
Secepat apapun kamu merasakan, belum tentu cepat pula kamu melupakan karena tolak ukur kekecewaan bukan tentang seberapa lama kamu bertahan. Tapi bagaimana kamu merasa nyaman lalu berakhir dengan perpisahan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Untuk saat ini, hanya mengintimidasi saja tidak membuahkan bukti. Dave kembali memeluk Sherly.
"Kamu pemenang, bahkan aku tidak bisa membiarkan waktuku untuk mengenang. Kamu telah mencuri seluruh ruang."
Sherly meronta, dia bukan malu menjadi pusat perhatian. Tapi wanita itu tidak bisa percaya begitu saja. Rasa cemburu telah menguasai kalbu.
Dia meronta, meminta untuk terus terlepas dari kekasihnya. Dave tetap pada pendiriannya. Apa yang telah digenggam tidak akan dilepaskan.
"Merontalah jika kamu ingin aku melepaskanmu. Setelah terlepas, maka kamu benar bebas. Aku tidak akan mengusikmu."
Dave mengendorkan pelukan. Laki-laki itu menatap tajam ke arah Sherly. Tepat di kedua manik matanya. Dave melihat ketakutan di sana.
"Pergilah," ucap Dave berat. q
Sherly menggeleng. Tidak bukan itu yang diharapkan. Dia juga takut kehilangan Dave. Wanita itu mengerucutkan bibir. Entah kenapa, berada di situasi seperti ini justru menjadikan Sherly seperti anak kecil yang minta dikasihani.
Bukan Dave tidak memahami Sherly. Laki-laki itu tau dengan pasti. Hanya saja hatinya terlanjur terluka. Dia tidak pernah mengira kekasihnya akan bersama seorang pria. Dave memejamkan mata berharap semua pikiran buruknya sirna.
"Pergilah jika ini maumu. Bukankah tadi meronta sekuat tenaga?" tegas Dave.
Masih dengan memejamkan mata, Dave menghela nafasnya. Jujur, dia berharap Sherly masih setia di dekatnya. Tapi jika nanti wanita itu memilih pergi, Dave berusaha untuk memahami.
Seorang Dave Anggara akan mempertahankan apa yang telah dia klaim menjadi miliknya. Dia akan berusaha bertahan meskipun banyak kekecewaan.
Saat ini berbeda. Dave sadar dia yang paling rendah dari mereka. Semua pemuja kekasihnya berasal dari kaum berada. Sedangkan Dave, dia hanya berdiri sendiri tanpa punya apa-apa.
Segerombol wanita cantik melintas di depan mereka. Banyak tatapan memuja dari sana. Kaum hawa itu melirik penuh minat ke arah Dave Anggara. Apalagi laki-laki itu memejamkan mata. Jangan lupakan juga posisinya yang berkeringat dan bersandar pada penopang di belakangnya.
"Mau dong jadi temboknya biar bisa meluk erat," celetuk salah satu diantara mereka.
Sherly membulatkan mata. Dia melempar tatapan tajam ke arah kumpulan kaum hawa. Otak mereka bertraveling ria.
Ditambah keringat yang mengalir di pelipis dan leher membuat Dave semakin terlihat menggoda. Sherly memeluk kekasihnya tanpa melepas tatapan mengancamnya.
Tatapan itu seolah bicara. Sherly mendadak takut Dave-nya direbut setelah tadi dia sendiri yang meminta untuk pergi.
"Cup" Sherly sengaja mencium bibir Dave.
Refleks pemilik bibir seksi itu membuka mata. Dia menatap wanita yang paling dekat dengannya, lalu beralih ke arah wanita lain tidak jauh darinya.
"Dia milikku. Jangan berani meliriknya!" ucap Sherly penuh penekanan.
Dave menahan perutnya. Laki-laki itu ingin tertawa. Ternyata wanitanya cemburu dengan mereka. Dia pura-pura tidak peduli dengan Sherly. Justru laki-laki itu menatap wanita yang siap untuk menggodanya. Dave melirik.
Hanya lirikan saja membuat kumpulan itu bersorak.
"Apalagi sentuhannya?"
"Ada yang bisa saya bantu nona-nona cantik?"
"Boleh minta nomor ponselmu?"
"Sebentar," Dave merogoh saku celananya.
Dia mengeluarkan ponsel membuat mereka semakin bahagia.
Sherly mengepalkan tangannya. Dia menahan amarah.
