Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Kepergian Dave


__ADS_3

Dimana ada pertemuan


Di situ juga ada perpisahan


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah Sherly mendekatkan telinganya, Dave segera berbisik di telinga wanitanya. Sebenarnya Dave belum mengatakan apa-apa, tapi Dave ingin melihat ekspresi Sherly yang menurutnya menggemaskan.


"Apa kamu mendengarku?" tanya Dave.


"Tidak," jawab Sherly polos.


"Aku emang belum bicara apa-apa," jawab Dave santai.


"Davee!," Sherly menyebut nama Dave dengan sedikit berteriak.


Sontak saja Dave langsung menjauhkan wajahnya. Telinganya kini terasa berdengung. Bagaimana tidak, jika wanita itu berteriak saat mereka berada dalam posisi dekat.


"Bee kenapa teriak? Sakit tau," ucap Dave dengan sedikit mengerucutkan bibir.


"Kasihan, siapa suruh nyebelin," bela Sherly.


"Nyebelin tapi kamu suka kan?" goda Dave.


Dave menyukai saat dimana Sherly marah kepadanya karena menurut Dave, hal itu merupakan upaya yang membuat mereka semakin dekat.


"Dave, sebenernya kamu mau bicara apa? Kenapa jadi membodohiku seperti ini," tanya Sherly.


"Yakin seorang Sherly Angel bisa dibodohi?"


Sherly mengerucutkan bibir. Dave selalu membuatnya kalah telak.


"Tapi kamu nggak boleh marah bee."


"Iya Dave, aku emang nggak pernah marah sama kamu," lirih Sherly.


"Kata siapa?"


"Kata aku barusan."


"Baru saja kamu teriak tepat di gendang telingaku, sekarang kamu bilang kalau kamu nggak pernah marah?" Dave berkata dengan alis yang dinaikkan serta menatap Sherly tajam.


Laki-laki itu seolah akan melahap kekasihnya habis tanpa sisa.


"Maaf sayang, emang kamu mau bahas itu terus hem?" sindir Sherly.


"Salah siapa bilang kalau kamu nggak pernah marah," ucap Dave pura-pura acuh.


"Serius Dave, kamu tadi mau bilang apa?" Sherly kembali ke topik awal.


Wanita itu tidak mau gila karena menanggapi ocehan Dave. Asistennya itu lama-lama jadi gesrek juga.


"Aku tadi mau bilang ka...." Dave sengaja menggantung kalimatnya.


"Apa?" tanya Sherly yang semakin penasaran.


"Aku tadi mau bilang kalau sebenernya.." Dave menggantung ucapannya lagi. Kali ini dia melirik ke arah Sherly. Melihat bagaimana ekspresi yang nampak di wajahnya.


"Sebenarnya apa? Kenapa kamu jadi nyebelin gini?"gerutu Dave yang mulai terpancing emosi.


"Hahaha" Dave tertawa terbahak karena memang ini yang diharapkan Dave. Dia hanya berniat membuat Sherly marah.


"Tok tok tok" suara ketokan pintu terdengar.


"Siapa bee? Ganggu kita aja," dengus Dave kesal.


"Suruh masuk aja."


"Masuk," ucap Dave malas.


"Siapa sih? Mengganggu! Menyebalkan!" sungut Dave.


Laki-laki dari Divisi Keuangan menyembulkan kepala disusul anggota tubuh yang lainnya.

__ADS_1


"Nona Sherly dan Tuan Dave, ada seseorang yang menunggu anda di lobbi bawah."


"Siapa?" tanya Dave.


"Eh, baiklah kita akan ke bawah," imbuhnya.


"Baik tuan."


Dave yakin jika yang, dimaksud adalah wanita tadi pagi. Laki-laki itu geram dengan mantan kekasihnya.


"Kenapa dulu bisa jatuh cinta sama dia sih? Oh shit," batin Dave.


"Oke," jawab Dave pendek.


Setelah seseorang itu pergi, Dave menatap tajam ke arah Sherly. Dia tersenyum penuh arti.


