Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 16 ~ Flasback


__ADS_3

Hampir satu jam lamanya Abrisam terus menatap foto Shafia di ponsel milik Hanif.


Pria itu begitu merindukan istrinya. Sepuluh hari lamanya mereka tidak bertemu membuat pikiran dan hatinya menjadi sangat kacau, Shafia adalah gadis yang baik. Meski kadang bermulut pedas, tapi tidak membuat Abrisam marah pada istrinya.


Memang cinta datang begitu tiba-tiba. Pertemuannya dengan Shafia yang terjadi tanpa di sengaja membuat perasaan itu muncul begitu saja.


.


.


#Flasback


♡ New York


Seorang pria berjalan tergesa-gesa menyusuri koridor kampus yang lumayan ramai mahasiswa berlalu lalang.


Langkah kakinya sangat cepat seakan mengejar sesuatu. Tepat di samping kanannya ada seorang Asisten pria yang begitu setia menemaninya kemana pun ia pergi.


"Bos, apa sebaiknya kita kita tunda dulu pertemuan dengan Tuan Mark?" tanya Hanif memastikan.


"Tidak perlu Hanif, masih ada sekitar satu jam lebih sebelum pesawat lepas landas. Kau pastikan saja semua yang kita butuhkan sudah tersedia semuanya." Jawab Abrisam


Hanif mengangguk paham kemudian melangkah pergi mengikuti Abrisam menuju ruangan Rektor.


Tok tok tok


"Masuk!"


Abrisam yang ternyata sudah berada di depen ruangan Rektor langsung di persilahkan untuk masuk.


Ceklek


Pintu ruangan terbuka dengan lebar.


"Selamat siang, Tuan Mark." Sapa Hanif namun tidak dengan Abrisam


"Siang Asisten Hanif dan Pak Presdir." Sahut Mark membalas sapaan.


"Silahkan Duduk!"


Hanif dan Abrisam langsung duduk di sofa yang di sediakan untuk tamu.


"Ada apa gerangan tiba-tiba Pak Presdir datang berkunjung kemari?" tanya Mark memulai percakapan.


"Begini Tuan Mark. Sesuai dengan kesepakatan yang tertulis dalam kontrak kerja sama perusahaan kita dengan Kampus ini, Tuan Abrisam ingin jika kedepannya beliau lah yang menjadi penanggung jawab Universitas Cornell." Jelas Hanif


"Maksudnya Bagaimana Asisten Hanif? Bukankah Pak Presdir hanya memberikan kontribusi dan juga akan menunjang para mahasiswa dan mahasiswi yang kurang mampu?" Tanya Mark lagi


"Memang benar yang anda katakan Tuan Mark, tetapi Tuan Abrisam mau jika nanti kedepannya semua masalah yang ada di Kampus ini harus ada dalam pengawasan beliau." Ucap Hanif kembali menjelaskan.


"Anda tidak perlu khawatir Tuan Mark, jika ada masalah pihak dari kami yang akan bertanggung jawab." Lanjut Hanif meyakinkan


Mark menimbang ucapan pria itu barusan. Ada benarnya bila nantinya Kampus ini berada di bawah jangkauan Abrisam. Mengingat Selama ini Abrisam tidak pernah sekalipun mengecewakan pihak Kampus.

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu saya setuju dengan ucapan anda Asisten Hanif." Ucap Mark setuju


Hanif bernafas lega akhirnya permintaan mereka di terima.


"Terima kasih banyak Tuan mark, kalau begitu Kami pamit undur diri."


"Sama-sama, baiklah mari saya antar ke depan"


Mark selaku pemimpin tertinggi di Kampus itu mengantar Abrisam dan Hanif sampai di depan pintu.


"Hati-hati di jalan Pak Presdir. Jika ada keluhan anda bisa langsung menghubungi saya tanpa perlu repot-repot datang kemari" Ucap Mark sebelum mereka pergi


"Tenang saja Tuan Mark, kalau begitu kami permisi dulu. Selamat siang."


Abrisam dan Hanif berlalu pergi meninggalkan area kampus.


Halaman yang cukup luas membuat Abrisam sedikit kesal karena harus berjalan kaki sampai di parkiran.


"Berapa waktu yang tersisa Hanif?"


"Masih ada 30 menit, Bos."


Abrisam tidak lagi bertanya, ia terus saja melangkahkan kakinya tanpa melihat ke arah depan yang ternyata ada orang lain. Hingga--


*Buk**k* ...


Pria itu menabrak seseorang.


