
Tidak terasa sudah dua minggu berakhir keluarga yang sangat di rindukan Shafia dan Abrisam berada di rumah mereka.
Hari ini, semuanya akan kembali lagi pulang ke Negara asal mengingat ada banyak pekerjaan yang harus di selesaikan para pria kesayangan Shafia.
Walau berat hati, gadis itu harus ikhlas mengizinkan keluarganya pulang.
"Kan bisa datang lagi sayang," ucap Aina menenangkan sang putri yang menangis.
"Ayah dan Ibu tidak bisa lama-lama di sini sayang, pekerjaan Ayah numpuk loh di kantor. Apa putri Ayah ini tidak sayang lagi pada Ayah?" Sambung Arqa ikut menimpali ucapan istrinya.
Masih dalam keadaan menangis Shafia berusaha menenangkan hatinya, tidak tahu kenapa akhir-akhir ini dia mudah menangis dan sangat sensitif.
"Ayah jangan ngomong gitu, aku cuma belum rela ajah kalau Ayah dan Ibu harus pulang sekarang. Padahal masih banyak yang ingin aku lakukan dengan Ayah dan Ibu." Ungkap Shafia sesegukan
Ririn dan Adnan bukannya merasa kasihan melainkan pasangan suami istri tersebut justru tertawa, melihat tingkah sang menantu yang menurut mereka lucu dan menggemaskan.
"Sayang coba lihat deh, pipi anak aku makin bulat." Heran Ririn meminta suaminya memperhatikan sang menantu
"Bagus dong kalau badannya berisi, selama kita di sini 'kan kerjaan anak mantu kesayangan Mama itu cuma tahunya makan dan tidur, selebihnya palingan nempel mulu sama putra Mama." Balas Adnan menganggap apa yang berubah dari menantunya adalah hal biasa terjadi
Memang benar, selama kedatangan mereka di Negara tempat dimana Shafia dan Abrisam berada. Hampir setiap hari yang di lakukan Shafia seperti yang di katakan sang Papa mertua, terlebih bobot berat badan gadis itu sedikit naik.
"Au ah, Papa ngga peka banget jadi suami." Kesal Ririn meninggalkan suaminya di ruang tamu
Drama tangis, peluk cium akhirnya berakhir setelah kedatangan Abrisam yang baru saja pulang dari kantor.
Adanya sedikit pekerjaan yang harus pria itu selesaikan membuat waktunya bersama keluarga hanya sedikit, padahal hari ini mereka akan kembali pulang.
Pesawat akan berangkat jam 7 malam, sang Nyonya Iriana sengaja memesan tiket malam untuk pulang ke negara asal.
Semua yang ikut hanya menurut saja tanpa ada yang protes dengan keputusan sang Nyonya besar.
Waktu makan siang telah tiba, semua orang sudah duduk tenang di kursi masing-masing. Tetapi, tidak dengan si tampan yang merengek pada Bibi di bagian dapur.
Entah apa yang pria itu lakukan, bukannya ikut makan siang bersama keluarganya di meja makan. Abrisam malah mengganggu sang Bibi yang sibuk di dapur.
"Itu Abrisam ngapain? Kok kayak dengar Bibi ngomel-ngomel." Tanya Ririn keheranan
"Ngga tahu. Kan, dari tadi kita sudah duduk di sini." Jawab Aina yang ikut di benarkan oleh suami-suami mereka
Berbeda dengan Shafia yang sudah lebih dulu memakan buah apel tanpa menyentuh makan siang, gadis itu langsung kenyang melihat begitu banyaknya hidangan yang tersaji di atas meja.
__ADS_1
Prang
Suara pecahan terdengar dari arah dapur dimana Abrisam dan sang Bibi berada, raut wajah panik langsung tergambar jelas di wajah cantik Shafia.
"Itu kenapa?" Tanya Shafia kaget
"Hubby."
Tanpa menunggu lama Shafia berlari menuju dapur demi melihat keadaan suaminya.
Samar-samar Shafia dapat mendengar perdebatan kecil antara Bibi dan suaminya, tidak tahu apa yang mereka ributkan.
"Aden lama-lama buat Bibi kesal ya. Kan, tadi sudah Bibi bilang jangan sentuh piring di atas meja. Kenapa ngeyel sih kalau di bilangin, jadinya jatuh semuanya." Omel Bibi sudah sangat lelah
"Kan, tadi aku mau Bibi buatkan sop ayam tapi harus ada asam-asamnya juga. Kenapa Bibi malah bikinnya pedas. Gimana aku bisa makan kalau Bibi sengaja taruh cabenya kebanyakan." Selak Abrisam tidak kalah ikut protes hanya karena sebuah makanan
"Itu Bibi bikin yang pedas bukan untuk Aden, tapi untuk semua orang yang ada di meja makan. Kan, tadi Bibi kasih tahu Aden untuk sabar nunggu yang di panci matang dulu, terus yang salah siapa?" Bela Bibi tidak terima di salahkan
Tidak ada yang mau mengalah di antara keduanya, sebab Abrisam tetap keukeh sang Bibi lah yang salah bukan dirinya.
