Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Memulai


__ADS_3

Kembalinya dia di kehidupanmu bukan berarti kembalinya cinta yang pernah dia miliki untukmu. Kadang seseorang juga butuh ruang untuk kembali mengenang bukan untuk kembali mengulang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bangunan kokoh yang menjulang tinggi telah terlihat. Dave semakin melajukan mobilnya dengan pelan memasuki khawasan parkiran khusus VIP. Laki-laki itu membuka sabuk pengaman yang digunakan lalu melirik sekilas ke arah wanita yang duduk di sampingnya.


"Huuffttt" Dave menghembuskan nafas berat.


"Selalu saja tidur. Apa anda tidak sempat memejamkan mata saat di rumah nona? Atau berada di sampingku membuatmu nyaman hingga tidak pernah merelakan aku istirahat barang sebentar," ucap Dave bermonolog pada diri sendiri.


Wajah cantik dengan make up natural selalu menjadi style Sherly. Menurut Dave, andaikan wanita itu tidak memakai lipstik juga bibirnye tetap menggoda. Karena apa Dave bicara demikian? Karena dia sudah beberapa kali merasakan.


"Stop Dave! Hentikan pikiran kotormu."


Menikmati hembusan nafas yang hangat membuat Dave selalu ingat jika dia tidak mungkin terus memandang atasannya yang sedang terlelap. Kendati pergi atau membangunkan Sherly, laki-laki yang selalu berpikiran mesum saat di dekat nonanya melakukan hal yang tidak ada di daftarnya.


Dave mendekat, mengamati dengan lekat kecantikan Sherly. Rambut pirang, alis sedang, bulu mata panjangnya, bentuk melengkungnya, hidung peseknya, dan bibir seksi tentunya. Dave suka semua yang ada di sana.


Jika belum bisa menyentuh, setidaknya mengamati dari jarak sedekat ini membuat benak Dave sedikit terisi dengan bayangan nonanya.


"Nona, betapa sempurnanya anda," puji Dave kepada wanita yang masih saja terlelap.


Hembusan nafas Dave beradu dengan sapuan angin milik Sherly. Nafas mereka bertabrakan, tapi hanya Dave yang mampu merasakan. Sherly mengerjapkan mata, tapi Dave tidak melihatnya. Laki-laki itu fokus ke arah bibir Sherly saja.


Ketika kedua netra sudah sempurna melihat dunia, bukan hamparat langit di angkasa yang menjadi objek utamanya. Namun seorang Dave Anggara, sekretaris pribadi sekaligus asisten pribadinya.


"Sial! Ngapain deket banget sih Dave. Bikin aku mau jantungan aja," batin Sherly.

__ADS_1


Debaran dadanya mulai tidak beraturan. Sherly merasa jantungnya tidak bisa bekerja sama. Wanita itu memejamkan mata lalu membukanya lagi. Berkali-kali melakukan untuk mengurangi kegugupan.


Namun nihil. Debaran dadanya semakin tidak beraturan hingga indra pendengaran Dave mulai mendengarkan.


"Kok nggak santuy kaya tadi ya? Jangan bilang Sherly udah bangun. Please bee, tutup mata lagi ya Aku nggak mau kepergok liatin kamu pas tidur. Mau ditaruh dimana harga diriku?," batin Dave.


Jarak dekat biasanya menciptakan sesuatu yang nikm*t. Namun tidak untuk saat ini. Keduanya sibuk mengatur alibi agar tidak terlihat rendah diri.


"Ehem" Sherly akhirnya berdehem.


Wanita itu tidak sanggup menahan malu, tapi di satu sisi dia tetaplah seorang CEO yang tidak ingin reputasinya hancur. Apalagi di hadapan tangan kanannya. Ya, meskipun Dave sebenarnya sudah paham dengan apa yang sering Sherly lakukan.


"Maaf nona," ucap Dave seraya menjauhkan tubuhnya.


Bukan mendorong Dave, Sherly justru menggoda Dave. Wanita itu menarik tubuh sekretarisnya agar kembali mendekat. Refleks Dave mendongakkan kepalanya menatap ke arah Sherly Angel sang atasan sekaligus CEO di perusahaannya.


Sorot mata iba yang Dave berikan tidak membuat sisi baik hati Sherly ditemukan. Wanita itu malah melakukan hal yang sama. Menatap Dave dengan puppy eyesnya.


