
Sudah lewat tengah malam, tetapi pasangan suami istri tersebut belum juga tertidur.
"Hubby." Panggil Shafia kala melihat tidak ada Abrisam di sampingnya
"Sayang." Pangginya lagi
"Iihh, kemana sih." Kesal gadis cantik itu mulai mencari keberadaan suaminya yang entah pergi kemana.
*C*eklek.
Shafia menoleh kearah pintu kamar yang di buka pelan, menampakkan sosok pria tampan yang sedang dia cari.
"Ciee, pasti nyariin aku ya?" Goda Abrisam berjalan pelan ke arah tempat tidur
"By, abis dari mana?" Tanya Shafia saat suaminya sudah ikut berbaring
"Keluar bentar cari angin." Jawabnya tanpa menoleh kearah sang istri yang menatap penuh tanya
Gadis itu merasa ada sesuatu yang tidak beres dari suaminya.
Shafia memilih bangun kemudian duduk menghadap Abrisam yang tidur dengan posisi menyamping.
"Kok ngga lihat kesini sih, By? Aku ngga suka di cuekin." Cetusnya sedikit kesal
"Hubby." Panggil Shafia pelan
"Bri ..." Sedikit meninggikan suara
"Abrisam ..." Mulai terpancing emosi
"Issh, sayang."
Abrisam terlonjak kaget mendengar teriakan istrinya yang berada tepat di samping telinga.
Sedetik kemudian dapat ia dengar suara isakan kecil keluar dari mulut gadis itu, dengan kedua tangan menutup wajah cantiknya.
Dari isakan kecil yang berubah menjadi tangisan membuat Abrisam keheranan.
"Sayang, hey. Kenapa menangis?"
Ia yang bingung memilih untuk meraih tubuh langsing Shafia agar masuk ke dalam dekapannya, entah telah berbuat salah apa sehingga istrinya tiba-tiba saja menangis.
"Sstt,, udah ya jangan nangis lagi." Rayunya berusaha meredakan tangisan Shafia
"Sayang, kalau kamu nangis aku nya jadi bingung."
"Maaf kalau aku buat salah, tapi SUMPAH aku ngga ngapa-ngapain sayang. Tadi itu aku keluar karna--, karna ..."
Ia tidak lagi meneruskan ucapannya, akan bahaya bila Abrisam berkata jujur.
Shafia yang mulai tenang langsung mendongakkan wajahnya yang masih ada sisa-sisa cairan bening membasahi pipi.
"Karena apa?" Tanyanya penasaran
Tidak ada respon dari Abrisam membuat Shafia makin curiga.
"Tuh kan,nudah belajar bohong lagi." Tuduhnya melihat kediaman suaminya
Mata Shafia kembali berkaca-kaca siap menumpahkan cairan bening yang entah kenapa malam ini dia begitu sensitif.
"Hubb, Hhmmpptt."
Abrisam langsung membungkam bibir ranum istrinya agar tidak lagi mengoceh tidak jelas.
Entah apa yang di rasakannya saat ini, Abrisam hanya ingin agar istrinya tidak memiliki pikiran negatif terhadapnya.
Ciuman yang berlangsung cukup lama itu membuat Shafia seakan tidak memiliki tenaga sama sekali, yang dia rasakan sekarang sangat aneh. Kepalanya sedikit pening kala tangan suaminya mulai menjalar kemana-mana mencari sesuatu yang membuatnya nyaman.
Shafia mengambil nafas setelah ciuman terlepas, dia yang kaget ketika tubuhnya sudah di peluk erat oleh Abrisam merasa aneh dan bingung.
"By ..."
"Ssstt, tidur ya. Ngga usah mikirin yang aneh-aneh." Potong Abrisam menahan istrinya agar tidak lagi bicara
"Tapi By."
"Sayang kalau aku meminta mu untuk tidur, itu artinya harus tidur." Potongnya lagi
Shafia yang mulai geram tidak tahan lagi untuk tidak berteriak.
