Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Cellin Nata


__ADS_3

Aku rindu dengan mata yang selalu memberi tatapan


Juga dengan jari yang saling bertautan


Bukan berjauhan dan saling melupakan seperti apa yang sedang kurasakan


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Dave?"


"Sherly?"


Sherly melirik ke dalam mobil. Lebih tepatnya ke arah wanita yang berpenampilan tidak semestinya. Dave paham, maka laki-laki itu akan menjelaskan.


"Huuufttt" Dave menghembuskan nafas kasar.


"Turun dari mobil gueee!!!" teriak Dave.


Sherly mengerutkan dahi. Dia heran kenapa Dave berubah tempramen.


"Kenapa Dave?" tanya Sherly yang masih setia mengamati.


Wanita di dalam mobil keluar. Dia memeluk Sherly lalu menumpahkan air mata di piyama tidurnya. Sherly membisu. Dia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Dia ada-"


Dave belum sempat meneruskan kalimatnya, tapi suara oktaf wanita lebih dulu menyela.


"Dia mantan kekasihku. Kita bahkan hampir menikah. Tolong nona jauhin Dave. Bantu aku biar kita bisa balikan," ucapnya disertai isakan.


Sherly menguatkan hati. Dia mengusap punggung wanita itu. Lalu matanya menatap tajam ke arah Dave.


Tatapan itu. Ya, Dave pasti yakin dengan argumennya. Sherly pasti kecewa karena Dave tidak bercerita.


"Apa dia benar Dave?" tanya Sherly lirih.


"Apa yang di-"


Ucapan Dave kembali terpotong oleh orang yang sama. Dave sudah menahan amarahnya dari tadi, tapi wanita itu selalu mengulangi kesalahan lagi.


"Benar nona. Bahkan saya bisa menunjukkan potret kebersamaan kita."


Wanita itu mengambil ponsel lalu membuka satu album bertuliskan "kenangan"


Sherly memejamkan mata. Wanita itu berusaha yakin dengan keputusannya. Dave berjalan cepat lalu merebut ponsel dari tangannya.


"Jangan berani membuka ini! Kita udah nggak ada apa-apa lagi! Loe paham nggak? Gue bahkan nggak sudi lihat loe ada di sini!" teriak Dave.


Sherly melepaskan pelukan wanita itu. Dia melangkah ke arah Dave. Menatap mimik wajah kekasihnya. Sherly yakin Dave tidak mungkin membohongi, tapi kenapa dia tidak membolehkan wanita itu membuka galerinya.


"Kenapa?"


Dave membalas tatapan Sherly. Dia tau Sherly berusaha menguatkan dirinya. Melalui sorot mata saja Dave bisa melihat ada hati yang kecewa.


Tangan kanan Dave berusaha menggapai Sherly, tapi wanita itu menepisnya.


"Jawab aku Dave!"


Dave menghambur memeluk Sherly, tapi wanita itu melepaskannya. Saat ini dia hanya butuh dimengerti. Lebih baik menjelaskan daripada larut dalam sebuah kesalahpahaman.


"Dia mantan kekasihku," gumam Dave.


"Kresss" Sherly merasa hatinya teriris.


Wanita itu tidak menyangka jika dia menjadi penyebab pupusnya dua orang yang saling mencinta.


Sherly melangkah pergi, tapi Dave menahan tangan kanan Sherly. Wanita itu berhenti. Dia membalikkan tubuhnya. Mengamati manusia yang masih pada posisinya.


"Bersikaplah dewasa. Bagaimana kamu akan percaya jika tidak mendengar semua?"


"Dave benar," batim Sherly.


Ada satu wanita yang tidak peduli dengan drama mereka. Dia sibuk mencari photo panas Dave dan dirinya.


"Good," gumamnya.


Benda canggih berangsur mendekat ke arah Sherly. Pemiliknya menyodorkan setelah menemukan potret kebahagiaan di dalam kenangan.


Seorang wanita tengah mengusap laki-laki yang merebahkan kepala di paha sang wanita. Mereka berada di bibir pantai dengan sunset sebagai objek yang permai. Sherly menautkan giginya. Wanita itu hendak mencakar Dave saat itu juga. Namun genggaman Dave seolah memberinya kekuatan.


"Maksudnya apa Dave?"


Dave melirik tajam ke arah wanita. Dia benci seseorang yang merusak hidupnya. Kekasih tidak tau diri itu pergi lalu seenaknya kembali lagi. Dave telah menganggapnya mati. Dia tidak berhak dicintai. Apalagi sepenuh hati.


