Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 50 ~ Ikut Ke Kantor


__ADS_3

Tidak terasa usia pernikahan Shafia dan Abrisam sudah menginjak satu tahun.


Hal-hal baru yang sering mereka lalukan tidak jauh dari hobi keduanya. Pergi liburan, jalan-jalan dan mulai sibuk dengan aktivitas masing-masing.


Sejak satu bulan terakhir Abrisam lebih banyak meluangkan waktunya dengan sibuk di perusahaan, sedangkan Shafia tidak kalah lebih sibuk dengan kuliah.


Baik keluarga Abrisam maupun orang tua Shafia setiap akhir bulan akan datang mengunjungi mereka sekedar melepas rindu, banyak momen yang terjadi setiap kali semuanya sudah berkumpul bersama.


Tidak ada yang berani mengungkit soal anak di hadapan pasangan suami istri tersebut, bagi mereka tidak ada yang lebih berharga selain melihat Abrisam dan Shafia selalu di limpahkan kebahagiaan, keberkahan dan tetap menjaga hubungan mereka dengan baik meski kadang kala ada saja cobaan yang datang menghampiri.


Hari yang di tunggu Shafia akhirnya datang juga, terlalu sibuk menyelesaikan tugas kuliah kadang membuat otaknya lelah. Paling tidak selama libur kurang lebih seminggu kedepan bisa di gunakan untuk istirahat di rumah.


"Ngga masuk kuliah sayang?" Tanya Abrisam saat baru keluar dari kamar mandi


Gadis cantik itu menggeleng pelan.


"Ngga By, aku minta cuti libur selama seminggu." Sahut Shafia masih bergelut di atas tempat tidur


Abrisam yang melihat betapa malasnya sang istri beranjak dari tempat tidur, langsung menghampiri.


CUP


"Kalau gitu ikut ke kantor ajah gimana?" Ajaknya seraya mencium lembut wajah istrinya


"Mmm, ngga bakal di tinggal lagi kan, kayak kemarin?"


Shafia di buat kesal ketika ikut bersama suaminya ke kantor, dia justru harus menunggu hingga berjam-jam lamanya di dalam kamar. Perginya Abrisam karena sebuah undangan mendadak membuat gadis itu di runduh bosan.


Beruntung Hanif dengan cepat pulang ke kantor lebih dulu untuk memastikan keadaannya, jika tidak sudah pasti saat Abrisam kembali tidak mendapati istrinya di dalam kamar.


"Ngga sayang, hari ini jadwal aku cuma sedikit. Akan ada pertemuan di luar sebelum makan siang, kamu boleh ikut biar sekalian kita makan siang." Jawab Abrisam merasa bersalah karena pernah meninggalkan istrinya cukup lama


"OK. Aku ikut, awas ajah kalau kejadian lagi kaya waktu itu. Aku ngga mau lagi ikut ke kantor apapun alasannya."


Gadis cantik yang masih dengan wajah bantalnya itu bergegas turun dari ranjang melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


"Ckck, punya istri sensitifnya ngga ketulungan."

__ADS_1


Setelah istrinya masuk kamar mandi, Abrisam mulai berganti pakaian kantornya yang kebetulan sudah di siapkan Shafia.


Kebiasaan sang istri yang memilih menyediakan semua keperluannya sedari semalam sebelum tidur bukan lagi hal baru, Abrisam sangat hapal bagaimana malasnya Shafianjika harus bangun pagi sebelum ia bangun.


Tubuh Shafia yang seakan remuk akibat ulahnya kadang sering kali membuat istrinya enggan bangun dari tidur.


Lima belas menit kemudian, pasangan suami istri tersebut turun dari lantai atas lengkap dengan pakaian yang sudah rapih. Keduanya menuju ruang makan untuk melakukan sarapan.


Sarapan berlangsung tidak lama, pasangan suami istri tersebut bergegas keluar rumah menuju mobil yang sudah terparkir di halaman.


Kereta besi itu segera meninggalkan area rumah melesat dengan kecepatan sedang, keadaan jalan yang lumayan sepi membuat Abrisam tidak harus mengumpat lagi akibat kesal.


Akan sangat aman jika pria tampan itu duduk diam dengan tenang di samping istrinya.


