
Untuk seseorang yang sedang dalam pelukan
Aku tidak bisa merelakan,
Tapi tidak kuasa untuk memberhentikan
Ketika hanya diam yang bisa kau lakukan
Entah mengapa aku rindu sebuah sandaran
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Brian melangkah pergi meninggalkan Sherly. Kali ini dia tidak ingin wanita yang masih dicinta itu membuatnya bahagia. Biarlah, mungkin tidak ada celah untuk Brian tertawa.
Dave buru-buru menundukkan kepala saat laki-laki yang sempat membuat hatinya merana tepat berada di hadapannya.
"Angkat wajahmu Dave," perintah Brian.
"Enak saja, siapa dia? Beraninya memberi perintah kepada tangan kananku," gerutu Sherly lirih.
Beruntung dua laki-laki yang hanya berjarak beberapa meter tidak mendengar ocehannya.
Bersama hati yang merasa terkhianati, Dave menegakkan kepalanya. Dia mulai meninggalkan sepasang sepatu dan celana panjang yang sedari tadi menjadi pemandangan. Saat ini kedua matanya menangkap sorot mata yang sama dengan dirinya.
Saling bersitatap, tapi bukan sebagai pelengkap. Namun hanya gelap yang semakin pekat. Bagaimana tidak, jika kita berusaha menepis rasa yang hampir sempurna.
"Jangan memanggilku Tuan, aku adalah teman," ucap Brian.
"Tapi tuan."
Brian tersenyum tipis. Entah senyum manis atau sinis. Dave tidak bisa menilainya. Saat ini otak dan hatinya tidak bisa mencerna.
"Aku tau kamu mencintainya. Separuh ruang masih bertuan. Setengahnya lagi masih ada kekosongan. Jaga dia baik-baik," ucap Brian sebelum laki-laki itu pergi tidak perduli dengan Dave yang berusaha memahami.
__ADS_1
Saat ini, dua manusia berada di dunia yang sama. Namun seakan ada dimensi yang memisahkan mereka. Dimana kedekatan yang beberapa hari ini tercipta? Dave tidak lagi mendekatinya. Kenapa Sherly begitu kecewa ketika Dave berhenti mengganggunya? Apa mungkin Sherly berharap Dave mengulangi hal yang sama?
Di atas sofa empuk Sherly masih duduk. Wanita itu melirik ke arah Dave yang tidak meliriknya.
"Dave? Kamu nggak ada niatan buat liat aku, gitu?," batin Sherly.
Melalui ekor mata, Dave menjangkau apa yang sulit dipandangnya. Dalam diam laki-laki itu menangkap sosok yang duduk dengan gelisahnya.
"Sher, kamu nggak ada niat buat ngomel ke aku ya? Jujur aja aku lebih milih kalau kamu ngoceh terus daripada diem kaya gini. Tau nggak? Aku sakit waktu liat kamu tapi kamunya sibuk mencari butir debu. Buktinya kamu liatin bawah terus nggak liat aku. Ngapain coba kalau bukan nyari debu? Ih, jadi pengen jadi debu. Coba nengok sini woey! Aku bakal jadi debu buat kamu kok," ucap jiwa bucin Dave yang tiada henti.
Satu menit, dua menit, dua menit tiga puluh detik, dua menit lima puluh lima detik.
"Huufttt" Sherly menghembuskan nafas kasar ketika melirik ke arah jam tangannya.
Tiga menit melihat ke arah manusia yang tidak pernah sedikitpun menatapnya. Kata siapa Dave tidak peduli? Sedari tadi laki-laki itu mengamati nonanya, tapi sial pandangan mereka tidak pernah berjumpa.
"Tapp tapp tapp" suara derap langkah mulai terdengar.
Sherly mengatur nafas yang hampir tersenggal. Dadanya berdebar, jantungnya juga seakan terpenggal. Wanita itu sibuk merapikan rambut yang sengaja dibuat lebih rapi karena metting tidak berfaedah tadi. Dave suka melihat rikmanya jauh dari kata sempurna.
"Nice," gumam Sherly.
Hening, suara langkah telah berhenti. Sherly masih mengamati ubin berwarna putih di bawahnya. Aroma maskulin kesukaannya tidak memenuhi indra penciumnya.
Bibir seksi mulai menggumamkan alibi. Sibuk mencari alasan yang tepat untuk menghilangkan grogi. Mungkin tiga puluh detik, tapi tidak ada tanda-tanda seseorang berkutik.
