
Tepat jam 6 pagi, Shafia terbangun. Seluruh tubuhnya terasa remuk dan sakit.
"Aaw, sshh." Ringisnya merasakan perih di bagian mahkotanya
Semalam Abrisam tanpa henti meminta lagi dan lagi meski istrinya sudah mengeluh tidak mampu lagi menahan lelah dan kantuk.
*C*eklek.
Mata Shafia beralih menoleh kearah pintu kamar mandi yang terbuka.
"Sayang."
Abrisam melangkah pelan menuju tempat tidur menghampiri istrinya yang sedikit kesulitan untuk bangun, senyum tidak lepas dari bibirnya yang begitu bahagia menjadi pria pertama dan satu-satunya yang meraup mahkota gadis cantik halalnya tersebut.
Aa, lebih tepatnya bukan lagi gadis melainkan sudah menjadi wanita seutuhnya.
"Apa masih sakit?" Tanyanya hati-hati ikut membantu Shafia duduk bersandar di kepala ranjang.
"Pake nanya segala lagi." Dengus Shafia menahan kesal
"Kamu tuh kalau ngga di gigit atau di pukul dulu mana bisa berhenti." Omelnya menatap tajam kearah suaminya yang tertawa
"Kan mubazir Bee, kalau di anggurin." Elak Abrisam yang sangat suka menjahili istrinya
"Mubazir mulut mu, gila ya. Baru juga pertama kali, eehh malah mintanya berkali kali. Kayak mau makan ajah, itu lapar apa doyan." Cebik Shafia begitu jengkel
Jangankan untuk duduk, hanya bergerak sedikit saja rasanya sangat sulit.
*Cup
Cup
Cup*
Abrisam mencium seluruh wajah istrinya penuh sayang, ia juga merasa kasihan karena tidak bisa menahan diri untuk tidak kelepasan.
"Maaf ya, lain kali ngga akan gitu lagi." Kekeh Abrisam menahan geli karena dadanya menjadi sasaran empuk Shafia untuk di gigit
"Udah jangan ngambek, aku bantuin ya ke kamar mandi." Lanjutnya menawarkan diri
"Ngga usah, ngga perlu." Tolak Shafia ingin bangkit berdiri tetapi kakinya begitu lemas untuk berpijak
Abrisam yang melihat menahan diri untuk tidak tertawa.
"Udah di bilang mau di bantuin masih ngeyel." Ledeknya tanpa menunggu lama langsung menggendong tubuh polos Shafia ke kamar mandi
Shafia yang kaget hanya pasrah kalah tubuhnya sudah di bawah suaminya.
Abrisam menurunkan tubuh polos istrinya duduk di atas toilet.
"Bentar ya, airnya aku siapin dulu."
Dengan sabar Abrisam menyiapkan air hangat yang sudah di campur dengan antiseptik beserta aroma terapi untuk istrinya mandi, ia kembali kearah Shafia yang duduk diam memperhatikan tanpa banyak bicara.
__ADS_1
Tubuh langsing Shafia kembali di angkat kemudian di letakkan dalam bathup oleh suaminya, saat menyentuh air tubuhnya merasa nyaman dan rileks. Tetapi di bagian intinya masih sangat perih sampai harus meringis kesakitan.
"Sshh, perih bangat By." Rengek Shafia dengan mata berkaca-kaca
Abrisam yang berada sedikit jauh dari bathup sedang mengambil sabun dan peralatan mandi lainnya, langsung mendekati istrinya saat mendengar gadis halalnya merengek.
"Sabar ya sayang, kalau baru pertama kali memang sakit dan perih. Lama-lama juga pasti akan hilang dan mulai terbiasa." Rayu Abrisam yang memilih ikut masuk ke dalam bathup karena permintaan dari istrinya
"Emang kalau udah lama-lama ngga sakit lagi?" Tanya Shafia polos membuat pria tampan yang sudah mandi namun kembali mandi lagi itu sontak tertawa lepas
Otak Shafia yang masih belum terlalu paham soal hubungan suami istri tentu bisa di maklumi, sementara Abrisam yang pikirannya sudah dewasa tentu hal begituan tidak asing lagi baginya, hidup di antara teman-teman prianya yang semua sudah berpengalaman sangat mustahil jika pria itu tidak tahu.
"Kalau lagi dan lagi kita lakuin hal yang sama sudah tentu sakitnya akan hilang." Jawab Abrisam mencoba memberi pengertian pada Shafia
Gadis cantik itu hanya mengangguk paham tanpa bertanya lagi, mereka mandi bersama dengan Shafia yang di bantu Abrisam untuk membasuh diri di bawah guyuran shower setelah usai berendam dalam bathup.
Tak ada hal lain yang keduanya lakukan, mereka hanya sebatas membersihkan diri. Usai membantu Shafia memakai bathrobe, pria tampan itu kembali menggendong istrinya keluar dari kamar mandi.
Di letakannya tubuh Shafia di sisi ranjang sebelum masuk ke dalam ruangan samping kamar mandi untuk mengambil pakaian yang akan mereka kenakan.
