Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 74


__ADS_3

Bulan berganti, hanya menunggu kapan waktu persalinan Shafia yang katanya tinggal menunggu beberapa hari lagi.


Sekitar dua minggu yang lalu, wanita itu masih sempat mengikuti ujian skripsi dalam kondisi hamil besar.


Tidak dapat di pungkiri, bagaimana hebohnya pihak kampus sewaktu kedatangan Shafia dengan perut besar di temani oleh kedua sahabatnya memasuki ruangan Dosen pembimbing.


Mau melarang pun tidak ada gunanya, mengingat status Shafia paling berpengaruh karena menjadi Nyonya muda Qiemyl Mannaf.


Apapun bisa di lakukan, tanpa harus menyusahkan orang lain. Sebab, Shafia terbilang Mahasiswi berprestasi dengan nilai yang sangat memuaskan.


Waktu perkiraan kapan di adakannya Wisuda pun sudah di tetapkan oleh pihak kampus, yaitu tiga bulan mendatang.


Bisa atau tidaknya Shafia mengikuti acara wisuda tersebut, semua tergantung bagaimana proses persalinan nanti.


Akhir-akhir ini, wanita cantik itu mudah merasakan lelah dan nyeri. Sesekali akan sulit bernapas jika tanpa sadar makan terlalu banyak.


Semua tampak sehat dan normal menurut penjelasan Dokter, hanya saja kemungkinan untuk melahirkan ada dua pilihan. Dengan cara normal atau operasi, tetapi Shafia ingin melahirkan secara normal saja.


Pihak keluarga sudah berusaha membujuknya agar melakukan operasi di bandingkan harus melahirkan normal, mengingat perut Shafia lumayan besar.


Mereka hanya khawatir jangan sampai terjadi sesuatu pada wanita itu, meski rasanya semua pasti akan baik-baik saja jika kita tetap selalu berpikir positif.


Adapun Abrisam hanya mengikuti apa yang menurutnya benar, perihal mau normal atau operasi semua ia serahkan kepada pihak rumah sakit.


Pria itu jelas merasa istrinya kuat dan bisa melewati semuanya dengan lancar, sampai melahirkan nanti.


.


.


Belum ada sehari pasca timbulnya perdebatan antara pihak keluarga dengan Shafia hanya perkara keinginan yang berbeda.


Sekitar jam 3 subuh, wanita cantik itu meringis kesakitan sembari memanggil suaminya yang belum lama terlelap.


"Ya Allah, Hubby." Panggil Shafia menahan nyeri di bagian perut


"By," kali ini suaranya sedikit melemah tapi berusaha untuk tenang.


Shafia mencoba menghubungi pihak keluarga sembari menunggu suaminya bangun.


"Aku tahu kamu pasti kelelahan, semalaman menjagaku." Bisiknya pelan dengan senyum mengembang


"Hubby, kalau ngga bangun juga. Aku tinggal ya," ancam Shafia tepat di telinga Abrisam yang langsung terlonjak kaget.


"Aku ikut, mau kemana?" tanya pria itu panik belum sepenuhnya sadar.


Sedetik kemudian Abrisam melompat dari atas ranjang mendapati istrinya yang berdiri sembari menahan rasa sakit.

__ADS_1


Dengan tubuh bagian atas tanpa mengenakan baju terlebih dahulu, pria itu menggendong Shafia keluar dari kamar dalam keadaan setengah panik.


Sudah ada pelayan yang bersiap menunggu di lantai bawah, lengkap dengan semua kebutuhan Shafia selama di rumah sakit.


Abrisam tidak lagi membangunkan semua orang, hanya istrinya yang lebih penting sekarang.


"Hubby ngga lelah gendong aku sampai mobil?" tanya Shafia masih sempat-sempatnya bercanda.


"Jangan nakal sayang, bukan waktunya bercanda." Gemas Abrisam mencium sayang kedua pipi istrinya bergantian


Mobil sudah siap, pria itu langsung masuk dengan Shafia tetap berada dalam pangkuannya.


Jangan khawatir, sebab kereta mewah tersebut sangat luas dan besar.


.


.


Tidak sampai dua puluh menit, akhirnya mereka tiba di rumah sakit milik keluarga.


Sudah ada perawat yang menunggu kedatangan Shafia yang langsung di bawah ke ruang bersalin.


