adanya kejanggalan pasri berhubungan dengan divisinya. Di sana semua laporan keluar masuk perusahaan dikendalikan oleh Andra. Dia adalah kepala divisi. Anak buahnya bekerja di bawah tanggung jawabnya langsung.
Sedangkan siang sampai sore hari perusahaan milik Sherly masih bisa dikatakan baik-baik saja. Namun malam saat Andra mendadak pulang, ternyata dia lebih dulu mengetahui adanya guncangan dari pihak lain.
Andra bukan pulang karena tidak mau menjadi obat nyamuk untuk Dave, Brian, dan juga Sherly. Namunlaki-laki itu mengulas kembali laporan kerjanya selama ini.
Dia memastikan divisinya tidak melakukan kesalahan. Sedikit saja team-nya terlibat dalam kelicikan, Andra adalah orang pertama yang berkewajiban menanggung semuanya.
Bukan tentang aturan perusahaan yang tidak patut, tapi semua berkas yang lolos ke meja tangan kanan CEO adalah berkas yang dianggapnya benar. Lalu saat berkas itu sampai ke meja CEO, berarti sudah lolos kurasi dari sekretaris dan tangan kanannya.
Malam tadi Andra terus berkutat dengan banyaknya tabel dan kolom yang mencantumkan deretan angka. Dia harus memastikan pengeluaran perusahaan tidak ada yang dikorupsi.
Saat Andra menyerah karena tidak menemukan kesalahan, baru laki-laki itu menghubungi Dave sekretaris sekaligus tangan kanan pemilik Silver Coorporation.
Dave begitu panik saat mendengar penuturan Andra. Namun dia masih bisa tertawa karena Dave yakin mudah mengatasi masalah ini. Tapi ternyata tidak seperti dugaannya.
Hingga kini Dave sama sekali belum memejamkan mata. Dia turut mengkoreksi laporan milik Andra. Membuka semua folder yang ada di file serta recycle bean-nya.
"Huuufttt" Dave menghembuskan nafas kasar.
Laki-laki itu bahkan telah menghabiskan lima gelas kopi untuk membuka matanya. Andra sebenarnya tidak enak dengan Dave, tapi Dave sendiri yang memaksa Andra untuk beristirahat.
"Aaarrghhhh" teriak Dave putus asa.
Dia mengambil ponselnya, lalu mencari nomor Sherly. Laki-laki itu berharap wanitanya mampu membuat moodnya membaik.
"Tutt tutt tutt" panggilan terputus.
"Tutt tutt tutt" jaringan sibuk.
"Bee, kamu dimana sih? Angkat dong. Kenapa nomornya sibuk terus? Dia nggak mungkin kan telponan tengah malem begini," ucap Dave bermonolog.
Dave menyurai rambutnya ke belakang. Jidatnya terlihat lebih lebar, tapi tidak mengurangi tingkat ketampanannya.
"Prankkk" Dave tidak sengaja menyenggol gelas di dekatnya hingga benda itu terjatuh.
Andra terbangun karena suara nyaring di dekatnya. Laki-laki itu duduk dan mengamati Dave dari ranjangnya. Dave terlihat sangat kacau. Andra miris dengan keadaan Dave. Dia sangat berjuang untuk atasan sekaligus kekasihnya.
Jarum jam di dinding terpaku pada angka sepertiga. Andra turun dari ranjang dan duduk di sebelah Dave. Dia menepuk punggung Dave pelan.
__ADS_1
"Terusin besok aja Dave. Sekarang kamu, tidur. Ini udah pagi," ucap Andra.