Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Rapuh


__ADS_3

Bagaimanapun kamu membenci, aku akan berusaha membuatmu mencintai


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dave hampir kehabisan akal untuk menghadapi Sherly. Saat ini wanita itu tidak mempan dengan rayuan. Dia telah menjadi Sherly si pemilik Silver Coorporation yang memiliki sifat berwibawa.


Ide gila muncul seketika. Meskipun tidak yakin, tapi Dave berusaha meyakinkan.


"Semoga berhasil," ucap Dave dalam hati.


"Cup" kecupan ringan mendarat di bibir Sherly.


Wanita yang menjadikan pemiliknya membulatkan mata. Dave gemas melihatnya.


"Cup" Dave kembali mencium lalu memeluk Sherly erat.


Tanpa sadar diri, Dave justru memperdalam cium*nnya. Sherly diam, tapi pada akhirnya wanita itu juga menikmati. Membalas ******n Dave hingga keduanya saling bertukar saliva.


"Krriinggggg" bunyi panggilan interkom mengagetkan keduanya.


Adegan nya terpaksa berhenti karena hal tadi. Dave mengerang kesal sementara Sherly hanya tersenyum samar. Wanita itu menginginkan, tapi sadar tidak mungkin dilakukan di ruangan Dave.


"Hallo," ucap Dave seraya mengangkat gagang telepon.


"Tutt tutt tutt" telepon terputus.


"Shit!" Dave mengumpat laku mengacak rambutnya.


Sherly menghampiri, menyelipkan jemari di setiap centi rambut Dave. Mengusap pelan kemudian merapikan.


"Nggak, usah diberantakin rambutnya. Cukup aku aja yang boleh lihat. Orang lain jangan," bisik Sherly.


"Glek" Dave menelan ludahnya.


Wanita yang tidak ingin disentuh selalu membuatnya melenguh. Dave menyumpahi Sherly dalam hati. Dia berjanji akan membuat Sherly yang apa yang selalu Dave rasakan.


Wanita yang berstatus sebagai CEO itu masuk ke ruangannya mengambil berkas dengan ia tanda tangani. Membuka, meneliti lalu membawanya pergi.


"Tapp tapp tapp" hanya suara derap langkah yang memenuhi indra pendengaran mereka.


"Dave ayo," ajak Sherly.


"Kemana?" itu Dave bingung.


Bahkan laki-laki itu tengah mengerutkan dahi. Seakan dia lupa apa tugasnya di sana. Padahal dia adalah tangan kanan yang harus paham semua jadwal atasan.


Sementara Sherly membulatkan matanya. Wanita itu kesal, tapi apa boleh buat. Semakin Dave membuat kesal, semakin Dave akan membujuknya.

__ADS_1


Sherly mendekat ke arah Dave. Menatap tajam kedua manik matanya. Laki-laki itu juga membulatkan mata. Rasa gugup kembali menerpa.


"Bee."


"Sstttt" Sherly menempelkan jari telunjuk tepat yang bibir Dave.


"Bukan saatnya membantah sayang. Mari kita berjuang," ucap Sherly.


"Oke baiklah. Kapanpun dan dimanapun aku tetap akan memperjuangkanmu. Aku mencintaimu kemarin, saat ini, esok dan nanti," ucap Dave bersemangat.


"Kamu kurang morning kiss Dave? Kenapa bicaramu ngelantur?"


Belum sempat Dave untuk, Sherly telah lebih dulu bertindak.


"Cup" kecupan singkat mendarat di bibir Dave.


Saat itu juga burung dan bintang beterbangan itu atas kepala. Dave bahagia, dan berbalas manis dengan tingkah laku kekasihnya.


"Will you marry me babby?" ucap Dave tanpa sadar.


"Plak" Sherly menepuk jidat Dave dengan pelan.


"Ini saatnya untuk bekerja Dave, bukan mikirin cinta. Berapa kali aku harus mengingatkan kamu hm? Kamu tuh masih kecil mikirannya nikah terus," omel Sherly.


Dave meringis merasakan tepukan yang sama sekali tidak sakit. Laki-laki itu selalu rapuh saat berhadapan dengan Sherly. Entah apa yang dia punya, tapi bagaimanapun ceritanya Dave tetap akan berakhir dengan kepala yang sedikit buyar. Kini selain pekerjaan Dave yang menjadi bubar, Dave juga merasa konsentrasinya selalu berpencar.


"Pengen bungkus kamu terus dibawa pulang," gumam Dave.


"Daaaavveeee," teriak Sherly.


"Apa sayang?"


"Kerja woeyy kerjaa!! Jangan banyakan halu Dave!! Ingat biaya ke KUA murah, tapi sewa gedung, vendor, dan semua interior mahal!!" teriak Sherly.


