
Malam semakin larut tapi Shafia belum juga merasakan kantuk, padahal besok dia harus kerja.
Di lihatnya jam yang berada di dinding kamar.
"Sudah jam 11 lewat tengah malam tapi aku ngga bisa tidur juga." Gumamnya masih berdiam diri di ruang tamu
Begitu banyak yang Shafia pikirkan, mulai dari masalah Kuliah, orang tuanya, keluarga suaminya dan masih banyak lagi.
Rasa kantuk mulai Shafia rasakan setelah cukup lama mencoba berdamai dengan hati dan pikirannya, di rasa mulai tenang baru Shafia bangkit dari duduk menuju kamar.
*C*eklek.
Pintu kamar di buka dengan pelan oleh Shafia, takut jika nantinya pria itu bangun mendengar suara pintu yang berbunyi.
Shafia melangkah pelan munuju tempat tidur, ini kali pertama selama menikah mereka tidur di ranjang yang sama.
"Ngga bakalan bangun kan? Ya kali aku mau tidur seranjang, untuk sekarang aku ngalah dulu. Bisa bahaya kalau Ayah dan Ibu tahu yang sebenarnya." Gumamnya sudah duduk di sisi kasur
Gadis itu ikut berbaring di samping Abrisam, beruntung posisi suaminya tidur membelakanginya. Rasa kantuk yang begitu kuat membuatnya akhirnya tidur juga.
.
.
Pagi tiba.
Tampak di dalam kamar masih begitu nyaman sepasang suami istri bersembunyi di balik selimut.
Mereka tidak peduli jika kini matahari sudah mulai menyinari bumi, pantulan cahayanya bahkan sudah masuk ke dalam kamar melalui sela-sela jendela.
Lima menit kemudian Shafia mulai menggeliat kecil, rupanya gadis itu terganggu karena wajahnya terkena paparan cahaya matahari yang langsung menggelitik memaksanya agar segera bangun.
Kelopak matanya perlahan terbuka.
"Astagfirullah, aku kesiangan." Kaget Shafia ingin bangkit dari tempat tidur namun rasanya ada yang mengganjal pergerakan tubuhnya
DEG
"Apa yang terjadi?"
Betapa terkejutnya gadis itu kala tahu saat ini tubuhnya telah di peluk erat oleh Abrisam, posisinya yang setengah terlentang membuat Shafia sedikit kesulitan.
Bagaimana dia bangun kalau sedikit saja bergerak sudah pasti akan membangunkan suaminya.
Perlahan gadis itu menyingkirkan lengan Abrisam dari atas perutnya, berharap semoga pria itu tidak ikut terbangun.
Di rasa aman Shafia bergerak pelan turun dari ranjang langsung menuju kamar mandi.
"Gila, kenapa bisa aku kesiangan sih." Rutuknya berada dalam kamar mandi
__ADS_1
Hampir sepuluh menit lamanya Shafia baru keluar kamar mandi lengkap dengan pakaian kerjanya.
Saat membuka pintu Shafia menoleh ke arah tempat tidur, rupanya Abrisam sudah bangun dengan posisi duduk bersandar di kepala ranjang.
Abrisam yang mendengar suaru pintu di buka sontak menoleh, di lihatnya Shafia yang keluar dari balik pintu.
"Kenapa tidak membangunkan ku?" Tanyanya dengan suara serak khas orang bangun tidur
"Ngga enak bangunin kamu, takut nanti malah kebablasan." Jawab Shafia sedikit menyindir ke arah suaminya
"Cih, memang kenapa? Kan sah-sah ajah kalau aku nyentuh istri sendiri, ngga ada yang melarang."
Shafia tidak menggubris ucapan suaminya tersebut, dia lebih memilih duduk di depan meja rias.
"Lebih baik kamu pergi mandi sana! Aku sudah menyiapkan airnya."
Abrisam tidak menjawab, ia langsung saja masuk ke dalam kamar mandi.
Lima belas menit berlalu, pria itu keluar kamar lengkap dengan pakaian kerjanya. Ia ikut turun ke bawah menyusul Shafia yang sudah lebih dulu berada di ruang makan.
Sarapan pagi berlangsung dengan sangat tenang.
"Nanti pulang aku jemput," ucap Abrisam setelah mobil sampai di depan Restaurant.
