
Semenjak kejadian beberapa hari lalu di perusahaan, sampai saat ini Shafia selalu dalam pengawasan ketat dari Abrisam.
Ia tahu betul siapa Chayra, apalagi sampai membuat wanita itu malu di depannya. Segala cara pasti akan di lakukan Chayra untuk membalas semua yang di perbuat Shafia.
Drtt drrtt drrt.
Dering ponsel di saku celana membuyarkan lamunan Abrisam.
"Hallo."
[Sayang, apa kalian sibuk hari ini?]
"Tidak Mah, aku dan Shafia hanya di rumah seharian."
[Oh, nanti sore jemput kami ya]
"Kalian datang kemari?"
[Iya sayang, semua orang sangat merindukan kalian berdua termasuk Mama dan Papa]
"Baiklah Mah, nanti aku beri tahu Shafia kalau kalian akan datang."
[Ok sayang, sudah dulu ya. Mama beres-beres dulu. Daah, sayang]
Tutt.
***
Shafia yang baru saja turun dari lantai atas langsung menghampiri Abrisam di ruang tamu.
"Telefon dari siapa, By?" Tanya Shafia
Belum sempat bertanya lagi, tubuh langsing Shafia sudah berada di atas pangkuan suaminya.
"Dari Mama." Jawab Abrisam singkat
"Mama bilang apa?" Tanya Shafia lagi
"Nanti sore di suruh jemput, katanya mereka mau datang kemari."
"Ayah dan Ibu?"
"Semuanya datang, sayang."
Abrisam tahu bila kini istri kesayangannya itu sangat merindukan kedua orang tuanya, beruntung semua datang berkunjung sehingga ia tidak harus pusing sendiri menghibur hati sang istri.
Hari ini bukan weekend, tapi Shafia dan Abrisam memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana. Waktu senggang di gunakan keduanya beres-beres rumah sambil di bantu sang Bibi yang sudah seperti Ibu sendiri, hanya tinggal bertiga di rumah yang lumayan besar namun seolah ada banyak orang yang berada di rumah tersebut.
__ADS_1
Hampir dua jam lamanya akhirnya semua pekerjaan beres-beres rumah selesai. Abrisam dan Shafia bergegas pergi ke kamar guna membersihkan diri, sedangkan Bibi mulai menyiapkan berbagai macam bahan makanan untuk makan malam nanti.
Lima belas menit kemudian pasangan suami istri yang belum juga di karunia anak itu, turun dari lantai atas segera menuju garasi mobil.
Shafia dan Abrisam membawa mobil masing-masing, mengingat jika hanya membawa satu mobil saja sudah pasti tidak akan muat menampung banyak orang.
Berkali-kali Abrisam menolak agar istrinya tidak membawa mobil sendiri, ia padahal sudah meminta sopir datang tepat waktu. Tetapi, sikap keras kepala Shafia sangat sulit di ajak kompromi.
"Kan, ada Paman yang bawa mobilnya, sayang." Kesal Abrisam tidak setuju
"Aku juga mau bawa mobil, By." Keukeh Shafia
"Ya sudah," sahut Abrisam singkat.
Hal itu membuat Shafia tersenyum senang.
Si cantik yang sudah masuk ke dalam mobil dan berada di balik kemudi itu, sampai tercengang melihat kelakuan suaminya.
Brakk
Abrisam menutup pintu bagian samping cukup keras, ia duduk tetap di depan bersama Shafia yang menyetir.
"Ngapain, By?" Tanya Shafia bingung
"Ngga liat aku lagi ngapain? Duduklah, masa iya jungkir balik." Jawab Abrisam malas
"Suka-suka aku mau duduk di mana ajah, udah nyalain ajah mobilnya! Jangan ganggu, aku mau tidur." Abrisam memilih tidur demi menghindari amukan istrinya
Melihat kelakuan suaminya yang masih saja suka posesif, Shafia benar-benar di buat pusing tujuh keliling.
Dari pada meladeni suaminya lebih baik Shafia menjalankan mobil sebelum terlambat menuju Bandara.
Selama perjalanan menuju Bandara, mobil yang di bawa Shafia melesat dengan kecepatan sedang. Dia sadar dengan siapa sekarang di dalam mobil, jika di lajukan maka hukuman lah yang akan Shafia terima.
