Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Bersimpuh


__ADS_3

**Dari sekian banyak yang pernah datang


Cuma kamu yang selalu ku sayang.


Yakinlah, aku bukan wanita yang mudah mencintai


Oleh karena itu tetaplah di sini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Laki-laki yang tengah dipeluk Sherly tertawa sinis. Garis kemenangan terlihat jelas fi sana. Sorot matanya menunjukkan kilatan kebencian. Tangannya mengisyaratkan kepemilikan.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Dave.


"Seperti apa yang kamu lihat. Aku tidak merekayasa."


"Persetan," umpat Dave**.


Dia berjalan menjauh dari pemandangan di depannya. Sherly refleks bergerak, tapi satu tangan menahan pinggulnya. Laki-laki itu tersenyum ke arah Sherly. Dia tidak ingin apa gang digenggamnya berlalu pergi.


"Lepas," rengek Sherly.


Laki-laki itu semakin gemas dengan Sherly. Dia lebih aktif menggoda wanita di hadapannya. Sherly jengah. Dia tidak ingin ada kesalahpahaman di sini. Wanita itu menginjak kaki laki-laki di hadapannya. Sherly berlari, tidak lupa dia memungut coklat yang telah Dave jatuhkan.


Dia mengaduh. Tangan kanannya memegang kakinya, refleks Sherly berlari pergi.


"Bruk" Sherly menutup pintu apartement dengan kasar.


"Daaavveeeee" teriak Sherly.


Dave berhenti. Dia memastikan pendengarannya.


"Daaaverr tunguuu!" jerit Sherly.


Dave tidak ingin kembali tersakiti. Dia mempercepat jalannya. Tepat saat laki-laki itu berada di depan lift, lift terbuka. Tanpa menunggu Sherly, Dave tetap masuk ke sana.


"Ting" lift tertutup.


"Apa cinta saja tidak cukup untukmu? Aku mencintaimu, tapi bagaimana denganmu? Kamu terlihat bahagia di depannya. Aku sadar kita berbeda, tapi tolong hargai sebelum aku pergi. Ceritakan apa yang membuatmu akhirnya melepaskan. Bukankah cinta berjanji untuk membuat lawannya bahagia? Lalu kenapa kamu memberiku luka? Kamu tidak pernah memupuk, tapi bahasa tubuhmu memintaku untuk memetik buah darimu."


Sherly gusar karena Dave telah masuk ke dalam lift. Dia terpaksa menunggu hingga lift terbuka lagi. Wanita itu bahkan masih memakai setelah kerja. Dia tidak mau ada salah paham di sana.


"Apakah ini salahku? Aku bodoh tidak langsung mengejarmu. Harusnya aku tidak peduli dengan laki-laki itu."

__ADS_1


Setiap takdir yang mengalir sudah pasti terukir jauh sebelum kamu lahir. Kamu tokoh di dalamnya. Bermain drama sesuai skenarionya. Tuhan sutradara sementara kamu hanya pemeran figurannya.


Dia yang selama ini kamu banggakan, bisa saja menyimpan kebohongan. Kadang hidup membuatmu berpikir bagaimana cara bertahan. Meski pada akhirnya semua tidak berjalan seperti yang telah kamu rencanakan.


"Ting" lift terbuka membuat Sherly berhenti dari lamunannya.


Wanita itu bergegas masuk. Beberapa menit terasa sangat lama untuk Sherly. Dia tidak bisa seperti ini. Wanita itu mencintai Dave. Hanya Dave, bukan lagi Brian sang mantan.


Kemanapun kamu pergi, cinta tetap membawamu kembali padanya. Suatu rasa butuh pengecap yang sempurna. Dia harus pemilik lidah yang tanpa cela karena sedikit saja letak indra perasa itu bergeser, maka semua akan buyar.


Sherly melangkah lebar saat pintu lift sudah terbuka. Tujuan utamanya adalah bassement apartement. Sherly yakin Dave ada di sana. Wanita itu percaya dengan kata hatinya.


Tidak ada yang berharap untuk dipisahkan, meski sebenarnya cinta membawamu ke landasan. Dia tidak akan membiarkan cintamu take off layaknya pesawat yang hanya ada dalam anganmu.


Meski semu, tapi dia tetap nyata untukmu. Bisakah manusia meraba helaan nafasnya? Tidak, dia hanya bisa merasakan tanpa mampu mengungkapkan.


Sosok laki-laki berdiri di depan kendaraan roda empatnya. Sherly yakin dia adalah Dave. Dia membelakangi, Sherly mulai mendekati. Matanya membulat kemudian sedikit berkaca.