"Hmm, jika kamu tidak sibuk siang nanti aku akan ke kantor bawa makan siang." Jawab Shafia selesai mencium tangan suaminya begitu juga sebaliknya
Hal baru yang akan selalu mereka lakukan, Abrisam hanya mengangguk mendengar ucapannya.
"Dari tadi, Zoo?" Tanya Shafia sembari menaruh tasnya di atas meja
"Lumayan udah sepuluh menit yang lalu, ayo keluar keburu nantinya rame ngga bisa santai lagi kita." Jawab Zoya lalu mengajak gadis itu keluar menuju tempat kasir
.
.
#Di Kantor
Saat ini, Abrisam tengah mengadakan rapat dadakan guna membahas beberapa hal penting yang harus segera di kerjakan.
Ruangan yang sedikit mencekam dan aura dingin memenuhi ruang rapat, rupanya Abrisam marah akibat salah satu proyek yang belum lama berjalan mengalami masalah.
"Aku rasa kalian tidak perlu lagi bekerja jika masalah sekecil ini saja harus aku lagi yang ikut turun tangan." Ucap pria itu dingin
"Bukankah beberapa hari yang lalu aku meminta cepat di selesaikan, kenapa masih belum kelar juga?"
Pria itu tidak habis pikir bagaimana bisa hotel yang rencananya bulan depan akan segera di resmikan nyatanya harus tertunda hanya karna kecerobohan pihak pembangunan.
Abrisam langsung menyudahi rapat, rasa pusing dan sakit kepala membuatnya tidak bisa berfikir jernih.
__ADS_1
"Jika hotel itu gagal di buka bulan depan, kemungkinan besar ada yang sengaja menunda proses pembangunannya." Gumamnya merasa curiga
Abrisam memijit pelipisnya, belum juga selesai masalah satu kini harus timbul masalah baru. Yang Ia butuhkan saat ini hanya Shafia, tanpa gadis itu mungkin Abrisam akan kesulitan.
"Baru jam 11 siang, masih ada satu jam lagi sebelum makan siang. Apa gadis itu benar akan datang?" Ucapnya seraya melihat jam di pergelangan tangannya
.
.
Ramainya pengunjung yang datang silih berganti membuat Shafia dan sahabatnya sangat sibuk, mereka baru istirahat saat jam makan siang tiba.
"Kamu mau ke Kantor, suamimu?" Tanya Zoya tiba-tiba
"Iya. Aku udah janji mau bawain makan siang, ngga apa-apa kan aku tinggal sebentar?" Jawab Shafia terkekeh
"Yakin cuma sebentar?" Goda Zoya tertawa geli
"Ngga tahu." Gadis itu ikut tertawa
Tidak ada lagi percakapan di antara keduanya karena Shafia sudah berangkat menuju kantor milik suaminya.
Sekitar lima belas menit perjalanan, Shafia tiba di depan Perusahaan.
Dia langsung masuk begitu saja tanpa harus bertanya pada siapapun. Sebuah lift yang langsung membawanya menuju ruang kantor Abrisam hanya boleh di gunakan oleh orang-orang tertentu termasuk Shafia.
Pintu lift terbuka, Shafia menuju sebuah pintu yang terletak berdampingan dengan ruang sekertaris.
Ceklek.
Gadis itu langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.
"Assalamualaikum." Ucap Shafia memberi salam
"Waalaikumsalam." Jawab Abrisam sedikit terkejut melihat siapa yang datang.
"Lagi sibuk? Maaf kalau aku ganggu."
Abrisam menggeleng segera bangkit dari duduk menghampiri istrinya.
"Kangen." Rengeknya memeluk Shafia erat membuat yang di peluk sedikit kaget
"Lebay, udah ayo makan siang dulu. Aku harus balik lagi ke Restaurant saat jam makan siang selesai." Shafia menarik lengan Abrisam menuju sofa panjang
Pria itu mendesah kesal di katakan lebay oleh istrinya sendiri, padahal ia benar-benar merindukan istrinya.
Keduanya makan siang dengan lahap, Shafia begitu sabar melayani Abrisam yang makan saja harus begitu manjanya.
Pria itu tidak mau makan jika istrinya tidak menyuapinya, dan beruntung Shafia sangat penyabar meski kadang emosinya selalu di uji.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