
Shafia masuk dalam kamar sambil membawa segelas teh hangat untuk suaminya.
Langkah kakinya sedikit cepat mendekat kearah tempat tidur, dimana sudah ada Nyonya Iriana, Ririn dan Aina duduk di sofa panjang.
"Mah, bantu Shafia bangunin Abrisam!" Pinta Shafia meminta tolong
Ririn dengan cepat membantu sang putra agar bangun bersandar di kepala ranjang, tubuh lemas dan sedikit pucat masih jelas terlihat.
"By, minum teh hangat dulu ya." Rayu Shafia seraya menyodorkan sendok ke mulut suaminya
Beberapa kali suapan pria tampan itu menolak tidak ingin minum lagi.
"Udah sayang, aku rasanya mau muntah lagi." Tolak Abrisam sudah berlari menuju kamar mandi
Ia kembali merasakan mual dan muntah, namun yang keluar hanya berupa air saja. Shafia yang semakin panik dan khawatir dengan sabar memijit tengkuk sang suami, air matanya sudah jatuh mengalir membasahi pipi.
"Hubby kenapa? Apa karena tadi masuk pasar sampai buat By, kayak gini? Maaf, aku bukannya sengaja hukum Hubby tadi, aku cuma kesal ajah melihat Bibi yang kecapean."
Tangis Shafia pecah usai berbicara, rasa bersalah karena nekat membawa Abrisam ke pasar membuat gadis itu menyesali tingkah bodohnya.
"Jangan menangis Sha, aku makin lemas kalau lihat kamu menangis kayak gini." Balas Abrisam menghapus air mata istrinya
"Aku ngga apa-apa, mungkin cuma masuk angin." Lanjutnya terus menenangkan
"Benaran ngga apa-apa? Atau panggil Bibi Farah ajah ya, biar datang kemari periksa keadaan, By."
"Ngga usah sayang, yang aku mau sekarang cuma mau peluk kamu ajah." Tolak Abrisam
Di dalam kamar Ririn tidak kalah panik melihat keadaan sang putra yang lemas dan pucat.
"Mami, apa sebaiknya kita tunda dulu jadwal keberangkatan malam ini?" Tanya Ririn pada Nyonya Iriana
Wanita baya itu hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari sang menantu, entah apa yang dia pikirkan.
Dari arah kamar mandi terlihat Shafia memapah Abrisam yang masih lemas, melihat semua itu Ririn ikut membantu sang menantu.
"Gimana masih muntah juga?" Tanya Ririn setelah Abrisam kembali berbaring di atas tempat tidur
"Muntah udah ngga cuma mual ajah katanya," jawab Shafia dengan posisi di peluk lumayan erat oleh suaminya.
"Tadi waktu di pasar kalian ngapain ajah?" Ririn masih merasa heran dengan kondisi putranya saat ini
"Cuma beli buah sama bahan makanan buat stok dalam kulkas, selebihnya mutar-mutar sedikit nyari apa yang mau di beli."
Ririn mengangguk paham mendengar jawaban yang keluar dari mulut sang menantu, sebenarnya dia masih sedikit merasa aneh dengan kondisi putranya.
__ADS_1
"Kamu jaga suamimu! Kami turun dulu ke lantai bawah, kalau ada apa-apa panggil Mama. OK!" Pesan Ririn sebelum keluar dari dalam kamar
"Iya Mah," sahut Shafia pelan.
"Ibu ke bawah dulu ya, sayang. Mau ikut nimbrung cuma Ibu bingung harus ngapain," kekeh Aina seperti biasa suka menjahili putrinya.
"Terus Bu, sampai aku nangis." Cibir Shafia menatap malas sang Ibu
"Nenek juga turun ke bawah, masih ada urusan yang harus Nenek selesaikan." Sambung Nyonya Iriana
"Iya Nek, maaf ya gara-gara Shafia bawa Abrisam ke pasar malah jadi gini akhirnya." Ucap sesal Shafia
"Jangan di ingat lagi, anak nakal ini yang terlalu berlebihan." Selak Nyonya Iriana
Ketiga wanita tersebut keluar dari dalam kamar menuju lantai bawah, meninggalkan Shafia yang begitu setia mengusap lembut kepala suaminya.
"Maafin aku ya, By. Kalau tahu kejadiannya bakal kayak gini aku tidak akan membawa By, ke pasar."