Shafia yang asik menonton dari arah jauh, hanya bisa mengehela napas pelan. Namun melihat perdebatan suaminya dengan Bibi barusan justru malah membuat gadis itu senang bukan main.
Aneh tapi nyata.
Ririn dan Aina sibuk merapikan barang-barang mereka yang akan di bawa pulang, kemarin sang Nyonya besar mengizinkan dua wanita itu keluar shoping dan senangnya mereka tidak bisa di gambarkan.
Lain hal Ririn dan Aina yang sibuk mengemas barang, lain juga apa yang di lakukan oleh Adnan dan Arqa.
Dua pria tampan dengan hobi yang sama itu, memilih bersantai sambil bermain catur di halaman samping rumah.
Suasana sekitar yang sejuk dan menenangkan sudah menjadi tempat persembunyian mereka bila para wanita sudah bergosip.
"Pasti mereka sedang sibuk mengemasi barang belanjaan yang sangat banyak." Uacap Adnan menebak
"Asal tidak mengganggu ketenangan kita sudah cukup." Sahut Arqa sibuk mengatur susunan batu catur
Mereka bermain sampai satu jam lamanya, tanpa peduli kekacauan yang terjadi di dalam rumah.
Semua wanita yang ada dalam rumah di buat panik dengan tingkah Abrisam, semua barang yang ada di dapur berhamburan di lantai.
"Ya ampun Hubby, apa yang kamu lakukan?" Jerit Shafia begitu syok melihat semua wajan dan peralatan memasak berhamburan di mana-mana.
__ADS_1
Di sudut dapur ada Bibi yang diam menyaksikan kelakuan aneh sang majikan, wanita itu seakan tidak peduli dengan apa yang telah terjadi sekarang.
"Bibi, kenapa malah di biarin sih? Kalau kayak gini kan, yang pusing Bibi juga." Kesal Shafia mulai menarik paksa lengan suaminya agar menjauh dari dapur
"By, ngeselin bangat tahu ngga hari ini. Tadi siang perkara sop ayam, lalu sekarang apa lagi? Hubby jangan kayak anak kecil dong, aku malu." Lanjut Shafia kini mulai berderai air mata
Rasa kesal dan marah bercampur jadi satu, ingin rasanya Shafia berteriak saking lelahnya. Entah kenapa gadis itu merasakan ada yang aneh dengan kelakuan suaminya hari ini, belum juga hilang rasa sedihnya karena akan di tinggal pulang.
Sekarang malah suaminya yang berulah dan Shafia pun tidak tahu apa yang membuat sang suami seperti itu.
"Hubby, tadi ke dapur sebenarnya mau ngapain?" Tanya pelan Shafia dengan suara di buat selembut mungkin
"Tanya Bibi tuh, aku cuma minta Bibi buatin rujak malah balik ngomel-ngomel tidak jelas. Kan kesal aku nya, sayang." Adu Abrisam menceritakan kejadian di dapur tadi
"Memangnya Bibi jawab apa?" Tanya Shafia penasaran
"Masa Bibi bilang kalau mau rujak semua buahnya beli sendiri di pasar, mana aku mau pergi kesana." Jawab Abrisam sedikit merasa jijik
"Lah kan, emang harus beli semua dulu buahnya. Kalau Hubby mau makan buah yang lain, adanya di pasar. Wajar dong kalau Bibi jawab kayak gitu ke Hubby," ralat Shafia membenarkan perkataan sang Bibi.
"Terus aku harus pergi ke pasar gitu?" Tanya Abrisam hanya di balas anggukan kepala istrinya
"No sayang, itu tidak akan pernah aku lakukan." Tolak keras Abrisam
"Oh, jadi tadi Hubby berantakin semua pekerjaan Bibi di dapur cuma gara-gara rujak doang. Terus ngga mau pergi beli buahnya di pasar, iya benar?" Geram Shafia menatap tajam kearah suaminya
"Aku maunya cuma itu sayang, tapi masa iya harus aku juga yang beli ke pasar." Bela Abrisam mulai was-was takut si cantik kesayangannya mengamuk
Melihat raut wajah masam Shafia dapat di pastikan bagaimana nasib Abrisam selanjutnya, sang istri tiba-tiba saja menarik lengannya berjalan cepat sampai keluar rumah.
Pertanyaan semua orang yang ada di ruang tengah tidak di pedulikan Shafia, yang ada dalam pikirannya sekarang menghukum Abrisam.
"Kita mau kemana, Sha?" Tanya Abrisam khawatir, sejak tadi perasaannya mulai tidak enak.
Langkah kaki keduanya berhenti tepat di depan mobil, Shafia masuk lebih dulu di ikuti Abrisam kemudian duduk di sampingnya.
"Mau kemana Non?" Tanya Pak Sopir
"Jalan saja Paman, nanti kalau sudah di depan gang ujung jalan kita belok kanan." Jawab Shafia tegas
Abrisam yang bingung hanya duduk diam tanpa berani buka suara, kini mobil sudah keluar dari halaman rumah menuju jalan raya.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