
Jika kamu patah semangat, ingatlah aku
Seseorang yang pernah berjuang untukmu
Juga menjadikanmu sebagai penyemangatku
Namun sayang, semua harus berakhir dengan liku
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Seksi, berisi, apalagi kalau tanpa helai," tukas Cellin.
Sherly membulatkan bola mata. Dia mentap Dave tidak percaya. Sempat terbesit di benaknya jika semua laki-laki bersifat sama.
"Apa? Aku belum lihat dalemnya bee. Nggak usah melotot gitu," ucap Dave.
Datang karena penasaran, lalu pulang setelah mendapatkan. Cellin ingin pergi, tapi dia belum mendpatkan Dave. Sekedar bicara saja Dave tidak membiarkannya.
Wajar saja laki-laki yang tulus mencintai selalu menjaga hati. Dia tidak ingin terluka. Meski sebenarnya banyak di luar sana pria pemain wanita.
Dave memeluk Sherly. Dia rindu dengan kekasihnya. Padahal baru beberapa jam mereka tidak berjumpa. Dave ingat tujuan utama ke parkiran.
Dia lalu mengambil laporan. Cellin menatap kesal ke arah dua manusia yang mengabaikan kehadirannya.
"Ehem" Cellin berdehem.
"Brakk" Dave menutup pintu mobil lalu menguncinya dengan remote control agar tidak ada penyusup yang masuk.
Laki-laki itu mengusap kaca di bagian kemudi. Lalu berkata pelan dengan benda itu.
"Kalau ada penyusup, jangan lupa teriak."
Dave menggandeng Sherly lalu melangkah pergi. Tidak lupa laki-laki itu membawa berkas di tangan kirinya.
Sedangkan Cellin membulatkan mata. Dia kesal dengan mantan kekasihnya. Hidupnya terlihat bahagia, tidak seperti dirinya yang merana.
"Daaaveeee!!!" teriak Cellin.
Sherly hendak melihat ke arah suara, tapi Dave menahannya. Dia tidak mau Sherly berurusan dengan wanita licik seperti Cellin.
"Bee, dia manggil kamu," ucap Sherly.
"Biarin, yang penting aku cuma mau sama kamu," balas Dave.
Sherly tersipu. Wanita itu menunduk. Dia menyembunyikan rona merahnya. Sedangkan Dave, dia tertawa saat menyadari ada tomat di wajah Sherly.
Tangan kanan Dave berada di pinggang Sherly. Dia terus mengeratkan pelukan seolah menunjukkan pada dunia bahwa Sherly adalah miliknya.
Setelah dua sejoli tidak terlihat lagi, Cellin berangsur pergi. Wanita itu merasa aktingnya sia-sia. Sedangkan sosok laki-laki yang sedari tadi bersembunyi mulai berjalan menuju apartementnya.
Di satu sisi dia ingin melihat Sherly bahagia, tapi harus dengannya. Namun di sisi lain, dia harus bisa merelakan Sherly tertawa karena yang lain.
Betapa hidup membuatnya bertanya. Apakah alam sedang menguji kesabarannya?
"Lalu kau anggap aku apa sher?"
Kali ini Dave yang memasukkan sandi apartement Sherly. Tangan kanannya susah payah untuk menyentuh deretan angka, tapi Dave tetap berusaha. Dia hanya ingin Sherly merasa istimewa.
Mereka masuk, lalu Dave menutup pintunya kemblai. Kali ini tidak penuh drama seperti tadi. Sherly bahkan lupa jika beberapa saat lalu dia terisak pilu.
Dave mendaratkan pantatnya di sofa ruang tamu. Begitu juga Sherly. Wanita itu melakukan hal yang sama. Dave meletakkan map berisi lembaran kertas ke atas meja.
Sherly berada di jarak dekat dengannya. Mereka menatap objek yang sama yakni satu bingkai photo yang baru saja Dave lihat. Sherly mengerutkan dahi.
Seingatnya dia tidak pernah menyimpan kenangan itu di sana, tapi kenapa tiba-tiba ada.
"Kenapa ad dia?"
"Dia siapa?"
"Laki-laki tadi. Kenapa kamu memeluknya?"
Sherly diam. Wanita itu berusaha mencari jawaban untuk pertanyaan yang menurutnya runyam. Dave turut mendukung situasi agar lebih mencekam.
Menatap Sherly seolah ingin menelanjangi. Sherly tau, maka wanita itu segera berlalu. Dia pergi menuju dapur untuk mengambil camilan dan juga minuman.
