
Andai belum pernah kecewa, mungkin akan dengan bodoh percaya. Namun saat cinta menjadi alasan adanya pengkhianatan, aku memutuskan untuk tidak pernah berteman dengan sebuah harapan. Karena ternyata, apa yang membuatmu merasa terabaikan adalah hasrat untuk masih mempertahankan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dave jengah terus melihat adegan yang sama sekali tidak ingin disaksikan. Mungkin hanya laki-laki istimewa yang rela melihat wanita pujaannya pergi begitu saja.
"Ehem" Dave berdehem membuat atasannya mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Apa? Harusnya aku yang marah bee, bukan kamu. Ngapain juga sih jadi wanita baik hati. Liat tuh sang mantan udah belingsatan," batin Dave.
"Nona, bisakah anda mempercepat acara reunian dengan sang mantan?," sindir Dave pelan.
"Bro! Nyolot amat sih! Ini masih Sherlyku, ngapain kamu kek gitu? Iri? Bilang bos," batin Brian.
Tangan kanannya tepat. Dave telah membuat atasannya kembali ke jalan yang benar. Tidak ada lagi yang diharapkan, jadi untuk apa Sherly membahas kenangan.
"Tuan Pradana, saya selalu pemilik Silver Coorporation turut prihatin dengan kabar buruk yang menimpa Anda. Oleh karena itu, dengan rendah hati saya akan membeli seluruh saham Anda. Jangan khawatir, semua masih utuh milikmu," ucap Sherly mengutarakan maksud kedatangannya.
"Sher, ak-," Brian baru akan melanjutkan kalimatnya, tapi suara bariton lain memenuhi indra pendengarannya.
"Maaf Tuan Brian yang terhormat, bisakah anda menghargai Nona Sherly sebagai rekan bisnis? Bukan sebagai mantan yang tidak akan pernah anda dapatkan," tukas Dave.
"Shit!," umpat Brian kesal.
"Kenapa laki-laki tidak tahu diri itu selalu mencampuri apapun yang menjadi urusan Sherly? Sejauh apa mereka memiliki hubungan ha?," batin Brian.
"Dave benar Tuan Brian. Saat ini saya dan anda sedang membahas pekerjaan bukan lagi tentang kenangan yang menyakitkan," ucap Sherly penuh penekanan.
"Oh baiklah, sekarang kalian kompak akan menjatuhkanku? Hm, jika tidak ada Sherly jangan harap kamu selamat Dave."
__ADS_1
"Nona, jangan lupakan anda masih harus menandatangani berkas penting yang ada di ruangan anda," ucap Dave mengingatkan atasannya.
"Notes Dave, kamu mengingatkanku. Teruslah mengabdi kepadaku Dave, bahkan hingga anak cucumu kelak aku tidak akan pernah bisa menolak."
"Anda tidak perlu sungkan nona, semua sudah menjadi tanggung jawab saya."
"Bagaimana bisa anda membahas tentang anak cucu jika masa depanku saja adalah kamu," batin Dave.
"Sher, em maksudku Nona Sherly. Apakah anda melupakan sejarah perusahaan ini? Ini termasuk ke dalam list jerih payahmu juga. Apa kamu tidak ingin ikut mengambangkannya bersamaku?."
"Aku sudah menyerahkan kepadamu. Jadi kupercayakan semuanya untukmu. Aku tidak bisa mengurus dua perusahaan besar di waktu yang bersamaan tuan. Adapun kenangan yang pernah kita lakukan, aku menganggapnya semua adalah moment kebersamaan. Bagaimanapun, aku punya masa depan yang harus dipertahankan. Jadi bagaimana dengan tawaran saya Tuan Brian Pradana?."
Jika kamu tidak bisa melupakan, setidaknya bisa menjadikannya kenangan. Percayalah, semakin kamu ingin melupakan, semakin sulit juga bayangan itu di abaikan. Lalu yakinlah jika semua sudah mencapai masanya, semua memori itu akan hilang dengan sendirinya.
"Sher, tapi ini perusahaan kita. Kamu yang selalu berjuang untuk bisa mendirikan. Please, kasih aku kesempatan sekali lagi untuk membuktikan semua yang telah kuucapkan."