"Gimana aku mau tidur coba, itu yang keras-keras di bawah sana apa?"
*DE*G
Pria tampan itu diam tidak bersuara mendengar pertanyaan istrinya perihal sesuatu yang sudah pasti ia tahu.
__ADS_1
Abrisam sendiri pun bingung mengapa malam ini tiba-tiba saja adik kecilnya tidak bisa di ajak kompromi, padahal sejak tadi sudah berusaha mengendalikannya, tetapi sepertinya malam ini takan berhasil.
Shafia yang penasaran tidak lagi bertanya melainkan tangannya ikut turun ke bagian di mana sesuatu yang mengganjal itu dia rasakan, matanya langsung membulat sempurna kala tahu apa yang barusan di sentuhnya.
"Itu--, itu apa?" Tanya Shafia gugup membuat Abrisam sontak membuka mata yang sebelumnya di tutup.
"Menurut mu?" Tanya Abrisam balik dengan tatapan yang sulit di artikan istrinya
Otak Shafia mulai tidak suci lagi saat membayangkan sesuatu yang mungkin saja malam ini akan terjadi.
"Hubby apa ..." Tebak Shafia yang hanya di balas deheman oleh suaminya
Mata abrisam yang tidk lepas dari wajah cantiknya, membuat jantung Shafia berdetak sedikit cepat dari biasanya.
Pria itu tahu bila istrinya masih menyimpan keraguan terhadapnya.
"Sha, jika kamu masih belum siap aku takan memaksa, lagi pula melakukan hubungan suami istri tanpa ada keyakinan hanya akan menyakiti satu sama lain. Aku akan selalu sabar me--,"
CUP
Ucapannya terhenti kala bibir mungil Shafia sudah menempel pada bibirnya yang berbicara, Abrisam membiarkan apa yang di lakukan istrinya tanpa ingin di lepaskan.
Shafia mengangkat wajahnya setelah ciuman terlepas, manik matanya menatap intens wajah tampan suaminya yang begitu sempurna.
"Hubby." Panggil Shafia lembut
"Hmm, ada apa?" Sahut Abrisam
"By sayang ngga sama aku?" Tanya Shafia
"Banget."
"By juga cinta sama aku?" Tanyanya lagi
"Tidak terhingga."
"By tulus ngga sama aku?" Lagi
"Sampai mati."
"By setia?" Bertanya lagi
"Selalu sayang."
"Mmm, kalau gitu Hubby jujur ngga sama aku?"
Pertanyaan Shafia yang terakhir membuat Abrisam diam sejenak belum langsung di jawab.
"Kamu mau aku jawab jujur?" Tanyanya yang hanya di balas anggukan kepala oleh Shafia.
"Taukah kamu ..."
"Jika sebuah kejujuran yang kamu cari harus di bayar nyawa untuk membuktikannya, akan aku lakukan. Kamu alasan aku tetap bertahan, alasan ku untuk tetap berjuang, alasan ku tidak lagi memikirkan hal lain selain dirimu.
"Kamu satu-satunya orang yang paling aku sayang dan ingin aku perjuangkan, apa ketulusan ku masih belum cukup untuk meyakinkan mu seberapa besar CINTA ku padamu?"
Senyum Shafia terukir indah kala mendengar pernyataan dari mulut suaminya yang selama ini tidak pernah berkata kasar. Dia begitu bahagia dan terharu.
"Duh suami siapa sih ini?" Goda Shafia mencubit hidung Bayi besar manjanya sambil tertawa kecil
"Nyonya Faiza Shafia Mannaf." Seru Abrisam ikut tergelak
"Sayang Hubby banyak banyak." Sorak Shafia mencium habis wajah tampan suaminya
Gadis itu diam sejenak sekedar mengatur debaran jantungnya yang berdetak sangat hebat.
