
Saat ini baru aku mengerti. Jika melihatmu terluka juga mampu membuat hatiku ikut merasakannya. Nona, aku ingin mendekapmu. Membuang jauh tumpukan lukamu. Lalu memupuk kembali cinta yang telah lama pupus karenanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Setelah menamparku, kamu berharap aku melepaskanmu? Oh tidak semudah itu nona manis," ucap Brian pelan namun penuh penekanan.
"Ya Tuhan, apalagi yang harus ku dengarkan. Dia selalu saja membual," batin Sherly.
Satu centimeter berhasil ditepis oleh Brian laki-laki yang saat ini semakin menghimpit Sherly. Seorang playboy yang suka bermain dengan wanita melupakan satu hal. Ya, dia melupakan jika Sherly sebenarnya wanita yang sangat dicintai. Namun karena wanita itu tidak mau disentuh, Brian akhirnya berkhianat di belakangnya.
"Berani maju sedikit lagi, aku pasti menyeretmu!" geram Dave dalam hati.
Sherly sudah berada dalam bahaya. Brian sudah sangat dekat, bahkan wanita itu bisa merasakan hembusan nafasnya. Kehangatan nafas Brian membuat Sherly teringat kisah asmaranya.
Tanpa sadar Sherly memejamkan mata. Bukan siap jika nanti Brian menciumnya, tapi menikmati sentuhan angin dari lawan bicaranya.
"Bahkan dalam jarak sedekat ini aku tidak mampu menolaknya. Aku memang bodoh pernah mencintai laki-laki brengsek seperti Brian, tapi aku tidak bisa melupakannya hingga detik ini," batin Sherly.
Hembusan hangat semakin dekat, Sherly menyadari itu. Namun tidak menghiraukan karena masih memejamkan mata. Hampir seperti ada benda yang mendarat di bibirnya, tapi sedetik kemudian hilang entah kemana.
Ruang di depan bibirnya mendadak kosong bersama dengan suara laki-laki membanting pintu. Sontak Sherly membuka mata. Entah wanita itu kecewa atau bahagia. Dan apa yang baru saja diharapkannya? Apakah dia berharap Brian menciumnya?.
"Tidak! Ini tidak boleh terjadi," gumam Sherly.
Saat itu juga dia baru menyadari jika Dave sudah tidak ada pada tempatnya. Brian juga sudah lenyap dari hadapannya. Di luar suara kegaduhan terdengar bersama dengan teriakan Dave yang meminta security segera ke ruangannya. Mungkin Dave menelpon penjaga keamanan itu.
"Buugghh" Brian memukul pipi Dave hingga mengeluarkan bercak darah di sudut bibir.
Disentuhnya aliran yang membuat sensasi geli pada bibirnya.
"Darah," gumam Dave.
Dave hendak membalas pukulan Brian, tapi security datang saat itu juga. Tepat ketika Dave sudah mengangkat tangannya ke udara, lalu menurunkan lagi.
"Maafkan keterlambatan saya Tuan Dave. Saya akan membawa orang ini keluar sekarang juga," ucap security seraya menundukkan wajahnya.
Hanya anggukan yang Dave pergunakan untuk menjawab. Laki-laki itu lalu berlari menuju ruangan Sherly. Padahal prinsip semula, tidak harus berkeringat agar terlihat seksi. Namun sekarang dia mengingkarinya.
Harus berkeringat agar terlihat melindunginya.
__ADS_1
"Cih! Melindungi apa? Padahal aku hanya tidak rela jika Nona Sherly disentuh laki-laki lain," batin Dave.
"Hei! Memang siapa yang pantas menyentuhnya? Kamu Dave? Lebih tidak pantas dari laki-laki tadi," bisik Dave dari sisi lain.
Tiba di ruangan Sherly, Dave melihat keadaan atasannya sedikit kacau. Lebih parah dari saat wanita itu bangun tidur. Baru lima menit Dave meninggalkannya, sekarang sudah bertambah rambut Sherly yang berantakan.
"Padahal tadi belum," gumam Dave.
Sherly duduk di sofa yang sempat digunakan untuk tidur beberapa saat lalu. Saat yang beda, tapi memikirkan hal yang sama.
"Sepertinya sofa kutukan. Aku akan menggantimu dengan yang baru agar aura buruk Brian pergi dari sini," gerutu Sherly seraya menunjuk sofa yang sedang di dudukinya.
Tadinya wanita itu memang duduk, namun sekarang sudah berdiri dan menunjuk-nunjuk benda tak berdosa itu.
