
Ketika seseorang mulai mengajakmu ke dalam permainannya, ikutilah. Lalu yakinlah jika kamu mampu menjadi pemenang karena tidak selamanya kelicikan akan menjadi kepuasan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Seperti metting yang sering Sherly hadiri. Semua mata akan tertuju padanya dan menjadikan sosok itu menjadi pusat perhatian. Dave terkadang berjalan di samping atau sebagai pengikut di belakang. Namun ada masanya Dave akan berjalan di depan dan Sherly sebagai makmum di belakang.
Tidak ada yang bisa menebak jalan pikiran Sherly dan juga sekretarisnya. Mereka selalu membuat lawan mainnya gagal dalam memberi hipotesis. Seperti halnya saat ini.
Meski rapat hampir dimulai, Sherly tetap berjalan anggun dengan kepala menatap lurus ke depan. Sifat percaya diri sudah tertanam jelas di kehidupan wanita itu.
Decak kagum tergambar di raut para pemegang saham. Bahkan mereka akan dengan suka rela memberikan apapun yang dipunya hanya untuk bisa bermalam dengan Sherly, tapi maaf impian mereka harus kandas di tengah jalan karena CEO Angel tidak akan mudah jatuh ke pelukan laki-laki hidung belang seperti mereka.
"Selamat pagi semuanya, maaf saya dan asisten saya datang terlambat," ucap Sherly setelah membungkukkan kepala sebagai tanda hormat.
Semua hampir menyuarakan kata yang sama. Baik lisan ataupun lewat tatapan. Lagi-lagi satu pria dewasa dan wanita yang berusia sedikit di bawahnya menatap sinis ke arah Sherly dan bawahannya.
"Selamat pagi semuanya, saya selalu sekretaris Nona Sherly mempersilahkan rapat agar segera dimulai. Namun sebelumnya, izinkan saya menanyakan satu hal kepada Pradana Coorporation. Maafkan kelancangan saya Tuan Brian, tapi bisakah saya mendengar dari Anda sendiri apa yang mendorong Anda hingga mengadakan rapat dengan para pemegang saham tanpa memberitahukan pemilik Silver Coorporation."
Brian yang tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan segamblang itu di depan para relasinya hanya mematung. Apa yang harus Brian katakan? Laki-laki itu tidak pernah berpikir ke arah sana.
"Kenapa dia bisa bertanya seperti ini?," gumam Dave.
"Oh ya Tuan Dave dan Nona Renata yang terhormat, maafkan kalancangan saya juga. Selalu CEO sekaligus pemilik tempat dimana rapat ini digelar, saya merasa sekretaris Anda tidak menghubungi saya ataupun sekretaris saya. Apakah anda melakukan kecurangan dalam hal ini? Saya memiliki hipotesis jika anda menyuap salah satu anak buah saya agar anda dengan leluasa melakukan kelancangan tanpa sepengetahuan saya," ucap Sherly guna melengkapi ucapan Dave yang menurutnya kurang rinci.
Kembali Brian mengagumi keberanian Sherly. Di depan pemegang saham, wanita yang menjadi mantan kekasihnya itu malah menyudutkan dirinya. Bukan mencari pembelaan agar nanti Brian mau kembali menjalin hubungan.
__ADS_1
"Maaf Tuan Brian, satu hal lagi yang ingin saya tanyakan. Apakah anda melakukan kecurangan ini hanya untuk mendapatkan kembali hati Nona Sherly yang pernah anda sakiti? Jika iya, maka maafkan saya yang terpaksa harus menasehati. Jangan pernah anda mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan saat ini. Bukankah anda juga sebagai CEO Pradana Coorporation? Lantas kenapa anda justru memojokkan atasan kami hanya karena anda ingin menjatuhkannya di depan para pemegang saham."
Seolah dunia hanya milik mereka bertiga. Sherly dan Dave bersautan dalam menanyakan apa yang ada di benak keduanya. Hingga pada akhirnya salah satu pemegang saham menyuarakan suara yang berhasil membuat metting gagal dilangsungkan.
"Saya rasa metting kali ini tidak akan membahas hal penting. Ini masalah antara Tuan Brian dan Nona Sherly, bukan tentang perusahaan kita semua. Saya kesini atas undangan sekretaris Tuan Dave yang mengatakan ada kerja sama dan negoisasi dengan proyek yang sedang berlangsung. Namun ternyata pemilik perusahaan tempat kita berkumpul justru tidak tau dengan hal sekecil itu. Saya rasa anda memang benar melakukan kecurangan Tuan Brian. Saya akan memikirkan kembali saham saya yang saya tanam di perusahaan anda," ucap salah satu pemegang saham yang hadir di sana.
Diikuti dengan pemegang saham yang lain. Mereka mengatakan hal yang hampir sama yakni berpikir ulang dalam menanam saham di Pradana Coorporation. Rapat berakhir dengan cepat karena bahkan bisa dibilang belum mulai sama sekali.
Kini menyusahkan empat manusia lagi. Saling melempar tatapan tanpa berniat untuk mengakhiri. Dave Pradana dengan lancang mengirimkan sorot mata tajamnya kepada Sherly Angel. Jarak beberapa langkah menjadi pemisah untuk mereka.
