
Tentang carang yang saling bertautan
juga tentang sayang yang selalu diperdebatkan
awan bertanya kepada resah,
kenapa angin memilih celah untuk mengalah
ruang adalah jarak dimana apa yang bergerak pasti akan tergeletak
seperti rindu yang pernah menggebu,
lalu menyingkir bersama angin lalu
harimu pernah kelabu,
sedang senjamu tak mampu menjadi penenangmu
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dave memeluk Sherly dari belakang menyelipkan kedua tangan di pinggang ramping miliknya. Sherly menepis karena tidak tau siapa pemilik lengan kokoh yang menghimpitnya. Semakin Sherly meronta, semakin Dave mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Lepass!" teriak Sherly.
Dave menempelkan jari telunjuk kanannya di bibir Sherly membuat wanita itu refleks membuka sedikit bibirnya. Tentu saja hanya Dave yang berani seperti ini. Semburat merah merona di kedua pipinya.
Belum sempat Sherly menetralisir kegugupannya, wanita itu kembali dikejutkan dengan apa yang Dave bawa. Sebuah es krim contong yang masih utuh menjadi pemandangan utama.
Tangan kiri melepas sedikit penutup atasnya kemudian menyuapkan di bibir Sherly. Tentu saja hati wanita itu meleleh. Sherly selalu kagum dengan cara Dave memperlakukannya. Hanya hal kecil saja bisa membuatnya bahagia, apalagi jika laki-laki itu meminangnya.
"Enak hm," tanya Dave.
"I-" belum sempat Sherly meneruskan kalimatnya, Dave telah lebih dulu memulai aksi jahilnya.
Sengaja laki-laki itu menyuapi Sherly dengan menempelkas es di bagian pipi. Membuat belepotan adalah tujuan Dave yang selalu diinginkan.
Wanita itu membalikkan badan. Dia bersiap untuk mengomel, tapi Dave lebih dulu sigap dalam urusan penetralan.
"Cup" Dave mencium bibir Sherly membuat wanita itu membulatkan mata.
Senyum licik terbit di bibir Dave. Meruntuhkan pertahanan Sherly adalah bakat Dave yang sangat lihai. Tanpa disadari, pramuniaga super market tersebut berada di dekat mereka.
"Ehem! Permisi nona dan tuan, maaf mengganggu waktunya. Sebentar lagi waktunya kami tutup," ucapnya.
__ADS_1
Sontak Dave melepas ciumannya. Begitu juga Sherly. Tidak ada yang lebih nikmat selain berusaha menyesap tapi tidak bisa langsung terpikat.
"Shit!" umpat Dave.
"Failed mission," desah Sherly.
Meski malu, keduanya tetap bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Dave mendorong troli lalu mencari makanan ringan dan soft drink. Sementara Sherly mengikuti kekasihnya sesekali memasukkan es krim untuk mengenang kejadian ekstrim.
Dave segera membayar barang belanjaan lalu keluar diikuti Sherly yang masih tersenyum manis kepada kasir di dekat pintu. Keduanya berjalan menuju mobil. Tidak lupa Dave lebih dulu membukakan pintu untuk wanita penjaga hidup dan matinya.
Disusul Dave yang berlari kecil dan masuk di balik kemudi. Dave tersenyum, bayangan sort kiss muncul di benaknya. Laki-laki itu melirik ke arah kekasihnya. Semu merah terlihat jelas di pipi wanitanya.
Sabuk pengaman telah terpasang rapi untuk menjaga tubuh Sherly. Dave tidak peduli, laki-laki itu menginginkan saat ini. Dave mendekat. Hembusan nafasnya menyapu leher Sherly di sisi kanan. Sherly memalingkan wajahnya.
Sorot mata Dave lain. Ada hal yang disembuyikan olehnya. Sherly memejamkan mata. Dia yakin apa yang Dave inginkan harus dilaksanakan.
"Bee," lirih Dave.
Bahkan suaranya saja sudah berat. Sherly hafal dengan bariton yang baru saja didengar. Itu adalah suara berat saat Dave mendesah.
Tangan kanan Dave bergerak pelan. Laki-laki itu menyentuh sabuk pengaman lalu melepas pengaitnya. Ya, hanya pengait, tapi Dave membayangkan pengait yang lain.
__ADS_1
Dave menggeser pantatnya menepis jarak yang tersisa. Sherly merasa tubuhnya merinding seketika. Dia yakin bulu halus miliknya telah berdiri dari tempatnya. Hembusan yang Dave keluarkan membuat Sherly ingat adegan yang sering mereka lakukan.
Sherly memejamkan mata memutar klise film yang sering dimainkan. Di sana ada Dave dan dia yang sedang berpelukan.