
Terkadang wanita berada di fase sangat mudah untuk bahagia karena dengan perhatian kecil saja dia bisa tertawa.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dave menatap kedua mata Sherly yang menurutnya seperti candu. Sorot polos itu terlihat menggemaskan. Dave mendekatkan kepalanya ke arah Sherly lalu tersenyum.
"Bee, lain kali kalau turun dari motor alat pelindung kepalanya di lepas ya. Jangan modus terus sama aku kaya gini nggak malu diliatin orang?" ucap Dave seraya melepas pengait.
Sherly merona. Pikirannya traveling entah kemana. Untuk pertama kali dalam hidupnya ada laki-laki yang memperhatikan hal kecil seperti Dave. Sherly tersipu malu mendengar ucapan Dave yang terakhir.
"Bee, udah ah malu aku," rengek Sherly.
"Cup" Dave mendaratkan kecupan ringan di dahi Sherly.
Kedua kalinya Dave membuat Sherly terpana. Laki-laki itu tau bagaimana cara memberi perhatian kepada wanita. Belum ada satu menit saja dia sudah membuat Sherly bertingkah.
Sorot mata Sherly beredar ke sekitar. Mengamati siapa saja pengunjung di sana. Tidak mungkin dia berada di tempat yang dihuni oleh bawahannya.
Bukan karena malu, tapi Sherly tidak ingin orang lain tahu. Wanita itu hanya menghindari adanya gosip di esok hari. Mengingat bibir emak rempong selalu ada di setiap lorong.
"Bee, kamu liatin apa sih? Malu sama mereka? Biarin aja syirik tanda tak mampu," ucap Dave.
"Kamu gila Dave, masa dilihatin diem aja. Aku aja udah merona," gerutu Sherly.
"Wush wush wush" Dave mebgacak gemas puncak kepala Sherly.
Membenahi model rambut yang tidak disukai. Dave melepas jepit kecil yang melekat di atas poni. Menarik lalu membiarkan mereka bergerak dengan kebebasan.
"Kamu cantik kaya gini bee. Aku suka."
"Cih, kamu mah sama siapa aja suka."
"Seriusan bee aku suka kamu."
"Tapi aku nggak suka kamu weekk."
Sherly berjalan meninggalkan Dave yang masih petakilan. Laki-laki itu, biarlah Sherly lelah menunggu. Dia sibuk mengutuk Dave hingga tanpa sadar tubuhnya menabrak sesuatu.
"Brrukkk"
"Oh Lord," desah Sherly.
Tangan kanannya seperti digenggam. Wangi parfum itu serasa familiar. Sherly mengamati sosok di hadapannya. Laki-laki yang tadi pagi dilihat sudah ada di depan mata.
__ADS_1
"Nona, anda tidak papa?" tanyanya.
"Kok di sini?"
"Iya, kebetulan lewat terus mampir deh."
"Oh."
Sherly celingukan mencari kekasih yang membawanya ke tahap kekesalan. Dia tidak ada di belakangnya. Sherly mengedarkan ke arah motor yang tadi dinaiki, tapi nihil. Si tengil telah pergi dari sana.
"Anda mencari siapa nona?"
"Nggak usah bicara formal kaya gitu. Ini bukan di kantor."
"Baik nona."
Kini wanita itu merasa tubuhnya dipeluk seseorang dari belakang. Dia ingin melihat siapa yang berani menyentuhnya, tapi ada kepala yang bersandar di pundaknya.
Hembusan nafas menyapu leher Sherly. Dia merinding seketika. Matanya membulat sempurna. Namun sebentar kemudian berganti bibirnya yang mengembang sepuasnya.
Sepuluh jari dengan satu jari yang terselip cincin keramik serta arloji yang melingkar di tangan kirinya membuat Sherly mengerti.
"Dave, lepas aku malu. Disini ada bawahan kita," ucap Sherly lirih.
Dave mengeratkan pelukannya. Kepalanya mendongak ke arah laki-laki di depannya. Tersenyum manis ke arah kamera ponsel miliknya.
"Cekrek" Sherly mengerutkan dahi.
"Untuk apa semua ini?"