Dengan pasti, Brian berjalan ke arah Sherly. Bersambut dengan wanita itu yang juga berjalan ke arah Brian. Para sekretaris akan menjadi saksi atas terciptanya sebuah tragedi. Saat ini ataupun nanti, kedua bawahan sudah menyiapkan ponsel dan membuka mode rekaman.
"Nona, maafkan saya," ucap Brian lantang seolah menandakan bahwa dia laki-laki yang sangat berwibawa.
Satu langkah lagi Brian mendekat. Satu langkah pula Sherly berusaha untuk tidak berjingkat. Brian laki-laki yang harus dilawan. Semakin kamu ketakutan, semakin laki-laki itu merendahkan.
"Jangan membiarkan orang lain membuatmu nyaman," Brian bicara dengan sekali lirikan yang ditujukan ke arah Dave.
"Lalu untuk apa aku bertahan demi laki-laki yang justru meninggalkan?," Sherly seolah menantang apa yang akan Brian lakukan.
"Jika menyesali kesalahanku membuatmu kembali padaku, maka dengan senang hati aku akan melakukannya demi cintaku."
"Aku bahkan tidak bisa lagi membedakan cinta atau nafsu belaka."
"Aku menyesal meninggalkanmu hanya karena seorang yang tidak kucintai. Selepas ku pergi, baru kusadari jika ternyata cintaku terpatri di sini," Brian hendak menyentuh dada Sherly untuk menunjukkan dimana pusat debaran dada itu bermula, tapi Sherly menepisnya.
__ADS_1
"Lalu dari mana kamu mengerti jika peduli saja bahkan kamu tidak bisa?."
"Aku menyesal Sherly. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku akan memberikan semuanya untukmu."
"Di akhir permainan adalah penyesalan, jika di awal namanya pendaftaran," ucap Sherly menegaskan.
Senyum tipis terbit di bibir Sherly, lebih tepatnya senyuman menyeringai seorang Sherly Angel. Dari jarak beberapa meter, Dave mengedikkan bahu. Melihat nonanya marah dalam diam lebih berbahaya daripada melihatnya meluapkan amarah dengan suara kencangnya.
"Kamu akan memberikan semuanya untukku? Memang apa yang aku inginkan? Salah ketika kamu berpikir harta yang kubutuhkan. Aku tidak pernah memandang apa yang kamu punya. Mungkin saat ini kita sudah menjadi setara. Aku hanya berharap satu hal. Aku pernah berdoa untuk menyatukan apa yang telah terpennggal. Namun Tuhan belum mengabulkan."
Sherly diam mengamati reaksi Brian. Laki-laki di hadapannya masih diam. Mungkin mencerna setiap ucapan atau bisa jadi merangkai kata sebagai pembalasan.
"Aku berharap apa yang kulihat hanya muslihat, tapi ternyata aku salah. Apa yang terjadi adalah hasil dari sebuah ilusi. Kamu terlalu keras berambisi. Ragamu terlalu lemah menerima hasrat jiwamu. Kamu terobsesi memilikiku, tapi tidak dengan mencintaiku. Jika kamu berpikir kenapa aku dengan lancangnya membicarakan cinta? Karena cinta tau dimana letak kesalahannya. Cinta tidak pernah memaksa. Cinta tau di titik mana dia berada. Hingga akhirnya hasrat murka memaksamu untuk memilihnya. Kita pernah hampir melakukannya, tapi saat itu kamu berhasil menahannya. Mungkin kala itu kamu masih cinta. Lalu ketika kamu kembali meminta dan aku tidak menurutinya, kamu dengan penuh kepercayaan pergi begitu saja. Apa pernah kamu berpikir jika wanita bukan boneka? Dia makhluk yang hampir sempurna. Bisa menjadi siapapun ketika dia membutuhkan. Wanita membutuhkan pria sebagai pelengkap dunianya, bukan sebagai sosok penyiksa rasa. Laki-laki mengasihi karena kewajiban menafkai, tapi ketika wanita mampu menghasilkan materi dari jerih payahnya sendiri, dia tidak lagi membutuhkan sosok lelaki. Aku berdiri di hadapanmu saat ini, mungkin untuk membuatmu sadar jika dulu, saat ini, dan nanti tidak selamanya kamu menjadi pemenang di hati."
Brian sedari tadi memejamkan mata. Bersiap jika hal buruk terjadi padanya. Siapa tahu mantan kekasihnya akan marah dan menampar wajah tampannya, tapi ternyata dugaannya salah. Ketika Sherly selesai dengan ucapannya, Brian perlahan membuka mata.
Mengamati dengan seksama wanita di hadapannya.
"Kenapa tidak ada lagi sorot kecewa di sana? Apa wanita itu sudah tidak terluka?," batin Brian.
"Dan asal kamu tau, aku melupakanmu tidak semudah aku mencintaimu. Bahkan hingga detik ini bayangmu masih abadi. Satu alasan yang pasti kenapa aku tidak ingin mengulangi, yakni aku takut kembali tersakiti," batin Sherly.
Tanpa mempedulikan Brian yang masih berdiri di hadapannya, Sherly berlalu menghampiri Dave. Berharap bawahannya paham apa yang harus dilakukan.
"Nona Sherly yang sekarang bukan lagi Nona Sherly yang dulu. Dia sudah menjadi wanita yang tidak kamu mengerti sebelumnya," gumam Dave.
__ADS_1