Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Bayangan


__ADS_3

Ketika aku tidak menyadari ketulusanmu,


Apakah semua itu salahku?


Pura-pura bukan menjadi maksudku


Karena aku bahkan sama sekali tidak tahu


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Belum sempat menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi, Dave buru-buru mencari tahu apa maksud kedatangan tamu tidak diundangnya.


"Eh, kenapa juga aku harus menjelaskan kepada Sherly?," gumam Dave.


Laki-laki itu tidak perduli bayangan Sherly yang tanpa permisi terus menghantui. Menurutnya, kebahagiaan atasan adalah kebahagiaannya juga. Maka dengan penuh percaya diri Dave keluar dari ruangan kebesaran miliknya.


Berjalan menuju ruangan kepala divisi untuk mencari tahu keberadaan Brian. Atau lebih tepatnya mencari sekretaris Brian. Mustahil jika Dave bisa bicara empat mata dengan laki-laki itu tanpa proses negoisasi yang rumit.


Begitu Dave memasuki ruang kepala divisi, semua aktivitas mendadak berhenti sejenak. Hampir seluruh pasang mata memandang ke arahnya. Bukan karena pesona Dave, tapi karena asisten pribadi itu tidak akan turun tangan jika tidak ada hal genting.


"Ehemm" deheman Dave menarik mereka kembali ke alam nyata.


Jika menyangkut sopan santun, tentu Dave adalah laki-laki yang sangat sopan bahkan laki-laki itu juga selalu bersikap ramah. Namun jangan lupakan, tangan kanan CEO mereka akan menunjukkan amarahnya jika ada hal yang ganjil menurutnya atau menurut atasannya.


"Eh em, selamat pagi Tuan Dave. Ada yang bisa saya bantu?," tanya laki-laki yang berada di posisi paling dekat Dave.


"Ada yang tau keributan apa yang baru saja tercipta di depan receptionist kita?."


Gugup, laki-laki yang tadi memberikan pertanyaan kepada Dave seolah menyiapkan dirinya untuk dimangsa Dave.


"Maaf tuan jika saya lancang. Itu adalah Tuan Brian Pradana. Beliau datang bersama sekretarisnya Renata."


"Apa keperluannya?."

__ADS_1


"Beliau ingin melakukan kerja sama dengan perusahaan ini. Itu sebabnya tempo hari beliau mengikuti rapat divisi dan hari ini datang kembali karena ingin melakukan rapat dengan Nona Sherly."


Dave memincingkan matanya tepat pada dua manik milik lawan bicaranya. Kilatan laki-laki itu seperti memancarkan amarah. Dave merasa ada yang ganjil di sini, tapi dia belum bisa mengerti.


"Sejak kapan Silver Coorporation membiarkan orang luar masuk tanpa seizin Nona Sherly? Apa kalian sudah lelah bekerja di sini? Tolong jangan lupakan jika CEO Angel kita bisa seribu kali lebih menakutkan dari pada harimau yang kepalaran."


Laki-laki itu sangat kesal. Apa motif yang sebenarnya dilakukan Brian. Mungkin jika dia bukan laki-laki di masa lalu Sherly, Dave tidak akan sudi mencari tahu. Namun ternyata dia adalah pemilik nama yang masih bertahta di hatinya.


Kedua kaki Dave membawa pemiliknya ke lobi utama. Beruntung, ekor mata laki-laki itu menemukan apa yang dia cari. Jika saja dia bertemu kenalan, maka saat ini sudah berteriak tanpa merasa dipermalukan.


Nyatanya saat ini Dave sedang melakukan pekerjaan demi seorang atasan. Dia harus melakukan semuanya dengan lancar tanpa harus ada yang merasa dipermalukan.


"Tunggu," teriak Dave saat Brian hampir menginjakkan kaki di luar lobi.


Renata membalikkan tubuhnya terlebih dulu baru disusul Brian kemudian.


"Ada apa?," tanya Renata dengan ketus.


"Maafkan kelancangan saya Tuan Brian dan Nona Renata. Saya selalu sekretaris Nona Sherly mohon maaf karena tidak memperlakukan anda dengan selayaknya. Saya tidak tau dengan jadwal kedatangan anda," ucap Dave dengan nada yang dibuatnya menjadi rendah, tentu juga dengan membuktikan tubuhnya terlebih dahulu.


