Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Threesome


__ADS_3

Cinta bukan tentang kalimat berabjad lima, maka pahami seluruh emosi agar kelak kamu tau rasa apa yang bersarang di hati


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bayangan benda di depannya mulai kabur. Kedipan kelopak mata perlahan berat. Bernad berjalan menuju lantai dansa berbaur dengan banyaknya umat di sana. Dentuman musik memenuhi indra pendengaran. Genre remix menjadi penyemangat untuk saling meliukkan tubuh. Teriakan Disc Joukey memaksa semua penikmat terus beradu peluh..


"Aaaaarrgghhhkkk Sherlyyyyy!" teriak Bernard.


Banyak wanita yang menghimpitnya. Tentu saja semua adalah penggoda. Bernad tidak peduli. Dia berusaha menikmati, tapi bayangan Sherly terus menghantui. Hingga akhirnya laki-laki itu memilih pergi. Dia kembali ke tempat dimana seharusnya berada.


Kediaman Sherly adalah tujuannya saat ini. Malam telah larut, maka kemungkinan untuk bermalam di sana akan terlaksana. Perjalanan tidak memakan waktu lama karena Bernad mengemudi dengan kecepatan tertingginya.


Kendaraan roda empat yang dikemudikan Bernad telah fasih untuk menempatkan diri di bassement apartement Sherly. Bernad turun, lalu berjalan sedikit tergesa ke arah lift. Tubuhnya berat, melebihi berat normal saat dirinya dalam keadaan sadar.


"Ting tong" bell apartement Sherly berbunyi.


Di dalam, dia sedang melakukan upacara perpisahan dengan kekasihnya.


"Siapa?" tanya Dave spontan.


"Tidak tau. Tidak pernah ada yang bertamu selarut ini."


Dave mengangguk setuju. Saat dia bermalampun tidak ada kejadian janggal.


"Ting tong" bel berbunyi lagi.


Terpaksa Dave dan Sherly berjalan menghampiri. Tangan kanannya terulur membuka pintu. Sosok laki-laki dewasa menyembul sempurna. Wajah lelah terlihat jelas, tapi tidak sedikitpun mengurangi ketampanannya.


"Brengs*k!" umpat Dave.


Jika tidak bisa membuat seseorang luluh dengan kelembutan, mungkin sedikit bertingkah bisa membuatnya perhatian. Waktu adalah roda, dimana ia berputar dengan semestinya. Sekelebat bayangan muncul karena kecemburuan.


Jealous in heart. Itulah yang dirasakan Dave saat melihat laki-laki yang telah berani menyentuh Sherly. Sorot matanya juga menatap tajam, tapi tidak ada ketakutan.


Sherly merinding. Bulu kuduknya meremang. Wanita itu gugup. Menghadapi dua laki-laki tempramen akan membutuhkan ekstra kesabaran. Beruntung tidak ada si mantan sialan.


"Ehem" dehem Bernard.


Suasana canggung mulai terasa. Bukan karena ada Dave di sana, tapi Sherly tidak pernah melihat Bernard putus asa seperti itu. Sherly berdebar, wanita itu takut dengan keadaan Bernard.


Dengan sadar, wanita itu menggenggam erat lengan kanan Dave. Dave mengerutkan dahi. Dia tidak paham apa yang dipikirkan Sherly. Menurut ilmu tak kasat mata, apa yang diinginkan wanita adalah tindakan tersirat karena ucapannya.


Maka Dave mulai mengartikan apa yang Sherly inginkan. Dave memutar kepala, namun tubuhnya masih menghadap laki-laki di dekatnya. Sherly tentu saja meringis karena lirikan kekasihnya.


Tanyakan pada rumput bergoyang. Mengapa mereka bergerak karena tiupan angin. Mengapa mereka tertawa tanpa sebuah luka. Tidak semua kesalahan adalah paksaan. Maka tidak menutup kemungkinan paksaan akan menimbulkan kesalahan. Bukankah ada kenikmatan setelah sedikit kegiatan yang melelahkan?


Dave memeluk Sherly lalu membawanya sebatas dada. Tubuh mereka rapat karena sang wanita mendekap erat. Bodohnya, mereka justru sama-sama merasakan ada yang berbeda. Apa jatuh cinta selalu perihal debaran dada?


"Aku mencintaimu melebihi hidupku," ucap Dave lirih.


Sherly mendongakkan kepala. Memposisikan agar berada tepat di depan bibir kekasihnya. Sedikit menggigit bagian bawah ternyata membuat Dave hampir basah.

__ADS_1


"Shit!" umpatnya pelan.


Bola mata Sherly membulat. Lalu alisnya saling bertautan. Wanita itu memperlihatkan wajah menggemaskan. Demi apapun, Dave menyimpan sejuta sumpah serapah di dalam hatinya.


