
Terkadang Tuhan mengirim seseorang untuk pengalaman, bukan untuk bersanding di pelaminan.
Jadi jangan saling menyalahkan saat sesuatu memaksa kalian untuk saling berjauhan.
Ingat, Tuhan hanya mengirim dia untuk memberimu pelajaran bukan menyuruhmu nyaman dan terus bersandar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mengingat Dave yang selalu ada membuat Sherly iba. Tidak baik jika dia terus membuat Dave kesal, walau kenyataanya sekretarisnya itu lebih sering membuat nonanya sebal.
Tangan kanan Sherly terulur menggapai gelas berisi teh hangat. Lalu menyodorkan ke arah Dave setelah lebih dulu memungut kembali bantal yang sempat dilemparnya tadi.
"Minum dulu Dave, biar anget," ucap Sherly.
Dave tersenyum. Menerima pemberian Sherly kemudian meneguknya pelan. Bukan tidak bisa layaknya seorang atlet yang sekali teguk langsung habis, tapi ini tentang panasnya teh yang baru beberapa menit diracik.
"Huuff huuuff huufff" Dave meniup pelan.
Bersama senyum mengembang, Sherly menarik gelas yang ada di genggaman membuat Dave sempat berpikir buruk tentangnya.
"Baru juga dikasih, sekarang udah diminta lagi," batin Dave.
"Huff huff huff" Sherly meniup pelan lalu mengambil sendok untuk diberikan.
"Sini biar aku suapin aja. Kasihan tenaga kamu habis cuma buat niup kaya gini," ucap Sherly.
"Ah nona, ternyata anda peka sekali. Kalau masa pendekatan seindah ini, kenapa nggak dari dulu aja sih," pikir Dave.
Waktu terus bergulir hingga tiba saatnya gelas kosong menyingkir. Berganti dengan roti bakar coklat keju, Sherly mengambil tisu. Membentuk benda itu menjadi lipatan kemudian mencomot sepotong untuk diberikan kepada Dave.
"Aaakkkk"
"Em"
"Yummy! Enak mommy, aku mau lagi ya, " ucap Dave riang.
"Iya nak, nanti kalau udah selesai makan terus minum obat ya."
"Dave nggak mau mom. Dave kecil kan nggak sakit."
"Iya, Dave kecil emang nggak sakit kan yang sakit Dave gede."
"Cup" Dave mendaratkan kecupan singkat di dahi Sherly.
Kenapa Dahi? Karena Dave tidak mungkin mengotori bibir Sherly dengan coklat yang masih menempel di bibirnya. Biarkan dahi saja yang kotor, bibirnya jangan karena nanti Dave akan nyo***.
Pelototan Sherly tidak berarti untuk Dave. Anggaplah bola mata moliknya adalah hal terindah. Jadi tidak ada alasan untuk Dave berani membantah. Biarlah mereka melihat yang semestinya.
Suapan terhenti, Dave ikut terpatri. Pandangannya terkunci ke arah Sherly. Bibir Dave sudah terbuka, tapi Sherly menjauhkan tangannya begitu saja.
"Em, yummy," gumam Sherly.
Dave merengut. Laki-laki itu mengerutkan dahi dan memantulkan bibir. Sherly melirik sekilas lalu tersenyum lepas.
Sepersekian detik keduanya saling menelanjangi rasa aneh yang tercipta. Dave Anggara masih berada di posisi yang sama. Juga masih dengan ekspresi comelnya. Ingin rasanya Dave mendekat lalu meluma* bibir mungil milik Sherly, tapi rasanya tidak seindah saat mereka tidak dipisahkan oleh roti sialan.
"Sial! Sisi liar selalu saja keluar," batin Sherly.
Tangan kanan Dave terulur mengambil tisu kemudian mencomot makanan berbahan dasar gandum. Menyodorkan tepat di hadapan lawan bicaranya.
"Aakkkk"
"Emm"
"Kalau mau disuapin bilang dong. Jangan diem aja. Aku kan nggak peka dengan sebuah teka-teki jenaka," ucap Dave santai.
"Emang kamu tadi bilang kalau mau disuapin? Enggak kan? Aku aja inisiatif sendiri. Kenapa kamu nyalahin aku gini?," protes Sherly sebagai bentuk tidak terima.
Sherly benar, Dave tidak memintanya. Namun Sherly tiba-tiba melakukannya.