"Tunggu pembalasanku Daaaveee!" teriak Sherly dalam hati.
Seringai licik muncul di bibir Dave. Laki-laki itu tersenyum kepada wanita bar-bar di hadapannya. Dave semakin terlihat tampan. Sherly geram. Wanita itu melangkah, tapi Dave menahan.
__ADS_1
"Tetap di sini," ucap Dave tanpa melirik ke arah Sherly.
"Untuk apa? Hanya untuk melihatmu tebar pesona kepada mereka kan?" sungut Sherly.
"Aku bilang di sini ya di sini," ucap Dave penuh penekanan.
Sherly merinding, bulu kuduknya ikut berdiri. Entah ke berapa wanita itu melihat ekspresi kekasihnya. Dia akan terlihat beda saat ada amarah yang dipendamnya
"Aku mau pergi. Lepasin Dave!"
"Banyak tingkah banget sih mbak? Pergi ya pergi aja! Kalau kamu nggak mau kita juga mau kok. Emang wanita cantik cuma situ doang?"
Sherly mencoba bertahan. Dia kesal, tapi tidak diluapkan. Sepertinya wanita itu kurang pelepasan. Sherly menatap tajam ke arah wanita bar-bar.
Biasanya Sherly adalah wanita yang selalu bisa menguasai diri, tapi kali ini dia tidak bisa mengontrol emosi. Dave telah membuat moodnya berantakan.
Tatapan tajam dilayangkan Sherly. Mereka tidak peduli keberadaan Sherly. Yang dibutuhkan adalah sosok laki-laki yang telah mencuri perhatian mereka pertama kali.
Senyum manis terbit di bibir Dave. Sementara Sherly telah geram sendiri. Wanita itu melirik kekasihnya lewat sudut mata. Bola hitam bergerak ke arah samping untuk mengamati apa yang dilakukan sosok pria di dekatnya.
"Damn," umpat Sherly.
Laki-laki itu membalas senyuman mereka. Bahkan Dave masih setia menggenggam benda pipihnya.
"Berapa nomor ponselmu sayang? Ayolah berikan padaku."
Salah satu wanita bicara dengan nada manja. Sherly membulatkan mata. Bola putih itu hampir saja melompat. Dave mengeratkan genggamannya pada jemari Sherly. Wanita itu lagi-lagi mengibaskan meski Dave tetap berkuasa atas tangannya.
"Hadeh, lebay banget sih mbak. Pacarnya mau kok kamunya gitu. Kalau nggak boleh dilirik ya ditaruh lemari dong."
"Hei, dia punya mata jadi bisa melihat. Dia juga punya kaki untuk berjalan. Percuma dikunciin di kamar kalau dianya keliaran," tukas Sherly.
"Kalian pergi dari sini! Cepettt! Atau mau aku panggil security biar kalian di usir dari sini," imbuhnya.
Darahnya kembali mendidih. Laki-laki menyebalkan itu berada di depan kekasihnya. Sherly tidak menyadari, tapi Dave terus mengamati.
Laki-laki itu berada di belakang Sherly. Dengan lancang dia memeluk Sherly dari belakang. Tatapan iri terpancar jelas di sana. Sherly membalikkan tubuh. Bodohnya, Sherly justru berjinjit karena kaget kakinya hampir menginjak sesuatu.
"Cup" kecupan singkat mendarat di bibir laki-laki yang tadi memeluknya.
Dia merona, sedangkan Sherly membulatkan mata. Tatapannya lurus ke dua manik hadapannya. Dia yabg dirindukan benar ada di hadapan.
"Segitu kangennya sama aku? Sampai nyium aja di depan umum," ucapnya seraya melirik Dave.
Dave menggeram. Dia menarik Sherly paksa. Membawa wanita itu ke dalam dekapannya seolah menunjukkan bahwa wanita yabg bersamanya adalah miliknya.
"Santai bro, dia sendiri yang nyium," ucapnya santai.
"Maaf aku nggak sengaja," ucap Sherly membela diri.
"Sengaja atau tidak kamu sudah bertindak."
"Cup" Sherly mendapat kecupan dahi sebelum sosok itu berlalu pergi.
"Lain kali aku akan ke sini lagi. Jangan biarkan dia mengganggu kita."
"Brengs**!" umpat Dave.