Benar jika bulatnya mata mampu meluluhkan kerasnya amarah yang ada. Dari sekian perlakuan, kenapa harus ini yang keduanya lakukan. Saling menatap, masih dalam jarak yang bisa disebutkan. Namun kemudian beralih menjadi dekat dan saling *******. Astaga, mereka memejamkan mata tanpa sadar. Menyelami ketenangan yang tidak boleh terlewatkan. Menikmati setiap ******* yang haus akan belaian.


Suara cecapan menjadi iringan untuk desah kenikmatan. Sherly tidak memungkiri, dia menyukai adegan sederhana ini. Dave terus memegang kendali. Laki-laki itu setia menggendong Sherly.


Usapan lembut membuat Dave semakin hanyut. Suraian jemari Sherly memaksa Dave tidak berhenti meresapi. Semua terasa pas di ubun-ubunnya. Dave ingin mengerang, tapi tertahan.


"Praankkkk" Bernad melempar ponsel yang telah diremasnya.


Sontak manusia yang memulai fore a play terlonjak. Refleks Sherly melompat. Sementara Dave kembali mengumpat.


"Jangan lakukan itu di depanku bodoh! Pergi dan cari penginapan. Aku akan bermalam di sini," teriak Bernad.


Gurat kemarahan terlihat jelas di wajah laki-laki yang sedari tadi menjadi obat nyamuk. Bernad tidak masalah dirinya berperan sebagai obat apa asal jangan sebagai obat perangsang.


Bernad nyelonong masuk menuju kamar Sherly. Tidak ada yang harus dia takutkan di sana. Sekalipun dia numpang di apartement Sherly, tetap saja Bernad lebih berhak daripada wanita cantik itu.


"Apa manusia di era sekarang diciptakan untuk bercinta di depan umum? Cih! Murahan sekali. Seperti tanda akhir zaman," rancau Bernad.


Sherly berlari menghampiri Bernad. Dia tidak ingin hal buruk terjadi lagi. Sungguh, wanita itu sangat lelah. Sore tadi dia sudah cukup sabar menghadapi dia, tapi laki-laki tidak tau diri itu kembali lagi.


Roda kehidupan pasti berputar. Sherly berharap saat ini Bernad berada di posisi bawah, bukan terus berjaya di atas sana. Hal yang tidak disukai dari Bernad adalah jiwa angkuhnya. Tidak dipungkiri, dia memang baik kepada Sherly. Namun mengingat laki-laki itu memiliki perasaan lebih membuat Sherly sungkan untuk memilih.


Bukan sungkan karena perasaan, tapi sungkan karena rasa kemanusiaan. Cinta tidak bisa dipaksa. Dulu Bernad mencintai Sherly, dan bisa saja sekarang masih sama. Sherly sudah menganggap dia sebagai kakak laki-lakinya. Apalagi dia bisa seperti saat ini karena keluarga Bernad Pradipta.


Bodoh! Kenapa Dave baru sadar jika di lemari Sherly banyak pakaian laki-laki. Kenangan manis di atas ranjang terngiang-ngiang di benak Dave. Dia membulatkan mata.


Tepat saat itu juga dia menggelengkan kepala. Tidak, semua tidak boleh terjadi. Jarak yang hanya beberapa langkah terasa jauh. Ayunan kakinya terasa berat. Dave menyiapkan umpatan yang pantas untuk pria berjiwa tempramental.


Bernad membuka lemari dan mencari kaos kesayangannya. Dia meneliti setiap tumpuk pakaian yang pernah ditinggalkan. Matanya tertuju di tatanan yang beda dari lainnya.


"Mampus! Jangan bilang dia nyari kaos yang sering dipakai Dave," batin Sherly.


Bernad mendelik ke arah Sherly kemudian mendekat. Satu jengkal saja laki-laki itu maju, maka terjadilah adegan tak sengaja seperti tadi. Dave tidak terima. Refleks laki-laki itu melangkah ke arah Sherly.


Menarik sang kekasih ke dalam pelukannya, lalu melempar sorot petingatan kepada lawan.


"Dave," rengek Sherly.


Suara itu. Dave merasa hatinya meleleh. Laki-lak


"Jangan sentuh dia!" kurang lebih seperti itu makna yang dapat ditangkap Bernad.


Bernad tersenyum licik. Dia berada di bawah pengaruh alkohol. Ditambah dengan suasana hati yang kacau memaksa Sherly untuk terus mawas diri.


Dave menarik Sherly untuk mengikutinya. Dia tidak mau terlalu dalam berpikir tentang Bernad si laki-laki yang tidak tahu diri. Bukan Dave tidak mengerti, hanya saja dia butuh yang bersangkutan untuk mengakui.


Sherly tergesa mengimbangi langkah Dave. Wajar saja, kaki laki-laki itu lebih tinggi dari pada Sherly. Bernad mengejar, tapi terlambat. Tepat di depan wajah Dave membanting pintu kamar Sherly.

__ADS_1


"Brukk"


"Brengsek!" umpat Benad keras.


"Brengsek katamu? Dasar laki-laki sialan!" balas Dave saat mendengar teriakan rivalnya.