"Aku dan Dave dulu pernah tunangan. Iya kan Dave?"


Sherly menyipitkan mata. Dia dan Brian saja belum sampai ke jenjang sana. Namun Dave? Lupakan! Sherly berharap semua hanya ilustrasi yang berantakan.


Dave menatap tajam. Dia tidak peduli dengan siapa berhadapan. Laki-laki itu telah menganggap wanita di hadapannya sebagai siluman. Dia terus menghasut Sherly dengan menutupi kesalahannya sendiri.


"Loe harusnya tau kalau kita nggak pernah tunangan!"


Dave merebut ponsel dari genggaman Sherly. Dia mengamati semua kemesraan mereka. Bahkan masih banyak pose yang lebih menggoda dari pada tadi. Sherly turut mengamati. Wanita mencelos sendiri. Untuk kedua kali dia merasa tersakiti.


"Bee, kali ini tolong percaya sama aku. Kita nggak pernah tunangan. Dia lebih dulu jalan sama laki-laki lain. Dia ini jala*g."

__ADS_1


"Jalan*? Kamu lupa Dave? Lupa bagian mana yang pernah kamu sentuh? Lupa apa aja hal yang membuat kamu melenguh?"


"Gue nggak lupa! Catat dalam otak loe kalau gue masih inget semuanya. Tapi gue percaya hal buruk itu bakal pergi dengan sendirinya."


Sherly mencerna setiap kata. Pembahasan mereka menuju ke tahap perintiman. Sherly tidak bisa menahan. Membayangkan apa saja yang mereka lakukan membuat genangan air di matanya menjadi sempurna.


"Masih inget kan Dave? Berarti kamu belum bisa lupain aku."


Dave menatap ke arah lawan bicara kemudian melirik ke arah Sherly. Tidak ada mendung, tapi akan ada hujan. Dave sadat ada kesedihan terselubung.


"Bruk" Dave memeluk Sherly lalu mencium kekasihnya.


Dia meluma* bibir Sherly penuh cinta. Sungguh, isapannya lembut seperti sutra. Bukan rakus, tapi sebagai pelampiasan saja. Dave menarik tengkuk Sherly membawa wanita itu ke dalam permainannya.


Dia tidak peduli dimana mereka berada. Dia bahkan lupa jika ada dua manusia yang tidak suka dengan kemesraan mereka. Dave memejamkan mata. Sedangkan Sherly mulai menitikkan air bening miliknya. Dave melepas pelukan, lalu menggiring kedua tangan untuk mengusap bulir bening yang mengalir.


"Teruslah menangis, lalu berhentilah mengais. Aku tidak akan melihatmu seperti ini untuk kesekian kali. Kamu separuh nafasku Sherly," batin Dave.


Dave kembali memejamkan mata. Dia menghapus bayang Sherly bersama Brian yang terus terngiang. Pertemuan di privat room kekasihnya, perhatiannya, lalu kepedulian Sherly terhadap mantannya.


Cemburu menguasai hampir separuh waktu. Dave berusaha tidak terharu, tapi ternyata dia terus bergeriliya dengan kesedihannya.


"Kenapa melihatmu bersama yang lain membuatku terluka? Aku takut kamu seperti dia. Meninggalkanku hanya karena kebodohanku," batin Sherly.


"Prokk prokk prokk" suara tepuk tangan menghentikan aksi mereka.


Dave melirik ke sumber suara. Wanita yang dibenci telah menatap jijik ke arahnya.


"Jadi dia jal*ng juga?" cibirnya.


"Jaga bicaramu bod*h!"


"Cih! Kamu meninggalkanku demi dia?"


"Apa maksudmu nona? Aku tidak merebut Dave dari siapa-siapa. Dia yang hadir tanpa diminta, tapi kenapa anda menganggap saya sebagai penyebabnya?" sela Sherly.


"Nggak usah sok formal."


"Apa tadi cukup buat bukti kalau gue beneran sayang sama dia? Gue justru beruntung karena takdir belum menyatukan kita ke jenjang yang lebih sempurna."


"Semua nggak akan cukup Dave."


"Apa loe pikir gue bakal tidurin dia cuma buat nunjukin ke loe kalau dia pacar gue? Sorry, gue nggak serendah itu. Dan lagi, Sherly wanita yang harus dihargai bukan jala*g yang pergi sebagai pecundang."


