Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Konsekuensi


__ADS_3

Ketika pertama bukan untuk orang yang dicinta


Lalu bagaimana dengan selanjutnya?


Aku tau dengan pasti akan sebuah kebenaran


Tapi hal lain membuatku tidak mampu mengungkapkan


Aku terluka untuk pertama kalinya


Setelah menganggap semua baik-baik saja


Aku bahagia untuk pertama kalinya


Merasa dicinta dipuja lalu kemudian dihempas begitu saja


Setelah itu waktu mengajakku bercerita


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Brian menganggap Sherly hanya sebagai penggoda, tapi tidak bekerja pada bab selanjutnya. Brian hampir setengah gila membayangkan adegan demi adegan yang ingin dilakukan. Namun lagi-lagi Sherly menunggu kepastian.


"Damn!" umpat Brian kasar.


Saat ini Brian tengah berada di salah satu club terkenal di kawasan elit Ibu Kota. Brian kembali seperti dulu, saat dimana belum mengenal siapa Sherly. Laki-laki itu memejamkan mata, di detik selanjutnya akhirnya turun dari mobil dan mengawali kehancurannya.


One night stand. Ya, itu tujuan Brian saat ini. Dia ingin melampiaskan semuanya, lalu setelah itu Brian berjanji tidak akan pernah mengulanginya. Apalagi untuk menginjakkan kaki di tempat terkutuk ini.


Selangkah saja Brian memasuki, maka kehancuran siap menghampiri. Suatu saat nanti, Sherly pasti meninggalkannya seorang diri.


"Huufttt" Brian nampak menghembuskan nafas berat.


"Braaaak" Brian menutup pintu dengan kasar.


Setelah langkahnya terhenti karena dihadang oleh bodyguard club, Brian kembali melannjutkan langkahnya. Meja bar panjang dengan kursi tinggi menjadi tempat yang ingin disinggahi.


"Red wine."


"Baik tuan."


Tanpa dipersilahkan Brian langsung mendudukan pantatnya. Hanya punggungnya saja terlihat menggoda, apalagi dalamnya. Begitu pikir para wanita yang ada di sana.


Brian tampak biasa saja. Tidak sedang dalam keadaan kecewa, terluka, ataupun putus asa. Laki-laki itu hanya mengenakan kaos lengan pendek berwarna hitam. Kontrak dengan kulitnya yang putih mulus.


Bahkan jika diamati dengan seksama, siapapun pasti bisa melihat roti sobek di dalamnya. Brian memakai setiap wanita di sana. Namun laki-laki itu belum niat menyentuh siapapun. Dia masih dalam keadaan sadar sepenuhnya.


"Mana minumanku? Jangan khawatir, aku akan membayar semuanya!" teriak Brian keras.


Sudah menghabiskan dua botol wine, dan sekarang minta satu botol whiskey. Bartender tidak merasa takut karena hal seperti ini sudah biasa.


"Maaf tuan, saya tidak bisa membiarkan pelanggan tanpa kesadaran. Itu aturan dari club kami."


"Cih! Aturan macam apa ini? Aku baru mendengarnya."


Brian menghentikan aksi menuang cairan ke dalam tenggorokannya. Merasa tidak lebih baik, hanya kepada saja yang semakin sakit. Brian memijat pelipisnya. Bayangan Sherly menari membuat celananya semakin sempit.


Tidak peduli dengan sekitar, Brian terus mengutuk libido yang telah berputar. Seorang wanita menghampiri Brian. Dia tidak mengenalnya, hanya saja wanita itu juga ingin minum di kursi tinggi yang berada di samping Brian.


"Red wine," ucap sang wanita.


"Hei Cellin, kamu kembali lagi?" tanya bartender yang terlihat senang.


Dilihat dari tanda pengenal yang dipakai, barista itu bernama Andra.


"Iya Andra, aku menginginkan minuman itu."

__ADS_1


Wanita di samping Brian selalu saja mengoceh membuat kepala Brian terasa akan pecah sebentar lagi.


"Praankkk" suara beling pecah di sampingnya membuat Brian melirik ke sumber suara.


Wanita tadi tanpa sengaja telah menjatuhkan botol terakhirnya. Keadaan Brian dan Cellin hampir sama. Mereka ingin mencari lawan main hanya untuk semalam saja.


Andra yang terbiasa menghadapi Cellin menuruti permintaan wanita itu.


