Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Dinner


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat untuk Dave, tapi tidak untuk Sherly. Wanita itu menolak adanya agenda yang sudah selesai. Hingga pukul 17.00 WIB pun dia masih enggan untuk beranjak dari ruangannya.


Dave melangkah pelan tanpa mengganggu aksi renungan. Laki-laki itu tersenyum. Dave beruntung mendapatkan wanita yang bisa menerima dia apa adanya. Sherly bahkan pemilik segalanya, tapi Dave bisa melihat ketulusan di sana.


"Berkat merindukanmu aku mampu menyelesaikan kewajiban ku


Kewajiban untuk mengingat setiap kenangan manis tentangmu


Juga kewajiban untuk selalu menjaga hatiku agar tetap untukmu


Terima kasih takdir akan garis lurusmu yang dulu pernah berliku


Lalu aku mengerti kenapa hidup ini begitu sulit ku lalui


Karena saat itu aku tidak mengerti jika berawal dari duka akan berakhir dengan cita


Dan aku berterima kasih kepada Tuhan yang telah mempertemukan kita


Jika kita tidak bisa bersama


Setidaknya aku tidak bisa melupakanmu begitu saja


Karena tentangmu bukan untuk memenuhi jiwaku


Namun hadirmu hanya untuk mengubah hidupku


Hanya mengubah lukaku menjadi kenanganku


Hanya mengubah sedihku menjadi tawaku


Hanya mengubah sederhanaku menjadi bahagiaku


Dan hanya hanya itulah yang terpenting untukku


Menemukanmu


Sosok yang jauh sempurna berada di atas ku


Namun mampu membuatku merasa sejajar denganmu


Aku tanpamu


Hanya butir abu tak menentu


Bukan aku tanpamu hanya butiran debu


Karena mencintaimu saja begitu sulit untukku


Apalagi jika harus menjadi butiran debu

__ADS_1


Yang bahkan semut pun tak sanggup menggerutu" ucap Dave.


Hampir saja bulir bening mengalir. Namun Sherly berusaha untuk tetap mengukir senyum. Dave menatap Sherly penuh harap.


"Bee, ayo kita pulang. Aku antar kamu ke apartement," bisik Dave.


Bagaikan angin lalu, Sherly berusaha menepis suara Dave yang mengalun. Sherly memejamkan mata menikmati sisa waktu yang ada. Dia tidak tau kapan lagi akan bertemu Dave-nya.


"Sayang, ayo pulang," ajak Dave sekali lagi.


"Baiklah," ucap Sherly lemah.


Pulang dan kembali sama saja menghantarkan Sherly ke dalam ruang sepi. Setelah nanti Dave pergi, dia akan sendiri. Sherly pasrah, apapun yang terjadi dia akan mengalah. Mungkin melepaskan bisa berubah menjadi kenangan.


Dave memeluk Sherly lalu mengajak wanita itu keluar. Menuju lift, on the way ke bassement, lalu melajukan mobil ke arah apartement.


Sherly berjalan gontai saat tiba di depan pintu kediamannya. Wanita itu tidak melepas genggaman Dave sama sekali. Tidak peduli dengan beberapa mata yang melirik sana sini.


Sherly melangkah menuju kamar mandi. Wanita itu membersihkan diri. Kemudian berjalan menuju lemari mencari pakaian di sana.


Sedikit polesan sengaja Sherly lakukan untuk menyambut perpisahan. Dave terpana melihat penampilan Sherly yang berbeda dari biasannya.


"Bee, mandi sana. Nanti bajunya aku siapin, tapi yang kemarin belum kucuci."


Perhatian kecil yang selalu Dave rindukan. Mereka hanya berpacaran belum ke tahap berkelanjutan. Status pacar bisa saja bubar. Namun entah Sherly justru memberikan apa yang Dave butuhkan.


"Dave please, jangan bahas rindu atau kata aku mencintaimu. Aku tidak bisa lupa begitu saja," lirih Sherly.


Dave menangkup wajah Sherly dengan kedua tangannya.


"Cup" Dave menempelkan bibirnya dengan milik Sherly.


Seperti biasa luma*an lembut akan mereka lakukan. Sherly seakan merenungi mengapa semua secepat ini. Wanita itu setia menengadah dengan pejaman mata. Semua terasa lembut, tapi Dave mendadak melepaskannya.


"Huuftt" Sherly menghembuskan nafas kasar.