Menurut Dave, jika bersama orang lain tidak boleh mencampur-adukkan pekerjaan dan masalah pribadi. Tapi itu tidak berlaku untuk Dave yang menurut Sherly laki-laki itu tengil. Dia selalu saja mendekati Sherly sekalipun mereka sedang bekerja.


"Apa-apaan kamu? Ke-," ucap Renata belum selesai karena telah dipotong Brian.


"Tidak papa Tuan, setidaknya saya bisa melihat sendiri jika nona kalian baik-baik saja," tukas Brian.


"Saya permisi," imbuhnya.


Selepas kepergian dua manusia yang menurut Dave tidak ada pentingnya, Dave segera berjalan cepat menuju lift. Bertemu nonanya mungkin bisa membuat dirinya sedikit bahagia.


"Ting" lift terbuka.


Tiga puluh detik berjalan, laki-laki itu sudah berada di depan ruangan milik Sherly. Wanita yang mampu membuat Dave merasakan adem panas saat di dekatnya.

__ADS_1


"Tok tok tok."


"Masuk," sambut suara dari dalam.


Sedikit gugup karena tatapan intimidasi yang beberapa saat lalu diterimanya, kini Dave memilih menundukkan kepala. Sebenarnya bukan rasa hormat, tapi lebih ke rasa tidak kuat. Mana mungkin Dave bersikap sopan kepada Sherly.


Dia bahkan sudah pernah mencicipi manisnya bibir seksi milik wanita di hadapannya. Katakanlah Dave terlalu percaya diri, tapi kenyataannya saat ini Dave sedang merutuki kebodohannya sendiri.


"Ada apa Dave?," ucap Sherly yang berhasil membuat hati Dave seperti di cabik-cabik.


"Ah nona, suara lembutmu. Andai saja saat ini kita berc*mb*," batin Dave.


Senyum samar terukir di bibir Dave. Sang empu saja tidak menduga. Justru Sherly yang dengan lantangnya membiarkan Dave menahan malunya.


"Jika sakit tidak usah bekerja. Aku tidak mau memiliki karyawan dengan wajah merah padam plus suka senyum-senyum sendiri. Aku nggak mau ikut-ikutan kek gitu."


"Plakk" saat ini Dave merasa pipinya ditampar.


Ucapan Sherly selalu sukses membuat laki-laki itu mengumpat kesal dalam hati. Nonanya terlalu sulit ditebak. Malah jika Dave berniat membuat game tebak-tebakan tentu dia akan kalah dengan permainannya.


Tidak semua yang dilakukan Sherly terdaftar dalam antrian kebiasaan wanita. Wanita satu ini entah ditemukan di spesies mana. Sangat langka. Dia selalu bersikap ramah kepada seluruh karyawan dan akan berubah menjadi macan saat dia dan Dave berdekatan.


Dave bergidik ngeri membayangkan saat Dave melakukan kesalahan. Dengan berat bibirnya mulai terbuka. Menceritakan sedikit kisah tentang apa yang dia ketahui.


"Tapi saya ragu jika percaya begitu saja," sanggah Dave cepat sebelum nonanya sadar jika di dalam kesadaran Dave masih ada sesuatu yang harus sadar juga.


"Katakan," pinta Sherly dengan nada kembali tegas.


"Aku berpikir mereka melakukan kecurangan. Jika curang agar bisa masuk rapat intern kemarin sudah jelas, tapi aku ragu tujuan mereka ke sini. Mungkin ke sini karena laki-laki itu masih mencintai Nona Sherly dan ingin mendapatkan anda kembali. Atau yang lebih buruk jika dia datang ke sini untuk menghancurkan Silver Coorporation," jelas Dave percaya diri.


Meski bukan laki-laki secerdas Sherly, setidaknya Dave masih bisa melihat cinta di sorot matanya. Namun entah apa motif sesungguhnya. Hanya untuk mengambil hati Sherly kembali atau untuk menggiring perusahaan ini agar berhasil masuk ke dalam listnya.


"All Right Dave," puji Sherly.

__ADS_1


__ADS_2