
Abrisam yang sudah menepikan mobilnya di pinggir jalan, tidak sabar cepat-cepat turun mencari makanan yang sejak tadi di inginkannya.
Brakk
"Astagfirullah, Hubby." Pekik Shafia tersentak kaget
"Ayo cepat Sha, keburu habis makanannya." Sahut Abrisam dari luar mobil
Pria tampan itu meninggalkan Shafia yang berjalan mengekor di belakang, kedatangan pasangan suami istri tersebut menghebohkan area jajanan pinggir jalan.
Siapa yang tidak kenal dengan putra pewaris tunggal Qiemyl Mannaf tersebut, namanya yang sudah tersebar sampai ke pelosok dunia bisnis tidak di ragukan lagi.
Para wanita yang kebetulan sedang membeli jajanan pinggir jalan menatap kagum kearah Abrisam, mereka seakan terhipnotis oleh ketampanannya.
Shafia yang menyadari semua itu pun, cepat-cepat menyusul suaminya yang semakin jauh di depan.
"By, tungguin!" Teriak lantang Shafia
Aura mencekam yang di perlihatkan istri muda itu mampu membumkam mulut beberapa wanita yang tadi sempat mengagumi dan terpesona pada suaminya.
"Astaga, jangan bilang gadis itu istrinya."
"Ampun deh, kalah jauh sama istrinya."
"Itu kulit apa bukan? Mulus pake banget."
"Itulah kalau punya suami bukan tampangnya doang yang mempesona, tapi isi dompetnya juga harus OK."
"Jadi insecure lihat istrinya, udah glowing, cantik, putih, dan badannya bagus lagi."
"Sadar oyyy, dunia nyata tidak seindah dunia halu."
Mereka sampai pangling melihat kecantikan alami yang di miliki Shafia, namun ada juga yang membicarakan aura tidak bersahabat yang di perlihatkan Shafia.
Mereka memberinya julukan, Cantik-cantik tapi galaknya kayak Singa betina lagi tidur terus di bangunin.
Apa yang di inginkan Abrisam kini sudah terbungkus rapih dalam kantong plastik, beraneka macam jajanan di belinya tanpa menanyakan apa yang ingin di makan istrinya.
Abrisam menjadi lupa ingatan setelah berhadapan dengan makanan enak, rasa lapar mulai menggodanya untuk segera memakan habis jajanan pinggir jalan tersebut.
"Pulang yuk, Sha. Makan di rumah kayaknya lebih enak." Ajak Abrisam seraya menggandeng Shafia menuju mobil
__ADS_1
"Yakin ngga ada lagi yang ketinggalan kan? Aku malas kalau sampai balik lagi kesini, pengen aku copot satu-satu tuh mata para wanita yang suka menatap genit suami orang." Tanya Shafia memastikan namun kalimat terakhirnya mengandung kecemburuan yang hakiki
"Mereka cuma bisa lihat dari arah jauh sayang, tapi yang lebih berkuasa terhadap ku adalah kamu." Bujuk Abrisam menenangkan
"Kesal aku, By. Pengen aku cakar habis wajah mereka," geram Shafia.
"Sini-sini aku peluk, jangan emosi mulu. Nanti cantiknya berkurang sayang, istri siapa sih ini? Dari tadi sore kerjaannya sensian mulu."
Abrisam sampai gemas melihat betapa sensitifnya sang pujaan hati, sikap cemburu Shafia memang tidak pernah dia sembunyikan.
Jika sedang marah, kesal, sakit hati apalagi cemburu, Shafia tidak segan-segan meluapkan semuanya tanpa ada yang di simpannya dalam hati.
Sejak hubungan mereka semakin lengket walau masih ada sosok Chayra yang harus di selesaikan dengan cepat, tidak pernah sekalipun di antara keduanya baik Shafia sendiri maupun Abrisam menyembunyikan sesuatu masalah sekecil apapun itu.
Mereka tetap saling terbuka dan saling memberi pengertian mana yang baik untuk di lakukan dan mana yang tidak boleh di lakukan.
Seperti sekarang ini, Shafia akan langsung jujur pada suaminya bila ada yang membuatnya merasa tidak nyaman.
"By," panggil Shafia dengan suara lembut.
"Iya sayang ada apa, hmm?" Tanya Abrisam tetap fokus menyetir meski satu tangannya di gunakan memeluk Shafia
"Ngga ngerasain mual dan muntah lagi?"