"Sebotol vodka untuk terakhir kalinya ndra. Please," rengek Cellin.


"Baiklah nona," ucap Andra malas seraya memutar kedua matanya.


"Wanita itu selalu bicara terakhir kalinya, tapi tetap saja mengulang di hari berikutnya," cibir Andra.


"Ini Cell, ingat setelah ini kamu pulang. Nggak baik terus kaya gini."


"Gue rindu Dave ndra. Dia nggak mau nyentuh gue."


"Bagus dong, itu tandanya dia sayang sama lo cell."


"Nggak ndra. Dia nggak sayang."


Dan selebihnya Cellin terus bicara di bawah alam sadarnya. Brian melirik botol vodka yang teronggok sempurna. Laki-laki itu mengambil lalu menenggak hingga tandas.


Cellin merasa tenggorokannya kering setelah beberapa saat terus berbagi cerita kepada Andra. Wanita itu melirik ke arah botol miliknya. Berpindah dari posisi semula sementara isinya sama sekali tidak ada.


"Hei, nggak berani bayar bilang dong. Jangan ambil minuman orang," cibir Cellin.


"Gue udah minta sama bartender temen loe, tapi dia nggak ngasih apa-apa ke gue."


Brian dan Cellin terus bertengkar dengan bahasa kekinian. Sementara Andra hanya menggelengkan kepala. Dia tidak tau apa hubungan keduanya, tapi mereka terlihat cocok di hadapan Andra.


Kewarasan sudah berada di ambang paling depan. Sebentar lagi Brian dan Cellin tidak akan ingat apa-apa karena pengaruh alkohol yang di konsumsinya.


Cellin berdiri, begitu juga Brian. Saling bertabrakan, saling merapat, kemudian saling tertawa. Sungguh dua insan yang tidak saling mengenal sedang dipertemukan.


"Brak" Brian menutup pintu setelah Cellin dan juga dirinya memasuki ruangan dengan ranjang luas sebagai objek pertama.


"Dave, i love you."


Cellin menyebut Dave, tapi laki-laki di hadapannya mendengar wanita itu menyebut namanya.


"Thanks sher, akhirnya kamu menjadi milikku seutuhnya."


Berada di waktu yang salah, bersama seseorang yang juga salah kadang membuatmu tidak bisa berkilah. Fantasimu terlalu liar hingga tidak bisa membedakan antara salah dan benar.


"Cup cup cup" kecupan kecupan kecil berubah menjadi luma*** lembut.


Baik Brian ataupun Cellin tidak menyadari siapa lawan mainnya saat ini. Mereka membayangkan tengah bersama kekasihnya. Bentuknya sama, ukurannya mungkin seimbang. Hanya wajah saja yang berbeda.


Lalu ketika alkohol menguasai, apakah kamu bisa menahan diri? Semua akan berjalan seperti apa yang kamu inginkan. Tidak peduli meski di satu sisi kamu telah menyakiti.


Kesalahan tidak mungkin mendapat kesempatan untuk menjelaskan karena semua ketidaksengajaan telah merubah kepercayaan menjadi kekecewaan.


Detik sebelum Brian dan Cellin menuju salah satu kamar, seseorang telah lebih dulu masuk dan memasang kamera tersembunyi di sana. Kemudian menyambungkan dengan ponsel canggih yang selalu di genggam.


"Cih! Sekarang lihatlah siapa dirimu yang sesungguhnya. Kamu cinta dia atau hanya pelampiasan saja? Wanita itu selalu berada dalam lindunganku. Aku menyayanginya. Mengikhlaskan dia memilihmu sebagai yang pertama. Tapi apa? Dasar brengs**!" umpat nya.


Ponselnya bergetar, pertanda sambungan pada kamera tersembunyi mulai merekam kejadian. Dua manusia yang sedang dimabuk gelora tengah berpelukan dengan kedua bibir yang saling disatukan.


L****an lembut berubah menjadi menuntut. Mereka menaikkan ritme permainannya. Jemari mereka saling menyusuri tubuh yang menghimpitnya.


Suara yang sangat dihafal mengalun lemah menjadi pertanda resah. Udara di sekitar mendadak sesak. Brian tidak sanggup lagi menunda. Dia ingin Sherly secepatnya.


Cellin telah menganggap Dave bertekuk lutut di hadapannya. Leluasa Cellin menyusuri apapun yang diinginkan. Dave tidak menolak, Cellin semakin mendesak. Wanita itu semakin menggila saat Dave khayalannya terus membalas sentuhannya.

