Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 70


__ADS_3

Tidak terasa usia kehamilan Shafia sudah memasuki bulan ke enam tepat seminggu yang lalu, tidak lama lagi di kehamilannya yang masuk usia tujuh bulan akan di adakan doa syukuran.


Semua sudah di atur oleh Nyonya Iriana selaku Nyonya Besar Qiemyl yang sampai detik ini masih menjadi kepala keluarga, tidak adanya mendiang sang suami memang sedikit melelahkan.


Dulu ketika suaminya yang merupakan orang terpenting dalam keluarganya begitu menjunjung tinggi keberadaan wanita, bahkan Nyonya Iriana sama sekali tidak pernah di izinkan ikut turun tangan langsung jika ada masalah, baik itu masalah yang kecil maupun masalah besar.


Sosok pria tampan yang memiliki nama panjang Afkar Fathian Mannaf tersebut semasa hidupnya memang sering kali kerap di kenal sebagai pribadi yang baik hati, penyayang dan juga dermawan.


Rasa hormatnya pada kaum wanita menjadi tolak ukur setiap pria yang terlahir di keluarga Mannaf, semua di wajibkan selalu memprioritaskan wanita mereka terlebih dahulu sebelum melakukan hal yang lain.


Nyonya Iriana merupakan satu-satunya wanita paling beruntung mampu berdiri tegap di samping mendiang suaminya meski kadang kala ujian dan cobaan datang silih berganti, kepergian sang suami dua tahun yang lalu menjadi awal mula perjalanan hidupnya sebagai wanita berhati baja dengan segalah pertimbangan keras sebelum mengambil sebuah keputusan yang penting.


Seperti sekarang ini, tepat usai sarapan bersama di ruang makan. Nyonya Iriana meminta Abrisam dan Shafia berkumpul di ruang tengah guna membahas sesuatu yang penting.


"Tumben Nenek minta kami berdua berkumpul, ada yang serius?" gurau Shafia dengan kekehan.


Mendengar kalimat pertanyaan dari cucu menantunya, mata Nyonya Iriana menatap malas kearah pasangan suami istri tersebut terutama Shafia.

__ADS_1


"Mulai," sahut wanita baya itu sedikit kesal.


Tawa Shafia pecah melihat wajah masam sang Nenek mulai terlihat seperti biasa saat dirinya sengaja menggoda Nyonya Iriana.


"Ya ampun, Hubby. Kayaknya Nenek lagi sensi," seru Shafia dengan cepat menyembunyikan tubuhnya di balik punggung Abrisam.


"Jangan nakal sayang, nanti kalau Nenek marah bisa bahaya." Tegur Abrisam dengan nada lembut takut jangan sampai istrinya merajuk


Sebab akhir-akhir ini, Shafia menjadi lebih sensitif dan mudah menangis, salah sedikit saja bisa membuat orang rumah pusing terutama Abrisam sendiri.


"Sudah-sudah Nenek tidak marah, maksud Nenek meminta kalian berdua berkumpul karena ada sesuatu yang mau Nenek sampaikan sekaligus meminta saran pada kalian berdua, barang kali bisa membantu." Ujar Nyonya Iriana panjang lebar mulai serius


Abrisam menatap kearah sang istri yang juga ikut menatapnya seolah penasaran.


"Soal apa, Nek?" tanya Shafia di ikuti anggukan kepala oleh Abrisam.


Nyonya Iriana menghela nafas panjang lalu membuangnya perlahan, sejenak terdiam dengan pandangan lurus ke depan.

__ADS_1


"Ini soal adik kalian," jawabnya pelan.


Abrisam mengenyitkan dahinya bingung.


"Ariana maksud Nenek?" tanyanya menebak dan langsung di jawab anggukan kepala oleh wanita baya tersebut.


"Benar, tiga hari yang lalu Papa mu menghubungi ku dan mengatakan jika ada seorang pemuda yang datang ke rumah untuk melamar Ariana." Jelas Nyonya Iriana


Shafia yang kebetulan tengah minum sampai tersedak dan batuk mendengar kabar mengenai gadis kecil yang sudah di anggapnya adik sendiri telah di lamar seorang pria.


"Pelan-pelan sayang," tegur Abrisam khawatir ketika melihat kedua pipi istrinya memerah.


"Si Adek, By. Ngga nyangka banget ternyata diam-diam ada yang nekat datang ke rumah dan melamarnya," Shafia tertawa bahagia akhirnya ada juga yang berhasil mengetuk pintu hati si gadis kecil yang terkenal cuek dan bersikap dingin kepada semua orang terkecuali dirinya.


Shafia pikir jika gadis kecil yang selalu menghubunginya setiap saat itu tidak akan bisa di dekati oleh pria manapun.


🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2