
Jika kamu tau mencintai tidak selalu memiliki,
Lalu kenapa kamu membiarkan hatimu rela tersakiti?
Mungkin, cintamu terlalu sempurna
Hingga tanpa sadar kamu rela terluka karenanya
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dave tidur lebih dulu, tapi yang bangun lebih dulu adalah Sherly. Wanita itu bergumam malas saat alarm pada tubuhnya mengatakan dia harus membuka mata saat ini juga.
Bukan rasa malas seperti biasa, tapi Sherly tidak mau melepaskan kehangatan yang baru saja dirasakan.
"Tumben banget tidur nyenyak plus nyaman gini. Nggak dingin juga. Pokoknya nyaman bet deh," batin Sherly.
Wanita itu hampir menutup matanya lagi untuk memberikan lima menit waktu pada matanya agar meneruskan mimpinya. Namun dia melupakan satu hal. Kedua matanya terbuka sempurna tanpa aba-aba. Mengamati sekitar, dia masih berada di kamarnya. Tutup AC masih bergerak naik turun pertanda benda itu masih berfungsi.
Lalu apa yang membuatnya merasa hangat? Bahkan sepertinya di luar sedang turun hujan. Tunggu, perutnya terasa berat. Wanita itu menurunkan pandangannya.
Sebelumnya, indra penciuman wanita itu lebih dulu menangkap aroma familiar di hidungnya. Namun berpikir mungkin ini hanya halusinasinya di pagi hari.
Setelah sempurna melihat dengan jelas apa yang ada di atas tubuhnya, Sherly mengerutkan dahi.
"Dave? Kenapa dia peluk aku sih? Apa dia lupa kalau aku jomblo?," Sherly mendengus kesal karena pelukan Dave bisa saja membuatnya berbunga-bunga.
Lupakan. Dave pasti tidak sengaja melakukannya. Siapapun pasti akan melakukan hal yang sama jika dia tidur berdampingan. Apalagi dengan lawan jenisnya. Sherly tidak marah. Sudah dikatakan jika wanita itu bukan wanita suci. Namun masih perawan.
Dengan sangat hati-hati Sherly memindahkan tangan kekar Dave ke ranjang. Baru saja wanita itu menyentuh kulitnya, Dave malah menggerakkan tangannya untuk mempererat pelukan ke pinggang ramping Sherly.
"Sher?."
"Hm."
"Mau kemana?."
__ADS_1
"Nggak ke mana-mana kok. Tidur lagi aja Dave, masih ngantuk kan?," ucap Sherly sengaja menyuruh Dave untuk kembali memejamkan mata.
Lima menit berlalu, Sherly mulai merasa jika laki-laki di sampingnya tidak bergerak namun tetap bernafas.
"Dave."
Hening.
Karena tidak ada jawaban, maka Sherly beranggapan Dave telah kembali ke alam mimpi. Wanita itu segera menurunkan tangan Dave dan berjalan ke arah dapur.
Jam menunjukkan pukul 05.30 WIB saat wanita itu mengambil nasi dari mejikom dilanjut mengambil sosis dari dalam kulkas. Dengan digap, Sherly mencampurkan bahan dan bumbu racikannya ke dalam wajan. Menumis hingga setengah matang, lalu memasukkan nasi dan kecap serta mengaduknya hingga berubah menjadi makanan berwarna coklat kemerahan.
Tidak lupa irisan cabe dan sosis menjadi aksen di setiap tempatnya. Tidak terlalu sempurna, tapi cukup untuk mereka makan berdua. Wanita itu berjalan kembali ke kamarnya.
Melirik sekilas ke arah Dave. Laki-laki itu masih tertidur. Segera Sherly mengambil celana hot pants dan kaos longgar miliknya beserta handuk yang telah dikalungkan ke lehernya.
Gemericik air yang berasal dari tetesan shower terdengar berisik di telinga Dave. Lantas laki-laki itu segera membuka mata. Menatap kecewa pada ruang kosong di sampingnya.
Bukan kecewa karena tidak ada Sherly di sampingnya, tapi kecewa karena pagi ini dia berencana akan membuatkan sarapan untuk Sherly. Tentu juga untuk dirinya sendiri.
Belum sampai di dapur, hidungnya terkunci dengan aroma yang mampu membuat perutnya semakin keroncongan. Dave mengerucutkan bibir. Mungkin kesempatan pagi ini, akan hilang. Laki-laki itu pasrah dengan kegagalannya.