"Cellin Nata," ucap wanita itu seraya mengulurkan tangan ke arah Sherly.


Dave menggelengkan kepala. Laki-laki itu yakin akan ada drama setelahnya.


"Sherly," ucap Sherly seraya menyambut uluran tangan Cellin.


"Pantes gue ngrasa nggak asing sama dia," gumam laki-laki yang masih setia mengamati.


Sherly menautkan kedua alisnya. Wanita itu mengingat-ingat sesuatu. Dia pernah mendengar nama Cellin, tapi lupa karena apa. Sherly mengamati wajah Cellin dengan seksama.


Bibir dengan warna mencolok, pipi yang merona, bulu mata tebal, serta alis yang cetar. Sherly seperti pernah melihat.


Sekilas wanita itu seperti sosok yang selama ini Sherly cari. Benaknya melayang jauh pada galeri ponsel. Sherly memejamkan mata karena terus mempertajam ingatannya.


"Yap"


Wanita itu membuka mata lalu melirik ke arah kekasihnya.


"Kamu kenapa putus sama dia Dave?" tukas Sherly.


Dave menggaruk tengkuknya. Dia bingung dari mana harus menjelaskan. Kebahagiaan Sherly adalah hal yang diprioritaskan, tapi setelah mendengar penjelasan Dave apakah dia masih bisa percaya.


"Jawab aku Dave."


"Dave nggak mungkin bisa jawab. Dia masih cinta sama aku."


"Loe bisa diem nggak?" bentak Dave.


"Dave! Please berhenti teriak kaya preman gini. Bicaranya nggak usah pakai loe gue. Aku nggak suka kamu kaya gitu."


"Tapi aku udah nggak sudi bahas dia lagi. Saat ini, kebahagiaanku adalah kamu bukan dia yang telah menjadi masa lalu."


"Sekalipun dia masa lalu, dia pernah buat kamu bahagia Dave. Kalian punya masa dengan tema cinta. Bahkan dia lebih tau semua tentangmu daripada aku."


"Karena kamu tidak perlu tau tentangku. Aku tidak masalah kalaupun tidak ada hal yang kamu ketahui dari hidupku. Ketidaktahuanmu bukan alasan untuk aku tidak mencintaimu. Suatu saat kamu akan masuk ke dalam hidupku dan namamu berjejer dengan namaku. Nama kita akan tersusun di baris yang berbeda, tapi dalam lembar yang sama. Jangan berpikir aku menyembunyikan. Hanya saja aku belum sepenuhnya mengungkapkan."


"Bagaimana jika nantinya-"


"Aku bukan dia. Hanya laki-laki bod*h yang rela meninggalkan wanita pemilik harta dan tahta demi ************ saja."


"Sekarang kamu berani bahas tahta?" pekik Sherly.


"Cup" Dave mencium bibir Sherly lalu mengacak rambutnya gemas.


"Aku bahas kita, bukan tahta karena aku punya yang lebih tegak dari keadilan. Jadi tenanglah, tahtaku lebih sempurna."


Sherly mencubit pinggang Dave. Wanita itu mengerucutkan bibir.


Cellin kesal melihat mantan kekasihnya tertawa. Bahkan dulu Dave tidak terlihat sebahagia itu. Cellin mengepalkan tangannya. Dia bersumpah akan membuat Dave menderita.


"Nggak ada yang boleh milikin Dave. Hanya aku yang boleh menyentuhnya," ucap Cellin.

__ADS_1


Dave mendengar apa yang diucapkan Cellin. Laki-laki itu tersenyum miring ke arahnya. Sherly mengikuti ke mana Dave mengamati.


"Apa benar cintamu telah pudar sedangkan kamu selalu meliriknya dengan gusar?"


"Dia ninggalin aku demi laki-laki yang rela menyentuh pahanya. Bukankah itu menjijikan? Sekarang dia kembali setelah puas bermain di ranjang," ucap Dave dengan nada meremehkan.


Sherly menggenggam jemari Dave. Wanita itu pernah merasakan. Dia bahkan ditinggal Brian hanya karena soal keperawan*n. Sherly menolak ditiduri hingga Brian memilih pergi.


"Miris," lirih Sherly.


Sherly teringat sesuatu. Wanita itu menggebu. Dia yakin ingatannya tidak melesat.


"Apa dia bernama Brian?"