"Sekali lagi aku duduk di sini kepikiran Brian, aku akan menguburmu hidup-hidup," ancam Sherly pada sofanya.
Dave yang menyaksikan percakapan antar sofa dan nonanya menjadi bingung.
"Apakah nona sudah gila?" batin Dave.
"Sekarang aku akan mendudukimu lagi, satu, dua, ti-" ucapan Sherly terhenti saat seseorang menyerukan namanya.
"Nona," panggil Dave.
Wanita itu masih setia memandangi sofa. Kali aja benda itu berubah pikiran lalu menyerang Sherly terlebih dulu.
"Apa salahku? Sial! Gara-gara sofa sialan aku jadi pelampiasan," gerutu Dave dalam hati.
Sherly ingin mendudukkan pantat seksiknya di sofa, namun satu kalimat membuatnya urung melakukannya lagi.
"Nona," panggil Dave.
"Apa Dave? Kamu membuatku semakin marah," tukas Sherly kesal.
"Em, tidak papa nona," ucap Dave lirih.
"Baiklah, dasar manusia menyebalkan. Segabut itukah hidupmu hingga harus mengganggu kesenanganku," gerutu Sherly.
Wanita itu menyapu ujung sofa dengan jemari lentiknya seolah membersihkan sisa kenangan tak kasat mata di sana. Setelah bersih, dia memposisikan pantatnya hendak hempas ke kursi empuk itu tiba-tiba ketukan pintu terdengar.
__ADS_1
"Tok tok tok! Permisi," ucap seseorang dari balik pintu.
"A argghhh! Oh shit! Cuma mau duduk aja nggak jadi-jadi. Siapa lagi yang mengusik ketenanganku. Awas aja Dave habis ini tamatlah riwayatmu," umpat Sherly seraya berlalu membukakan pintu.
"Nona biar saya saja yang membukakan pintu. Nona duduk manislah," teriak Dave seraya menghampiri Sherly.
"Terlambat Dave," ucap Sherly.
"Tuhan, ada apa hari ini? Kenapa nona marah-marah kepadaku? Apa aku melakukan kesalahan?" batin Dave.
Salah satu karyawan dari divisi pemasaran mendatangi ruangan Sherly. Laki-laki tampan telah berdiri dengan senyum menawannya, namun mendadak membeku saat melihat Sherly yang membuka pintu untuknya.
"Busyet! Cantik banget sih si bos. Mau dong jadi teman kencannya. Semalem aja nggak papa deh," batin karyawan itu.
"Ehem" deheman Sherly menyadarkan laki-laki di hadapannya.
"Em, maaf nona atas kelancangan saya. Hari ini ada rapat antar divisi. Semua sudah berada di sana tinggal menunggu nona dan sekretaris anda," jelas karyawan itu.
"Baiklah, lima menit lagi tiba di sana," ucap Sherly.
Setelah si pengganggu pergi, Sherly kembali masuk ke ruangannya. Apa yang akan dilakukan wanita itu tentu saja di luar dugaan Dave. Pertama, Sherly menatap Dave dari ujung rambut hingga ujung kepala.
Kedua Sherly menyilangkan tangannya di depan dada seolah sedang mengintrogasi tahanan di kantor polisi. Dave hanya bisa menunduk karena tidak berani menatap mata Sherly.
Bukan takut karena dia atasannya, tapi takut jika nanti jiwa lelakinya meronta. Ah Dave, selemah itukah kamu saat berhadapan dengan Sherly.
"Please nona, jangan seintens ini. Bisa khilaf nanti," batin Dave.
"Dave, kenapa menunduk?" tanya Sherly.
Dia tidak suka bawahannya terlalu hormat toh mereka sama-sama manusia yang memiliki derajat sejajar di mata Sang Pencipta.
"Iya nona," jawab Dave.
Sebelum menatap atasannya, Dave lebih dulu memantapkan hatinya. Debaran kegugupan mulai menjalar saat hanya berdua dengan nonanya.
"Tatap mataku," ucap Sherly singkat, padat, dan jelas.
"Mata itu, astaga. Di sana banyak banyakan halusinasi ku. Bagaimana mungkin aku akan menatapnya. Bisa saja jiwa jomblo ku meronta," keluh Dave dalam hati.
__ADS_1
"Sekretaris macam apa ini? Apa dia tidak melihat kecantikanku hah? Secantik ini diabaikan hm," batin Sherly.