
Kuhirup dalam aromamu
Kuhisap pelan inchi kulitmu
Kamu terlanjur menjadi heroinku
Membuatku candu akan harum tubuhmu
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Cup" Dave mengecup hidung Sherly saat wanita itu tengah serius menatap ke layar TV.
"Hei, kukira lalat. Ternyata bibirmu," gerutu Sherly seraya menatap tajam ke arah Dave.
"Jangan tersenyum terus, aku takut terpikat olehmu."
"Aish, bisakah berhenti merayu? Aku benci rayuanmu."
"Bee, aku tidak berniat merayumu, tapi aku bermaksud memaksamu masuk ke hidupku."
"Bee? Apa namaku sudah ganti?"
"Tidak sayang, aku lebih suka memanggilmu bee."
"Terserah Dave, asal kan kau bahagia."
"Kek judul lagu," ucap Dave seraya tertawa kecil.
Dave lama-lama lupa akan sosok atasannya. Seakan Sherly adalah wanita yang baru ditemuinya lalu mendadak laki-laki itu jatuh cinta kepadanya. Tidak ada salahnya melupakan latar belakang yang ada. Nyatanya saat ini mereka saling berdekatan.
Sangat dekat, bahkan lebih erat dari sebuah pelukan. Dave tiada henti menebar senyum. Mungkin percaya jika manisnya tarikan bibir tipis tidak akan membuat Sherly diabetes. Laki-laki itu sadar diri, tapi rasa yang dimiliki tidak bisa dipungkiri. Dave telah jatuh hati jauh sebelum Sherly mengerti.
"Berhenti tersenyum. Aku tidak suka melihatmu tebar pesona," sungut Sherly yang entah mengapa tiba-tiba saja ingin melampiaskan amarah kepada Dave.
Nonanya seperti kesal, tapi Dave sendiri tidak mengerti apa yang membuat Sherly begini. Tidak mungkin nonanya benci melihat Dave tersenyum. Selama ini laki-laki itu selalu berada di sampingnya, terkadang juga di belakangnya. Tapi tidak pernah sekalipun Sherly mempermasalahkan senyumnya.
"Bukankah kamu terbiasa melihatku tersenyum bee?" tanya Dave karena otaknya tidak bisa memecahkan teka-teki ekspresi Sherly.
"Tapi saat ini aku benci," tukas Sherly masih dengan bibir yang sedikit maju.
Sepertinya Dave mulai menyukai sifat manja Sherly. Laki-laki itu tidak mengira jika wanita di sampingnya bisa merajuk manja. Selama ini Sherly terkenal berwibawa dan percaya diri.
__ADS_1
"Cup! Aku tidak berjanji untuk bisa menahan diri jika kamu terus seperti ini. Aku tidak bisa menolak setiap lekuk tubuhmu sayang," Dave sengaja bicara dengan nada sensualnya.
"Brengs*k," umpat Sherly kasar.
Wanita itu bangkit dari duduknya. Namun belum sampai berdiri sempurna, satu hentakan sudah menyeretnya. Membawa tubuh seksinya melayang ke bawah.
"Brukk" Sherly jatuh tepat di pangkuan Dave.
Lebih tepatnya di benda keras yang bentuknya sedikit panjang.
"Arrghh" erang Dave.
Antara suara menahan sakit karena beban Sherly, atau suara serak karena enak.
"Dave, lepas," ucap Sherly lirih.
Wanita itu berusaha untuk pergi dari pangkuan serta dekapan Dave. Dia takut ada desiran aneh seperti yang dirasakan saat Brian mulai menggodanya.
"Damn! Seakan melupakan Brian seperti menemukan kenangan di antara kekecewaan. Sangat sulit dilakukan," umpat Sherly dalam hati.
"Let me to enjoy (ijinkan aku menikmati)," pinta Dave.
Nadanya terdengar lemah. Lebih lemah dari tadi. Mungkin kali ini menahan celana yang semakin sesak. Menghimpit benda yang terus mengembang. Tidak peduli dengan pemilik tubuh yang berusaha melarang.
Diam menikmati aliran angin yang membuat tubuhnya berdesir. Sherly memejamkan mata meresapi hangatnya dekapan Dave. Laki-laki itu membenamkan kepalanya di tengkuk Sherly sementara kedua tangannya memeluk pinggangnya.
"Aku merasa tenang, tapi juga tegang. Bisa saja aku melakukan hal terlarang, tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk terus menentang. Percayalah kamu aman berada di sampingku. Walaupun aku tidak yakin dengan diriku. Sherly, aku tidak akan melakukan jika kamu tidak menginginkan," bisik Dave di telinga Sherly.