"Apa maksudmu?" tanya Cellin heran.


Cellin bahkan tidak tau siapa Sherly, tapi Sherly mengetahui Brian. Laki-laki yang menjadi alasan kenapa Dave meninggalkan.


"Jawab aku nona! Apa dia yang pernah tidur denganmu adalah Brian? Brian Pradana?" desak Sherly.


Cellin membulatkan mata. Dia saja tidak tau siapa nama lengkap Brian. Yang dia tahu hanya inisial belakang saja.


"Brian P."


"P siapa?"


"Nggak tau."


Sherly menggerayangi tubuhnya. Wanita itu mencari ponsel yang ada di kantong piyama. Namun sayang dia lupa membawa.


"Dave kamu punya photo Brian?"


"Mana ada sayang. Yang ada ya photo kamulah."


Cellin memutar bola mata jengah. Dia membuka ponselnya lalu mencari photo Brian.


"Shit!" umpat Cellin.


Ada photo Brian, tapi saat mereka berciuman. Lebih parahnya justru ada video saat mereka bercinta. Cellin terus menggeser layar ke bawah berharap ada pose Brian yang tengah sendirian.


Sayang, semua hanya tentang ranjang dan percintaan. Cellin membuka photo saat dirinya dan Brian terbaring di ranjang yang sama dengan selimut sebatas dada.


Tanda kepemilikan terlihat jelas di leher Brian. Siapa pelakunya jika bukan Cellin Nata. Wanita itu berusaha mencari cara agar Sherly tidak curiga.


"Nemu nggak loe?" ketus Dave.


"Davee!" trriak Sherly.


"Hm."


"Berhenti bilang loe gue. Aku nggak mau kamu jadi keras kaya gini. Ini bukan kamu Dave. Dimana Dave yang selalu sabar dan tegar."


"Dave yang sabar ketinggal di apartemenmu. Kayaknya dia lagi tidur di ruang tamu."


"Daaaveee!"


"Sakit bee."


Refleks Dave menutup telinganya karena jeritan Sherly. Jika sudah seperti ini Dave yakin pasti dia akan tereliminasi. Dave harus menyiapkan hati untuk menghadapi Sherly.


Jangan lupakan, laki-laki itu juga harus mengisi stok kesabaran. Bisa dipastikan Sherly akan melahap saat dia kelaparan.


"Ada nggak woey!"


Tanpa menjawab pertanyaan Dave, Cellin justru dengan bangga memberikan ponselnya kepada Sherly. Wanita itu akan melihat seperti apa reaksi Sherly saat tau laki-laki yang tidur dengannya lebih menggoda daripada Dave-nya.


"Brian," gumam Sherly.


"Dia kaya dan perkasa," ucap Cellin bangga.


"Beruntungnya aku meniggalkan wanita kurang belaian sepertimu."


Sherly sengaja menekan icon kembali. Banyak poto yang dapat dilihat. Sherly mengamati tanpa berniat mengganti. Dugaannya benar. Yang dimaksud adalah Brian mantan kekasihnya.


"Apakah takdir mempertemukan mereka yang pernah kecewa dengan seseorang yang pernah kecewa juga? Lalu apakah waktu memberikan kesempatan kepada para pengkhianat untuk mendes*h nikmat?"


Sherly meringis. Tubuhnya merinding membayangkan Brian yang haus kasih sayang. Wanita itu bersyukur karena dijauhkan dari laki-laki pemburu surga duniawi.


"Kenapa bengong? Kagum ya sama Brian? Dia lebih menggoda dari Dave kan? Apalagi kalau lihat aslinya, dia jauh lebih sempurna. Aku yakin siapapun akan rela membuka pahanya lebar-lebar untum dia."


Dave melirik ke arah Sherly. Begitu juga Sherly. Wanita itu menatap Dave tanpa berkedip. Bisa saja pikiran keduanya sama. Dave tidak habis pikir kenapa dulu bisa jatuh cinta.


"Dave."


"Hm."


"Yakin dia mantan kamu?"


"Iya."


"Kenapa kamu bisa cinta?"


Dave mengerjapkan kedua matanya. Laki-laki itu tidak mengira mendapat pertanyaan bodoh dari kekasihnya.


"Karena dia seksi. Tubuhnya juga..."

__ADS_1


"Juga apa?"


Pada akhirnya kebiasaan buruk selalu tercipta yakni mencintai tanpa bisa memiliki.


__ADS_2