Dave paham bagaimana perasaan Sherly saat ini. Laki-laki itu tersenyum lalu membisikkan sesuatu.


"Aku tidak bisa menjaga jika kita hanya berdua. Aku menginginkan yang lebih dari itu, tapi aku tau status kita memberatkanmu," ucap Dave.


Tangan kanan Dave terulur mengacak rambut Sherly. Wanita itu memaksa untuk tersenyum.


"Aku mandi. Biarkan aku menahan seorang diri. Aku tidak mau menyakitimu bee."


Dave berlalu, tapi l bod*hnya Sherly mencegah dengan ucapannya.


"Kalaupun kamu meminta, aku akan senang hati menerima," gumam Sherly lirih, tapi Dave masih bisa mendengar.


Laki-laki itu membalikkan tubuhnya menatap wanitanya dari ujung rambut hingga ujung kepala.

__ADS_1


"Kumohon, jangan lakukan itu. Kamu tau, menyentuh bersambut dengan suara melenguh lebih nikmat daripada bercinta hanya karena cinta. Jaga dia untukku kelak. Aku pasti berkunjung ke sana," ucap Dave seraya mengedipkan salah satu matanya.


"Daaaveee!" pekik Sherly.


"Nah kan udah teriak. Yaudah aku mandi dulu bee."


Setelah Dave selesai dengan ritualnya, keduanya berjalan ke luar apartement. Dave tidak menuju bassement karena dia ingin menikmati malam dengan semilir angin dan genggaman tangan.


"Nggak naik mobil Dave?"


"Enggak sayang, aku mau naik motor aja. Tadi udah pinjem punya security kok."


"Nanti kamu kedinginan. Kan nggak pake jaket."


"Aku nggak papa sayang. Kamu tuh nanti yang kedinginan malah pakai dress kaya gini."


"Dave," rengek Sherly manja.


"Udah nggak papa kalau dingin nanti kupeluk."


"Modus ih."


"Daripada kamunya ngode terus."


Sherly diam. Untuk kesekian kalinya Dave berhasil membungkam. Membuat Sherly kehabisan alasan.


Kemana Dave akan membawa Sherly? Entah dia sendiri belum tau. Apalagi untuk urusan makan. Tidak tahu lidah apa yang sebenarnya ada di tubuh Sherly. Makanan asing jelas dia tidak suka, rapi makanan lokal tidak sedikit juga yang ditolak lidahnya. Rasanya percuma saja menanyakan apa keinginannya. Lebih baik langsung membeli. Kalau wanita itu menyukai, dia akan langsung memakannya, tapi kalau tidak pasti tidak akan menyentuhnya.


"Jujur aku merindukan senyummu, merindukan ceriamu. Aku mencintai tulus dari dasar hatiku, meski terkadang sifat angkuhku mengalahkan ketulusanku. Maafkan aku yang membuatmu seperti ini, tapi aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi. Aku tidak mau laki-laki itu menyentuh hatimu terlebih aku tahu jika hatimu benar-benar sulit digapai," batin Dave.


Angin malam menjadi saksi kedekatan keduanya. Dave menggenggam jemari Sherly, sesekali mengusap lutut wanita di belakangnya.


"Bee, i love you," ucap Dave.


"Apa bee? Aku nggak denger," sahut Sherly.


"Iii looovveee youuu bbeeee!!!" teriak Dave tanpa malu.


Sherly menyembunyikan wajahnya di punggung Dave. Wanita itu tersipu. Untuk pertama kali dalam hidupnya ada laki-laki yang seberani ini. Dave sekretaris sekaligus asisten pribadinya telah membuat Sherly tertawa dengan caranya.


Dia tidak peduli jika suaranya mengganggu kendaraan sekitar. Yang terpenting untuk Dave malam ini adalah membuat Sherly terkesan dengan kesederhanaan.


Kendaraan roda dua mulai berjalan pelan. Dave membelokkan ke arah rumah makan khusus ayam. Berharap Sherly akan menyukai kejutan kecilnya.


Keduanya tiba di parkiran. Sherly segera turun, tapi lupa dengan alat pelindung kepala yang masih bertahta. Berbeda dengan Dave yang sudah membuka miliknya.


"Bee, sini," ucap Dave.


Laki-laki itu masih berada di atas motor. Sherlymendekat.

__ADS_1


__ADS_2