Bola matanya tetap berwarna hitam, tapi sekelilingnya mulai berwarna merah. Aliran air mulai merembes. Sherly meremas dadanya. Dia tidak bisa percaya. Di depan kekasihnya, sosok wanita bersimpuh menengadahkan wajahnya.


Hatinya perih. Wanita itu merasa jiwanya teriris. Dia tidak ingin kecewa, tapi kenapa Dave tega melakukannya?


"Berdiri!" ucap Dave dingin.


"Dave maafim gue," ucapnya dengan parau.


Dave diam. Dia tidak mendorong ataupun menolak wanita itu. Dalam benaknya Dave mengingat Sherly yang memeluk pria di hadapannya.


"Kenapa pada akhirnya harus bertemu dengannya?" batin Dave.


"Daaveee bicara dong! Jangan cuma diem kaya gini," teriak wanita itu.


"Huuftt" Dave menghela nafas lalu menyentuh kedua pundak di hadapannya.


"Hikgss higkss" Sherly terisak.


Mendengar suara yang dikenalnya Dave menengok ke belakang. Sherly di sana. Wanita itu telah merubah wajah cantiknya menjadi jelek. Refleks Dave mendorong wanita di depannya dan mengejar Sherly.


"Sherlyy tungguu!" teriak Dave.


Sherly tidak peduli. Dia terlanjur kecewa dengan kekasihnya.


"Kenapa Dave? Kenapaaa?" teriak Sherly.

__ADS_1


Wanita itu berlari menuju lift. Penglihatannya kabur karena air mata. Wanita itu tidak peduli jika dia menjadi pusat perhatian. Untuk saat ini hatinya lebih butuh waktu menyendiri.


"Coba kalau aku nggak ngejar kamu ke sana. Mungkin nggak bakal kaya gini akhirnya. Aku bodoh Davee! Aku bodoh!"


"Please bee, ini nggak seperti yang kamu bayangin. Aku bisa jelasin semuanya."


Dave mempercepat larinya. Tenaganya lebih besar, dia yakin mampu menepis jarak yang tercipta. Tepat di depan lift Dave berhasil menangkap Sherly. Dave memeluk tubuh Sherly dari belakang.


"Haapp"


Sherly terus meronta, namun Dave tidak peduli dengan raungannya. Dia tidak mau kesalahpahaman semakin mendalam.


"Cup" bibir seksi Dave mendarat di ubun-ubun Sherly.


Sekuat apapun Sherly berusaha lepas, Dave tetap berusaha untuk mempertahankan. Dia tidak ingin kehilangan orang yang dicinta untuk kedua kalinya.


"Jangan pergi, apalagi berlari. Aku mohon tetaplah di sini. Kamu telah abadi dalam hati. Namamu sudah terukir manis di sana bee," lirih Dave.


Sherly kembali terisak. Wanita itu ingat bagaimana ada wanita yang rela merendah di hadapan Dave-nya. Dia sungguh memohon kepada kekasihnya. Sherly merasa separuh hatinya nyeri. Dia memejamkan mata. Milih untuk melupakan, meski yang didapatkan adalah semakin menyakitkan.


"Siapa dia? Kenapa dia bersujud kepadamu? Kenapa kamu mengizinkan dia memelukmu? Aku cemburu Dave! Kenapa kamu tega?"


"Tidakkah kamu tau bagaimana sakitnya aku melihatmu memeluknya? Bahkan itu di dalam apartementmu."


"Nggak usah cari kesalahan orang lain Dave."


"Siapa dia? Kenapa kamu memeluknya?"


"Dia bukan siapa-siapaku Dave."


Dave melonggarkan pelukannya. Laki-laki itu memutar tubuh Sherly agar berhadapan dengannya. Kemudian mendorong Sherly ke arah dinding. Dave menghimpit kekasihnya. Membiarkan telapak tangannya menyentuh benda dingin di belakang Sherly.


Sorot mata Dave tajam. Laki-laki itu seperti menimbun banyak beban. Sherly menunduk. Dia sama sekali tidak berani membalas tatapan Dave.


"Lihat aku," ucap Dave lirih.


Sherly memejamkan mata. Hembusan nafas Dave terasa dingin di tengkuknya. Tangan kanan Dave terulur menyentuh dahi Sherly. Tidak lupa laki-laki itu memberikan tatapan intimidasi.


Sherly mengerjap. Tubuhnya bergetar. Dia merasa Dave akan menghabisi malam ini juga.


"Jangan pernah mengkhianatiku," bisik Dave tepat di depan telinga Sherly.


Suara lirih itu terdengar mencekam untuk Sherly. Bulu kuduknya berdiri. Wanita itu merasa aura gelap dalam tubuh Dave-nya.

__ADS_1


__ADS_2