
Hampir jam 7 malam, Abrisam baru sampai di Hotel, rasa lelah masih ia rasakan.
Pria itu langsung menemui sang Nyonya besar di salah satu kamar paling atas, khusus tempat istirahat keluarga Qiemyl.
Tok tok tok
"Masuk"
Ceklek
Baru saja Abrisam melangkah masuk ke dalam kamar, ia langsung di sambut dengan pertanyaan dari wanita tua itu.
"Kamu dari mana saja, Abrisam?" tanya Nyonya Iriana pada cucunya.
Sebelum menjawab, Abrisam masuk kedalam
lebih dulu.
Mengambil posisi duduk di salah satu sofa single yang berhadapan langsung dengan sang nenek.
"Aku kembali ke perusahaan, Nek. Ada beberapa dokumen yang harus di kerjakan," jelas Abrisam berusaha bersikap tenang di hadapan neneknya.
"Yakin hanya ke perusahaan? Bukan ke tempat lain?" tanya wanita tua Itu lagi mengintrogasi Abrisam.
Dia bukan wanita yang mudah di bodohi, jangan harap Abrisam bisa lolos kali ini.
Sudah cukup selama ini masalah yang menimpa cucunya tidak pernah sekalipun Nyonya Iriana ambil pusing, tetapi untuk sekarang biarkan dia tahu dan ikut campur.
"Jangan hanya diam saja," tegur wanita tua itu.
Abrisam yang mulai lelah harus terus menyimpan rahasianya, mau tidak mau ia berbicara jujur pada wanita tua yang selama ini menjadi kekuatan dan mendukungnya saat dalam keadaan terpuruk.
"Maafkan Abrisam, Nek" ucapnya lirih menatap sendu sosok cantik yang selalu menjadi tempat Ia bersandar.
"Abrisam, lelah" sambungnya.
"Kamu harus kuat, ingat! Saat ini tanggung jawab mu lebih besar. Kamu sudah menikah sayang, jangan sakiti hati istrimu" ucap sang Nenek mengingatkan.
"Aku tahu, akan aku jaga apa yang menjadi milikku." Sahut Abrisam tegas
Bagaimana pun, ia sudah menikahi seorang gadis cantik pengisi hatinya.
"Kembalilah ke kamar! Istrimu sedari siang kamu tinggalkan begitu saja," ketus Nyonya Iriana menatap tajam sang cucu.
"Baik, Nek."
Abrisam keluar kamar meninggalkan wanita paruh baya tersebut, menuju kamar lain dimana istrinya kini berada.
Baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba tangannya di cekal seseorang.
"Kamu dari mana saja?" tanya pria itu marah, yang tidak lain adalah Adnan.
"Papa," kaget Abrisam.
"Ikut Papa sekarang!" Adnan menarik paksa lengan putranya yang kebingungan.
Abrisam hanya menurut saja, selama perjalanan yang entah kemana pria itu membawa anaknya tidak sedikit pun berbicara.
Raut wajah Adnan begitu sulit di artikan terpampang jelas, mungkin ada yang di ketahui Adnan.
Langkah Abrisam terhenti kala menyadari di mana mereka saat ini.
"Papa mau ngapain?" tanyanya penuh selidik.
__ADS_1
"Kamu tidak lihat di depan itu apa?" tunjuk Adnan mendelik kesal.
"Papa jangan bercanda, ini udah malam." Tolak Abrisam seakan tidak mau
"Memangnya siapa yang bercanda? Pokoknya jangan berhenti sebelum semuanya selesai" tegas Adnan tidak ingin di bantah.
"Tapi, Pah." Abrisam memelas
"Tidak ada tapi-tapian, sekarang juga kamu cepat bereskan."
Adnan benar-benar kesal, kepergian putranya yang entah kemana tadi siang berhasil membuat kepalanya pusing.
"Jangan coba-coba kabur," ancamnya pada Abrisam.
"Kalian awasi anak nakal ini, jangan sampai ada yang membantunya."
Adnan memerintahkan bahawannya agar memantau Abrisam.
Di rasa aman, pria itu segera pergi meninggalkan putranya tanpa menghiraukan Abrisam yang terus memohon.
"Papa jahat," dengusnya kesal.
Apa salahnya kali ini? Niat hati ingin menemui sang istri malah di hukum.
"Aku mana bisa beresin ini sendirian," keluhnya merasa frustasi.
Adnan sungguh tidak berperasaan, pria itu sengaja memulangkan semua pegawai yang bertugas merapikan Aula tempat Akad Nikah berlangsung. Ia ingin menghukum Abrisam, membiarkan sang putra membereskan semuanya tanpa ada celah sedikit pun.