"Sayangnya kamu terlalu lihai membuatku terabai," gumam Dave sepeninggal Sherly.
"Saat sepi kembali hadir, bayang lalu mulai terukir. Aku pernah mencintai, tapi berkahir disakiti. Lalu aku memilih melupakan, namun sayang kamu justru mengingatkan."
Sherly berjalan mendekat. Dia mengambil pigura berbentuk kotak yang membuatnya gusar. Itu adalah photo lama. Bahkan Sherly lupa kapan terakhir mengambilnya.
Dave menatap lurus ke arah Sherly. Laki-laki itu menuntut penjelasan di detik ini. Sherly telah menyembunyikan banyak hal.
Tidak, mungkin lebih tepatnya bukan menyembunyikan. Tapi belum menceritakan semuanya. Toh semua sama-sama membuat Dave berpikir buruk tentangnya. Sherly melangkah ke arah Dave.
Dia menghampiri kekasihnya lalu memberikan benda itu kepada Dave-nya. Jujur, Sherly tidak enak hati kepada Dave. Dia laki-laki yang selalu ada. Apa mungkin Sherly tega mengkhianati?
Tangan kanan milik Dave terulur untuk menggapai benda yang ada pada Sherly. Dave menerima lalu menggenggamnya tanpa sadar. Dia benci hal yang tidak diketahui.
Pikiran buruk mulai berkecamuk. Dave ingat hubungan Sherly dan Brian. Sempat berpikir apakah Brian meninggalkan setelah Sherly melakukan kesalahan?
__ADS_1
Saat ini otaknya buntu. Semalam dia berpikir untuk masa depan, tapi sekarang Sherly menghancurkan kepercayaan. Dave tidak tau siapa yang harus digugu. Laki-laki itu ragu.
Jika benar cinta membuat orang pintar menjadi bodo*, maka katakanlah jika sekarang Dave berada di posisi terlarang. Untuk mendua, tentu itu pantangan. Tapi terus bertahan, entah Dave merasa moodnya berantakan.
Tanpa diminta, Sherly membuka sedikit bibirnya. Wanita itu akan menjelaskan apa yang terus mengganjal.
"Sher, aku bawa laporan. Kita bahas sekarang ya," tukas Dave.
Indra pendengarannya terasa asing. Tidak biasanya Dave memanggil namanya. Laki-laki itu lebih sering menggunakan kata sayang.
"Ta-"
Dave menatap tajam ke arah Sherly membuat wanita itu refleks menghentikan kalimatnya. Tidak dipungkiri, ternyata sorot benci Dave sangat mudah dipahami. Sherly melihat pendaman rasa benci dan sakit hati.
Wajahnya memerah, auranya terpecah. Tapi Dave masih berusaha untuk mengalah. Dia hanya ingin jauh dari kata resah. Bukan terus berpikir dan membuatnya gelisah.
"Dave aku bisa menjelaskan," ucap Sherly lirih.
"Maaf nona. Bisakah kita memulai pembahasan yang lebih penting dulu? Saya rasa perusahaan anda lebih layak dibanggakan daripada saya yang hanya seorang bawahan," ucap Dave masih dengan menatap ke arah Sherly.
Wanita itu merasa hatinya terluka. Hari ini Dave berbeda. Dia tidak seperti biasanya. Apalagi Dave membahas statusnya di kantor.
"Dave," panggil Sherly.
Wanita itu masih berusaha mencari cara. Dia harus bisa bicara dengan Dave tanpa ada kendala.
"Srek srek srek" Dave membuka lembaran demi lembaran.
Dia mengabaikan atasan sekaligus wanita yang menjadi prioritas dalam kehidupannya. Dave membuang jauh rasa murka yang mendadak ada. Sherly tidak berani melanjutkan. Di sini beda status dengan yang biasa dimaksudkan.
Dave bersikeras agar Sherly melihat perbedaan nominal yang ada. Angka yang tertera telah berbeda. Siang tadi Andra mengirim file kepada Dave lewat email.
Setelah Sherly mengatakan kepada Andra bahwa laporannya baik-baik saja, Andra segera mengecek. Dan benar saja semua telah rapi beda dengan sedia kala. Seolah seseorang telah membenarkan dalam diam.
