Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 26 ~ Jangan Kasih Tahu


__ADS_3

Usai makan siang, Shafia langsung kembali ke Rastaurant.


Gadis itu harus mencari banyak alasan agar Abrisam membiarkannya pergi, sikapnya yang tiba-tiba jadi manja membuat Shafia kadang harus ekstra sabar. Entah apa yang merasuki pria itu, yang jelas Shafia merasakan sedikit ada perubahan dari diri Abrisam.


Sampai di Restaurant, Shafia langsung membantu sahabatnya melayani beberapa pengunjung, keduanya saling membagi tugas secara bergantian.


Beberapa saat kemudian datang seseorang yang Shafia tahu jelas siapa orang itu, Zoya yang sudah hapal dengan wajah-wajah orang bermuka dua itu mulai tersulut emosi.


"Ngapain tuh nene sihir kesini." Berang Zoya ingin menghampiri orang itu namun segera di cegah oleh Shafia.


"Jangan gegabah Zoo, bisa-bisa kamu yang dapat masalah kalau sampai main kasar." Peringatnya mencoba menenangkan sahabatnya tersebut


"Aku ngga suka dia datang kemari, mau apa coba dia kesini?"


Shafia menghela napas pelan, rasa lelah sedikit mengganggu konsentrasinya.


"Udah. Ngga usah marah-marah, lagian kan kita harus tetap menyambut baik setiap pengunjung yang datang."


Zoya langsung diam mendengar ucapan Shafia, gadis itu pergi begitu saja menuju ruangannya. Bohong jika Zoya tidak marah, tetapi dia hanya coba menahannya.


Shafia menghampiri seseorang yang paling di benci sahabatnya itu.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya langsung


Orang yang di sapa Shafia menoleh kearahnya sambil tersenyum palsu, dia menatap Shafia dari ujung kaki sampai kepala.


Tatapan yang seakan mengejek bisa Shafia rasakan, apa mungkin ini adalah waktunya menghadapi orang-orang yang selalu mengusik kebahagaiannya?


"Kamu, Shafia, kan?" Tanya Orang itu yang tidak lain adalah Chayra


Ya, wanita itu datang ke Restaurant bukan untuk makan, melainkan ingin melihat siapakah gadis yang begitu di sayangi dan sangat Abrisam lindungi.


"Iya, nama ku Shafia. Ada perlu apa anda datang kemari?" Jawab Shafia balik bertanya


"Cih, baru juga beranjak dewasa sudah bersikap kasar." Sindir Chayra menatap sinis gadis manis di hadapannya tersebut


Shafia jelas tidak terima di katai kasar.


"Maaf, boleh di ralat kalimat anda barusan. Kata yang mana menurut anda kasar?" Balas Shafia tidak takut

__ADS_1


"Heh, kamu tahu siapa aku? Berani-beraninya kamu malah balik membantah ucapan ku."


Chayra merasa jika Shafia hanyalah seorang gadis kecil yang masih butuh perlindungan orang tuanya, bukan tanpa alasan wanita itu menilai Shafia begitu. Penampilan Shafia yang memang sederhana dan polos tentu membuat Chayra memandangnya remeh.


"Siapa anda tidak penting buat saya, jika kehadiran anda kesini hanya untuk mencari masalah lebih baik pergi. Tante Chayra yang terhormat."


Shafia tidak takut berhadapan dengan wanita manapun yang selalu saja menempel pada suaminya, jika dulu gadis itu tidak peduli sama sekali. Tentu berbeda dengan sekarang, jangan harap Shafia mau membiarkan miliknya di rebut orang lain. Termasuk Chayra pastinya.


"Jangan bangga dulu gadis kecil, aku bukan pertama kali berhadapan dengan gadis seperti mu, kamu tahu apa akibatnya melawan ku?"


Chayra berkata sedikit mengancam Shafia, baginya ini bukan apa-apa.


Cukup lama mereka saling diam, membuat Chayra lebih dulu buka suara.


"Lebih baik kamu jaga dirimu baik-baik gadis kecil."


Usai mengatakan itu, Chayra langsung pergi meningggalkan Restaurant.