Untuk pertama kali, Sherly lemah karena laki-laki. Brian tidak pernah membuat dirinya menyerah seperti saat ini, tapi Dave? Bisa dibilang ini pertama kali Sherly dan Dave berada di situasi tanpa jarak yang menanti.
"Apa aku harus marah karena Dave telah membuatku lemah? Aku ingin menolak, tapi tubuhku tidak bisa melakukannya. Lalu bagaimana aku harus menghadapi? Apa aku akan terus selemah ini?," batin Sherly.
"Aku merasa nyaman, tapi belum begitu paham perihal perasaan," Dave bergumam seraya membalikkan tubuh Sherly tanpa melepas pelukannya.
"Dan asal kamu tau, aku tidak pernah menyentuh wanita seperti saat ini. Meskipun aku mencintainya, tapi aku tidak pernah memiliki hasrat lebih sebagai laki-laki," imbuh Dave.
Sherly merasa hatinya seperti diiris. Perih, bahkan tanpa sadar wanita itu menyatukan giginya memberi ekspresi meringis. Apa ini tanda tumbuhnya sebuah rasa?.
Mencintainya, kata sederhana. Namun mampu membuat Sherly sulit menelaahnya. Seperti kertas putih yang baru saja tergores, menimbulkan bekas yang tentu akan sulit di lepas.
"Laknat."
__ADS_1
"Aku berusaha tidak mengumpat, meski sebenarnya sangat penat. Laknat, hanya itu yang mampu kuucap
karena setiap lidah tentu mampu mengecap," batin Sherly.
Entah sudah sampai ke menit berapa. Dave lupa, Sherly mungkin juga tidak memperhatikannya. Tiba saatnya muncul adegan dewasa yang tentu saja tanpa sensor di dalamnya. Sherly membeli piringan bulat original, tanpa sensor dan tanpa proses cutting sebelumnya.
Wanita itu masih setia mengamati setiap adegan rekayasa yang terkesan berjalan mulus semulus pahanya. Tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun ke arah Dave. Dave sesekali memejamkan mata mendengar desah*n dari tokoh yang berperan di sana.
Belum selesai, kadang adegan demi adegan muncul bergantian. Membuat Dave berdecak kesal. Laki-laki itu bingung bagaimana cara menikmati filmnya.
Pening, pusing, tentu saja. Dia mati-matian menahan nafsunya, tapi Sherly dengan santai terus memutar film dewasa miliknya.
"Tapp" Dave terpaksa menekan remot untuk mematikan tontonan adult only itu.
"Daveee!" pekik Sherly saat benda kotak lebar berlayar datar itu mendadak padam.
Hanya gelap yang dapat Sherly lihat. Tidak mungkin TVnya rusak. Selama ini tidak pernah ada masalah.
"Apa? Bisa pelan kan suaramu hm?" tukas Dave dengan tatapan menantangnya.
Biar saja, jika Sherly berani menyerang, maka Dave akan semakin menantang.
"Kenapa dimatiin? Aku belum selesai nonton."
"Belum selesai? Pikirkan jika kamu sudah dewasa sher! Kamu juga bersama laki-laki yang sama dewasanya denganmu. Apa kamu tidak takut hal bodoh terjadi padamu? Atau jangan bilang kalau kamu pernah melakukannya dengan mantan kekasihmu," Dave mengomel tiada henti karena berpikir Sherly tidak memikirkannya.
"Tidak ada yang salah dengan film itu Dave. Aku menyukainya," bela Sherly.
"Astaga, dasar wanita gila. Pantas saja kamu liar seperti ini, ternyata otakmu sudah tercemar," Dave akhirnya menyuarakan isi hatinya.
Sherly tidak mau kalah. Dia tidak mau Dave berpikir buruk tentangnya. Lalu dengan penguasaan ego yang penuh, Sherly justru menantang Dave untuk beradu peluh. Dave telah menguji kesabaran Sherly, maka laki-laki itu harus mendapatkan apa yang harus Dave dapatkan.
"Haruskah aku membuktikannya padamu?"
"Tentu saja. Bagaimana mungkin seorang perawan menyukai hal semacam itu. It's imposibble (ini tidak mungkin)."
"Baiklah, diam dan nikmati. Akan kutunjukkan permainanku," ucap Sherly penuh kemenangan.
Sekali lagi wanita itu menatap Dave yang sudah terlihat lemah serta berwajah merah.
"Nafs*mu, membuatku memburu," bisik Sherly.
__ADS_1
~Saat dunia membuatmu lupa, ingatlah jika kamu bertahan karena cinta~