"Tuan muda mau apa?" tanya si perawat keheranan melihat Abrisam nekat masuk ke dalam ruangan menyusul Shafia.


"Mau apa lagi, tentu menemani istriku." Jawab pria itu ketus sembari menatap tajam ke arah semua yang ada di dalam ruangan


Mereka tidak perlu lagi menunggu lama, sebab waktu pembukaan sudah pas dan siap menuju tahap selanjutnya.


Keringat sudah membanjiri wajah tampan Abrisam, rasa takut dan khawatir bercampur jadi satu. Ia sampai mengeluarkan cairan bening ketika melihat betapa sulitnya sang istri menahan rasa sakit.


"Ummi pasti kuat, Hubby sayang Ummi." Bisik Abrisam tepat di telinga Shafia


"Kita berjuang sama-sama, hmm?"


"Hubby cengeng ih," kekeh Shafia berusaha menenangkan suaminya yang tampak gugup.


Di karenakan perut yang luamayan besar dengan kondisi fisik Shafia ada gangguan sedikit.


Membuat team Dokter harus bekerja keras agar tidak sampai terjadi kesalahan, semua telah di sediakan termasuk beberapa kantong cairan merah untuk jaga-jaga.


Shafia di tuntun dengan perlahan, hingga beberapa menit kemudian terdengar suara tangisan bayi.


Awalnya Abrisam pikir sudah selesai, namun mendengar Dokter kembali meminta istrinya untuk melakukan seperti sebelumnya. Jelas pria itu keheranan sanpai kembali mendengar suara tangisan bayi lumayan kuat.


Shafia tersenyum geli mendapati raut wajah bingung suaminya, seolah meminta penjelsan.


Tetapi, semua yang ada di dalam ruangan sengaja tidak mengatakan apa-apa dan memilih untuk segera membersihkan bayi nya agar bisa segera menyusu pada Ibunya.

__ADS_1


Mereka langsung membawa kedua bayi kembar ke hadapan Abrisam dan Shafia.


"Selamat Nyonya, mereka kembar." Ucap sang Dokter tersenyum


"Mereka bayi kembar laki-laki yang sangat tampan." Puji semua yang ada di dalam ruangan


Shafia tidak bisa mengatakan apapun, selain meminta agar kedua putranya di letakkan tepat di atas dadanya.


Sementara Abrisam, jangan di tanya.


Pria itu justru langsung pingsan setelah melihat dua jagoan yang menyusu pada Shafia.


"Loh, Hubby kenapa?" panik istrinya melihat Abrisam pingsan.


"Mungkin Tuan syok, Nyonya."


Tawa mereka langsung pecah, setelah Abrisam mulai sadar dan bersiap mengazhani kedua putranya secara bergantian.


Rasa haru, bahagia campur tidak percaya mengusaia hati dan pikiran Abrisam. Melihat hasil kerja kerasnya bersama Shafia lahir dalam keadaan sehat dan sangat tampan.


"Terima kasih, sayang." Bisiknya pelan seraya mencium seluruh wajah Shafia berakhir di bibir


"Aku mencintaimu."


.


.


Shafia sudah di pindahkan ke ruangan VIP khusus anggota keluarga Qiemyl Mannaf.


Ruangan bak hotel bintang lima itu, sudah penuh dengan anggota keluarga yang belum ada sepuluh menit datang berkunjung.


Abrisam membiarkan kedua putranya jadi rebutan semua yang ada di dalam kamar, ia hanya fokus pada Shafia yang mendadak koma akibat terjadi pendarahan.


Beruntung Dokter yang bertugas menangani istrinya sangat cepat dalam mengambil tindakan pertolongan pertama sampai pendarahan berhenti.


Stok cairan merah sangat membantu, sehingga penyelamatan tidak ada kendala.


Rasanya Abrisam ingin menangis, tidak tahan melihat Shafia belum juga membuka matanya. Sungguh dunianya hampir kehilangan nyawa andai terlambat sedikit saja.


"Shafia, sayang." Bisiknya pelan di telinga sang istri


"Tidurnya jangan lama-lama ya, aku ngga kuat."


Abrisam menangis dalam diam, hatinya sakit bagai ada ribuan jarum yang menusuk jantungnya.


Semua yang melihat bagaimana rapuhnya pria itu hanya mampu menenangkan, tanpa bisa berbuat lebih. Sebab, yang Abrisam butuhkan adalah kesembuhan istrinya.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2