"Apa aku sebodoh itu? Masa aku nggak peka sih? Tapi kalau di ranjang aku bakalan peka," bisik sisi liar Dave.
"Apa wanita selalu benar?," tanya Dave.
"Tidak."
"Lalu."
"Ada kalanya kaum hawa lengah di hadapan pria."
"Apa seperti saat kita bersama?."
__ADS_1
"Ya, kira-kira. Aku pun sulit mengartikan. Apalagi untuk memberi penjelasan."
"Nona, kau kan seorang CEO. Masa kaya gini nggak tau."
Sherly menatap ke arah Dave. Sorot matanya tajam, tapi tidak membuat kejahilan Dave padam. Justru itulah yang selalu dinantikan. Melihat Sherly marah adalah hal yang membuat Dave terbungkam.
Bukan karena keadaan yang membungkam, tapi kegalakan wanita di hadapannya selalu membuat sisi liar Dave berantakan. Bayangan Sherly tanpa permisi menjadi tokoh utama di setiap adegan yang di perankan. Sementara Dave menjadi pembenar jika Sherly melakukan kesalahan. Hingga akhirnya adegan demi adegan hanya mampu Dave bayangkan.
"Sial," umpat Dave.
"sekretaris mesum," tukas Sherly.
Tidak bisa dipungkiri, Sherly terlalu cepat memahami. Jauh sebelum Dave menyadari jika ternyata sisi liarnya telah resmi berkeliaran.
Sementara saat kesadaran berhamburan, Sherly telah lebih dulu melengos meninggalkan objek pertama yang sangat menyebalkan.
"Jaga diri sher, jangan sampai khilaf. Brian aja bisa dituntaskan. Apalagi makhluk yang saat ini duduk di hadapan. Mungkin dia semacam pendatang, tapi juga pemilik kekuasaan. Pesonanya sulit dilupakan sekalipun melakukan kesalahan."
Sesi mengenyangkan perut telah selesai. Sekarang saatnya Sherly memberi bayi besarnya obat agar cepat sembuh dari demamnya. Saat hendak membuka tablet, Dave melarang. Tangannya menggenggam jemari Sherly.
"Aku habis minum teh sher, nggak baik kalau minum obat," ucap Dave dengan tatapan puppy eyes.
Sherly tidak mengerti antara hubungan teh dan obat. Apakah mereka memang benar berpengaruh atau hanya pendapat Dave agar Sherly luluh. Yang terpenting, saat ini Sherly urung membukakan permen berwarna untuk Dave.
"Terserah kamu aja Dave."
"Sungguh be, lagian aku juga udah baikan. Lihat nih, aku udah bisa duduk deket kan? Aku, juga udah bisa berpelukan."
Pelan, Dave menggeser pantatnya mendekat ke arah Sherly membuat wanita itu mengernyitkan dahi. Siapa yang sebenarnya modus di bagian ini? Dave atau Sherly?
Bahkan wanita itu tidak marah ketika Dave dengan lancang menaikkan kakinya ke atas paha Sherly. Seolah benaknya selalu bisa mencerna, Sherly segera memijat pelan betis Dave. Nyaman, itulah yang dirasakan Dave.
Menyangkut enak dirasakan atau tidak, Dave tidak peduli. Toh selama ini dia sendiri tidak pernah diperlakukan begini.
"Kamu wanita pertama yang rela menyentuh bagian bawahku. Mantan kekasihku saja tidak mau. Dia selalu menginginkan benda keras yang kumiliki, tapi tidak dengan menghargaiku seperti ini."
"Sabar Dave, tidak semua wanita mau diajak bekerja sama. Banyak dari mereka yang lebih suka enaknya saja tanpa mau berusaha."
"Tapi kamu berada sher. Aku tau, usahamu pasti lebih besar daripada aku. Aku ini anak manja, tidak seperti kamu yang terbiasa hidup seadanya."
Kerutan samar terlihat di dahi Sherly.
"Bukankah hidupmu dulu sulit sepertiku?," tanya Sherly sembari mengingat apa yang pernah terjadi.
"No babby. Bisa dikatakan bahagia, bisa juga disebut menderita. Entahlah, aku sedikit bimbang saat membahasnya."
"Kau ini. Hanya masa lalu saja dipersulit. Bagaimana dengan masa depan yang masih sempit."
Sontak Dave menjadi semangat. Pikirannya menjalar ke sesuatu yang nikmat.