"Tahu nggak bee? Hari ini adalah hari terakhirku di sini," ucap Dave.


"Apa maksudmu Dave?"


Dave tersenyum miring. Ide licik telah terbit di benaknya saat dia mulai menjalin hubungan dengan atasannya.


Sherly mengerutkan dahi. Dia tidak mengerti dengan ucapan Dave. Di sana dia adalah pemilik perusahaan. Berkuasa penuh atas segalanya. Tapi kenapa perihal Dave dia tidak tahu?


"Di sini aku pemiliknya, kenapa kamu pembuat keputusannya?"


Dave tidak menjawab, dia justru tersenyum ke arah Sherly. Ternyata harapannya di kabulkan. Semua tidak sesulit yang dibayangkan. Mungkin saja saat ini Tuhan berpihak kepadanya.


Padahal kemarin Dave susah payah membujuk ketua Divisi Keuangan untuk membohongi Sherly.


Semua Dave lakukan dengan jaminan Dave yang akan menanggung kemarahan Sherly jika wanita yang berstatus kekasihnya itu murka.


"Bee kamu udah denger kata terakhir dari aku kan? Sekarang aku mau minta satu permintaan dari kamu."


"Berarti aku harus mengakhiri perasaanku, padahal baru sekarang aku bisa mencintai setelah seseorang menyakiti. Dave, kenapa tega banget sih? Aku mencintaimu Dave," batin Sherly.


"Sher?" panggil Dave seraya menyenggol lengan Sherly, tapi wanita itu diam.


"Sherlyy!" teriak Dave pada akhirnya.


Kali ini Sherly benar-benar menahan amarahnya. Sebenarnya hatinya sangat kecewa, tapi Dave malah menambahnya. Jika saja bukan Dave yang memanggilnya pasti sudah habis di tangan wanita yang tubuhnya sangat menggoda.


"Kamu nggak dengerin aku bee. Ini juga baru pertama aku teriak" ucap Dave dengan wajah ditekuk.


"Maaf Dave, kamu tadi bilang apa?" Sherly mengulangi pertanyaannya.


"Kok minta maaf terus bee? Kan kamu atasannya," batin Dave.


"Aku tadi bilang kamu dengar nggak kalau sekarang hari terakhirku di kantor. Berarti besok aku udah nggak di sini lagi bee. Maaf kalau aku punya salah sama kamu. Aku cinta kamu bee. Ya, walaupun aku sadar kamu bukan wanita yang gila harta, tapi setidaknya biarkan aku mencari sedikit pundi untuk menghalalkanmu kelak," ucap Dave lirih.


"Bee, aku nggak minta itu dari kamu. Aku nggak mau jauh dari kamu," ucap Sherly.


"Apa kamu nggak ngebolehin aku pergi karena cinta? Aku tidak akan mendua. Aku pernah terluka tidak mungkin tega membuatmu kecewa."


Belum sempat Sherly mencerna ucapan Dave, laki-laki itu telah lebih dulu memalingkan wajahnya. Dia tidak bisa melihat Sherly terluka.


Dave melirik jam di pergelangan tangannya. Menunjukkan pukul 09.20 WIB. Mereka sudah telat untuk melakukan metting apalagi suasana hati Sherly sedang genting. Dave menarik jemari Sherly membawa wanita itu ke meja administrasi.


"Hari ini aku dan Nona Sherly keluar," ucap Dave kepada bagian administrasi.


"Kok minta izin? Kan aku pemiliknya."


"Ssttt! Bukankah itu aturan yang sesungguhnya?"


Sherly hanya mengangguk. Wanita itu menunduk. Tanpa disadari, Dave masih menggenggam tangannya dengan erat. Tidak tau apa yang ada di pikiran Sherly hingga dia tidak menyadari apa yang dilakukan tangan kanannya. Terus bergandengan hingga tiba di parkiran. Lebih tepatnya di depan mobil. Dave melepas genggamannya. Di saat itulah Sherly menyadari.