Lantainya berwarna putih, tapi tidak menunjukkan adanya bayangan yang tercipta. Sherly mengangkat kepala. Matanya membulat sempurna lalu bibirnya menganga tanpa kata.
"Sial! Dave nggak jalan ke sini? Terus kemana dia pergi? Awas ya dev, Terima akibatnya hari ini," CEO Angel mulai mengucapkan serapah untuk bawahannya yang kini berada di ruangannya.
"Sher, segitu berharapnya sama Dave? Dia nggak nemuin kamu tuh," bisik sisi jahat Sherly.
Sisi baik Sherly ingin tertawa, tapi dia tidak mau dipecat dari tubuh majikannya.
__ADS_1
"Sabar sher, mana mungkin Dave mau mendekat. Dia sadar diri jika ada laki-laki yang menjagamu di jarak dekat. Bahkan tadi dia sempat melihat. Malah lebih tepatnya jadi pengamat," bisik Sherly di sisi baik.
"Huufttt! Dave racun apa yang udah kamu kasih ke aku? Rasanya semua benak tersita untuk memikirkanmu," Sherly mendesah kasar karena ketidakhadiran Dave di sampingnya.
"Sekedar pergi saja aku tidak mampu, tapi terus mengharapkanmu egois menguasaiku. Cintamu masih nyata. Jelas aku bisa merabanya. Hanya dengan melihat senyum terpaksa, aku mengerti jika kamu masih menyimpan dengan rapi."
Di ruangannya, Dave berusaha menyibukkan diri. Dia membuka laporan hasil kerja bawahannya sebelum diserahkan kepada atasan yang selalu membuatnya kehilangan kewarasan.
Sedikit jenuh. Dave berpikir sibuk akan membuatnya lupa dengan otak liarnya. Namun dia salah. Ternyata semakin melupakan, semakin sulit dilupakan.
Untuk kali ini, Dave membuka ponsel hanya untuk mencari hiburan tersendiri. Aplikasi yang terkenal dengan berita terbarunya menampilkan pop up hot news beberapa menit lalu. Dave segera membuka saat tulisan kecil menyerupai deretan huruf mulai dieja.
"Pradana Coorporation mulai melemah setelah perdebatan dengan Silver Coorporation,"
Dave membulatkan matanya. Bagaimana mungkin kasus intern menjadi trending topik untuk publik. Dan apa katanya? Pradana Coorporation mulai melemah? Pertanda Brian Pradana juga pasti resah.
"Aku harus memberi tahu Sherly," gumam Dave.
Laki-laki itu berjalan tergesa ke ruangan atasannya seolah ada kehebohan tidak terduga. Karena bahkan sekalipun menghadapi hal genting Dave tidak pernah sepanik ini. Wajah nonanya tidak bisa ditebak. Namun Dave tidak perduli dengan apapun yang telah membuat dadanya sesak.
"Nona, Parada Coorporation mulai melemah. Bagaimana jika perusahaan itu gulung tikar? Aku tidak tau apa penyebabnya, tapi aku berprasangka ada pihak ketiga saat rapat tidak penting tadi terjadi," ucap Dave panjang lebar dengan tangan yang selalu menari di udara seolah menyiratkan jika pemiliknya mencemaskan sesuatu.
"Biarin Dave," gumam Sherly.
"Ha? Anda tidak salah bicara? Hei, CEO disana adalah mantan kekasih sekaligus laki-laki yang baru saja memeluk anda. Arrghhh hati macam apa yang kau punya hei nona? Ya Tuhan, menghadapimu, sungguh butuh kesabaran ekstra," batin Dave.
"Pradana Coorporation melemah? Aku tidak bisa membiarkanmu susah bri. Aku akan berusaha membantumu. Astaga," ucap Sherly dalam hati.
"Ddrrttt ddrrttt drrrtt" getaran di genggaman menyadarkan Dave akan adanya pemberitahuan.
"Saham Pradana Coorporation mulai dilelang."
"Apa? Tidak!," pekik Dave keras.
__ADS_1
Lantas dengan lancang Dave menyambar ponsel Sherly yang tergeletak di meja. Mencari kontak dengan nama Brian, atau yang lebih buruknya jika Sherly menamainya dengan nama mantan. Eh, bisa jadi Sherly menyimpannya dengan nama kenangan.
Membayangkan saja sakit, tapi Dave tidak ingin membuat hidupnya terlalu rumit.