
Abrisam masih tetap diam kala Shafia bertanya padanya, ia di landa penyakit bingung dan kaku jika sudah berhadapan dengan gadis itu. Bukan karna Abrisam takut, melainkan hanya karna cuma Shafia saja gadis satu-satunya yang selalu mengacaukan hati dan pikirannya.
"Lihatlah penyakit bingung mu itu mulai kumat lagi." Ejek Shafia melihat suaminya masih diam.
"Apa kau jadi bisu tiba-tiba, sampai lupa bagaimana caranya berbicara?"
Shafia masih setia berdiri lumayan jauh dengan Abrisam, di rasa tidak ada pergerakan sama sekali mau tidak mau gadis itu pun mulai mendekat sampai tepat berdiri saling berhadapan dengan Abrisam.
Jarak yang hanya ada beberapa senti itu tidak lagi Shafia pedulikan, yang dia inginkan hanya sebuah jawaban.
Abrisam yang sempat diam kini mulai sadar dan mau bicara.
"Aku--, aku. Shafia--, aku." Jawabnya begitu kaku
Abrisam lupa bagaimana caranya untuk bicara.
"Aku, aku apa. Hmm?" Tanya Shafia sedikit mengangkat wajahnya sampai berada tepat di depan wajah Abrisam.
"Kau ingin bilang apa tadi?" Ulangnya menatap manik mata suaminya tanpa berkedip
Posisinya yang sedikit berjinjit tentu sampai harus berpegangan di lengan Abrisam agar tidak jatuh, dia sangat senang menjahili suamianya tersebut.
Pria tampan yang berubah polos dan lugu ketika di hadapannya, tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi Shafia yang suka menguji Abrisam.
Bukk
Dengan gerakan cepat, Shafia mendorong tubuh Abrisam masuk kedalam mobil yang sebelumnya pintunya sudah di buka.
Gadis itu begitu malu ketika tidak sengaja matanya melihat ke arah Restaurant, ternyata begitu banyak orang memandangi mereka.
Kau benar-benar sudah kehilangan akal Shafia. Jeritnya dalam hati
"Apa yang kau tunggu Asisten Hanif? Cepat masuk mobil!" Titah Shafia sangat malu jadi bahan tontonan para pengunjung termasuk Zoya sahabatnya.
"Shafia mau kemana?" Tanya Zoya masih sempat menghampiri sahabatnya di mobil
Gadis itu hanya menyengir tanpa dosa.
"Aku balik duluan boleh ya?" Pinta Shafia memohon
Zoya menghela nafas pelan.
"Ya udah Lo balik sana, bawa tuh laki kamu jangan sampai bikin rusuh di tempat aku." Jawab Zoya pura-pura marah
"Tenang Zoo, sampai rumah nih laki bakal aku kasih hukuman." Cibir Shafia pura-pura marah.
"Entar pas udah nyampe bakal aku bikin tiang jemuran belakang rumah."
Zoya hanya geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Ok. Kabari aku ya kalau udah nyampe rumah." Pesannya sebelum mobil di nyalakan
"Sipp. Entar aku pasti hubungi kamu."
"Aku balik ya, Zo. Sampai ketemu besok. Bye Baby--"
Shafia melambaikan tangan pada sahabatnya. Di rasa sudah menjauh dari Restaurant, baru lah wajahnya kembali lagi seperti semula.
Gadis itu sangat pandai mengubah ekspresi wajahnya, tatapan tajam matanya mengarah ke samping kiri. Di mana sejak tadi Abrisam masih setia duduk dengan wajah yang menunduk. Bagai seorang anak kecil yang tidak di belikan permen oleh ibunya.
Ingin rasnaya, Shafia tertawa ketika melihat raut wajah Abrisam yang menurutnya sangat menggemaskan jika ketahuan melakukan kesalahan.
Untuk saat ini Shafia akan menahannya, nanti sudah sampai di rumah baru dia beraksi.
*L*ihat saja nanti apa yang akan aku lakukan padamu. Dasar pria hidung belang. Bathin Shafia geram
Mobil sudah terparkir di garasi, Shafia yang lebih dulu keluar mobil segera masuk kedalam rumah. Gelagatnya menyimpan tanda tanya besar di benak Abrisam.