"Habisnya By, ngeselin sih. Kasihan Bibi capek-capek beresin dapur, tapi By malah sibuk berantakin semuanya. Kan aku nya kesal."
Shafia terus mengomel pelan tanpa peduli akan di dengar oleh suaminya atau tidak.
Menjelang malam, Shafia memilih bangkit dari atas tempat tidur secara perlahan jangan sampai membangunkan suaminya.
Lima belas menit kemudian Shafia keluar dari dalam kamar mandi lengkap dengan pakaian rumah, dia berjalan kearah tempat tidur dimana Abrisam masih terlelap.
"By, sayang. Bangun yuk!" Bisik Shafia pelan di telinga suaminya
Abrisam menggeliat kecil tanpa membuka matanya, seketika ide jahil muncul di otak Shafia.
"Puftt, haha. Sayang hentikan!" Jerit Abrisam menahan geli
"Bangun By! Bentar lagi Maghrib." Gemas Shafia tanpa menghentikan tangan jahilnya menggelitik telapak kaki suaminya
"Okok, aku bangun." Abrisam langsung duduk
Rasa mual dan muntah yang ia alami tadi hilang begitu saja dan berganti lain. Di tatapnya wajah cantik sang istri penuh sayang, pernikahan yang berjalan satu tahun lebih nyatanya mampu merubah banyak dalam hidupnya.
"Sini Sha, aku mau peluk." Pinta Abrisam menepuk pelan pahanya
Dengan cepat Shafia berpindah tempat duduk di atas pangkuan suaminya, kebiasaan yang tidak pernah sekalipun hilang selama hubungan mereka semakin dekat.
"Sayang," panggil Abrisam lembut.
"Hmm, ada apa?" Sahut Shafia bertanya
__ADS_1
"Asam, asin, manis dan pedas kayaknya enak." Jawab Abrisam ngaur
Kening Shafia mengkerut ketika empat kata tersebut keluar dari mulut suaminya.
"Itu apaan, By?" Tanya Shafia bingung
Pasalnya Abrisam tidak menjawabnya dengan benar.
"Aku pengen makan yang ada rasa asam, asin, manis dan pedas." Jawab Abrisam lagi
"Emang ada makanan dengan rasa seperti itu?" Heran Shafia
"Mana aku tahu, kita cari ajah yuk!" Ajak Abrisam bangkit dari tempat tidur seraya menarik lengan istrinya
Shafia yang belum juga paham, menurut saja ketika tangannya sudah di tarik keluar kamar.
Sampai di lantai bawah, pasangan suami istri itu langsung di sambut seluruh anggota keluarga, batalnya keberangkatan mereka malam ini sengaja di lakukan.
Pasalnya melihat kondisi Abrisam yang sedikit aneh membuat semua orang bertanya-tanya, apalagi sikap Abrisam mulai dari saat makan siang sampai sore hari terlihat mencurigakan.
Tidak ingin mengambil resiko, mau tidak mau sang Nyonya besar akhirnya menunda kepulangan mereka sampai cucu kesayangannya benar-benar dalam keadaan baik-baik saja.
"Mau kemana lagi?" Tanya Ririn menatap penuh selidik kearah Shafia dan Abrisam
"Kalian pergi keluar?" Timpal Aina ikut di buat penasaran
"Lagi kurang enak badan kok malah jalan-jalan." Sindir Adnan tidak habis pikir
"Shafia sayang, udah malam begini kalian mau pergi kemana?" Sambung Arqa dengan bahasa yang terdengar lembut
"Nenek ngga ijinin kalian keluar!" Tegas wanita paruh baya tersebut
Baik Shafia maupun Abrisam saling pandang merasa ada yang aneh dengan semua orang.
"Shafia mau nemenin Hubby cari makanan di luar." Sahut Shafia jujur
"Boleh ya? Kasihan kalau ngga di turutin nanti yang pusing Shafia juga." Pinta Shafia memohon
Belum juga semua orang menjawab perkataan Shafia, tangan Abrisam lebih dulu menarik keluar istrinya.
Rasa ingin akan makanan yang tadi di sebutnya jauh lebih penting di bandingkan menunggu jawaban yang keluar dari mulut keluarganya.
Mobil yang di bawa Abrisam melaju pelan menuju tempat jajanan pinggir jalan yang ada di tengah kota.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1