"Uh nona, seandainya saja."
Jemari Sherly yang lembut menyentuh betis Dave yang penuh dengan bulu halus. Naluri wanitanya meronta karena pemandangan di depan mata.
"Astaga," batin Sherly.
Bukan penuh nafsu yang Sherly lakukan, tapi wujud sebagai rasa kasih sayang. Wanita itu tidak merendahkan diri di hadapan bawahannya. Namun berusaha bersikap baik layaknya manusia dengan status sosial yang saling membutuhkan.
"Kamu belajar dimana sher? Kayaknya otot di betisku udah mulai rileks nggak selalu tadi."
"Iyalah nggak selalu tadi. Kan sekarang yang kamu pindah otot tanpa sendi."
Beruntung Dave sengaja memalingkan pandangannya. Beruntung juga Sherly setia menghitung jumlah rumput kecil di hadapannya. Kulit putih dengan rumput bergoyang warna hitam membuat Sherly terus bermain dengan akal sehatnya.
Hanya memikirkan saja membuat wanita itu menderita. Bagaimana jika setiap hari Dave selalu bersama? Sherly tidak yakin bisa menahan diri jika Dave terus seperti ini.
Setengah jam berlalu. Sherly hanya berkutat di bagian yang sama. Untuk apa? Karena dia sadar keduanya bukanlah anak balita. Mereka sudah dewasa. Tidak pantas bertingkah layaknya pasangan yang sesungguhnya.
Dave setia menanti waktu yang tepat untuk mengungkapkan di hadapan karyawan perusahaan. Saat ini laki-laki itu hanya ingin memastikan apa yang harusnya dilakukan. Setelah final dalam berhubungan, Dave tidak akan bisa menoleransi hipotesis yang telah dibuatnya. Dave tidak ingin semuanya sia-sia.
Bangun dari tidur lalu duduk bersandar sembari mengamati Sherly yang selalu tersenyum. Seolah hidupnya bahagia, padahal tidak ada yang tau betapa terlukanya dia.
"Hap" Dave menggapai jemari Sherly yang terus bergerilya kesan kemari.
Sang empu menolehkan kepala. Membiarkan wajah polosnya terlihat oleh Dave sepenuhnya. Tidak seperti wanita kebanyakan yang akan menunjukkan raut kebingungan, Sherly justru tersenyum ramah seraya membalas genggaman Dave.
"Apa yang dipikirkan?."
Sorot mereka bertemu hanya dalam hitungan detik. Selebihnya Sherly memilih diam tidak berkutik. Tentu dengan sudut mata yang berhenti melirik.
"Please give me little explain about your life." (Tolong beri aku sedikit penjelasan tentang hidupmu)
__ADS_1
"Apa yang kamu tau tentangku? Seberapa penting pengetahuanmu itu? Aku tidak ingin membagi kehidupan kepada sembarang orang."
Dave mendekat, Sherly menatap lekat. Tatapannya terkunci pada kedua bola bening Dave. Mencari adanya kebenaran di sana. Apa motif Dave mendekatinya? Benar cinta atau hanya modus belaka.
"Kamu seorang CEO sekaligus pemilik perusahaan terkenal. Resmi menjabat baru enam bulan. Sebelumnya kamu adalah sekretaris. Selalu berwibawa di hadapan bawahan. Profesional dalam bekerja. Di balik itu semua, aku tidak pernah tau siapa kamu. Bahkan perihal percintaan dan dia saja aku tidak bisa menjelaskan."
"Lalu? Hanya sebatas itu? Ternyata secuil rasa tahu ku tidak seberharga kisah hidupku."
Tnagan Dave terukur membimbing jemari Sherly menuju tempat tersembunyi. Menyentuh bagian dada laku beralih ke bagian kanan lehernya.
"Kamu tau di sini nadiku berdetak. Selama itu juga aku tidak akan membiarkanmu mengelak. Saat ini aku memang orang lain yang ingin kamu tolak, tapi, aku percaya suatu hari nanti," Dave menjeda ucapannya untuk membawa jemari Sherly kembali ke arah dada.
"Kamu akan tetap abadi di sini. Kalaupun suatu hari nanti aku mengenal wanita yang lebih segalanya, aku tidak akan tergoda olehnya. Karena untukku baik sekarang ataupun di waktu yang akan datang kamu tetaplah prioritas ku. Sederhana yang kutunggu, tapi jika sempurna yang menghampiriku maka aku, tidak akan pernah lupa untuk berterima kasih atas hadirmu."