Dave ingat, Sherly tidak mungkin mengerjakan sendiri. Wanita itu terbiasa bersanding dengan tangan kanannya. Tidak, bukan maksud Sherly tidak bisa sendiri. Namun Dave sering melihat dengan pasti bahwa atasannya akan bersikap biasa saja sebelum Dave datang dan memberi semangat untuknya.
Ekor mata diarahkan untuk seseorang yang ada di seberang. Dave diam-diam mencuri pandang. Sherly membuang muka. Wanita itu kepergok tengah mengamati Dave dalam kebisuan.
Dave segera melengos. Laki-laki itu turut melakukan hal yang sama. Bersama, tapi membuat Dave merasa jauh dari kekasihnya. Laki-laki itu menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal. Dia rindu, tapi juha cemburu.
Rasa itu ada tanpa menyapa. Bahkan muncul begitu saja. Dave menderita. Bagaimana mungkin akan bertahan jika yang dibutuhkan adalah pelukan.
Dia gila, mungkin hampir mencapai tingkat dewa. Pernah mencinta lalu kecewa membuat harga diri Dave turun seketika. Dia tidak sanggup lagi menahan gejolaknya.
"Bee," panggil Dave.
Sherly siap untuk meningkatkan harga jual. Dia meninggikan keegoisan, membiarkan gengsi menjadi saksi akan apa yang terjadi.
"Sayang," rengek Dave.
Sherly berusaha menulikan pendengaran. Sebenarnya suara bariton milik kekasihnya sangat menggoda, tapi dia harus berusaha untuk menjaga image-nya.
"Cup" Dave mendaratkan ciuman singkat di bibir Sherly.
"Daaaveee!" pekik Sherly.
Wanita itu membulatkan mata sebagai respon terkejut dengan adegan tanpa persiapan.
"Apa? Kurang? Mau lagi hm?" desak Dave.
Sherly mencebikkan bibir. Dia terjebak sedangkan Dave menang telak. Jantungnya berpacu lebih cepat membuat aliran darah berdesir semakin hebat.
Nafasnya terasa berat. Sherly merasa asupan oksigennya tercekat. Wanita itu memejamkan mata. Dia menikmati adegan yang dilakukan tanpa persiapan.
Melihat Sherly tanpa reaksi, Dave mengulurkan kedua tangan untuk memeluk Sherly dari belakang. Wanita itu tidak bisa menolak pesona Dave, tapi dia harus menjaga agar rasa percaya diri Dave tidak melambung tinggi.
"Aku merindukanmu," bisik Dave.
Sherly kesal, tadi saja Dave membencinya sekarang dia berkata merindukan wanitanya. Sherly memegang kedua tangan Dave, bermaksud mengalihkan dari sana.
Namun sayang, Dave lebih dulu membuat Sherly tidak bisa berlari. Laki-laki itu telah menguasai hampir seluruh energi yang dimiliki Sherly.
Tangan kanannya mengusap lembut perut Sherly. Sementara kepalanya bertumpu di pundak Sherly. Dia ingin menikmati saat penuh cinta seperti yang sedang mereka lakukan.
"Apa suatu saat akan tumbuh janin di sini?"
Dave berkata pelan. Dia tidak mau Sherly salah paham. Maksud Dave hanya untuk bertanya, tapi laki-laki itu yakin Sherly pasti memikirkan apa yang tidak sanggup Dave bayangkan.
Wanita selalu membingungkan. Sedikit kalimat yang hanya mampu dipendam, tanpa bisa diutarakan. Dave mulau sibuk dengan pikirannya.
"Di sini bukan tempat literasi, kenapa kamu bertanya seperti ini?" tanya Sherly.
Dave berhenti. Dia kembali ke alam asli. Laki-laki itu terpaksa menunda keberangkatan menuju alam pikiran karena Sherly yang lebih dulu menggagalkan.
Usapan lembut kembali dilakukan. Dave meraba perut yang masih rata. Laki-laki itu berharap suatu saat benihnya akan bersemayam di sana.
"Bee."
"Hm."
"Bagaimana jika aku serius dengan percintaanku? Aku bukan yang terbaik, tapi aku rela berusaha menjadi lebih baik. Aku tau kamu pemilik segala, tapi izinkan aku untuk selalu menjaga meski aku tau kamu mampu mengatasi apa saja."
__ADS_1
"Mengatasi masalah tanpa masalah Dave? Kok kaya pegadaian," canda Sherly.
Dave memutar tubuh wanitanya membuat mereka berada di posisi siap untuk bercum*u. Senyum samar Dave ciptakan agar Sherly tidak pernah melupakan siapa pemiliknya.