"Hm, nasi goreng."
Saat ini Dave sudah di dapur. Mengamati apa yang telah tersaji. Karena belum ada minuman, maka Dave berinisiatif membuat minuman untuk mereka. Laki-laki itu memilih susu coklat sebagai teman nasi goreng. Entah itu baik atau tidak, rendah lemak atau justru membuat gendut, Dave tidak tau. Setidaknya dia ingin membuat mereka makan dengan susu sebagai pelega tenggorokan setelahnya.
"Tapp tapp tapp" Dave berjalan santai ke arah kamar dengan membawa nampan berisi satu piring nasi goreng dan dua gelas susu coklat panas.
Sherly bukan tidak punya piring. Namun Dave merasa makan sepiring berdua lebih menyenangkan. Tiba di kamar, Dave tersenyum manis karena a dugaannya tepat sasaran.
Lain di hati, lain juga di bibir. Jika cinta datang dari mata turun ke hati, laku bagaimana dengan pandangan yang hadir dari hati ke mata. Dave merasa otak dan bibirnya tidak sinkron.
"Sherly kok pakai hotpants? Jangan bilang dia mau cuti dari kantor? Wah mampu* deh! Setelah kemarin memberiku kebahagiaan, apa sekarang saatnya kamu kembali menjatuhkan? Dih nona, semua terasa berat adanya," keluh Dave dalam hati.
Tapi bagaimana dengan bibir? Oh ya, bibir seksi Dave hampir saja lupa untuk berbicara.
__ADS_1
"Sherly, kamu cantik! Apalagi rambut basahmu, rasanya aku pengen cepet pindahan kesini," ucap Dave dengan tatapan memujanya.
"Hei orang tua, apa maksudmu hm?."
"Ish, aku masih muda. Jangan memanggilku tua."
Padahal Dave tidak tau apa yang membuat Sherly mandi keramas di pagi hari. Di waktu yang sedingin ini. Bahkan di luar sana hujan masih belum reda.
Alasan utama Sherly mandi tentu karena dia sudah berkeringat karena berkutat di depan kompor. Namun alasan yang kedua melenceng jauh dari sana. Sherly mandi karena rasa panas dalam tubuhnya tidak berkurang, sekalipun wanita itu sudah melakukan aktivitas lain.
"Oh ya sher, maaf ya aku tidurnya nyenyak banget. Hehehe. Malah aku lupa kalau sekarang aku di kediaman atasanku," ucap Dave dengan nada rendah seolah memberi tahu Sherly jika laki-laki itu tengah menyesal.
"Jika berdua saja, lupakan kalau aku atasanmu. Aku tau kamu banyakan halu karena lihatin aku," ucap Sherly percaya diri.
Wanita itu bergegas duduk di kursi depan meja rias, tapi Dave menahannya.
"Sher, ayo kita sarapan. Aku udah buatin susu buat kamu. Em, meskipun ini yang masak kamu sih."
"Oke Dave."
Perlahan nampan itu kehilangan beban hingga akhirnya benar-benar kosong tak tersisa. Satu piring dan dua gelas sudah berpindah ke meja di dekat sofa.
Entah apa yang mendorongnya, Dave tiba-tuba mengambil suapan pertama lalu melirik ke arah Sherly. Laki-laki itu juga menghadapkan tubuhnya tepat di hadapan wanita yang saat ini u berstatus sebagai atasannya.
"Apa liat-liat?," tukas Sherly ketus.
Sebenarnya dia tidak ingin berkata ketus, tapi sebelum asistennya itu mengejek sesuka hati, Sherly lebih dulu mengancamnya lewat tatapan.
"Aakkk," bukan menjawab, Dave malah meminta Sherly untuk membuka bibirnya.
"Sial! Kenapa aku harus nurut dana Dave sih? Coba aja dia yang nyuapin aku. Eh dia? Brian maksudnya? Ya Tuhan sher!!! Lupain dia! Dia itu udah ninggalin kamu dan milih wanita lain," batin Sherly.
Terkadang bodohnya cinta adalah saat kita merelakan. Namun ternyata apa yang kita lakukan tidak seperti apa yang kita harapkan. Mengikhlaskan tidak semudah mengungkapkan.
Satu suapan masuk, Dave tersenyum senang. Seandainya dia punya istri yang cantik, baik hati, rajin menabung dan tidak sombong seperti Sherly.
__ADS_1