"Cup" Dave mengecup kening Sherly dengan mesra.
"Aku sungguh mencintaimu," bisik Dave.
Antara racikan bumbu yang sedang berlomba menjadi satu. Sherly hanya membatu tidak bisa mengeluarkan sebuah kata. Semua terlalu cepat, tapi lambat juga tidak akan membuat semuanya terikat.
"Bagaimana jika aku tidak seperti yang kamu prediksi?."
"Selagi kamu bukan bibit pelakor, aku tetap bisa mentoleran."
"Sial," umpat Sherly seraya menarik tangannya lalu mencubit pinggang Dave.
"Aaawww sakit bee," rengek Dave seraya meringis menahan sakit yang diakibatkan penyatuan kuku, dan kulit tulang.
Tidak ada lagi yang, ditutupi. Dave memilih menggelitik Sherly hingga wanita itu jatuh ke lantai. Menatap Dave dengan rasa ingin membantai. Namun seringai tipis terukir dengan santai.
"I'm so sorry baby. Aku akan mengobatinya."
Dave mengulurkan tangannya untuk membantu Sherly berdiri. Wanita itu mengikuti arahan asistennya. Hingga kini Sherly mendaratkan pantatnya tepat di hadapan Dave.
"Bagaimana caranya?."
"Tutup matamu."
Bodohnya, Sherly menuruti perkataan Dave. Dia belum tahi niat apa yang tersembunyi. Wajah cantik natural membuat Dave tidak bisa berhenti memandang.
"Cup" kecupan singkat mendarat di bibir Sherly membuat wanita itu semakin mengerucutkan bibir.
"Tutup matamu sayang."
"Awas kalau aneh-aneh."
Dengan berat Sherly membiarkan matanya terperangkap. Seringai licik terbit di bibir Dave Bagaimanapun dia selalu punya cara untuk membuat wanitanya tertawa. Tidak akan ada luka untuk sosok di hadapannya.
Menghimpit Sherly lalu menarik pinggang semakin dekat ke arahnya. Merapatkan tubuh Sherly atas tubuhnya. Dave yakin dadanya selalu tidak leluasa saat melihat Sherly terus tersenyum di hadapannya.
Sementara Dave sudah tidak sabar menunggu penghargaan. Tentang apa? Tentunya tentang Sherly yang harus memberikan jawaban malam ini.
Usapan lembut Dave berikan di sekitar pusaran. Lalu ke saling menuju benda ramping. Tiba-tiba Sherly bangkit.
Refleks tangan kanan Dave langsung menahan.
"Jangan pergi," rengek Dave.
"Hm baiklah," Baiklah.
Karena menahan saja tidak cukup, Dave memilih untuk terus diam dan tidak mengeluh. Padahal semua yang ada pada tubuhnya meronta meminta setiap detik yang tersisa.
"Cup" Kecupan bersarang di telinga Sherly.
Ternyata Dave kembali menciumi. Turun ke leher, menyapu seluruh ruang agar tidak tersisa. Membungkam setiap inchi yang terpendam. Meninggalkan bekas air yang tidak teramat jelas.
"Cup" kecupan kecil bersarang di pinggang Sherly.
"Daaveee," pekik Sherly saat tau apa yang, dilakukan Davenya.
Tidak takut sama sekali kepada Sherly karena Dave yakin rasa yang dimiliki sama. Untuk saat ini apa? Mereka sibuk berkelahi meskipun semuanya sudah selesai.
"Nona, anda teramat berharga bagi saya. Sementara saya tidak pernah sedikitpun tampan di depan matanya," ucap Dave.
" Sher, tatap aku," imbuhnya.
Mengingat jabatan Sherly yang lebih tinggi tentu saja Dave ingin mengungguli. Tapi bukankah Dave tidak ingin Sherly merendah jika wanita itu berada di bawahnya. Saat ini saja meskipun Sherly menjadi atasan dia selalu merendah.
Seolah menutupi dari semua orang siapa dirinya. Tidak pernah menggunakan jabatan dan kekuasaan untuk menindas orang yang tidak hormat kepadanya.
"Sher, please tatap aku," pinta Dave sekali lagi.
__ADS_1
Tidak. Sherly belum berani menatap sorot mata Dave yang membuat dirinya merasa tenang.