Tanpa sadar air matanya kembali menetes saat melihat wajah tampan suaminya yang begitu sabar menghadapi sikapnya selama ini.
"Maaf," Lirih Shafia penuh sesal.
Selama ini Shafia begitu egois hanya mementingkan perasaannya tanpa ingin tahu bagaimana perasaan suaminya.
"Tidak apa, jangan menangis lagi." Sahut Abrisam tersenyum hangat sembari tangannya mengusap lembut pipi Shafia
"Aku hanya takut kalau suatu hari nanti kamu akan ninggalin aku, aku ngga mau." Adu Shafia yang merasakan khawatir tidak beralasan
"Yakinlah pada hatimu sayang, jika kamu percaya padaku, semua yang akan terjadi nanti pasti sudah di atur oleh sang kuasa." ucap Abrisam meyakinkan istrinya agar tidk lagi berfikir yang tidak-tidak
Ia biarkan istrinya mencari kenyamanan dalam dekapannya, mungkin Shafia belum bisa percaya seutuhnya karena masih ada masalah yang belum terselesaikan.
Bertahan dalam hubungan yang entah sampai kapan akan di liputi rasa khawatir akan sebuah perpisahan.
.
.
__ADS_1
Lewat tengah malam Abrisam belum juga merasakan kantuk, hal itu dapat di rasakan oleh Shafia yang pura-pura tidur di balik dada bidang suaminya.
"Hubby." Panggil Shafia pelan
"Hmm."
"Jantung By, kayak baru habis lari maraton."
"Lagi kejar-kejaran mungkin sama hati."
"Emang By punya hati?" Goda Shafia sengaja memainkan dada bidang suaminya menggunakan jari telunjuk
"Punya tapi ..." Sahut Abrisam menggantung
"Tapi apa?" Tanya Shafia penasaran
Abrisam hanya diam membiarkan tangan istrinya yang begitu suka menyelusup masuk di balik kaos yang ia kenakan, hanya untuk merasakan detak jantungnya yang tidak lagi beraturan.
Ia yang tidk mampu lagi menehan diri sontak membalikkan tubuhnya sehingga Shafia berada di bawah kungkungannya yang sempat kaget.
"Ish,, kalau gerak kira-kira dong." Cetus Shafia langsung mendapatkan serangan tiba-tiba
Ciuman lembut yang berubah menjadi luUMaAtan sedikit menuntut Abrisam layangkan, tidak membiarkan istrinya istirahat walau sejenak.
Abrisam sedikit menggigit bibir bagian bawah istrinya membuat Shafia refleks membuka sedikit mulutnya, hal itu menjadi kesempatan bagi pria tampan yang mulai mengabsen deretan gigi istrinya yang berjejer rapih.
Lidahnya bermain-main cukup lama dengan sesekali menggigit gemas bibir ranum sang istri yang mulai membengkak akibat ulahnya sendiri.
Puas meraup manisnya benda kenyal milik istrinya, kini ciuman Abrisam mulai turun ke area leher sampai meninggalkan beberapa jejak kemerahan, mulutnya ikut turun ke bagian bukit kembar milik Shafia yang terlihat begitu padat berisi seakan menantang untuk di sentuh.
Abrisam mengehentikan aksinya, kembali menatap wajah sayu gadis cantik yang hanya diam berada di bawah kungkungannya saat ini.
"Bolehkah aku meminta hak ku?" Tanyanya meminta izin
Gadis itu hanya mengangguk paham pertanda iya, sebagai seorang istri sudah menjadi kewajibannya untuk melayani suami baik dalam hal jasmani maupun rohani.
Mata Shafia tertutup kala mendapat ciuman dari suaminya, berawal mulai dari kening, ikut turun ke bagian hidung, lalu pindah di kedua matanya, beralih mencium pipi kiri dan kanan, dan yang terakhir di bibir yang ciumannya lumayan lama.
