
Kita dipertemukan karena ketidaksengajaan. Namun hingga detik ini aku masih bertahan. Selalu kudoakan, semoga kita tidak pernah terpisahkan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Satu jam berada di apartement Sherly ternyata lebih menyenangkan daripada berada di ruangan dengan status asisten pribadi wanita itu. Dave tidak bosan berada di sana, hanya saja untuk saat ini tentu lebih menyenangkan baginya. Laki-laki itu sedang di fase jatuh cinta. Maka dia akan senang hati melakukan apa saja.
Denting waktu menjadi saksi bisu akan dia manusia yang masih canggung menghadapinya. Dave Anggara, asisten pribadi sekaligus sekretaris pribadi. Enam bulan waktu yang singkat, tapi seolah Dave menyangkal kenyataan itu meskipun sebenarnya sangat tepat.
"Sher."
"Hm."
"Boleh aku bertanya?"
"Apa asisten pribadiku mulai penasaran dengan kehidupanku?" Sherly lantas bertanya kepada Dave karena ini pertama kalinya laki-laki itu bertanya selain tentang kinerjanya.
Senyum tipis terukir di bibir yang tidak pernah mencibir. Dave mulai tersenyum karena ucapan Sherly.
"Karena entah mengapa aku mulai merasa adanya cinta, tapi lupakan. Aku tidak ingin hatiku kembali patah karena gelisah," batin Dave.
Dari ekor matanya, Sherly melihat adanya senyum yang terbit di bibir milik laki-laki di sampingnya. Wanita itu lalu memalingkan kepala, memastikan jika penglihatannya benar adanya.
"Kenapa tersenyum? Apa memandangiku membuatmu kagum?"
"What the hell."
Sherly tertawa karena umpatan Dave yang tentu saja ditujukan untuk dirinya. Wanita itu baru menyadari akhir-akhir ini jika ternyata Dave adalah manusia langka. Dia punya cara tersendiri meluapkan kekesalannya. Namun tanpa sadar mampu membuat seseorang tersenyum karenanya.
"Jika hari ini milikmu. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Sherly sesaat setelah menyelesaikan tawanya.
"Apa kamu juga milikku?
" tanya Dave tanpa berniat menjauhkan tubuhnya dari Sherly.
Lirikan tajam dari sang empu membuat Dave tersenyum miring. Tatapan yang selalu Dave saksikan saat Sherly kesal, kini tertuju kepada Dave.
"Lirikan itu membuatmu seperti wanita penggoda nona," ejek Dave dengan membalas lirikan Sherly.
"Kamu juga terlihat seperti gig*l* tuan," ucap Sherly tak kalah parah dari ucapan Dave.
__ADS_1
Mereka lalu tertawa membayangkan apa yang ada di kawasan lokalisasi. Keduanya bukan lagi anak kecil yang harus diawasi pergerakannya. Tau batas keamanannya, tapi tetap saja pernah menginjak ilmu di sana. Pikirannya melayang jauh pada dentuman yang pastinya memekakkan pendengaran.
"Hei, kamu pernah ke sana?" tanya Dave setelah mengakhiri tawanya.
"Belum, hanya sekedar tau saja. Mungkin kamu yang pernah jadi penghuni di sana. Atau pelanggan setianya," tebak Sherly dengan asal.
"Tidak juga."
Waktu, berhentilah di sini. Saat dimana aku menemukan kebahagiaan. Meski hanya sebatas kesederhanaan. Aku mencintaimu dengan cara yang kupunya. Walaupun belum mampu mengungkapkan sepenuhnya. Percayalah rasa akan semakin sempurna saat ada seseorang yang menaburi tambahannya.
Sherly ingat jika wanita itu habis membeli kaset film. Kemarin belum sempat menontonnya. Dan sekarang wanita itu ingin mengajak Dave, itupun kalau Dave mau.
"Dave, aku punya film. Mau nonton?."
"Film apa? Bukan khusus dewasa kan?."
"Sebenarnya film lama, tapi aku baru membelinya beberapa waktu lalu."
"Boleh juga."
"Baiklah, tunggu di sini. Aku akan mencarinya."
Tidak butuh waktu lama karena ternyata ingatan Sherly masih tajam dan wanita itu menemukannya di sana. Berjalan ke arah TV. Menghidupkan, lalu menekan remote kontrol mencari gelombang khusus untuk memutar DVD.
Kaset dimasukkan dan ditekanlah tombol play pada DVD. Layar yang tadinya hanya berwarna gelap mulai menampilkan judul.
"Java Heat?," gumam Dave dengan nada naik lalu berakhir turun.