"Eh, kamu kenapa?" tanya Sherly yang tersadar dari pikirannya.


"Emang kenapa?"


"Kenapa aku baru sadar sekarang."


"Kirain kamu tadi ngerti bee."

__ADS_1


"Nggak Dave."


"Nggak papa, aku minta maaf bee udah pegangin kamu di depan umum," sesal Dave.


"Duh sial, kenapa aku terlihat bod*h seperti ini? Coba dari tadi aku sadar kalau Dave pegangin aku pasti udah ku lepas. Padahal udah muter-muter dari ruangannya, ke administrasi terus jalan ke sini. Oh Lord, apa kata mereka? Pasti yang liat nganggep aku dan Dave ada hubungan. Mereka juga mikir aku gampangan habis putus cinta terus deketin tangan kanannya. Aarrrrgghhhhh," gerutu Sherly dalam hati seraya mengacak rambutnya sendiri.


"Bee, ayo masuk," ucap Dave yang sedari tadi udah ada di dalam mobil.


Dia menunggu atasannya masuk, tapi tidak masuk juga.


"Sher."


"Eh, iya," jawab Sherly.


Dave mulai menghidupkan mesin. Mobil melaju pelan, keluar dari khawasan gedung pencakar langit lalu menembus padatnya jalanan.


Di dalam mobil, Dave sesekali melirik ke arah Sherly yang duduk di sampingnya. Memutar lagu mellow karena Dave tau Sherly wanita lembut yang sangat menikmati lagu slow.


"ku cinta kau


bukan karena kau begitu berarti


ku cinta kau


bukan karena kau terlihat sempurna


tapi karena hadir dirimu


membuat aku merasa sempurna


aku tak tahu sampai kapan usiaku


tapi cintaku hanya untukmu


ku sayang kau seperti hembusan nafas dari hidupku


bagaimana mungkin ku berhenti mencintaimu"


Lagu yang dinyanyikan "Jihan Audi ~ Kau Berarti Untukku" mulai terdengar.


Sherly mendengarkan dengan saksama. Menikmati lagu yang mewakili perasaannya. Sedikit heran karena tidak biasanya Dave memutar lagu itu.


"Kenapa ada lagu seperti ini? Biasanya kamu nggak suka mellow," ucap Sherly mengutarakan pertanyaan yang mengganjal di hatinya.


"Sengaja biar kamu seneng bee," jawab Dave dengan menampilkan senyum manis andalannya.


Kemudian Sherly dan Dave sama-sama terdiam. Keduanya menikmati lagu yang mengalun merdu. Hanya sesekali mereka bersuara saat lirik yang didengarnya familiar.


"Bee, ini terakhir kita keluar berdua?" tanya Sherly.


"Iya bee" jawab Dave datar.


Dia tidak ingin Sherly tau jika ini adalah prank. Dave harus menyiapkan kesabaran ekstra untuk menghadapi amarah Sherly nanti.


"Kamu yakin mau niggalin aku Dave? Nanti kalau aku diambil orang gimana?"


"Hahaha, nggak bee. Aku percaya sama kamu kok."


"Terus kamu nggak kangen gitu ke aku?"


Pertanyaan ini membuat hati Dave tergelitik.


"Segitu nggak maunya ditinggal aku bee?" batin Dave.


"Dave."


"Hm."


"Apa aku salah saat jauh darimu merasa rindu? Aku takut kehilanganmu Dave. Kenapa kita harus bersama jika akhirnya berpisah juga? Kenapa kamu mengejar jika akhirnya hanya untuk menguji ilmu sabar? Dave, please jangan pergi."


"Dasar stupid. Kalaupun aku pergi, aku pasti mengajukan surat kepadamu kan? Astaga Sherly, kenapa kamu jadi bo*** gini sih," batin Dave.


"Kepergianmu bukan akhir kehidupanku."

__ADS_1


Sherly mencoba rela atas kepergian Dave.


__ADS_2