Shely membayangkan adegan apa yang akan terjadi dengan kamarnya. Seorang Bernad Pradipta akan menciptakan keonaran apa. Tidak biasanya laki-laki itu diam. Biasanya dia akan mengejar saat Sherly berusaha pergi. Tapi tidak dengan malam ini.


"Ah entahlah," gumam Sherly.


Dave berjalan cepat menuju pintu apartemen lalu disusul Sherly di belakangnya. Dave berhenti, sejenak mengamati. Ide licik muncul begitu saja di benaknya. Dia meminta sang kekasih untuk mengganti sandi dengan sensor finger print.


Jujur saja Sherly merasa asing dengan permintaan Dave. Selama bersama, laki-laki itu tidak pernah berlaku konyol seperti ini. Meski ragu, dia tetap menuruti permintaan Dave.


"Bee, cepat ganti kode aksesnya," rengek Dave.


Bak anak kecil yang minta gula kapas dan lolipop kepada ibunya, Dave menghentakkan kaki dengan manja. Sherly mengerutkan dahi. Sekarang Dave melakukan hal aneh lagi. Oh astaga, Sherly semakin tidak mengerti.


Wanita itu merasa sial dikelilingi dua pria tampan tapi sangat menjengkelkan. Mereka banyak tingkah, tidak seperti Sherly yang tetap ramah.


Hentakan tangan Dave membuat Sherly kembali ke dunia nyata. Wanita itu tengah melamun untuk sepersekian detik. Bayangan Dave kabur bersama arwah Bernad yang hinggap di kepalanya.


Dave bukan kasar. Dia tidak ingin Sherly memikirkan pria lain. Apalagi rival berat seperti Bernad. Dan Dave yakin bahwa wanitanya tengah melakukan opini terburuknya.


Tapakan Sherly semakin jauh, namun belum ada tanda-tanda berontak dari dalam unitnya. Dia mengerutkan dahi. Pikiran pertama adalah si Bernad Bear marah dengannya. Meski sebenarnya Bernad tidak punya alasan khusus untuk benci kepada Sherly.


Cinta menjadi alasan kenapa Bernad masih setia dengan status perjaka. Dia tidak mengira jika Sherly akan sebahagia ini. Dulu Bernad tidak merestui hubungan Sherly dan Brian karena Bernad tau siapa Brian. Sedang sekarang, sekedar bicara saja dia merasa berbeda. Sherly telah bahagia. Itu prinsip yang ia tanam dalam pribadinya.


Kendaraan roda empat membelah pekatnya malam. Menyelam di dalam gelapnya hitam. Sherly melirik ke arah Dave. Wanita itu mengamati kekasihnya dalam diam. Saat itu juga, Dave mengintip dari ekor mata. Senyum tipis terbit menambah kesan maskulin khas pria.


Dave melajukan mobilnya dengan pelan saat melihat supermarket di pinggir jalan. Dave menepi, lalu turun kemudian membuka pintu di samping Sherly.


"Terima kasih," ucap Sherly.


Dave menggandeng kekasihnya agar tidak ada yang berani merebut darinya. Sherly membalas genggaman Dave dengan semestinya. Keduaya terlihat bahagia apalagi berteman senyum yang menghias di bibir masing-masing.


Di dalam, Dave berjalan memisah. Lalu tanpa diminta laki-laki itu sigap mengambil troli belanja kemudian mendorong. Dia menghampiri Sherly yang telah berdiri di depan manakan ringan.


"Bukankah kita baru saja belanja makanan ini bee?" tanya Dave.


Sherly mengedikkan bahu. Tidak lupa bersama senyum yang sedikit dipaksakan. Laki-laki tidak pernah tahu tentang makanan yang disukai wanita.


"Bee?" panggil Dave.


Sherly tetap diam. Wanita itu berpikir Dave pasti akan marah karena diabaikan. Dave memanggil lagi, tapi tetap tidak Sherly sahuti.


Wanita itu membalikkan tubuh mencari dimana sosok Dave yang utuh. Namun nihil. Di belakangnya tidak ada siapa-siapa. Hanya ada seonggok barang yang tadi didorong kekasihnya. Sherly mengerucutkan bibir. Semua tidak seperti ekspektasinya.


Seharusnya Dave marah karena Sherly mengabaikan, tapi yang terjadi justru wanita itu yang marah karena Dave telah berpindah arah. Sherly mencoba biasa saja meski dalam hati dia mengumpat sebanyak-banyaknya.


Dave bukan menghilang, dia sengaja mencari celah untuk membuat Sherly marah. Sebenarnya bukan marah karena apa yang akan Dave lakukan pasti membuat senyum Sherly merekah.

__ADS_1


Troli menjadi teman tersendiri saat sang kekasih tidak diketahui. Sherly mendorong dengan hati-hati agar tidak menabrak rak di kanan kiri. Jarak antar gondola sangat minim karena hanya mampu dilewati tanpa celah yang pasti.


__ADS_2