Jari telunjuknya mengusap pelan di bibir atas. Disusul dengan ibu jari yang mengusap bagian bawahnya. Dave mengamati tanpa berniat mengakhiri. Sherly merasa geli. Untuk apa Dave berlaku seperti ini?
"Aku serius," ucap Dave.
Tanpa mengubah pusat perhatiannya, Dave menyentuh perut yang rata dengan tangan kirinya.
"Bolehkah aku menanam benih di sini? Aku tidak akan sembarang bercocok tanam."
"Tidak untuk saat ini," potong Sherly.
"Huuffttt" Dave menghembuskan nafas kesal kemudian mengacak rambutnya.
Momen manis gagal untuk dilukis. Dave mengutuk Sherly yang berani mengakhiri. Padahal Dave susah payah memulai.
Sherly memasang wajah tanpa dosa. Wanita itu menatap Dave dengan iba. Tangan kanannya terulur mengusap rambut Dave.
Sentuhan lembut yang selalu membuat Dave hanyut. Laki-laki itu menatap tajam ke arah Sherly seolah memberi peringatan "jangan main-main dengan pejantan"
"Alu tidak bisa menjamin seperti apa. Aku bahkan belum pernah mencoba. Bagaimana jika tidak bisa tumbuh dengan sempurna?"
"Aku yakin kamu bisa."
"Tidak sayang. Aku belum pernah mencoba."
"Bagaimana kalau malam nanti?"
"Pletak" Sherly menjitak Dave.
"Jangan gila! Aku saja masih muda. Hidupku belum tertata. Bagaimana jika kita bersama? Aku malah belum berpikir ke arah sana. Lupakan urusan ranjang. Kita masih harus berjuang," omel Sherly.
Dave terpaksa menarik sudut bibirnya. Laki-laki itu tersenyum, walau sebenarnya moodnya berantakan. Entah apa yang Sherly inginkan, wanita itu telah membuat Dave menderita untuk kesekian kalinya.
"Terserah kamu saja. Aku pusing memikirkannya," ucap Dave dengan nada malas.
Sherly mengerutkan dahi. Dimana tangan kanan yang selalu membuat hatinya terpuaskan? Lalu kenapa sekarang dia berubah mengenaskan?
"Siapa laki-laki tadi?" imbuhnya.
"Ha?"
"Jangan membeo Sherly. Jawab aku!" tegas Dave.
Kali ini Dave yang membahas topik itu lagi. Padahal Sherly dimaki saat akan memulai bercerita sendiri.
Diam, wanita itu sibuk dengan pikirannya. Dia berusaha merangkai kata agar Dave tidak lagi menyudutkannya.
"Kenapa diam?"
"Bukankah tadi kamu memintaku berhenti membahasnya? Kamu justru bersikeras untuk tidak mengusut lebih dalam."
Wajah Dave merona. Laki-laki itu menyadari kesalahannya. Dia membulatkan mata, tidak percaya dengan bibirnya.
"Tadi ak-"
"Cemburu?" tukas Sherly.
Dave menggeleng cepat. Mana mungkin dia rela kehilangan harga diri di depan Sherly.
"Nggak," tolak Dave.
"Yakin?" goda Sherly.
Serapat apapun kamu menyembunyikan, yang namanya bersembunyi pasti akan menjumpai titik landai. Waktu akan mencari tau seperti apa dunia baru.
"Yaudah kalau nggak cemburu aku nggak bakal kasih tau."
Dave mendesah. Dia merasa dipermainkan oleh wanita. Beruntung, wanita yang membuatnya murka adalah kekasihnya. Dave tidak peduli dengan apa yang diucapkan Sherly. Dia semakin asik menyumpahi.
"Aku khilaf," jujur Dave.
Ingin rasanya wanita itu terbahak. Dia pernah melihat Dave dalam mode on cemburu tingkat dewa, namun laki-laki itu berusaha menutupinya.
Sekarang apa dia sedang melupakan? Seorang Dave Anggara berterus terang mengatakan perasaan.
"Siapa dia? Mantan? Atau selingkuhan?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Dia Bernard Pradipta."
Dave mengerutkan dahi.
"Siapa lagi dia?" batin Dave.
~Dengan lancang aku bertahan,
__ADS_1
Saat kamu menguatkan kebohongan. Bisakah aku menjadi alasan agar kamu terus berjuang?~