Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 13 ~ Kegelisahan


__ADS_3

Tepat satu minggu sudah, Arqa dan Aina berada di salah satu Kota kecil yang terletak jauh dari pusat Kota. Mereka tinggal disana membawa Shafia yang hanya menurut pasrah tanpa ingin membantah.


Hari sudah malam, jam menunjukkan angka 08:00. Di ruang tamu yang tidak terlalu besar menjadi tempat berkumpul keluarga kecil itu.


"Ayah, Ibu. Kita pulang saja ya?" mohon Shafia pada pasangan suami istri tersebut.


Rasa bosan mulai gadis itu rasakan dan Aina yang mendengar permintaan putrinya tentu tidak setuju.


"Tidak Shafia! Jangan kamu berharap kita akan kembali secepat itu." Tolak Aina masih tetap pada keputusannya.


"Sayang jangan seperti ini, putri kita sudah menikah dengan putra dari keluarga Nyonya Qiemyl. Jangan kamu menambah masalah bagi putrimu sendiri." Tegur Arqa ikut buka suara


"Kamu jangan lupa kika kita sudah membuat kesepakatan dengan Nyonya Qiemyl," sambungnya mengingatkan sang istri.


Benar yang di katakan Arqa. Mau sekeras apapun Aina menolak, takdir putrinya sudah di gariskan.


Cukup lama Aina menimbang perkataan Arqa, masih ada rasa tidak terima dan amarah yang menyelimuti hatinya. Tapi jika dirinya tetap egois, Aina khawatir bagaimana dengan nasib putrinya.


"Baiklah. Besok kita pulang," ucap Aina yang pada akhirnya mengalah.


"Tapi Shafia tetap ikut kita, biarkan anak nakal itu yang datang sendiri menjemputnya."


Aina masih keukeh menjauhkan Shafia dari suaminya dan anggota keluarga Nyonya Qiemyl.


Tidak ada lagi perdebatan yang berlangsung lama, sebab Aina menyetujui kembali pulang ke rumah mereka. Tapi tidak mengizinkan Shafia, putrinya kembali ke kediaman Nyonya Qiemyl.


Gadis itu hanya bisa menurut dan masih jauh lebih baik seperti itu dari pada nantinya justru mereka tidak jadi pulang.


Malam semakin larut, jam si dinding sudah menunjukan angka sebelas lewat tengah malam, yang artinya waktu istirahat telah tiba.


"Apa pria dingin itu baik-baik saja?" gumam Shafia pelan sambil menatap langit-langit dalamn kamarnya.


Bohong jika gadis itu tidak merindukan suaminya.


Sekesal apapun dia pada suaminya, tetap akan merasa ada yang hilang dari hatinya saat pria itu jauh.


Pertemuan yang tanpa sengaja, awal kedekatan yang selalu berakhir pertengkaran, bahkan pernikahan yang terjadi begitu tiba-tiba, semua telah di gariskan oleh sang Pencipta.


Suara notifikasi dari aplikasi yang ada di ponsel Shafia berbunyi, ada sebuah pesan yang masuk entah dari siapa.


Meski sedikit ragu Shafia tetap membukanya, dia ingin tahu apa isi dari pesan tersebut.


###


Selamat malam Nyonya, maaf mengganggu. Saya Hanif, Asisten Tuan Abrisam.


Begitulah isi pesan yang di kirim oleh seseorang.


"Hanif? Asisten Abrisam?" ucap Shafia sedikit bingung.


Karena penasaran akhirnya gadis itu mencoba membalas pesan tersebut.

__ADS_1


@Shafia


Selamat malam, ada perlu apa selarut ini anda menghubungi saya?


Pesan baru kembali masuk.


@Asisten Hanif


Nyonya Shafia, bisakah anda kembali? Tuan Abrisam dalam keadaan tidak baik.


@Shafia


Memangnya apa yang terjadi dengan Abrisam?


@Asisten Hanif


Kondisinya sangat buruk, sudah satu minggu semenjak kepergian Nyonya, beliau tidak lagi masuk kantor.


@Shafia


Anda jangan berbohong, pria dingin itu bagaimana bisa bersikap bodoh seperti yang anda katakan?


.


.


Shafia tidak percaya akan kabar mengenai Abrisam, dia yang merasa itu berlebihan tentu tidak akan mudah di bohongi.


