Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Kerja bukan Cinta


__ADS_3

Dicintai tidak sesakit saat mencintai karena dengan dicintai kita tidak perlu berkorban, tapi ketika kita mencintai kita harus terbiasa dengan diabaikan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Manusia dewasa mulai merasa ada yang berbeda. Semakin menikmati, ternyata semakin membuat tersakiti. Dave merasa celananya bertambah sesak. Sementara Sherly merasa ada yang basah di bawah sana.


"Emh," lenguh Dave seraya terus membelai rambut Sherly.


Otak kanan Sherly bekerja dengan tidak sempurna. Begitu juga dengan otak kirinya hingga antara keinginan dan kenyataan tidak berjalan semestinya.


Keduanya mengakhiri ciuman yang hampir saja menuju ke tahap atas. Sherly mengusap bibir Dave yang sedikit basah karena miliknya. Tidak dengan Dave. Laki-laki itu justru mencium kembali bibir Sherly.


"Cup"


"Jaga diri baik-baik bee. Jangan pernah melakukan seperti ini kepada orang lain. Tolong jaga bibirmu untukku, juga jaga hatimu agar kelak aku bisa sempurna tumbuh di sana," ucap Dave seraya menyentuh dada Sherly.


Tidak ada lagi gelora yang membara. Kini mereka hanyut dalam rasa tulus yang selalu muncul dengan sengaja. Sherly yang masih meyimpan cinta untuk seseorang di masa lalunya. Juga Dave yang belum sepenuhnya bisa melupakan mantan kekasihnya.


"Di sini," ucap Sherly seraya menyentuh dada Dave.


"Aku tidak tau dengan pasti siapa yang menyinggahi, tapi aku yakin suatu hari nanti namaku akan menjadi penghuni. Bukan sebentar, tapi selama waktu terus berputar," imbuhnya.


Dave tersenyum lalu mengecup dahi Sherly seolah wanita dihadapannya adalah miliknya saat ini. Pelukan hangat Dave berikan sebelum akhirnya Sherly merubah keadaan menjadi menyebabkan.


"Dave, ini masih di parkiran," bisik Sherly.


"Sial!," pekik Dave.


"Maaf nona," ucap Dave laku membuka pintu mobil.


Laki-laki itu turun dan berlari kecil untuk membukakan pintu atasannya.

__ADS_1


"Silahkan nona," ucap Dave seraya menundukkan kepala.


Senyum tipis terbit di bibir Sherly. Wanita itu merasa diperlakukan dengan istimewa, tapi bisa saja Dave demikian karena sadar jika Sherly adalah atasan.


"Kamu tidak perlu menundukkan kepala Dave, karena pada hakikatnya wanita yang seharusnya hormat kepada pria. Jangan sungkan menyalahkan ku jika memang aku salah."


"Tapi anda adalah atasan saya."


"Kita sama Dave, bukankah kamu adalah tangan kananku? Di mataku, kamu mempunyai hak dan kewajiban yang sama denganku."


"Nona an-?," belum sempat Dave melanjutkan kalimatnya, Sherly sudah memotong.


"Aku tidak pernah membedakan siapapun. Jadi jangan pernah merasa rendah Dave. Kamu tetaplah Dave Anggara yang memiliki kuasa atas Sherly Angelnya. Aku dan kamu berada di titik horizontal bukan vertikal."


Dave tidak lagi menyuarakan isi hatinya. Mendengar Sherly bicara tanpa cela sama saja memahami jika saat ini dia tidak ingin digurui.


"Baiklah nona, tapi perihal hati apakah aku masih bisa di sini? Perusahaan nona tidak membolehkan adanya hubungan di dalam pekerjaan kan?."


"Pletak" Sherly menjitak kepala Dave.


Kesal, Sherly akhirnye meninggalkan sekretarisnya di parkiran. Rasanya percuma bicara tanpa ada kesepakatan di sana. CEO Silver Coorporation tidak akan melakukan hal yang menurutnya sia-sia.


Percuma hanya ada di kamus manusia yang tidak sempurna. Sementara Sherly adalah wanita sempurna pemilik harta dan tahta. Ya, meskipun dia bukan tipe wanita penggila harta.