Sosok itu melangkah pergi. Tubuhnya mulai menjauh, tapi telah membuat sebagian yang ada di sana bersorak riuh. Kini kumpulan kaum hawa berganti mengejar laki-laki yang baru saja mencium Sherly. Mereka meninggalkan sepasang kekasih yang masih dalam mode on perdebatan.
"Kita..." Dave belum sempat melanjutkan kalimatnya, tapi sudah melangkah pergi.
Sherly menahan. Dia menggapai jemari Dave, namun ditepis oleh sang empu.
"Bee please aku bisa jelasin."
__ADS_1
Sherly berlari kecil mengejar Dave. Dia berusaha mensejajarkan langkahnya.
Jangan berburuk sangka. Kamu belum tau siapa dia. Bisa saja dia orang yang turut andil dalam hidupnya.
Dave tidak peduli. Semua tidak sebanding dengan pengorbanannya semalam. Apa yang dilakukan Dave kenapa harus berbuah kelam.
"Apa salahku haaaaa?" teriak Dave frustasi.
Sherly menarik tubuh Dave. Memeluknya dari belakang. Wanita itu menempelkan kepalanya ke punggung Dave. Sherly terisak. Bukan karena laki-laki tadi, tapi takut Dave pergi.
Wanita itu tidak menyangka dia akan ada di sana. Lalu sekarang? Dia justru lancang memeluk Sherly di depan kekasihnya sendiri.
Pejaman mata kembali dirasa. Dave berusaha menata raganya. Sekalipun kecewa, dia tidak akan bermain kasar kepada wanita. Dave membuka mata lalu membalikkan tubuhnya. Dia membalas pelukan Sherly, sama seperti tadi.
"Kenapa semua harus impas? Aku tidak memeluknya, tapi kamu dipeluknya."
"Aku tidak percaya, apalagi kamu tidak bisa dekat dengan semua wanita."
Dave mengusap puncak kepala Sherly. Dia menyalurkan energi agar wanitanya tidak merusak harinya lebih dari ini.
"Cup" Dave mencium di tempat yang sama dengan laki-laki tadi.
"Biar ku hapus bekas sentuhannya."
"Cup" Dave mencium bibir Sherly yang selalu membuatnya tergoda.
"Jangan pernah mencium laki-laki lain baik di belakang ataupun di depanku. Kamu milikku, aku tidak suka berbagi. Apalagi di tempat umum seperti ini."
Sherly merona. Kulit putihnya terlihat berbeda. Warna merah ada di kedua pipinya. Dave menjadi gemas karena tingkah sang wanita.
"Cup cup cup" Dave menghujani Sherly dengan ciuman bertubi hingga wanita itu terkikik geli.
"Dave udah," pekik Sherly.
Dave berhenti, dia menatap ke arah Sherly. Senyum tulus terbit di bibir seksinya.
"Kita selesaikan ini di unit kamu," usul Dave.
"Baiklah."
Mereka berjalan, tapi Dave melepaskan gandengan. Sherly merengek lalu mencuri pandang.
"Dia tampan, sayang banyak godaan," batin Sherly.
"Ting" lift terbuka.
Keduanya masuk ke dalam kotak besi. Udara terasa sesak untuk Sherly. Dia merasa sendiri karena Dave tidak sufi meliriknya. Wanita itu menunduk mengamati sepatu hak tinggi yang masih dipakai.
"Maaf," lirih Sherly.
"Huuuftttt" Dave menghela nafas.
Sherly membuang pandangannya pada kotak coklat yang sempat Dave jatuhkan. Wanita itu berharap Dave berhenti mendiamkan.
"Ting" lift kembali terbuka.
Mereka keluar dan berjalan menuju unit Sherly. Pintu telah tertutup rapi. Siapa yang menjadi tersangka jika bukan sang pria.
"Apa dia pemilik posisi yang lebih tinggi dariku saat ini? Kenapa semua terlihat beda? Aku belum mengenal orang di sekitarmu dengan sempurna. Bodohnya, aku bahkan tidak bertanya siapa yang membantumu hingga berada di posisi fantastikmu," batin Dave.
"Klek" Pintu terbuka.
Sherly menggandeng Dave, berharap kekasihnya tidak menolak seperti beberapa saat lalu. Dave lega karena akhirnya Sherly kembali menggapai jemarinya. Dia tidak lagi menolak karena sesungguhnya dia juga tidak ingin ada jarak.
Entah mengapa wanita itu mempercepat langkahnya. Dia berjalan mendahului, sedangkan Dave tetap berjalan pelan di belakang.
__ADS_1