"Memangnya jika memberi tahu kondisinya, aku langsung percaya? Yang benar saja." Gerutunya


Sebuah pesan kembali masuk, dengan segera Shafia membukanya.



DEG


Pesan yang masuk memperlihatkan foto seseorang yang Shafia sudah pasti tahu itu siapa.


"Apa yang terjadi padanya?"


Shafia terkejut melihat sebuah foto yang barusan di kirim oleh Asisten Abrisam.


Mana mungkin hanya karena kepergian Shafia sampai membuat pria itu melakukan hal bodoh.


Mungkin bukan dia alasan kenapa Abrisam menjadi seperti itu.


"Siapa aku bagimu, sebenarnya?"


Pertanyaan yang terucap dari mulut Shafia memiliki tanda tanya yang besar.


Apa begitu tersiksanya pria itu ketika Shafia pergi tanpa memberi kabar sama sekali.

__ADS_1


Shafia berfikir jika kepergiannya mungkin tidak di hiraukan oleh Abrisam, apa artinya dia bagi suaminya.


Apa aku salah berbuat begini?


Cukup lama Shafia termenung, memikirkan tentang banyak hal.


Otaknya berputar mencari jalan keluar, namun sepertinya semua seakan terasa kosong.


Di satu sisi, Shafia masih belum bisa menerima kenyataan jika dirinya harus cepat-cepat menikah, tetapi di sisi lain dia juga anak gadis yang masih memiliki orang tua. Akan sangat berdosa bila Shafia menolak pernikahan tersebut.


Shafia membuang napas berat, entah kenapa rasa gelisah tiba-tiba saja menyelimuti hatinya.


"Kenapa perasaan ku ngga nnak? Semoga saja ia tidak berbuat macam-macam yang kan menyakiti dirinya." Gumam Shafia penuh harap


Bukannya dia tidak peduli pada pria yang telah resmi menjadi suaminya, pergi dengan orang tuanya tanpa memberi kabar sama sekali. Bukan lah kemauan Shafia, melainkan selama berada di Kota, Aina dengan tegas melarang putrinya memegang ponsel. Alasannya wanita itu tidak ingin jika Shafia menghubungi Abrisam, padahal sudah tahu anaknya memiliki suami.


Akan tetapi, hanya karena kecewa, Aina sampai harus ikut campur dalam masalah putrinya.


Sekali ibu bilang tidak boleh, tetap tidak boleh.


Satu kalimat dari Aina yang masih terngiang di telinga Shafia hingga sekarang.


Semoga besok ibu benar-benar menepati ucapannya. Bathin Shafia


.


.


Pagi telah tiba.


Kini Arqa, Aina dan Shafia bersiap untuk kembali ke rumah mereka yang berada di pusat Kota. Setelah semalam berbagai macam pertimbangan, bujuk rayu dan sebuah pengertian yang Arqa berikan, membuat istrinya langsung luluh meski tidak sepenuhnya.


Jangan harap kembalinya mereka sudah di setujui Aina, tentu salah besar. Wanita itu tetap saja banyak permintaan yang harus di iyakan Arqa dan Shafia putrinya.


"Pokoknya aku ngga mau tahu, tiba disana nanti, Shafia harus ikut kita pulang ke rumah!" keukeh Aina tidak ingin berdebat.


"Aku ingin lihat bagaimana cara keluarga itu memberi penjelasan pada kita." Lanjutnya masih menahan kesal


Arqa mengusap wajahnya kasar. Lebih baik ia di hadapkan dengan setumpuk berkas di Kantor, dari pada harus menghadapi sikap istrinya yang sering kali menguji tingkat kesabarannya.


Kapan ini berakhir. Bathinnya frustasi


Tepat jam 03:00 sore, mobil sedan warna hitam milik Arqa memasuki halaman rumah. Kedatangan mereka di sambut oleh satpam dan beberapa pelayan.


"Selamat sore Nyonya, Tuan dan Nona Shafia." Sapa seorang wanita tua berusia 40 tahun.


"Selamat sore, Bibi." Jawab mereka bersamaan


Shafia dan orang tuanya langsung masuk kedalam rumah di ikuti pelayan yang menyambut kedatangan mereka.


Arqa dan Aina naik ke lantai atas menuju kamar mereka. Rasa lelah menyetir selama 5 jam lamanya membuat Arqa ingin istirahat sebentar.

__ADS_1


Sementara Shafia juga sama, ikut masuk kedalam kamarnya.


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2