Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 79


__ADS_3

"Tapi kalau nantinya aku justru di kasih hamil lagi, Hubby terima kan?" Tanya Shafia masih berharap akan ada kehidupan dalam rahimnya meski butuh waktu yang tidak tahu kapan.


Penolakan Abrisam jelas membuat wanita itu merasa sedih dan sedikit kecewa, bukan karena dia tidak mau mendengarkan perkataan suaminya. Hanya saja bagi Shafia adanya si kecil yang cantik nan menggemaskan semakin menambah perasaan bahagianya, terutama dia bisa memiliki teman buat di ajak shoping dan lain sebagainya.


"Aku tuh ngga akan bosan lagi, kalau ada anak perempuan. Mau jalan-jalan atau shoping udah ada teman, jadi ngga perlu ajak Vivi atau Zoya."


Abrisam membuang nafas kasar seraya menarik rambutnya frustasi, mendengar keinginan besar Shafia memiliki anak perempuan.


"Bisa jangan bahas masalah ini dulu?" pintanya setengah memohon.


"Aku hanya belum siap, apalagi taruhannya adalah nyawa, Sha."


"Mau hamil lagi atau apapun itu, sementara jangan di bahas dulu ya! Setidaknya aku perlu waktu, ngga langsung ambil keputusan gitu ajah."


Shafia langsung terdiam, mungkin keinginannya terlalu mendadak. Padahal jelas masih ada si kembar yang membutuhkannya sekarang, tapi kenapa dia justru sudah membahas soal anak perempuan.


"Maaf," ucapnya lirih dengan wajah menunduk.


"Hmm," Abrisam kembali memeluk erat wanita itu tanpa banyak bicara.

__ADS_1


Ia paham bagaimana perasaan Shafia yang begitu menginginkan anak perempuan, tetapi rasanya belum waktunya bagi mereka untuk membahas hal itu.


Bukankah si kembar belum ada seminggu lahir ke dunia? Sangat tidak pantas menceritakan sesuatu yang belum pasti.


.


.


.


Kini Abrisam maupun Shafia tengah berada di salah satu Restaurant milil keluarga.


Jalan-jalan pagi maupun sore rutin Shafia lakukan, semua demi kesehatan fisiknya yang semula sempat menurun dan berakhir koma selama kurang lebih tiga hari.


Adapaun beberapa faktor yang sempat membuat wanita cantik itu drop, termasuk sulitnya tidur di malam hari atau siang hari.


Hal itu juga menjadi alasan bagi Abrisam, mengapa ia sampai melarang atau berjanji tidak akan membuat Shafia hamil.


Kesehatan dan keselamatan istrinya menjadi prioritas Abrisam sekaranng, memastikan apapun yang Shafia lakukan tidak luput dari pantauannya.

__ADS_1


Seperti sekarang, pria itu sengaja memesan beberapa menu makan siang yang jauh dari kata pedas. Bahkan untuk minum hanya air putih saja, mengingat Dokter melarang Shafia agar berhenti makan pedas.


Kalimat protes karena tidak terima keinginannya di tolak mentah-mentah suaminya pun, menjadi alasan Shafia tidak mau makan.


"Ngga ada rasa pedasnya, By." Rengek wanita cantik itu sembari menghempaskan garpu dan sendok asal ke atas piring


"Aku cuma minta sedikit, kenapa ngga boleh juga sih?"


Shafia benar-benar kesal, tidak peduli beberapa pasang mata sempat memperhatikan kelakuannya barusan.


"Ya sudah kalau ngga mau di makan, kasih ajah ke hewan berbulu yang duduk santai di sampingmu!" Ucap Abrisam pelan menunjuk kearah makhluk berbulu warna putih hitam dengan mata bulat tersebut


"Kasihan dari tadi cuma bisa lihat kamu marah-marah terus, ngga tahu kapan makannya."


Pria itu sengaja meminta salah satu pelayan Restaurant meletakkan seekor kucing berbadan gembul di samping tempat duduk Shafia.


Alasannya jelas sudah pasti, tidak menyukai istrinya kembali protes dan berakhir tidak makan apapun.


Shafia paling geli dengan hewan berbulu namun sangat imut dan menggemaskan tersebut, bahkan dia sampai berteriak minta tolong, berharap Abrisam mendengarkannya

__ADS_1


"Hubby, singkirkan kucingnya cepat!"


__ADS_2