Hanya lima belas menit mobil sudah sampai di area parkiran khusus para petinggi perusahaan, Abrisam menuntun istrinya keluar dari mobil berjalan menuju sebuah lift khusus yang langsung terhubung dengan ruangan kantor miliknya.


Selama berada di dalam lift yang masih berjalan, pria tampan itu begitu jahilnya mengganggu Shafia yang merenggut kesal akibat ulahnya.


"Stop By, kalau sampai ada yang lihat bagaimana." Sungut Shafia berusaha menahan tubuh sang suami yang menempel


"Terserah kamu."


Shafia diam pasrah membiarkan suaminya melakukan apa saja yang di sukainya, percuma saja melawan.


.


.


Tring


Lift terbuka lebar, Shafia keluar lebih dulu meninggalkan suaminya yang tertawa.


"Sayang tunggu."


Gadis cantik yang kesal itu tidak menghiraukan panggilannya.


Brak

__ADS_1


Pintu ruangan miliknya di buka dengan cukup keras, Hanif yang kebetulan sudah berada di dalam ruangan ikut terlonjak kaget melihat wajah masam istri dari Bosnya.


"Nyonya Muda kenapa?" Tanya Hanif ketika melihat Shafia sudah duduk di sampingnya.


"Bos kamu itu membuat ku kesal pagi-pagi."


Abrisam menggelengkan kepala tersenyum geli mendengar istrinya malah mengadu pada Asistennya, jika sudah begini maka akan ada perdebatan antara ia dan Hanif.


"Terus Bos, terus saja membuat Nyonya kesal padamu. Tidak kah kalian membiarkan aku tenang sedikit, aku bukan tempat kalian untuk menjadi penengah."


Hanif benar-benar di buat pusing dengan kelakuan Abrisam, setiap kali istri dari pria tampan itu mulai merenggut kesal. Pada akhirnya Hanif lah yang harus merayunya, menjadi Asisten sekaligus Bodyguard Shafia bukanlah hal yang mudah.


Beberapa bulan yang lalu Abrisam sengaja meminta tolong pada Asistennya agar mau menjadi Bodyguard dari istrinya, sebuah insiden yang terjadi waktu itu hampir saja mencelakai Shafia jika tidak dengan cepat di tolong Hanif. Padatnya jadwal pekerjaan Abrisam kadang tidak memiliki waktu walau hanya sekedar menjemput istrinya.


Pada akhirnya mau tidak mau Hanif lah yang harus membagi waktu antara pekerjaan di kantor dengan menjaga Shafia, tidak ada yang tahu jika saja gadis itu tidak segera di selamatkan, mungkin sekarang Abrisam bagai mayat hidup.


Tepat sepuluh menit sebelum jam makan siang, Abrisam selesai melakukan pertemuan dengan salah satu kolega bisnisnya yang meraup di bidang pembangunan pusat perbelanjaan.


Ia yang kebetulan ikut membawa Shafia, segera pergi menuju salah satu Restaurant yang terletak tidak jauh dari tempat di adakannya pertemuan.


Mereka yang sudah berada di Restaurant langsung memesan beberapa menu makan siang yang sederhana, Shafia yang kebetulan sudah banyak memakan cemilan dan kue hanya memesan minuman. Dia biarkan suaminya makan semua hidangan yang di pesan tanpa sisa.


Usai makan siang keduanya kembali lagi ke perusahaan, ada beberapa berkas penting yang memerlukan tanda tangan Abrisam sebelum di kirim ke pihak yang bekerja sama dengan perusahaannya.


Jam pulang kantor telah tiba, Shafia yang mulai bosan terus saja merengek ingin cepat pulang.


"Ayo, By." Rengeknya mulai tidak nyaman terlalu lama di kantor seperti biasa


Abrisam yang sudah bersiap pulang segera menggendong istrinya agar tidak lagi rewel, Shafia memang tidak terlalu suka berlama-lama.


"Iya sayang, ini sudah mau pulang."


Pria tampan itu keluar dari ruangannya menuju lift yang sudah terbuka, selalu ada Hanif yang siap siaga kapan saja.


🍃🍃🍃🍃🍃


Like dan Komennya jangan lupa.

__ADS_1


__ADS_2