Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Sakit


__ADS_3

Sekedar memandangmu dari jauh saja aku bahagia, apalagi bisa berdiri di sampingmu selamanya. Aku menyimpan rasa untuk seseorang yang jauh di depan sana.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sherly meninggalkan ponselnya di mobil. Berjalan tergesa meninggalkan Dave yang baru melepas sabuk pengamannya. Dave punya cara untuk membuat Sherly bahagia, maka Sherly punya beribu cara agar Dave menderita.


Sengaja Sherly pergi lebih dulu karena ada hal yang tidak boleh Dave tahu. Sherly selalu malu setiap kali Dave melihat dirinya menatap Brian dengan tatapan memuja. Entah, Sherly merasa jiwanya seperti abg yang baru punertas saat berada di hadapan Brian.


Dave melongok ke belakang memastikan ada barang nonanya yang ketinggalan atau tidak. Hujan sudah turun, Dave sangat ingin segera pulang karena badannya mulai kedinginan.


Bagaimana tidak jika Dave merasa tukangnya sudah membeku sementara Sherly tidak mau mematikan AC mobilnya. Dia juga dengan sengaja membuka kaca agar bisa merasa tiupan angin dari luar.


"Astaga, bukankah nina duduk di depan. Lalu bagaimana ponselnya ada di belakang?," desah Dave pasrah.


Apapun yang dilakukan atasannya selalu membuat Dave kesal. Meski begitu Dave sadar jika cinta butuh pengorbanan.


"Kalau bukan karena cinta, tidak mungkin aku melakukannya."


Rasa kantuk dan dingin mampu ditepis Dave. Semua itu dilakukan untuk membuktikan rasa cintanya kepada sang nona. Butuh sepuluh menit perjuangan untuk sampai di depan apartement Sherly.


"Ting tong" Dave menekan tombol pintu.


"Siapa?," teriak Sherly.


"Eh, bodo*! Kan nggak kedengeran dari luar."


Wanita pemilik apartement sudah berjalan menghampiri pintu. Membuka lalu kemudian tersenyum.


"Senyummu mengalihkan duniaku nona," batin Dave.


"Ada apa Dave? Kirain udah pulang tahunya malah kesini."


"Oh, ayo masuk Dave. Kamu kok pucat gitu sih? Kenapa? Sakit?," cerca Sherly.


Dave tidak berniat menjawab. Dia justru menunjukkan senyum manisnya lagi. Tanpa Dave sadar, Sherly sudah ingin tergoda saat ini, tapi masih menutupi.


Punggung tangan kanan Sherly ditempel ke dahi Dave. Sherly merasa suhu Dave sedikit panas dari biasanya.


"Kamu sakit Dave?."

__ADS_1


"Tidak nona."


"Tapi tubuhmu demam."


"Aku gugup dekat denganmu."


"Aish, udah sakit masih aja gombal. Ayo masuk duduk di sofa. Kalau mau mandi, aku ambilin air hangat Dave. Istirahat dulu aja. Pulang kalau udah mendingan."


"Kok disuruh pulang? Kalau nginep sini gimana?."


"Daaavveeeee."


"Haaacciiiuuuu" mendadak Dave bersin.


Refleks Sherly mengacak rambut Dave.


"Yaudah nanti boleh nginep sini. Aku jadi nggak tega mau marah ke kamu."


"Syukurlah, bersin menyelamatkanku. Bersin terus aja biar dibelai-belai," batin Dave.


Sherly menatap iba ke arah sekretsrisnya. Kasihan sekali hidup Dave.


"Apa akan ada seseorang yang marah jika aku bersikap ramah? Aku tidak tega melihatmu seperti ini, tapi aku takut salah jika memberinu perhatian lebih. Di sini kamu aman bersamaku. Aku tidak akan membiarkan kamu kedinginan."


"Dave, aku ke apotek bentar. Persediaan obatku habis."


"Iya nona."


Seiring atasannya berlalu, Dave kembali memejamkan matanya. Rasa kantuk yang belum sepenuhnya terpenuhi mendadak menghampiri. Dave terlelap dengan pakaian kerja yang masih lengkap. Hanya sepatu saja yang sudah dilepas.


"Terima kasih nona, anda terlalu baik hati kepada saya," gumam Dave.