__ADS_1


Satu persatu helaian benang terlepas dengan bebas. Tergelrtsk di lantai yang masih terlihat santai. Lantai itu, bahkan warna putih saja seakan ikut tertawa menyaksikan kebodohan insan di sekitarnya.


Di sisi lain, seseorang yang memasang kamera tersembunyi tengah mengepalkan tangannya. Wajahnya merah padam, dia gelap mata akan kenyataan.


"Sher, kenapa kamu bisa jatuh cinta sama laki-laki brengs** kaya dia? Kenapa Tuhan tidak pernah membuatmu bahagia? Harusnya cukup aku yang terluka bukan kamu," jeritnya.


Karena malas dan juga tau sebentar lagi terjadi adegan yang tidak pantas, dia melemparkan ponselnya ke atas nakas. Mendesah pasrah atas kehidupan Sherly.


Pagi hari Brian dan Cellin terbangun dengan selimut yang melilit tubuh mereka. Tanpa sehelai benang, tapi saling berpelukan. Bodohnya, mereka sama sekali tidak mengingat semuanya. Brian yang memang datang ke club untuk mencari wanita pupus begitu saja. Seingatnya dia minum lalu kembali ke apartementnya.


"Woey jal*** pergi loe dari sisi gue. Nggak usah deket-deket! Kenal juga nggak. Pasti loe yang semalem udah paksa gue sampai gue nggak ingat apa-apa lagi," teriak Brian.


Sontak Cellin bertingkat saat mendengar suara bariton naik dua oktaf dari suara yang kerap didengarnya.


"Apa-apaan loe? Gue nggak inget apa-apa tentang loe dan gue juga nggak kenal Lebih tepatnya nggak pengen kenal," teriak Cellin.


Tanpa memperdulikan, Brian beranggapan malam itu adalah ulah jalan* yang ada di sampingnya saat ia membuka mata. Brian turun dari ranjang. Berjalan pelan memunguti pakaian.


Menuju kamar mandi, membersihkan diri dan mengutuk diri sendiri. Dia sadar semalam sudah kelewatan. Brian tidak ingin membohongi Sherly, tapi berkata jujur hanya akan membuat hidupnya hancur.


"Sher, maaf. Aku udah ngelakuin kesalahan, tapi jujur aku tidak bermaksud menjadi seperti dulu. Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin memaksamu," ucap Brian lirih seraya menatap pantulan wajahnya di kaca.


Tanda kepemilikan bertebaran hampir di seluruh lekukan. Brian mendesah. Sekarang dia tidak bisa mengelak kecuali menghindar untuk beberapa saat.


Brian keluar sudah mengenakan pakaian lengkap. Dia berjalan untuk mengambil ponsel yang tertinggal. Brian tidak peduli dengan wanita yang tadi malam bersamanya. Dia tidak punya alasan untuk memikirkan.


Keluar kamar dengan keadaan yang sangat berantakan. Matanya masih sedikit merah karena pengaruh semalam. Ditambah proses, penyatuan yang selesai setelah sepertiga malam. Lingkaran hitam terlihat di kedua mata Brian.


"Drrtt ddrrttt ddrrttt" ponsel Brian bergetar, pemilik itu segera membukanya.


Satu pesan dari nomor tidak dikenal. Brian membuka video yang baru saja masuk ke aplikasi hijau miliknya. Tampak sebuah adegan yang murni tanpa rekayasa.


"Damn! Siapa pengiriman ini? Woey siapa loe!" umpat Brian kesal.


Detik selanjutnya, Brian baru akan menghubungi si pengiriman, tapi nomor itu telah memblokirnya. Brian tidak sudi melihat adegan dirinya yang sedang menjadi pemeran di sana. Laki-laki itu menghapus hingga ke recycle bean agar tidak ada yang bisa menemukan kecuali si pengirim.


"Sial! Bahkan pengirimnya saja aku tidak tau."


Brian berjalan gontai kearah parkiran untuk mengambil mobil yang semalam, dia biarkan. Laki-laki itu tidak ingin mengakhiri. Meski setelah ini Brian yakin Sherly akan membenci.


Duduk di balik kemudi, mengingat awal kemunculan Sherly. Wanita itu tulus mencintai, tapi apa yang bisa Brian beri. Dia justru menyakiti dengan tangannya sendiri.