Setelah berganti pakaian, Abrisam memilih untuk membiarkan Shafia berada dalam kamar. Ia akan turun ke bawah dan mengambil sarapan.
"Tetap di sini, aku ke bawah sebentar ambil sarapan." Ucap Abrisam mencium kening istrinya sebelum keluar kamar
Pria tampan dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya itu menuruni tagga sambil sesekali bersiul, Hanif yang kebetulan melihat Bosnya seakan penuh tanya.
"Bos." Panggil Hanif menyusul Abrisam yang menuju meja makan
"Ada apa?" Tanya pria itu saat Asisten sekaligus sahabatnya sudah berada di dekatnya
"Lebih baik kau cari kesibukan bukan selalu memperhatikan ku setiap saat." Sahut Abrisam tanpa menoleh
Ia lebih memilih mengambil sarapan yang sudah di siapkan Bi Murti.
"Ckck, kau benar-benar tega Bos. Taukah kau betapa aku begitu menyayangi mu sampai rela tidak mencari kekasih." Cebik Hanif tiba-tiba bergelayut manja di lengan Abrisam yang masih menyiapkan sarapan untuk istrinya
"Kau sudah berubah Bos, tidak lagi sayang padaku. Padahal aku lah yang lebih dulu mengenal mu, kenapa hanya Nyonya yang kau perhatikan." Lanjutnya pura-pura menangis
Tanpa Hanif sadari jika perbuatannya itu telah di saksikan oleh Bibi Murti dan Paman Hadi yang baru saja datang dari arah belakang.
Tawa keduanya pecah kala melihat kelakuan Asisten dari suami majikannya itu masih menempel.
"Asisten Hanif. Apa yang kau lalukan dengan menempel di lengan suami ku?"
Semua yang berada di lantai bawah terlonjak kaget mendengar suara teriakan yang berasal dari lantai atas.
Hanif dan Abrisam sontak menoleh bersamaan untuk melihat siapa yang berteriak barusan.
DEG
Secepat kilat Hanif melepas lengan sang Bos dan langsung menjauh takut kena amukan dari singa betina.
Abrisam yang kaget bukan peduli akan apa yang terjadi barusan, ia justru mengkhawatirkan gadis cantik yang berdiri tepat di pinggiran tangga.
__ADS_1
"Sayang."
Langkah kakinya berlari cepat mebaiki anak tangga tanpa membawa sarapan yang sudah di siapakan, rasa takut jika istrinya akan jatuh lebih besar.
"Sayang kok malah keluar kamar, aku minta kamu duduk diam di tempat tidur kenapa malah keluar sih." Ucap Abrisam sedikit kesal langsung menggendong istrinya kembali masuk ke dalam kamar
Di letakkannya dengan hati-hati tubuh langsing Shafia ke atas ranjang.
"Apa ada yang membuat mu tidak nyaman?" Tanya Abrisam ikut duduk di kursi yang di tariknya mendekat kearah Shafia.
"Kalian ngapain tadi?" Tanya Shafia bukan menjawab pertanyaan suaminya
"Ngga ada apa-apa sayang." Jawab Abrisam jujur
"Bohong, kalau ngga ada apa-apa kenapa Hanif malah bergelayut manja di lengan mu?" Bantah Shafia tidak percaya
"Jangan bilang kalau kalian punya hubungan seperti ..."
Pletak
"Aww. Sakit By," keluh Shafia kala jidatnya merasa sakit.
"Ngomong tuh jangan aneh-aneh, Hanif suka seperti itu jika sedang bosan. Seminggu ini aku menghukumnya dengan setumpuk pekerjaan, ia hanya protes saja karena fokus ku hanya padamu." Jelas Abrisam agar istrinya tidak berfikiran aneh
"Tapi kok modelannya begitu? Kan, aneh kalau ada yang salah paham gimana."
Otak Shafia hampir saja berfantasi liar jika suaminya tidak langsung menjelaskan.
"Bukan hanya Hanif yang begitu, jika kamu melihat Papa yang berlaku sama sepertinya, mungkin kamu juga akan geli sendiri."
"Kok malah sangkutin Papa?"
Shafia yang bingung menatap heran mendengar ucapan suaminya yang mengatakan jika Papa mertuanya juga sama.
"Hayo lagi bayangin apa?" Kaget Abrisam melihat istrinya tiba-tiba melamun
"Haa, ngga ada. Aku cuma lagi mikir soal Papa yang kamu bilang tadi."
"Ngga usah di pikirin, pusing sendiri 'kan ribet."
Obrolan keduanya terhenti saat mendengar pintu kamar di ketuk.
*C*eklek
"Tuan muda, ini sarapannya sudah Bibi siapkan." Ucap Bi murti melihat majikannya membuka pintu kamar
Wanita kesayangan Shafia itu memberikan nampan yang berisi sarapan pada Abrisam.
"Makasih ya, Bi."
"Sama-sama Tuan, kalau gitu Bibi pamit ke bawah dulu mau beres-beres." Sahut Bi murti kembali turun ke lantai bawah
Abrisam yang hanya mengganguk kan kepalanya ketika menjawab segera masuk ke kamar setelah Bi Murti pergi.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃
Like & komen ayok ramaikan..🤗🤗