
Setelah semalaman Shafia berperang dengan hati dan pikirannya.
Pagi ini, rencananya gadis itu akan menghabiskan waktu seharian dengan Abrisam. Pergi menonton, bermain di taman hiburan, jalan-jalan keliling kota dan masih banyak lagi kegiatan yang akan mereka lakukan.
"Sha, udah siap belum?" Tanya Abrisam sedikit berteriak karena ia tengah berada di luar kamar membiarkan Shafia agar lebih leluasa berganti pakaian tanpa harus ada kehadiarannya di sana
"Iya sebentar." Sahut Shafia tidak kalah ikut berteriak
Abrisam berdiri menyandarkan punggungnya di dinding depan pintu kamar, matanya sesekali melihat kearah jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Aku udah siap, kita berangkat sekarang?"
"Ngga, tunggu matahari pindah lagi baru kita pergi." Jawab Abrisam mendengus kesal
"Tentu pergi sekarang Shafia, sayang. Ini kamu ganti baju ajah lama banget kayak mau ketemu sama ahli surga harus ekstra sempurna." Sambungnya yang hanya di balas kekehan dari istrinya
"Ya elah tuh mulut kayak emak-emak yang ada di gang dekat rumah, ngomongnya suka benar." Ledek Shafia tidak peduli pada Abrisam yang seakan ingin menelannya hidup-hidup
"Huh, untung sayang kalau ngga--."
"Hayo apa? kalau ngga kamu mau apa?" Pancing Shafia namun tidak di tanggapi Abrisam.
Pria itu memilih diam langsung menarik tangan Shafia agar bisa di genggamnya.
Keduanya berjalan beriringan menuju lift yang langsung terhubung dengan loby di mana sebuah mobil sudah siap membawa mereka kemana saja.
.
.
Tring
Langkah kaki pasangan suami istri tersebut bersahutan keluar dari lift yang sudah terbuka, di sana sudah ada sebuah mobil sedan berwarna putih siap mengantar mereka.
"Kita mau kemana sekarang, Tuan muda?" Tanya sang sopir saat keduanya sudah masuk ke dalam mobil
"Ke Restaurant dulu Paman, nanti habis itu kita mutar-mutar." Jawab Abrisam yang langsung di iyakan sang sopir
Kereta besi itu meleset keluar parkiran menuju jalan besar.
Sepanjang perjalanan Abrisam tidak henti-hentinya mengganggu Shafia yang sejak mereka masuk mobil sudah memasang wajah cemberut.
Bukan tanpa alasan gadis itu tidak merasa senang, semua berawal karena saat keduanya baru saja keluar dari lift tadi. Tepat di hadapan beberapa karyawan yang tidak sengaja melewati area parkiran, Abrisam sengaja menciumnya tanpa rasa malu sedikit pun.
Jika ciumannya hanya sebatas kedua pipi atau kening mungkin gadis itu takan protes, tetapi Abrisam malah mencium Shafia tepat di bagian bibirnya.
Dia tidak suka sesuatu yang tidak sepantasnya di perlihatkan pada orang lain nyatanya menjadi kebiasaan Abrisam yang ini bukan pertama kalinya di lakukan.
"Kamu kenapa cemberut gitu sih." Protes Abrisam tidak suka di abaikan, bahkan saat ia ingin bersandar di bahu sang istri pun di tepis kasar.
"Astaga sayang, itu 'kan cuma ciuman singkat saja." Tambahnya tanpa taju jika itu tentu berbeda bagi Shafia
"Cium sih cium, tapi ngga harus bibir juga dong Bri. Aku kan, malu di liatin orang."
__ADS_1
Keaal Shafia yang tetap tidak terima akan tingkah Abrisam di lobi hotel tadi.
Tidak mau sampai percakapan mereka akan merujuk menjadi pertengkaran, Abrisam memilih untuk diam.
Kali ini, ia yang salah sudah lancang mencium sang istri yang jelas-jelas sah-sah saja. Hanya karena di lihat orang lain sampai membuat Shafia tidak terima kemesraan mereka jadi tontonan gratis.
.
.
Mobil sudah berada di parkiran Restaurant.
Abrisam turun lebih dulu membuka pintu samping di mana terdapat Shafia yang hanya duduk diam selama perjalanan.
"Ayo turun, istriku." Ajaknya sambil memberikan tangan ke arah Shafia
Dengan cepat gadis itu meraih uluran tangan suaminya keluar dari dalam mobil.
"Jangan kaya gitu lagi ya!" Pinta Shafia saat keduanya sudah berjalan beriringan masuk ke dalam Restaurant
"Iya Sayang, aku janji ngga bakal cium kamu sembarangan lagi di depan orang lain." Jawab Abrisam meyakinkan
Ia begitu menghormati setiap keputusan yang Shafia ambil, bagi pria itu tidak ada yang lebih penting selain kebahagiaan dan kenyamanan sang istri tercinta.
Sesampainya di dalam Restaurant, Abrisam memilih meja makan yang dekat dengan jendela. Ia tahu kebiasaan Shafia yang tidak suka ketika sedang makan ada saja di tatap beberapa orang atau mungkin bertemu dengan orang yang gadis itu kenal.