Tepat jam sebelas lewat tengah malam, Abrisam selesai mengerjakan hukumannya, ia segera menuju lantai paling atas Hotel.
Ketika memasuki kamar yang disulap menjadi kamar pengantin, tanpa sengaja pria itu melihat Shafia tengah melamun.
Ide jahilnya pun langsung muncul, terjadi perdebatan dan pertengkaran antara kedua anak manusia yang disatukan menjadi pasangan suami istri tersebut.
Ada saja tingkah laku keduanya yang selalu terjadi keributan jika di pertemukan.
Cukup lama Abrisam berada dalam kamar menggoda dan menjahili sang istri, sampai gadis itu memilih untuk tidur di sofa panjang dekat tempat tidur.
Abrisam tidak ikut tidur, ia keluar kamar Hotel menuju suatu tempat.
"Awasi wanita itu! Jangan biarkan dia melakukan hal yang bodoh."
Hanya kalimat itu yang terdengar saat Abrisam menerima sebuah panggilan dari seseorang.
.
.
#Apartement
Hari sudah pagi, tetapi pria tampan yang memilih tidak balik ke hotel semalam belum juga beranjak dari tempat tidur.
"Kakak, Adek mau ke rumah Nenek."
Teriak Ariana dari balik pintu kamar Abrisam yang tidak di Kunci.
Gadis itu langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari sang kakak.
Tepat kepergian Ariana, tidak lama seorang wanita yang tidak lain adalah Chayra sampai di Apartement Abrisam.
Wanita itu sangat nekat, tanpa peduli jika tindakannya justru sangat memalukan, bisa-bisanya menemui pria yang jelas berstatuskan seorang suami dari wanita lain.
Chayra langsung masuk ketika pintu telah di buka oleh Abrisam.
__ADS_1
"Risam, aku merindukan mu" ucapnya manja langsung berhambur memeluk Abrisam.
"Kenapa kamu kemari? Bukankah sudah aku katakan agar tetap di rumah?" sahut pria Itu sedikit kesal waktu istirahatnya terganggu.
Jika ia tahu akan begini, lebih baik semalam ia tidur saja bersama istrinya di kamar Hotel.
"Aku ingin bertemu dengan mu, apa salahnya?" ketus Chayra tidak terima.
Abrisam tidak lagi berkata apa-apa, ia yang masih merasa lelah memilih untuk diam.
Wanita itu sangat mengganggunya, ingin rasanya Abrisam mengubur hidup-hidup Chayra. Namun itu tidak akan mungkin ia lakukan.
Cukup lama Abrisam berdiam diri, tanpa peduli pada Chayra yang tengah asik merias dirinya.
Pria itu tersentak kaget mendengar bunyi dering ponsel di atas meja.
Segera Abrisam mengangkat telefon.
"Ada apa, Pah?"
[Kamu dimana?]
"Apartement, Pah."
[Sama siapa?]
Abrisam tidak langsung menjawab, dilihatnya Chayra yang juga menatap bingung ke arahnya.
[Bri, ditanyain malah diam]
"Ah iya, aku ..." sayang siapa yang telfon?
Abrisam kaget melihat Chayra yang tiba-tiba saja mendekat.
[Abrisam, apa kamu sedang bersama dengan sesesorang?]
"Maaf, Pah. Nanti aku hubungi lagi," ucap Abrisam langsung memutuskan sambungan telefon.
***
Pria itu mulai emosi, bagaimana jika keluarganya tahu kalau ia bersama Chayra saat ini. Bisa-bisa Abrisam akan di marahi habis-habisan.
"Apa yang kamu lakukan Chayra?" berang Abrisam tersulut emosi.
"Sudah berapa kali aku katakan padamu, jaga sikap mu saat di depan ku. Aku paling benci wanita yang tidak mau menurut."
Pria itu benar-benar telah habis kesabarannya menghadapi sikap Chayra yang seenaknya.
"Kenapa kamu marah?" sahut Chayra tidak suka.
"Aku hanya bertanya saja, apa salahnya?"
Wanita itu sungguh tidak bisa mengerti.
"Pulanglah Chayra! Jangan buat aku bersikap tidak baik terhadap mu." Tekan Abrisam menatap tajam
"Kau jahat Abrisam ..." teriak Chayra lalu pergi meninggalkan Apartement dengan perasaan jengkel.
🍃🍃🍃🍃🍃
Yuhuuuuu...
Jangan Lupa Like & Komennya Yaa😉
__ADS_1