Sherly menuju apotek di sebrang jalan. Terpaksa wanita itu berjalan kaki menggunakan payung tidak peduli kaki jenjangnya yang kotor saat terkena lumpur. Semua tidak sebanding dengan kesetiaan Dave terhadapnya.


Masuk ke apotek lalu membeli obat penurun panas dan vitamin untuk Dave. Wanita itu ingat kebutuhan dapurnya yang menipis. Kakinya melangkah menuju ke supermarket di samping apotek.


Belum sempat membuka pintu, dari dalam lebih dulu ada seseorang yang mendorong pintunya.


"Brukk" Sherly hampir menyentuh tanah, tapi satu lengan kekar menahannya.

__ADS_1


Segera Sherly bangkit dan meminta maaf kepada sosok di hadapannya.


"Maafkan saya tuan. Saya tidak sengaja," ucap Sherly seraya menundukkan kepala.


"Makanya kalau jalan lihat-lihat jangan nunduk terus. Kamu sengaja mau cari perhatian calon tunangan ku kan? Dasar jal***," ucap suara lain di hadapannya.


Merasa tadi adalah laki-laki, tapi sekarang yang didengar suara ontaf wanita, Sherly mendongakkan wajahnya. Menatap dua manusia dengan sifat yang berbeda. Laki-laki bersama senyum simpulnya, sementaea sang wanita dengan wajah angkuh dan nampak menjijikkan.


"Jorok banget sih. Kamu pasti gembel baru ya? Lihat pakaianmi kotor, kakimu dekil dan bajumu sedikit basah. Oh no! Kenapa kamu tadi pegang dia honey?."


Laki-laki itu masih terus menatap ke arah Sherly. Dia merasa pernah bertemu, tapi tidak tahu dimana. Semakin mengingat, sosok itu semakin yakin jika dia tidak salah lihat.


"Maaf nona, saya tidak sengaja. Lagipula bukankah anda yang mendorong pintu dengan kasar sementara saya masih berada di luar?."


"Diam kamu! Jangan berani membela diri. Salah tetep aja salah."


"Hei lihatlah! Gembel ini berani menggoda calon tunangan saya. Dia mencari kesempatan dalam kesempitan. Menyentuh tubuh pacar saya sedangkan saya masih ada di sampingnya."


Tanpa menunggu lama, semua manusia yang berada di sana mengamati dua wanita dan satu laki-laki. Terlihat seperti memperebutkan seseorang, tapi entah penonton tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.


Mereka hanya mendengar apa yang dikatakan dengan koar-koar. Tidak melihat kejadian sebelumnya.


"Nona, bisakah anda menekankan suara? Meskipun hujan, tapi suara anda tidak kalah keras. Saya masih mendengarnya."


"Diam! Dimana security? Kenapa dia membiarkan gembel ini berkeliaran. Apa mereka tidak tau siapa aku sebenarnya? Aku ini calon tunangan pemilik perusahaan ternama di negara ini. Bahkan kekuasaan untuk membekukan usaha juga pacar saya punya."


"Damn! Musibah apa ini? Kenapa jadi begini? Astaga," batin Sherly.


Senyum manis yang Sherly miliki mampu membius laki-laki yang berada di sana. Menambah tingkat kebencian para wanita kepada wanita yang kini menjadi pusat perhatian.


"Nggak usah senyum-senyu. Kamu itu jelek! Jangan bilang kalau senyum sama pacar saya. Sadar diri woey! Dia itu dari kelas atas, sementara kamu hanya gembel yang tidak berkelas."


Hinaan dan cacian terus dilontarkan, sementara Sherly tetap terus menunjukkan sifat ramahnya.


"Dia hilang pacarnya pemilik kekuasaan? Hei nona, apa anda tidak punya televisi di rumah? Bahkan wajahku selalu muncul di TV dan berita terkini. Sabar sher, tetap rendah hati," batin Sherly.


"Honey kenapa kamu liatin dia sih? Kamu lebih mentingin lihat wanita gila ini daripada aku? Kasihan mata kamu honey."


"Diam!," teriak laki-laki yang sedari tadi mengamati Sherly.

__ADS_1


Telapak tangannya dihadapkan tepat di wajah wanita yang terus berceloteh ria.


"Kamu tidak mengenalnya? Apa tidak punya TV di rumah?."


__ADS_2