"Tatapan itu em-," Dave menggantung ucapannya karena tidak kuasa menatap manik mata atasannya.


Siapa yang harus disalahkan jika saat ini mereka sudah berhadapan? Sherly tidak bisa berkompromi dengan pikiran liarnya, sedangkan Dave tidak berani memulainya.


Ego telah menguasai harga dirinya hingga Dave lupa apa statusnya. Berada di jarak sedekat ini dengan Sherly membuat Dave berani untuk memulai. Entah darimana keberanian itu muncul, tapi saat ini Dave mulai memajukan tubuhnya.


Menghimpit wanita yang berstatus atasannya, lalu mendekatkan bibir miliknya ke arah bibir Sherly Angelnya. Tidak ada dorongan ataupun penolakan yang dilakukan. Tangan kanan Dave terulur menggapai ke arah depan dada.


Sherly memejamkan mata menikmati apa yang akan Dave lakukan. Sepersekian detik, Sherly tidak merasakan apa-apa. Jangankan sentuhan, sekedar bertabrakan dengan udara saja tidak.

__ADS_1


"Klek" suara sabuk pengaman terdengar tepat saat Sherly membuka mata.


"Astaga! Sial! Apa aku sangat berharap kepada laki-laki ini? Please Dave, menjauhlah jika tidak ingin anganku yang semakin menjauh," batin Sherly.


"Nona, apakah anda tidak papa jika aku melakukannya? Sungguh kuingin semuanya, tapi apalah daya. Aku masih takut untuk memulainya," batin Dave.


Terkadang apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Kalimat itu berlaku untuk Dave Anggara. Apa yang tadi ditakutkan hanya ada di dalam pikiran. Saat ini Dave justru memeluk Sherly membawa wanita itu ke dalam dekapan.


"Cup" dengan lancang Dave mencium bibir Sherly.


Membiarkan Sherly menikmati kehangatan yang mulai menjalar di dalam nadi. Kembali Sherly memejamkan mata menikmati sensasi yang ada. Kedua tangannya terulur membalas pelukan Dave.


Biar saja mereka merasakan kehangatan. Tidak ada yang salah diantara mereka. Mungkin hanya waktu dan tempat yang patut disalahkan. Kenapa tragedi ini tidak terjadi di malam hari? Kenapa juga saat ini mereka tidak berada di apartement Dave ataupun apartement Sherly.


Lum***** lembut mulai Dave rasakan. Senyum manis terbit di tempatnya. Sherly ternyata memulai semuanya. Tentu saja Dave dengan senang hati menerimanya.


Tidak ada yang bisa menolak ketika seseorang yang dicintai melakukan hal yang seharusnya belum boleh terjadi. Oke anggaplah saat ini orang ketiga menang atas mereka berdua. Setan menguasai keadaan dan tamatlah riwayat Sherly sebagai atasan.


Usapan lembut di puncak kepala Sherly membuat sang empu semakin tidak mampu menahan sesuatu. Dave mengeratkan pelukannya membiarkan Sherly terus menuntut permainannya.


Dengan penuh kesadaran, tapi melakukan karena menginginkan. Sherly mengacak rambut Dave dengan mesra. Sesekali menjambak karena nalurinya.


Desiran-desiran aneh mulai Dave rasakan. Bawahan tidak tau diri itu yakin jika jiwa lelakinya sudah meminta yang lebih dari semestinya. Tanpa melihatpun Dave yakin, di bawah sana benda miliknya tengah merasakan sesak tiada kira.


"Damn," batin Dave.


Tangan kiri mengeratkan pelukan. Sementara tangan kanan mulai melakukan perjalanan. Dave menuntun jemari kekarnya untuk bertraveling ria. Menyusuri lekuk tubuh Sherly bagaikan menyusuri belokan dengan pepohonan rimbun di kanan kiri. Nyaman dan tidak ingin segera diselesaikan.

__ADS_1


Hanyut dalam khayalan, tapi lebih indah di kenyataan. Semakin Sherly memberi ciuman menuntut, semakin pula Dave ikut melakukan hal yang luput. Luma*** lembut telah berubah menjadi luma*** menuntut entah sejak kapan mereka mengubahnya.


Jika jatuh cinta membuat dunia serasa milik berdua, lalu bagaimana ketika prahara membakar jiwa yang ada di dalamnya, apakah kata cinta masih sanggup bersandang di sana?


__ADS_2