Beruntung suasanya sudah sepi sehingga tidak mengundang pandangan orang-orang yang melihat interaksi kedua orang tersebut.


Zoya yang ikut mendengar percakapan sahabatnya dengan wanita itu ikut keluar menghampiri Shafia.


"Kamu ngga apa-apa?" Tanya gadis itu dengan nada khawatir


Shafia tidak suka di ancam, baginya menghadapi para wanita gila itu bukanlah masalah besar. Tetapi dia juga harus waspada, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika gadis itu melawan.


"Udah setengah 4 sore, sebentar lagi suami kamu datang."


Ucap Zoya mencairkan suasana, dia tahu siapa Shafia. Akan sangat fatal jika wanita-wanita yang menyukai suami sahabatnya sampai cari masalah dengan Shafia.


Terdengar bunyi klakson mobil dari arah luar, sepertinya Abrisam sudah tiba.


"Zoo, jangan kasih tahu Abrisam kalau wanita itu datang kemari." Pinta Shafia memohon


"Kamu yakin bakalan nyembunyiin masalah ini darinya? Jangan gila Sha, bagaimana kalau ternyata ancamannya ngga main-main" Tanya Zoya memastikan


"Aku bisa Zoo, selagi tuh nene lampir ngga cari masalah aku akan diam. Kalau dia macam-macam baru aku turun tangan."


Mendengar jawaban Shafia membuat Zoya tidak mengatakan apapun lagi, percuma juga dia membantah ujung-ujungnya tetap Shafia yang menang.

__ADS_1


"Aku balik duluan ya, Zoo." Pamit Shafia sudah masuk dalam mobil


"Iya hati-hati di jalan."


Abrisam langsung menjalankan mobilnya keluar area Restaurant menuju jalan besar.


Sepanjang perjalanan pria itu tidak henti-hentinya memperlihatkan sikap manjanya yang harus di ladeni Shafia. Ada saja tingkahnya meminta Shafia melakukan ini dan itu, gadis itu tahu kalau Abrisam hanya mengujinya saja.


"Berhentilah berulah Bri, aku sangat lelah." Gadis itu mulai kesal


"Memangnya apa yang aku lakukan? Aku hanya memintamu untuk menyuapi ku saja." Jawab Abrisam pura-pura merajuk


Pria itu sengaja menghentikkan mobil di pinggir jalan, membuat Shafia sedikit bingung.


"Eee, kok berhenti Bri? Ini udah sore bentar lagi mau Maghrib." Keluh Shafia namun tidak di gubris oleh Abrisam


Astaga apa aku salah lagi? Rutuknya berbicara dalam hati


Mau tidak mau Shafia harus mengalah, padahal bukan dia yang salah tapi malah dirinya yang harus membujuk.


"Maaf ya, kamu 'kan tahu aku capek seharian sibuk di Restaurant. Bukannya aku ngga suka dengan sikap kamu seperti ini, aku cuma lagi pusing dan sedikit emosi." Ucap Shafia mencoba memberi penjelasan


"Apa aku pelakunya?" Tanya Abrisam kini menatap Shafia


Gadis itu menggelengkan kepala.


"Terus apa yang bikin kamu marah?"


"Bukan apa-apa, cuma teringat sesuatu ajah. Ngga ada yang lain, lanjut jalan ya, udah jam 5."


Shafia tidk ingin suaminya tahu apa yang dia pikirkan, biarlah gadis itu berbohong.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah, Abrisam meminta pada Shafia untuk ikut dengannya pulang ke rumah mereka. Tentu saja gadis itu setuju setelah meminta izin pada Arqa dan Aina.


Seperti biasanya mereka akan melaksanakan sholat terlebih dahulu, makan malam dengan sedikit obrolan kecil, dan saat ini keduanya berada di dalam kamar duduk di sofa panjang sambil nonton TV.


Hubungan yang baru saja mereka bangun secara perlahan meski sebenarnya masih ada sedikit kecanggungan dan rasa yang sulit di jelaskan.


Entah kapan baru Shafia akan mulai terbiasa dengan kehidupannya yang baru, semoga saja gadis itu bisa bertahan sampai akhir.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


Jangan Lupa Like & Komennya ya.


__ADS_2