
Tepat satu minggu dengan hari ini, Shafia bekerja di Resturant milik sahabatnya.
Banyak cerita dan pengalaman yang dia ambil selama menjadi partner kerja sang sahabat.
"Gila, baru juga seminggu kamu kerja di sini, sudah banyak pengunjung yang jadi langganan kita sekarang. Padahal bulan lalu pendapatan yang kita dapat sangat rendah" Ucap sang sahabat dengan semangatnya
Zoya tidak menyangka sejak Shafia ikut bergabung membantunya mengurus beberapa usaha bisnis yang tidak hanya seputar Restaurant tersebut membuahkan hasil yang luar biasa.
"Alhamdulillah kalau akhirnya usaha yang kamu perjuangkan beberapa tahun ini makin berkembang pesat." Sahut Shafia ikut bahagia
"Dua minggu lagi aku sama vivi berangkat ke New York. Kamu udah ngomong sama Abrisam soal kuliah?"
Shafia menggeleng.
"Belum sama sekali, aku bingung dan bimbang mau lanjut kuliah atau gimana." Jawabnya menghela napas berat
Bayangan wajah Ayah dan Ibunya terus menghantui pikiran Shafia.
"Lebih baik kamu ngomong ke Abrisam, siapa tahu suami kamu bisa di ajak kerja sama. Lagi pula tuh laki punya perusahaan di sana kan? Malah itu katanya perusahaan yang sangat besar dan mencakup beberapa bidang iya kan?" Saran Zoya berharap suami dari sahabatnya akan setuju.
"Aku coba ngomong ke Abrisam nanti malam, bukan aku ngga mau ikut kalian. Hanya saja akhir-akhir perasaan aku ngga enak mulu kayak ada sesuatu yang terjadi tapi ngga tahu kalau itu apa." Jawab Shafia berkata jujur
"Kamu masih ingat kan, sama wanita yang waktu itu datang ke sini cuma buat ancam aku?"
"Emang tuh nene lampir ngapain?" Tanya Zoya penasaran
Shafia mulai menceritakan semuanya kepada gadis itu, bagaimana wanita tersebut masih saja mengusik dan mengganggu suaminya padahal di luar sana masih banyak pria baik dan tentu bukan suami orang, tetapi bukan Chayra namanya jika apa yang di inginkannya tidak terwujud.
Puas meluapkan isi hatinya, Shafia bersiap-siap untuk pulang. Lima menit yang lalu dia di beri kabar oleh Asisten suaminya yang mengatakan kalau nanti mereka akan menjemput gadis itu.
"Zoo. Aku percaya sama kamu, apa yang aku ceritain tadi jangan sampai orang lain tahu. Cuma kamu ajah yang aku kasih tahu."
"Bukannya aku ngga percaya sama Vivi, lebih baik sementara waktu aku bakal cari tahu dulu lebih detail masalah ini." Tutur Shafia meminta sang sahabat untuk menjaga rahasianya
"Ngga usah khawatir nih mulut bisa di jaga, kamu tenang ajah." Sahut Zoya tertawa
"Aku balik ya, kayaknya Abrisam udah di depan." Pamit Shafia pada sahabatnya tersebut
"Hati-hati di jalan."
Shafia bergegas keluar Restaurant menuju mobil yang terparkir tepat di depan pintu masuk, beruntung tidak ada pengunjung karena memang hari ini mereka cepat tutup.
__ADS_1
"Udah tutup?" Tanya Abrisam saat gadis itu sudah berada dalam mobil
"Iya, hari ini sengaja tutupnya di percepat salnya Zoya ada pertemuan keluarga." Jawab Shafia menjelaskan
Mobil di jalankam sedikit cepat oleh Hanif, suasana sore hari yang begitu ramai pengendara tentu akan menghambat waktu perjalanan mereka.
Abrisam sengaja menjemput Shafia tanpa kembali dulu ke rumah, ia akan membawa gadis itu menuju sebuah tempat.
Lima belas menit perjalanan, mobil tiba di sebuah gedung besar atau lebih tepatnya sebuah hotel bintang lima dengan fasilitas serba lengkap.
Salah satu aset yang Abrisam miliki namun tidak ada yang tahu selain ia dan Hanif.
"Kita ngapain datang kesini, Bri?" Tanya Shafia bingung saat mobil terparkir di lobi hotel khusus.