Berjalan melalui lobby lalu mendekati lift. Menunggu benda kotak besi itu terbuka sendiri.


"Tapp tapp tapp" suara high hells Sherly menjadi irama mengiringi sang empu menuju ruangan di hadapannya meninggalkan Dave yang entah dimana keberadaannya.


"Nonnaaaaa tungguuu!," teriak Dave seraya melambaikan tangannya.


Sherly berhenti, menengok sebentar ke belakang. Mengamati sekretaris pribadinya yang sangat menyebalkan.

__ADS_1


"Bodo amat," ucap Sherly santai hingga sosok Dave tak lagi terlihat ketika pintu itu tertutup kembali.


"Astaga, atasan macam apa yang ninggalin kamu seenaknya Dave? Oh ya, jangan lupakan dia memang suka seenak jidat. Sadar Dave sadar, kamu kan cuma asisten pribadinya tidak lebih dari itu."


Meskipun kesal, Dave tetap setia berdiri di depan lift utama. Menunggu benda itu terbuka dengan sendirinya. Sementara saat ini Sherly telah berada di lantai tempat ruangannya berada. Melenggang santai memasuki ruangan Dave, lalu melangkahkan kaki menuju ruangannya sendiri.


Pantat cantik mendarat dengan sempurna di kursi kebanggaan Sherly. Mengamati sekeliling lalu tersenyum simpul.


"Apakah semua ini adalah kerja kerasku? Atau semua adalah keberuntunganku?," gumam Sherly.


Tanpa Sherly sadar, sesaat setelah wanita itu keluar dari lift, benda kotak yang baru saja dinaiki mendadak rusak. Memaksa Dave harus melewati tangga darurat untuk sampai ke ruangannya.


"Sial! Apa lagi cobaan yang akan hamba hadapi hari ini? Rasanya untuk menjalani hari tanpa bencana tidak akan mudah," gumam Dave.


Lima belas menit barulah Dave tiba di ruangannya. Mengambil remote AC kemudian menekan suhu agar minus di ruangannga bertambah. Hanya dingin yang Dave butuhkan saat ini.


Keringat sudah membanjiri wajah tampan juga leher seksinya. Menambah kesan menggoda pesona Dave Anggara.


"Semoga Nona Sherly tidak memberikan perintah. Asal anda tau nona, saya sungguh sangat lelah. Andai saja aku berkeringat karena kita men*****h bukan karena jalan lewat tangga darurat yang membuatku berpeluh penat."


Satu menit dua menit hingga sepuluh menit Dave menikmati ruangan dingin seraya bersandar di kursi miliknya. Kedua kelopak matanya mulai berkedip-kedip. Terasa ingin mengatup, tapi sang empu sepertinya belum ingin menutup.


"Lessss" kepala Dave terjungkal ke depan karena laki-laki itu baru saja terbang ke alam mimpi.


Senyum bahagia terbit di bibir Dave. Tidak ada yang tau apa mimpinya, tapi besar kemungkinan dia bermimpi tentang hal yang membuatnya bahagia. Belum ada lima menit Dave terlelap, Tiba-tiba muncul sosok wanita yang kini menatapnya.


Sherly berjalan mendekati asistennya. Tidak mendapati Dave bekerja, tapi malah tertidur pulas walau posisinya sangat tidak nyaman.


"Astaga Dave, kenapa malah tidur di sini? Kalaupun bilang capek kan bisa pinjem privat roomku. Sekarang coba kalau ada yang lihat selain aku, mereka bakal ngecap kerjaanmu tiap hari kaya gini," omel Sherly pada laki-laki yang masih berada di posisinya.


Rencana Sherly menemui Dave untuk memberikan dokumen yang telah ditandatangani, tapi melihat Dave sedang kelelahan Sherly menjadi iba. Bagaimanapun Dave seperti ini karena ulah Sherly yang seenak jidatnya.

__ADS_1


Jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Dave belum juga siuman dari mimpi indahnya. Mau tidak mau Sherly harus membangunkan tangan kanannya. Perlahan wanita itu mendekati Dave. Memanggil pelan laki-laki di hadapannya, tapi tetap saja tidak membuka mata.


"Dave, bangun udah sore," ucap Sherly seraya mengusap puncak kepala Dave.


__ADS_2