"Hey. Apa matamu tidak di gunakan? Jalan sebesar ini, tapi kau masih bisa menabrak orang."


"Astaga ... lutut ku sakit sekali, dasar pria aneh. Punya mata ngga di pake."


Suara teriakan di barengi umpatan itu terdengar begitu keras sampai beberapa mahasiswa yang melihat ke arah mereka pun ikut berbisik.


"Apa kau buta?"


"Bisa-bisanya jalan ngga lihat-lihat."


Kesal seorang gadis berusaha berdiri di bantu dua sahabatnya


Abrisam tidak bergeming, ia hanya menatap intens wajah gadis yang sejak tadi memakinya.


"Hello, Paman. Kau dengar apa yang aku katakan?" Ulang Shafia melambaikan tangannya di depan wajah Abrisam.


"Kau harus tanggung jawab Paman. Lihatlah! Tangan dan kaki ku lecet karna ulah mu. Aku tidak mau tahu pokonya kau harus bertanggung jawab, jika tidak aku akan menuntut mu atas tindak kesengajaan."


Abrisam tersadar saat bahunya di tepuk sedikit keras oleh Hanif.


"Bos. Lihatlah gadis itu telah kau tabrak!" Ucap Hanif menunjuk ke arah Shafia.


"Aku bilang juga apa, Bos. Jangan main ponsel jika sedang jalan." kesalnya sembari mengingat waktu mereka tidak banyak tapi Abrisam malah bertemu masalah


"Hey--, hey. Kalian berdua lagi bisik-bisik apa? Jangan coba untuk kabur!" Potong Shafia.

__ADS_1


"Paman, kau tidak bisu kan? Ayo tanggung jawab."


Shafia terus saja mendesak Abrisam, tanpa peduli jika sekarang mereka tengah jadi bahan tontonan gratis.


Abrisam yang sadar pun ikut bicara.


"Gadis kecil, berapa biaya yang kau butuhkan? Aku akan memberikannya, kau tinggal berikan nomor rekening. Tapi jangan menghalangi ku sekarang. Aku harus segera pergi."


Shafia tidak mudah percaya.


"Ee, ngga bisa gitu dong, Paman. Kau sudah menabrak ku mana bisa main pergi ajah, ngga boleh pokoknya aku mau kau harus ikut ke rumah sakit." Tolaknya masih tetap keukeh pada keputusannya


"Paman jika kau berani kabur, maka akan aku pastikan kau jadi buronan polisi." Ancamnya lagi


Hanif tertawa geli melihat raut wajah bingung bercampur kesal Bos nya.


Ini pertama kalinya bagi Abrisam bertemu dengan wanita yang ternyata masih seorang gadis kecil.


"Bos. sepertinya kita akan ketinggalan pesawat."


Abrisam yang mendengarnya pun di buat frustasi, mengapa harus ada hari ini dalam hidupnya. Bertemu dengan seorang gadis kecil keras kepala bahkan melebihi keras kepalanya.


"Diam!" Teriaknya membuat Shafia yang sejak tadi terus mengoceh langsung terdiam.


"Maaf Nona, tolong mengertilah jangan berulah." Mohon Abrisam semakin frustasi


Di luar dugaan.


Shafia tiba-tiba saja menangis, membuat kedua sahabatnya bingung terutama Hanif.


Lalu, apa kabar dengan Abrisam?


Jangan tanya lagi bagaimana keadaan pria itu, sudah pasti sangat panik dan semakin di buat pusing.


Tuhan, apa salah ku sampai harus bertemu dengan gadis ini. Jerit Abrisam dalam hati


Bingung harus apa, akhirnya Abrisam pergi begitu saja tanpa peduli dengan tangisan Shafia yang entah benar adanya atau justru hanya di buat-buat demi mempersulit Abrisam.


Akan tetapi baru saja beberapa langkah ia berjalan, Abrisam harus berhenti kala mendengar teriakan Shafia yang entah itu hanya candaan atau justru nyata.


"Jika kau pergi begitu saja. Akan aku pastikan suatu saat nanti kau datang sendiri menemuiku dan memohon. Sampai saat itu tiba, kita akan lihat siapa yang lebih dulu kalah dalam permainan."


Sebuah Kalimat yang di ucapkan Shafia seperti menantang Abrisam.


Tetapi pria itu tidak peduli. Langkah kakinya semakin jauh meninggalkan Kampus tersebut.


#Flasback Off


🍃🍃🍃🍃🍃


Like & Komennya..


Yuk Ramaikan...😉

__ADS_1


__ADS_2