"Tahan ya, mungkin akan sedikit sakit." Ucap lembut Abrisam yang begitu hati-hati takut bila istrinya akan merasa tidak nyaman
Mata Shafia terbuka, menatap manik mata suaminya yang malam ini begitu tampan.
"Tapi, aku takut." Adunya sangat polos membuat Abrisam terkekeh menahan geli
"Kan ada aku sayang, kalau sakit tinggal gigit lengan aku juga ngga apa-apa, atau mau sekalian cakar juga boleh." Goda Abrisam sembari menaik turunkan kedua alisnya
"Ish, aku ngga becanda." Dengus Shafia menahan kesal dan geli akibat sesuatu yang berada di balik celana suaminya seakan menyentuh bagian pahanya
"Kapan mulainya kalau kayak gini, hmm." Gemas Abrisam kembali mencium istrinya
Pemanasan yang berlanjut hampir setengah jam itu membuat Shafia seakan terbang melayang, entah sejak kapan tubuh keduanya sudah berubah polos tanpa sehelai kain pun yang menutupi. Bahkan semua bantal sudar berserakan di lantai.
Arisam mulai membacakan doa di telinga istrinya sebelum melakukan hubungan suami istri, untuk pertama kalinya mereka melakukannya setelah 3 bulan menikah.
Dengan perlahan Abrisam mulai memposisikan diri bersiap merenggut kenikmatan surgawi gadis halalnya yang hanya diam pasrah di bawah kuasanya.
Rasa sakit mulai Shafia rasakan kala sesuatu mencoba menerobos masuk ke dalam mahkotanya yang begitu sesak dan sempit. Air matanya jatuh menetes menahan sakit yang luar biasa, Abrisam yang melihat istrinya seperti kesulitan ikut mengalihkan perhatian dengan memberikan ciuman lembut agar Shafia rileks, salah satu tangannya terus bermain di area bukit kembar istrinya yang terdapat jejak-jejak kemerahan. Di rasa mulai tenang, Abrisam kembali melanjutkan aksinya yang sempat tertunda.
"Hmmpp, sakit By." Lirih Shafia kala merasakan sesuatu telah masuk secara sempurna ke dalam mahkotanya yang begitu perih dan rasanya sesak
"Maaf." Bisik Abrisam mencium kening istrinya beralih meEluMat dengan lembut bibir ranum istrinya yang sedikit berdarah karena di gigit gadis itu.
Di rasa mulai kembali tenang, Abrisam mulai menggerakkan tubuhnya dengan sangat hati-hati agar istrinya merasa nyaman.
.
.
Shafia sudah mencapai puncaknya, tetapi pria tampan yang sudah di banjiri keringat itu belum juga sampai, alunan tempo yang awalnya pelan mulai sedikit cepat membuat tubuh Shafia sedikit tersentak hingga beberapa menit kemudian Abrisam sudah mencapai puncaknya dan mengeluarkan lahar hangat di rahim istrinya.
Abrisam ambruk di atas tubuh istrinya dengan napas teresengal.
"Terima kasih sayang, aku mencintaimu."
Suara serak suaminya begitu lembut di telinga Shafia, meski rasa sakit masih dia rasakan. Tetapi rasa haru, bahagia dan nyaman lebih besar di rasakannya.
Malam itu menjadi malam yang sangat panjang bagi pasangan suami istri yang baru saja meraih nikmatnya surga dunia, bukan hanya sekali namun sampai beberapa kali mereka melakukannya. Entah setan apa yang merasuki Abrisam, yang tidak merasakan lelah sedikit pun meski Shafia sudah mengeluh lelah dan mengantuk.
🍃🍃🍃🍃🍃
Au aaahh otak ku tak suci lagi epribadeh..😭
Bikinnya agak susah karena ngga tahu gimana caranya nempatin kalimat yang benar.😱
Kalau ada kesalahan maaf ya😪😥
__ADS_1