Sementara berjarak beberapa meter dari mereka, sosok laki-laki berbadan tinggi juga berdiri. Dia tidak habis pikir kepada atasannya. Bagaimana mungkin perusahaan yang telah didirikan diserahkan begitu saja kepada sang mantan.
"Sher, tapi aku akan memberikan perusahaan ini untukmu."
"Tidak Brian, apa yang sudah kulepaskan tidak akan akan pernah kuperjuangkan."
Tepat saat mendengar kalimat Brian, saat itu juga Dave merasa hatinya bergetar.
"Sebenarnya siapa jati diri Sherly sesungguhnya? Kenapa dia dengan mudahnya mendirikan perusahaan lalu memberikan kepada sang mantan? Aaarrgghhh, aku bodo* tidak bisa mengenali wanita yang hampir mengisi ruang hatiku sepenuhnya."
"Aku menganggap kamu menyetujui tawaranku. Secepatnya Dave akan mengurus dan Pradana Coorporation akan kembali menjadi milikmu," imbuhnya.
Terkadang apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Seperti saat ini, Brian memerintah otaknya untuk berpikir cepat. Namun kenyataannya nihil. Laki-laki itu bahkan tidak bisa mendapat solusi dari benaknya sendiri selain mengumpat merutuki kebodohannya lagi.
__ADS_1
"Permisi," pamit Sherly.
Brian ingin menggapai Sherly, tapi sorot tajam wanita itu membuatnya urung melakukan. Brian teringat ucapan Sherly sebelum wanita itu pamit undur diri.
"Jika perusahaan sebesar ini saja diikhlaskan, bagaimana dengan aku yang pernah membuat kesalahan? Damn! Apa wanita itu sungguh tidak membutuhkan harta? Wanita macam apa dia?," dengus Brian.
Taukah kamu jika pria adalah makhluk yang multi talenta. Dia bisa memiliki tanpa mencintai, sekaligus bisa meninggalkan tanpa merasa kehilangan.
Tanda ada kata dengan nada mempersilahkan, Sherly tetap saja meninggalkan. Dia sudah tidak ingin berurusan dengan Brian, tapi melihat perusahaan yang pernah dia banggakan jatuh ke dalam kehancuran bukanlah keinginan.
"Untuk apa aku berusaha jika akhirnya harus membiarkannya? Bri, bri, kamu laki-laki macam apa sih? Kenapa aku dulu begitu hanyut dalam pesonamu. Kamu tampan, oke itu memang benar. Kamu mapan? Jelas. Selain terlahir dari keluarga kaya, kamu juga salah satu pemilik perusahaan yang sedang berkembang. Lalu kenapa kamu meninggalkanku demi wanita yang tidak kamu cintai? Apa salah jika aku tidak menginginkan sentuhan dari laki-laki yang selalu menjadi gandengan? Bri, semakin lama aku semakin tidak mengerti. Aku berusaha menutupi rasa ingin tahuku, tapi semua masih tabu belum menemukan jawaban yang bisa membantu."
Pada akhirnya Sherly pergi meninggalkan Brian yang terus bermonolog pada hatinya. Tidak seperti Dave yang terus mengomel seolah terjadi kesalahan dengan bawahannya.
"Terus bicarakan masa lalu, kemudian lanjutkan hubungan yang sempat berhenti karenaku."
"Daaveee!," pekik Sherly.
"Hm," gumam Dave.
"Ish, asisten sialan. Bisa-bisanya membuat moodku berantakan."
"Hei nona cantik, asal anda tau ya. Moodku jauh lebih berantakan sebelum melihat kalian berdekatan. Apa anda sadar jika ada hati yang sudah gusar?," batin Dave.
**Jangan pernah melepaskan jika kamu takut kehilangan. Namun lepaskan jika kamu merasa kehadirannya hanya membuatmu. e rasakan getirnya kehidupan. Percayalah, cinta punya taburan sendiri untuk menciptakan sebuah rasa.
Berpikir hidupmu sempurna setelah menemukan cinta? Jangan salah, tidak semua cinta bisa membuatmu bahagia. Kadang mencintai seseorang yang salah mampu menjadi alasan yang sah untuk kamu berhenti diperintah**.
Parkiran Pradana Coorporation menjadi saksi dua manusia yang tengah sibuk dengan dunianya sendiri. Meninggalkan laki-laki yang sama sibuknya di dalam gedung sana.
__ADS_1