"Ha?" Dave tersentak.


"Duh sorry bee, aku baru aja bayangin masa depan kita."


"Cih! Aku nggak mau ya punya masa depan sama laki-laki nggak jelas kek kamu."


"Sayang, ayolah. Jangan marah gitu dong. Aku janji bakal setia selamanya sama kamu," bujuk Dave.


Sherly memutar bola mata jengah. Dia bukan lagi Sherly beberapa tahun lalu yang selalu luluh pada rayuan Brian. Sekarang dia sudah menjelma menjadi wanita yang penuh dengan kharisma, jadi logika otomatis peran logika lebih besar daripada cinta.


"Huuufttt" Sherly menghembuskan nafas berat.


Sorot matanya tajam. Menatap lurus ke arah manik mata Dave. Iris Dave terlihat jelas hanya menatap kosong. Sherly tau laki-laki itu masih berada di negara halu.

__ADS_1


"Cup"


Dave menganga atas perlakuan Sherly.


Pikirannya melayang jauh kembali ke apartement. Lebih tepatnya berada di atas ranjang lalu mereka melakukan adegan terlarang.


"You look so sexy baby. Iwant to f*ck you. Will you ready with me?" ucap Dave lirih.


"Laki-laki tengil ini! Dia bisa-bisanya bayangin lagi di ranjang padahal baru aja sampai di kantor. Oh no! Please baby! Wake up sayang, ini ruangan kamu. Di sini tidak seprivat ruanganku. Kalau kamu mau ayo ke privat room aja. Eh wait! Kenapa aku jadi ikutan halu sih. Sadar sher, jangan sampai terpengaruh sama halunya si tengil. Setidaknya kamu masih sadar diri nggak kaya dia yang terus ngelamun."


Sherly memejamkan mata. Wanita itu mengatur ritme emosinya. Dave mengalah sudah menjadi kebiasaannya. Mungkin saat ini gantian Sherly yabg harus mengalah.


Wanita itu mengusap pelan rambut kekasihnya. Menyisir ke belakang lalu menjambak pelan. Sherly mendekatkan kepalanya ke arah Dave. Menghirup dalam aroma parfume miliknya yang dipakai laki-laki itu.


"Pantes Dave suka cium-cium, ternyata emang aromanya bikin tenang. Dave, sadar dong. Aku hampir ikutan gila ni," batin Sherly.


"Cup" kecupan singkat mendarat di leher Dave disusul dengan gigitan kecil.


"Bee," rengek Dave seraya membenamkan kepala Sherly.


Laki-laki itu seolah meminta lebih. Sherly ingin menolak, tapi sisi liarnya tidak bisa mengelak. Pada akhirnya dua manusia itu merasakan hal yang sama. Berusaha menjaga, tapi berambisi ingin melakukannya.


"Mampu*! Kok jadi gini sih?"


Sherly meneruskan gigitan kecilnya. Dia tidak peduli dengan leher Dave yang telah ternoda. Sherly tidak bersalah, Davelah yang tidak mau mengalah.


Sekitar enam puluh detik Sherly berkutik. Dia juga hanyut dalam khayalannya. Hingga jam pada pergelangan tangannya berbunyi.


"Nitt nitt nitt"


"Muach" Sherly mencium leher Dave untuk terakhir kali sebelum keduanya terlalu jauh berfantasi ria.


"Sadar bee, ini di kantor. Jangan kebanyakan halu. Kerja yang bener. Nggak malu sama calon istri hm? Masa iya calon suami kerjaannya cuma ngayal," ucap Sherly lembut.


Dave menatap Sherly dengan puppy eyes. Wanita itu hampir luluh, tapi masih berusaha teguh.


"Sayang, ini udah jam sembilan. Kita ada metting. Bukankah harusnya kamu yang menyiapkan semuanya? Tapi kamu malah kaya ini. Udah sekarang berhenti nanti kita sambung lagi," ucap Sherly.


Dave menggaruk tengkuknya meskipun tidak gatal. Lalu menatap Sherly tajam.


"Maaf bee, sungguh. Aku nggak tau kenapa saat bersamamu selalu gini. Lain kali aku akan berusaha menjaga dia biar nggak bangun seenaknya."


Sherly tersenyum simpul.


"Dan itulah yang membuatku semakin mencintaimu. Kamu mampu menggoda, tapi juga bisa mereda. Maaf, aku hanya berpikir tentang nafsu biologis belum bisa berpiki logis."


Karena pada akhirnya, yang tulus mencinta akan menghargai wanitanya. Tidak seperti mereka yang hanya berpikir tentang parasitisme.

__ADS_1


__ADS_2