Tepat lima menit setelah Abrisam dan Shafia tiba di Bandara, tidak lama pesawat yang membawa semua anggota keluarga mereka tiba.
Mata Shafia tidak henti-hentinya mencari dua sosok yang begitu di rindukannya, setelah yang di cari muncul dengan cepat gadis itu berlari kearah pasangan suami istri yang selalu kompak dan romantis setiap waktu.
"Ayah, Ibu. Shafia kangen." Teriak Shafia berhambur ke pelukan Arqa dan Aina
Rasa rindu yang teramat dalam tidak mampu di bendung Shafia.
Selama kuliah di negara tempat suaminya bekerja. Ini pertama kalinya gadis itu bertemu dengan Arqa dan Aina, tentu menahan rasa rindu itu sangat sulit baginya.
"Maaf kalau Ayah dan Ibu baru bisa datang sekarang." Ucap Arqa masih mendekap hangat putrinya
"Ibu kira anak ibu satu-satunya ini sudah tidak rindu lagi." Goda Aina sembari mengganggu putrinya dalam pelukan Arqa
__ADS_1
"Ibu nakal ih, ayah lihat istrimu!" Adu Shafia tidak terima sang Ibu ingin melepaskannya dari pelukan Ayahnya
"Itu suami Ibu, jangan suka peluk-peluk." Sahut Aina begitu senang menjahili putrinya
Shafia yang mulai kesal akhirnya menangis, kebiasaan baru sang Ibu bila bertemu dengannya adalah suka mengganggu dan menggodanya.
"Sayang berhentilah! Kasihan." Tegur Arqa meminta istrinya agar berhenti
Aina menuruti perkataan suaminya dan memilih masuk mobil bersama keluarga Abrisam, meninggalkan pasangan Ayah dan anak itu di luar mobil.
Setelah di rayu akhirnya Shafia mulai tenang, Arqa memberikan putrinya pada Abrisam. Baginya sang menantu lebih tahu bagaimana membujuk putri satu-satunya itu.
Benar saja, Shafia yang terbilang semakin manja pada Abrisam nyatanya mulai mengadukan perbuatan ibunya yang suka menjahilinya.
"Aku di tindas Ibu," adu Shafia masih menangis.
Padahal gadis itu sangat merindukan orang tuanya, tetapi yang membuat Shafia kesal adalah kelakuan Ibunya.
Dia mudah tersulut kesal bila di ganggu apalagi sampai di jahili, sedangkan selama ini Abrisam tidak pernah absen mengganggunya, terus salahnya dimana coba?
Apa di dunia Shafia hanya suaminya yang boleh melakukan hal yang paling tidak di sukainya? Mungkin saja begitu.
.
.
Saat ini semua keluarga sudah berada di rumah Abrisam dan Shafia, beberapa minuman dan cemilan sudah tersedia di atas meja.
Mereka mulai mengobrol hal-hal yang di lalui pasangan suami istri itu selama di negara orang. Tidak ada bosan-bosannya Shafia menceritakan apa saja yang terjadi selama jauh dari keluarga.
Tepat usai makan malam berakhir, semuanya meminta izin untuk istirahat lebih dulu. Rasa lelah karena perjalanan jauh membuat para pasangan suami istri tersebut ingin cepat-cepat bertemu dengan tempat tidur.
"Semuanya sudah tidur, By?" Tanya Shafia melihat suaminya baru masuk ke dalam kamar
"Kayaknya sayang, maklum tenaga tidak sekuat dulu lagi." Jawab Abrisam dengan kekehan
Shafia memang tidak lagi keluar kamar sejak sore hari, rasa tidak enak badan yang tiba-tiba saja datang membuatnya memilih masuk kamar lebih dulu.
Beruntung Arqa dan Aina juga keluarga Abrisam tidak banyak bertanya, pasalnya wajah Shafia sedikit pucat.
"Kalau masih belum enakan juga, besok ke rumah sakit ya." Rayu Abrisam pada istrinya
"Kalau aku sampai kenapa-kenapa gimana? Aku takut sama rumah sakit, By." Jujur Shafia sedikit takut
"Kan cuma periksa ajah, sayang. Tenang mereka ngga akan apa-apain kamu, OK." Jelas Abrisam menenangkan istrinya
Malam yang semakin larut membuat Abrisam terlelap cepat setelah Shafia tertidur lebih dulu, dengan posisi Abrisam memeluk istrinya dari belakang.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