
Saat jauh, aku ingin memelukmu. Namun saat aku menyentuh, tubuhku mengisyaratkan keluh. Peluh, bisakah sebentar saja hadirmu tidak membuatku melenguh?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Selamat malam Dave, semoga tidurmu nyenyak," ucap Sherly ketika Dave keluar dari kamar mandi.
Lengkap dengan pakaian yang tadi di pilihnya. Sekarang giliran Sherly yang berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Sher."
"Hm," Sherly berhenti saat berjalan di tepat di depan Dave.
"Kenapa kamu repot-repot sama aku?."
"Aku nggak repot Dave, tapi inilah rutinitasku."
__ADS_1
Sherly tidak pernah melakukan sesuatu hanya untuk mencari perhatian. Apalagi untuk laki-laki yang menurutnya kaya. Wanita itu sudah memiliki semuanya.
"Cup! Jangan lupa bobok yang nyenyak. Aku nggak mau besok kamu bangun kesiangan," Sherly mengecup kening Dave dengan sedikit berjinjit kemudian segera pergi dari hadapannya.
"Bodohnya, aku pernah mencintai wanita yang tidak seperhatian ini," gumam Dave.
Mungkin karena lelah, laki-laki itu langsung menidurkan tubuhnya di ranjang. Tentang jam berapa Sherly tidur, atau tentang bagaimana dengan respon wanita itu nantinya, Dave tidak peduli. Saat ini itu matanya sungguh sudah memerah.
Sherly melangsungkan ritualnya hanya dalam waktu lima menit. Bukan karena banyak pekerjaan malam yang menanti, tapi ingin segera menikmati waktu bersama Dave.
Melakukan hal yang sama, yakni mencuci semua barang kotor di sana. Membuka kulkas, memastikan apa yang akan dia suguhkan untuk tamu VVIP-nya. Tidak ada apa-apa, hanya ada sosis dan camilan lainnya. Sherly berencana akan membuat nasi goreng sosis dengan telur mata sapi sebagai lauknya.
Merasa kedua matanya sudah berat, Sherly bergegas kembali ke kamar. Melihat ke arah ranjang. Ada sosok lajang yang sedang terlentang. Seulas senyum terbit, menyadari betapa hidup tidak terlalu rumit. Semua tidak akan sulit saat kita beranggapan tidak semua hal bisa melilit.
Baju tidur berwarna hitam dengan motif keroppi sebagai hiasan. Rambut pirang nya kali ini disangguk asal ke atas menyusahkan anak rambut yang tergerai bebas.
__ADS_1
"Brukk" tubuh Sherly terhempas tepat di samping Dave.
Keduanya tidak memakai sekat, tapi tidak terlalu dekat. Masih ada beberapa jengkal yang digunakan sebagai jarak.
Adanya jarak belum tentu menandakan kita terpisah walaupun mampu membuat kita gelisah. Sementara adanya ruang, belum tentu tercipta karena seseorang.
Sherly dan Dave saling berhadapan. Namun saat mereka sudah terbang ke alam impian. Entah apa yang merasuki keduanya, juga tidak ada yang tau mimpi apa yang menyerangnya.
Dave berangsur mendekat ke arah Sherly. Memeluk wanita yang masih tertidur dengan mendengkur. Menarik pinggang menepis sesuatu yang membuatnya renggang. Hingga habislah ruang yang tadi membentang.
Tidak ada yang tau kenapa Dave merasa tidurnya nyaman. Tidak ada lagi kegelisahan karena sang mantan. Ya, Dave belum sepenuhnya melupakan walaupun sosok Sherly perlahan bisa menggantikan.
Sementara Sherly tengah berada di alam mimpi. Wanita itu menyapa dunia dengan senyum merekahnya. Kembali berjumpa adalah imajinasi belaka. Karena nyatanya Sherly sama sekali tidak ingin mengulanginya.
Denting waktu berlalu menjadi saksi bisu atas dua manusia yang tidak pernah bersatu. Menikam alam di sepertiga malam. Hening kian menyapa saat pekat perlahan menjadi lekat.
__ADS_1