"Nanti juga kamu akan tahu saat tiba di dalam." Jawab Abrisam tanpa memberi tahu sang istri tujuan mereka datang kemari
Shafia hanya merenggut kesal seraya keluar dari mobil yang pintunya telah di buka oleh Abrisam.
Keduanya berjalan beriringan menuju sebuah lift yang langsung menuju sebuah lantai paling atas, tidak ada obrolan yang menemani selama berada dalam lift di karenakan Shafia masih di buat penasaran akan apa yang di lakukan Abrisam.
Tring
"Loh kok cuma ada satu pintu?" Tanya Shafia keheranan
Gadis itu menoleh kearah suaminya seakan meminta penjelasan mengapa mereka datang kemari.
"Kamu lagi ngga nyembunyiin sesuatu dari aku kan?" Tanyanya penuh selidik bahkan matanya sudah melotot sempurna
"Jangan macam-macam ya Bri! Kamu tahu aku paling benci sebuah kebohongan," Shafia masih menatap tajam bahkan kedua tangannya ikut mengepal.
Helaan napas terdengar keluar dari mulut Abrisam.
"Kamu kenapa sih akhir-akhir ini jadi sensitif?" Tanya Abrisam balik keheranan
"Bahkan untuk ngelakuin hal lebih ajah kita belum. Ngga mungkin tiba-tiba sudah ada isinya kan?" Protesnya tidak habis pikir
Sebenarnya maksud pria itu membawa Shafia ke tempat tersebut karena ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan gadis kesayangannya.
Hampir satu bulan pernikahan mereka, tetapi untuk sekedar jalan-jalan saja tidak pernah keduanya lakukan.
"Lalu ngapain kita kesini? Dan ini ruangan apa Bri?"
__ADS_1
"Kalau mau tahu harus masuk dulu, sayang." Jawab Abrisam gemas bahkan tangannya sudah mencubit lembut pipi kanan sang istri
Tanpa menunggu lama pria itu langsung membuka pintu menggunakan sidik jarinya.
Ceklek.
Shafia masuk setelah pintu sudah terbuka, pandangannya mengarah ke seisi ruangan yang begitu luas dan lengkap.
"Ini?"
Shafia tidak menyangka jika ruangan yang di lihatnya ternyata sebuah kamar tidur, bahkan begitu indah dan sangat nyaman.
"Kita akan menginap di sini sampai dua hari kedepan." Jelas Abrisam yang tahu akan maksud tatapan mata Shafia seolah meminta jawaban
"Hah, ngapain nginap di sini? Di rumah 'kan juga ada tempat tidur." Tanya gadis itu begitu polos sampai harus membuat Abrisam hanya bisa geleng-geleng kepala
Astaga, apa aku beneran menikahi gadis kecil yang masih sangat polos?
Tanya pria itu dalam hati, beginikah rasanya menikahi anak gadis yang usianya terpaut 7 tahun dengannya.
"Kamu itu benar-benar polos atau cuma di buat-buat sih?" Heran Abrisam pada Shafia
"Lah memangnya aku salah ngomong?" Tanya Shafia lagi yang memang otaknya tidak berpikir jauh seperti pria di depannya itu
Abrisam tidak menjawab pertanyaan istrinya, ia memilih masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri yang sudah sangat gerah dan lelah akibat seharian penuh berkutat dengan pekerjaan kantor.
Shafia yang di tinggalkan begitu saja semakin di buat bingung dan keheranan.
"Aneh, memang apa bedanya nginap di sini sama nginap di rumah. Kan sama ajah," gumamnya pelan kemudian duduk di sofa panjang dekat tempat tidur.
Shafia memainkan ponsel dengan membaca beberapa novel yang baru saja di upload, ada begitu banyak novel yang sangat gadis itu sukai.
Matanya terus fokus menatap layar ponsel, kadang terdengar suara tawa dan umpatan yang keluar dari mulut Shafia.
Saat tengah asik membaca tiap kalimat yang tertulis dalam episode novel yang berjudul *Menikah Karena Paksaan* yang ternyata jalan ceritanya hampir mirip membuat mata Shafia seakan ingin keluar dari tempatnya, ketika tanpa sengaja gadis itu membaca satu paragraf yang isinya.
"Eh, eh. Ini novel apaan sih, kenapa bisa ada adegan dewasa kaya gini coba yang di tulis?"
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1