
Jam makan malam telah tiba, Abrisam dan Shafia segera turun ke lantai bawah menuju ruang makan.
Sudah ada Hanif dan Nyonya Iriana duduk di kursi masing-masing.
Mata Abrisam langsung berbinar melihat ada begitu banyak makanan tertatah rapih di atas meja makan.
"Sayang, boleh aku makan banyak malam ini?" pinta Abrisam dengan wajah memohon
Makanan yang sengaja di masak khusus sang Bibi untuk pria itu seolah berbisik agar segera di habiskan, padahal tadi siang Abrisam sudah makan lumayan banyak.
"Dengan senang hati suamiku, sayang." Jawab Shafia tertawa pelan
Abrisam tersenyum senang sambil menatap hidangan di depan matanya, meski begitu ia tetap membiarkan sang istri melayaninya seperti biasa.
"Makannya pelan-pelan, By." Peringat Shafia
Hanif dan Nyonya Iriana hanya bisa memandang dengan tatapan geli, mereka tahu selama Shafia hamil porsi makan Abrisam tidak tanggung-tanggung.
Usai makan malam Abrisam meminta izin pergi ke ruangannya di ikuti oleh Hanif, sementara Shafia menemani sang nenek menonton di ruang keluarga.
"Nenek jangan di ganti," rengek Shafia tidak terima film kesukaannya malah di ganti dengan siaran yang sangat gadis itu benci.
__ADS_1
"Sesekali menonton film seperti ini, agar kamu tahu bagaimana caranya menghadapi para wanita penggoda di luar sana." Cebik Nyonya Iriana menatap malas kearah cucu menantunya
"Ish, Nenek tahu apa dengan pola pikir Shafia. Bukankah selama ini Nenek tidak lagi mendengar kabar soal wanita itu." Desis Shafia tidak mau kalah dan memilih mengalihkan topik pembicaraan
Wanita baya tersebut menatap penuh tanya pada Shafia, seolah ingin meminta penjelasan.
"Apa? Bukannya Nenek sendiri yang mengajarkan ku bagaimana cara menghadapinya," sambung Shafia malas.
"Chayra bukanlah orang yang muda kamu sentuh sayang, tidakkah kamu berpikir bagaimana resiko kedepannya?" tegur Nyonya Iriana berharap Shafia tahu batasannya.
"Aku lebih tahu siapa wanita licik itu, Nenek. Dan aku melakukannya semata-mata demi keamanan Abrisam," balas Shafia berbicara pelan.
Mereka memilih menonton bersama dan tidak lagi membicarakan masalah lain selain kehamilan Shafia.
.
.
Di dalam ruangan milik Abrisam, tampak Hanif tengah melaporkan beberapa informasi penting yang di terimanya dari orang suruhan Abrisam.
"Sangat mustahil jika Chayra bisa melakukan semua itu tanpa bantuan dari orang lain, bukankah kabarnya wanita itu telah bebas minggu lalu?" tutur Hanif sembari mengingat sesuatu.
__ADS_1
Abrisam diam sejenak sebelum ikut berbicara, bayangan masa lalu kembali berputar di otaknya.
"Hanif, pastikan kabar ini tidak sampai di telinga istriku." Ucap Abrisam mengingatkan
"Baik Bos, tapi apa rencana kita bisa berhasil? Mengingat Nyonya sangat pintar dan tidak mudah di kelabui," ujar Hanif sedikit ragu dengan rencana Abrisam.
Hanif khawatir kalau kabar ini sampai terdengar oleh Shafia, apalagi sekarang gadis itu tengah hamil besar.
"Istriku biar aku yang mengatasinya, kamu hanya perlu menutupi masalah ini agar tidak tercium sampai keluar." Jelas Abrisam tak ingin di bantah
Kurang lebih sekitar dua jam lamanya kedua pria itu mengurung diri dalam ruangan milik Abrisam, ada begitu banyak yang mereka bahas dan tentu masalah perusahaan juga termasuk.
Sementara di ruang keluarga, tampak Shafia yang mulai di runduh rasa bosan.
"Shafia masuk kamar lebih dulu ya Nek," pamit Shafia ingin kembali ke kamar.
"Baiklah, panggil Abrisam di ruangannya! Nenek tidak mau anak itu memilih sibuk di layar komputer dan membiarkanmu sendirian dalam kamar." Sahut Nyonya Iriana tanpa mengalihkan fokusnya di layar TV
Shafia mengangguk paham kemudian naik ke lantai atas, sebelumnya dia hanya mengirim pesan pada Abrisam enggan memasuki ruangan milik suaminya.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1