"Mau makan apa Sha?" Tanya Ambrisam saat pelayan memberikan buku menu yang pilihannya begitu banyak
"Mau yang mana ya," gumamnya masih fokus melihat beberapa menu yang akan di pesan.
Setelah Shafia selesai memesan makanan yang di sukainya, beberapa menit kemudian pelayan datang membawa pesanan mereka yang lumayan banyak.
Keduanya makan dengan santai tanpa tersisa satu pun. Abrisam memanggil salah satu pelayan untuk membayar makanan yang telah mereka pesan tadi sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Selesai makan Abrisam kembali membawa Shafia keliling kota dengan mengunjungi beberapa tempat yang di sukai istrinya.
Pergi ke taman hiburan, mengunjungi beberapa toko buku hanya untuk membeli beberapa novel dan komik favorit Shafia, dan sekarang mereka sudah berada di pantai untuk menyaksikan matahari terbenam.
Setelah puas jalan-jalan keliling kota dengan tempat terakhir yang di kunjungi adalah pantai, kini Abrisam dan Shafia kembali ke hotel mengingat hari sudah gelap.
Mobil langsung terparkir di loby hotel, Abrisam yang lebih dulu keluar langsung membukakan pintu untuk Shafia.
Keduanya masuk ke dalam lift dengan tangan Abrisam merangkul posesif pinggang sang istri.
*Drtt ... dr*
Suara getar ponsel milik Abrisam begitu menggelitik telinga Shafia yang baru saja selesai sholat, rasa penasaran menyelimuti hati gadis itu yang begitu ingin tahu.
Shafia melirik ke arah pintu kamar yang tertutup, berharap semoga saja Abrisam belum datang.
Pria itu beberapa menit yang lalu keluar kamar dengan alasan pergi ke suatu tempat mengambil sesuatu.
__ADS_1
"Buka ngga ya." Gumam Shafia begitu penasaran dengan isi ponsel milik suaminya
Dengan perasaan was-was gadis itu meraih benda pipih sang suami yang terletak di atas nakas samping tempat tidur.
"Ngga di kunci." Heran Shafia saat melihat ponsel suaminya yang tidak terkunci sama sekali
Dengan perlahan Shafia mulai membuka satu persatu aplikasi yang ada.
Mulai dari Facebook, Watsapp, Mesenger, dan Aplikasi Pesan tidak luput dari jari-jari tangan Shafia yang masih terus memeriksa beberapa pesan yang masuk.
"Tidak ada apa-apa, bahkan notifikasi yang tadi aku dengar ternyata cuma pesan spam doang."
Shafia begitu asik memainkan ponsel milik Abrisam, tanpa sadar jika kini pemiliknya sudah masuk ke dalam kamar sambil mengendap-endap akibat penasaran dengan apa yang di lakukan gadis itu.
Dengan jahilnya mengerjai Shafia yang begitu fokus dan serius seakan tidak ada apapun di sekelilingnya.
"Hayo lagi liatin apa?"
Suara Abrisam yang hampir saja membuat ponselnya jatuh jika Shafia tidak dengan cepat melindungi benda pipih itu.
"Ish,, kamu kenapa masuk ngga ketuk pintu dulu sih." Dengus Shafia menahan antara kesal dan malu ketahuan sedang memeriksa ponsel suaminya
"Aku dari tadi masuk kamar, kamu ajah yang ngga sadar." Jawab Abrisam jujur
Shafia memutar kedua bola matanya malas, tanpa dia sadar jika sekarang masih menggenggam ponsel Abrisam yang entah sejak kapan perbuatannya di lihat oleh pria itu.
Saking seriusnya membuat Shafia terbawa suasana.
"Lagi liatin apa tadi, hmm?" Tanya Abrisam ikut duduk di atas ranjang samping istrinya
"Aku?" Tanya Shafia yang lupa jika kini masih memegang ponsel suaminya.
"Iya kamu ngapain liatin segitu seriusnya?"
Shafia yang belum menyadari akan arah bicara pria itu berusaha mencerna pertanyaan yang di tujukan padanya, matanya langsung membulat sempurna kala sadar apa yang di maksud.
"Aaa--, haha. Ini, itu tadi--. Tadi ..." Jawab Shafia gugup
"Tadi cuma pinjam bentar mau foto ajah, iya aku mau foto ajah kok." Elaknya masih tidak ingin berkata jujur
"Yakin cuma mau foto doang, nggabada yang lain lagi?" Goda Abrisam dengan senyum jahilnya membuat Shafia sedikit panik
Melihat raut wajah Shafia yang seperti ketahuan mencuri membuat Abrisam langsung tertawa.
"Sudah aku hanya menggoda mu saja, kamu bisa melihat isi ponsel itu sesuka mu. Aku sengaja tidak memakai kode biar kamu bisa membukanya kapan pun kamu mau." Jelas Abrisam pada Shafia
Pria itu merangkak ke atas ranjang untuk membaringkan tubuhnya yang lelah akibat seharian jalan-jalan.
Mendengar penjelasan sang sumami, hal itu membuat kedua pipi Shafia memerah, antara malu dan senang sebab Abrisam tidak lagi menyembunyikan apapun padanya.
🍃🍃🍃🍃🍃
Tinggalkan Like & Komennya ya..😉
__ADS_1