"Hanif. Kau tidak ikut menginap?" Tanyanya saat melihat sang Asisten justru kembali masuk ke salah satu mobil yang terparkir di garasi
"Tidak Bos. Aku akan kembali ke Apartement saja." Sahut Hanif menolak, dan jawabannya tentu tidak di terima Abrisam.
"Menginaplah di sini, lagi pula bukankah biasanya kau juga selalu tidur di sini."
"Kau jangan mempersulit diriku, Bos. Masih untung Nyonya Muda tidak melakukan hal yang sama dengan waktu itu, sebaiknya Bos masuk kedalam rumah temui Nyonya Muda."
"Masuk ke dalam Bos! Jangan tunggu Nyonya Muda meneriaki mu lagi."
Hanif benar-benar pergi, tinggal Abrisam yang entah harus masuk atau bagaimana yang pasti ia pun bingung dan sedikit gugup.
"Gadis itu ngga mungkin berbuat yang macam-macam kan?" Gumamnya pelan
.
.
"Abrisam, sampai kapan kau akan berdiam di luar?"
Teriakan Shafia membuat kaki panjang Abrisam dengan cepat melangkah masuk ke dalam rumah.
Saat sampai di ruang tamu yang berhadapan langsung dengan pintu masuk, mata pria itu sontak mengarah pada Shafia yang rupanya sudah selesai mandi.
"Apa yang membuat mu lama berdiam di luar?" Tanya gadis itu
"Kau takut jika aku akan berbuat nekat?" Tebak Shafia menguji Abrisam
Pria itu menggelengkan kepalanya.
"Mana ada. Aku hanya berbicara sebentar dengan Hanif sebelum ia pergi." Elaknya tidak jujur
__ADS_1
"Jadi Asisten mu ternyata memilih pergi dari pada menemani mu di sini?" Sindir Shafia menatap tajam ke arah suaminya tersebut.
"Akhirnya ada saat di mana kau sendiri tanpa ada yang membela mu." Cibirnya dengan Senyum mengejek
Sebenarnya Shafia sudah tahu cerita mengenai suaminya.
Bukannya tidak percaya, tetapi Shafia ingin agar Abrisam sendiri lah yang menceritakan langsung padanya.
Betapa khawatirnya Shafia, entah apa yang dia rasakan saat ini. Apa harus marah? Tapi jauh di dasar hati bohong jika dirinya tidak merindukan pria itu.
"Kenapa kau masih berdiri di situ? Pergi sana ke kamar bersihkan dirimu."
"Apa aku boleh pergi? Kau tidak akan marah dulu?" Tanya Abrisam begitu polos
"Uhuk .. uhuk." Shafia tersedak air.
"Jika aku bilang pergi bersihkan dirimu ya sana pergi, kenapa kau malah balik bertanya sih."
Dia kesal mendengar pertanyaan polos Abrisam
"Apa yang kau tunggu?" Gemas Shafia tidak tahan lagi ingin menggigit pipi pria itu
"Pergilah mandi, jika sudah selesai langsung turun ke bawah kita makan malam."
Pria itu hanya menurut saja, ia segera menaiki tangga menuju kamar di lantai atas.
Selepas kepergian Abrisam, baru lah Shafia pergi ke dapur guna menyiapkan makan malam dengan bantuan beberapa pelayan.
Lima belas menit berlalu. Abrisam turun dari lantai atas langsung menuju meja makan.
Di sana sudah ada Shafia tengah menyiapkan makanan.
"Duduklah! Kau ingin makan apa?" Tanya gadis itu
"Nasi dengan sayur saja." Jawab Abrisam singkat
"Kau tidak ingin makan ikan?" Tanya Shafia lagi yang hanya di balas gelengan kepala suaminya tersebut
"Tidak. Aku hanya ingin makan itu saja," tolaknya tidak mau.
Shafia tidak kehabisan akal.
"Kau harus tetap makan yang lain, jangan hanya sayur saja." Omelnya tidak suka
"Aku yang akan menyuapi mu." Tegasnya masih keukeh meminta suaminya agar makan dengan lauk yang susah payah di buatnya
Beruntung Abrisam mau menurut saja, membantah pun tidak ada gunanya.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1