"Sher, aku mencintaimu. Aku hanya tidak ingin menyakitimu. Tidak ingin memaksa apakah salah jika aku meminta kesempatan untuk mendua walau sekali saja? Bodoh Brian! Kamu bodoh! Mana mungkin ada wanita yang rela berbagi rasa. Dia wanita sempurna, tapi kamu malah menyakitinya. Ingat bri, dia selalu berkomitmen dengan ucapannya. Apakah lupa saat dia berkata akan meninggalkanmu jika kamu berani mengulangi sekali lagi? Dan saat ini kamu telah mengulanginya bri. Dia memberimu kesempatan, tapi kamu memberinya kekecewaan. Apakah pernah dia meminta apapun darimu? Dia tidak pernah meminta, tapi justru kamu yang selalu tanpa sadar meminta. Pikirkan bagaimana sakitnya mencintai tapi berbalas disakiti? Kamu belum sepenuhnya berubah, tapi kamu sudah berani bertingkah," ucap Brian bermonolog.


Brian memejamkan mata. Semua tidak lagi sama seperti benang yang pernah bertemu ujung pangkalnya.


"Karena kamu hanya tau dari satu titik tertentu. Tidak dengan semua sudut yang terus menjulang tinggi bersamaku. Aku berusaha menjaga, tapi seseorang memperdaya. Aku tidak pernah berpikir sebuah cinta, tapi seseorang membuatku membencinya. Jika bukan karena kebodohan, mungkin saja semua tak kan berlebihan. Aku terlanjur membenci. Hingga kini, atau mungkin sampai nanti. Saat dimana kita hanya akan saling melihat tanpa berniat untuk mengikat. Aku tidak pernah percaya cinta, tapi kamu membuktikannya. Membawaku ke dalam sana untuk menyesap sebait kata."


Flasback off


Sherly kembali mengingan kenangan yang sangat ingin dilupakan. Meski pada akhirnya dia tidak bisa ikhlas sepenuhnya. Wanita itu bukan tidak bisa, tapi belum bisa.


Dave membawa Sherly ke dalam pelukan. Membenamkan kepala mungil itu ke arah dadanya. Dave mencintai, pertanda dia harus menerima segala konsekuensi. Dave yakin Sherly belum sembuh dari lukanya seutuhnya.


"Aku tidak akan memaksa sebelum kamu sendiri yang menerima. Aku tidak pernah memberikan jarak untuk Brian dan juga kamu karena di sini aku sadar. Hadirku hanya orang ketiga, sementara kalian adalah pemeran utamanya. Aku memang mencintaimu, tapi bukan berarti harus merusak kebahagiaanmu."


Bulir bening menetes saat Dave terus mengusap punggung dan mencium puncak kepalanya. Sherly merasa beruntung jika Dave memilih untuk mengukung.


Biarkan laki-laki itu menggulung sebait sastra yang tida terbendung. Hatinya terlanjur rapuh, tapi masih berusaha untuk menatap teduh. Dave nyeri saat menyadari bahwa Sherly masih mencintai.


"Ingin rasanya aku berlari membawa pergi semua ilusi. Aku sendiri, sudikah jika hadirmu untuk menemani? Setiap hembus nafas adalah sesuatu yang ikhlas. Maka aku masih berjuang untuk hatiku. Aku ragu hanya untuk berjuang atau bisa dengan tulus memintamu terlepas."


"Ada rasa yang tercipta saat mendengar kamu bercerita tentangnya. Semua mengalir dengan semestinya seperti tanpa dosa aku merasakannya. Aku mencintai, apakah itu alasan kenapa aku mencemburui? Aku hanya ingin di dekatmu, bukan sebagai pengusikmu, tapi sebagai penikmat aroma tubuhmu. Berawal dari waktu yang selalu ku sangkal, ternyata hatiku telah lebih jauh terjungkal. Aku menyesal kenapa baru sekarang aku mengenal."


"Aku bukan tipe mudah menyerah, tapi saat ini aku hanya berusaha untuk mengalah."

__ADS_1


*Maaf banyak typo di setiap tulisan. Kenapa kalau up kadang cuma sedikit? Karena saya berusaha up di pagi hari, tapi di siang atau sore hari pasti nambah cerita biar panjang. Jadi kadang satu bab yang awalnya cuma 500 kata bisa jadi 1000 atau 2000 kata.


Semua karena waktu. Tentang waktu yang sulit untukku.


__ADS_2