"Semua hanya tau tentang kamu dan tentang aku. Tapi mereka tidak tau dengan kita. Jika ini membuatmu malu, percayalah banyak hati yang iri dengan keberanianku ini."
Sherly memejamkan mata. Harga dirinya turun seketika. Tepat di hadapan Kepala Divisi Keuangannya.
"Kamu nggak malu sama dia?"
"Dia siapa?"
Sherly menggunakan kepalanya untuk menunjuk laki-laki yang tadi ditemui.
"Dia adalah teman baikku bee. Dia juga tau tentang hubungan kita. Maka dari itu aku meminta bantuannya."
Masih dengan memeluk Sherly, kini tangan kanannya terulur ke belakang mengambil sebucket bunga yang sempat diselipkan di saku celana.
__ADS_1
Setelah mengambil bunga, tangan Dave kembali memeluk Sherly. Namun berbeda dengan tadi. Saat ini Dave memeluk Sherly dengan rangkaian mawar yang menjadi saksi.
"Will you be my girl friend? (Apa kamu mau menjadi kekasihku?)" bisik Dave seraya mengulurkan bunga tepar di depan dada Sherly.
Wanita itu menerima kemudian tersenyum lama. Dia merasa bahagia. Hal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya kini dilakukan oleh kekasihnya.
Rona merah tergambar jelas di wajah wanita yang sedang bahagia. Tidak lupa seseorang telah menggenggam ponsel, ditangan kiri untuk membuat video slowmo dan ponsel di tangan kanan untuk mengabadikan potret kemesraan.
"Kamu udah pernah bilang kaya gini Dave."
"Sstt, aku cuma butuh jawaban bee."
"Tanpa menjawab pun kamu tau jawabannya. Dari sorot mata apakah kamu tidak menyadarinya? Ada cinta yang tersimpan di dalam sana."
"Aku percaya. Oleh karena itu berani melakukan ini."
Dave memutar tubuh Sherly membuat keduanya berada di jarak yang sangat minim. Malam itu, entah kenapa Dave merasa ingin sekali memangsa wanitanya. Namun dia sadar akibatnya akan terasa suatu hari nanti.
Perlahan laki-laki itu mendekatkan bibirnya di depan bibir Sherly. Mengamati dua manik mata yang mengisyaratkan butuh kepastian. Dave tersenyum.
"Cup" kecupan singkat berhasil dilayangkan saat dia berhasil menguasai keadaan.
Tepuk tangan riuh seolah bukan penghalang. Dave tetap menjadi dirinya sendiri. Bukan tanpa malu dia melakukan itu. Sebetulnya bukan itu niat awal yang Dave inginkan. Tapi melihat mantan kekasih Sherly terus mengawasi akhirnya timbul niat untuk membuatnya murka.
"Breng***!" umpat Brian di tempat duduknya.
Senyum kemenangan terbit di bibir Dave. Memaksa Brian terus menyusun rencana liciknya. Dia masih belum bisa melihat Sherly bahagia tanpa dirinya.
"I have something for you (aku punya sesuatu untukmu)"
Tangan kanannya menuju saku celana sebelah kanan. Dave mengambil kotak kecil dari sana. Hanya benda biasa berukuran sekitar tiga kali empat centi. Dave memberikan benda itu kepada Sherly.
Membawa tangan kanan Sherly, lalu meletakkan kotak itu di telapaknya. Sherly menerima dengan suka rela.
"Thanks bee."
Dave mengacuhkan ucapan Sherly. Tangan kanannya terulur mengambil sesuatu di saku belakang celananya. Sebuah liontin dengan bandul angsa membuat Sherly membulatkan mata.
Laki-laki di hadapannya adalah pria langka yang bisa membuat wanita terpana. Lalu siapa wanita bodoh yang berani memberikan luka kepada Dave-nya. Sherly menatap sepasang angsa yang menyatukan paruh mereka.
"Aku tau kamu bisa membelinya. Bahkan bisa saja lebih dari yang kupunya, tapi percayalah. Aku telah menyiapkan ini sejak aku menyadari adanya benih cinta di hati," ucap Dave seraya memakaikan aksesoris itu di leher Sherly.
"Swan couple," gumam Sherly dengan kepala menunduk dan tangan kanan menyentuh bandulnya.
__ADS_1