Terdengar seperti sebuah pertanyaan, tapi Sherly tidak berniat menjawabnya. Wanita ituberjalan ke sofa yang sudah di duduki Dave. Nampak kosong di sampingnya. Lalu mendaratkan pantat di sana.
"Kirain bakal nonton film romance kaya di bioskop," gumam Dave.
Senyum mengembang terbit di bibir Sherly. Wanita itu menatap penuh wajah sempurna Dave. Tidak ada cacat sedikitpun di sana. Bahkan satu jerawat juga tidak berani ada. Hanya bulu halus tipis yang bertengger menambah kesan gentlemennya.
"Kamu pengen yang romantis Dave? Yakin? Aku takut kamu baper. Apalagi aku. Aku juga takut baperan kaya kamu," ucap Sherly pura-pura polos.
"Wanita ini! Dia sulit sekali ditebak. Sekarang malah aku yang terjebak. Sial! Padahal kan niat ku cuma tanya kenapa nggak film romantis? Kebanyakan wanita menyukai film itu. Oh ya, aku lupa dia wanita langka," ucap Dave dalam hati.
Sebagai respon, Dave mengerutkan dahi dengan bibir sedikit terbuka. Memaksa sisi liar Sherly refleks meronta.
__ADS_1
"Cup" Sherly tanpa sadar mengecup bibir seksi Dave.
Jika tadi Sherly mencium lalu pergi, tidak untuk saat ini. Sekarang justru Dave menahan tengkuk wanita itu agar tetap berada di posisinya. Menyelami indahnya bola mata Sherly, menggali respon apa yang akan diterimanya.
Diam, Sherly diam dengan perlakuan Dave. Mungkin saja laki-laki itu mulai mencairkan hati Sherly yang terlanjur beku.
Perlahan tangan kiri Dave merengkuh pinggang Sherly. Menepis jarah tubuh mereka yang masih tersisa. Juga membiarkan bibir mereka saling bersentuhan. Menikmati hembusan nafas satu sama lain ternyata menimbulkan sensasi tersendiri.
"Cup" Dave membalas kecupan Sherly diiringi dengan ******* ringan. Menunggu penolakan dari wanita di hadapannya. Tapi tidak juga ditunjukan. Sherly justru membalas ******* Dave.
Berjalan seirama, seperti keinginan keduanya. Mulai menyesap, pelan tapi seperti ketagihan. Mereka mulai membuka bibirnya satu sama lain hingga terjadilah pemanasan yang cukup membakar jiwa dewasa keduanya.
"Huuuuffttt" Sherly menghembuskan nafas panjang saat Dave sudah mengakhiri ciuman lamanya.
Begitupun Dave, laki-laki itu hampir kehabisan nafas. Permulaan yang membuat celana Dave semakin sesak. Bukan hanya Dave karena ternyata Sherly merasa bagian bawah miliknya sedikit basah.
"Cup" Dave sekali lagi mencium bibir Sherly sebelum akhirnya laki-laki itu menarik Sherly ke dalam dekapannya.
"Biarkan aku di sampingmu. Jika tidak bisa memilikimu, setidaknya aku masih bisa menjagamu," bisik Dave pelan tepat di telinga Sherly.
Wanita itu tidak melakukan respon apa-apa selain senyum tipis yang sangat samar. Mungkin saja Dave tidak melihatnya.
Pandangan Sherly tertuju ke layar TV. Menikmati film action dewasa yang mulai berputar. Dave juga melakukannya. Ini pertama kali Dave menonton dengan wanita, selain genre romance.
"Jujur, kamu wanita pertama yang tidak bisa ditebak keinginannya."
"Memangnya apa yang aku inginkan?."
"Entahlah," ucap Dave acuh seraya mengangkat kedua bahunya.
"Gimana sih tadi ngoceh, giliran ditanya malah acuh. Suka gantungin hati orang," gerutu Sherly kesal.
Dave ingin tertawa melihat ekspresi menggemaskan yang diciptakan Sherly, tapi diurungkan. Dave tidak mau membuat wanita di sebelahnya benar-benar kesal.
Mengusap rambut Sherly menjadi pilihan Dave. Setidaknya wanita itu juga butuh belaian kan? Sherly merasakan adanya ketulusan saat bersama Dave, tapi belum bisa memastikan apa motif dibaliknya.
Kamu bisa membaca keadaan lewat apa yang dapat kamu perhatikan, tapi belum tentu bisa memahami maksud hati karena dia bersembunyi.
"Bisa saja cuma modus," batin Sherly.
__ADS_1