"Mau ya di periksa Bibi Farah? Biar aku nya jadi tenang." Pinta Shafia memohon berharap suaminya mau di periksa
"Besok ajah ya sayang, lagian ini udah malam. Kasihan kalau sampai minta Bibi Farah datang ke rumah, mana arah rumah kita dengan tempat tinggalnya jauh." Tawar Abrisam sembari memberi pengertian
"Ok, janji ya besok harus mau di periksa Bibi Farah." Kata Shafia akhirnya mengalah
Tidak ada lagi obrolan selama perjalanan pulang ke rumah sebab Shafia tiba-tiba saja merasakan kantuk, dia terlelap dengan nyamannya di dalam dekapan Abrisam.
Beberapa menit kemudian mobil Abrisam sudah memasuki halaman rumah, ia hanya menaruh mobil sembarangan tanpa ada niat memasukannya terlebih dahulu ke dalam garasi.
Dengan hati-hati pria tampan itu membangunkan sang istri sambil berbisik pelan.
"Sayang, bangun yuk. Kita sudah sampai rumah."
Shafia membuka matanya perlahan, dia langsung tersenyum manis ketika wajahnya kini menjadi sasaran bibir Abrisam, ciuman tanpa ampun di terimanya mulai dari kedua pipi, hidung, kening, mata, dahi, dagu dan terakhir di bagian bibir.
"Udah dong By, susah aku nafasnya." Rengek Shafia meminta ampun
__ADS_1
"Eh, sayangnya Hubby udah bangun rupanya. Kirain tadi masih tidur," kekeh Abrisam kembali mencium habis seluruh wajah sang belahan jiwa kesayangannya tersebut.
Drama cium-ciuman berakhir setelah rasa lapar mulai mengganggu Abrisam, semua makanan yang tadi di belinya langsung di bawa masuk tanpa menunggu Shafia yang hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Itu lapar apa kesurupan?" Gumam Shafia sedikit heran
Langkah kakinya berhenti tepat di ruang tengah, semua orang sepertinya sudah menunggunya untuk menjelaskan keanehan Abrisam.
Shafia duduk di hadapan Ririn, Aina, Nyonya Iriana, Adnan dan Arqa.
"Itu yang di beli Abrisam apa semua?" Tanya Ririn penasaran
"Iya, kayaknya banyak banget makanannya." Timpal Aina tidak kalah ikut di buat penasaran
"Tidak biasanya loh, Abrisam beli jajanan sampai sebanyak itu. Kalaupun beli pasti cuma satu atau dua macam ajah, ini kok banyak banget ya." Sambung Ririn lagi
"Biarkan saja putra kita melakukan apapun yang ia inginkan, jarang-jarang lihat Abrisam makan banyak. Lagi pula bukannya tadi sore anak itu muntah terus, wajar kalau ia makan banyak." Adnan tidak mau ambil pusing perihal putranya
Sementara sang Nyonya besar sejak tadi hanya diam tanpa ada niat ikut bicara mengenai sang cucu, dari keanehan yang terjadi seharian ini dapat wanita baya itu simpulkan ada yang tidak beres dengan perilaku sang cucu.
"Tunggu sampai Abrisam selesai makan, baru kita bicarakan baik-baik." Ucap Nyonya Iriana serius
Mendengar ucapan wanita baya itu, baik Ririn, Aina, Adnan dan Arqa langsung diam tanpa berani buka suara lagi.
Berbeda dengan Shafia yang kini sudah berada di ruang makan menemui suaminya, ada rasa bahagia timbul dalam hatinya melihat betapa lahapnya sang suami makan berbagai macam jajanan yang tadi mereka beli.
Abrisam menghabiskan semua makanan tanpa sisa, rasa kenyang dan kantuk mulai ia rasakan.
"Sayang, kamar yuk! Aku ngantuk mau tidur." Ajak Abrisam seraya bangkit dari tempat duduk
Tangannya kembali menarik Shafia naik ke lantai atas menuju kamar, panggilan sang Mama tidak lagi di hiraukan Abrisam. Yang ia butuhkan sekarang adalah tempat tidur sambil memeluk istrinya.
Kekesalan Ririn menjadi-jadi, di abaikan sang putra membuatnya uring-uringan.
"Abrisam kenapa sih, Pah? Kok dari tadi siang sikapnya aneh, udah gitu berantem dengan Bibi cuma gara-gara sop ayam. Ngehamburin peralatan dapur cuma karena masalah rujak doang. Lalu sekarang apa lagi? Aku kok kesal sama anak nakal itu." Omel Ririn tidak habis pikir
Wanita yang merupakan ibu kandung Abrisam tersebut, mondar mandir mencari kebenaran akan putranya, beberapa detik kemudian Ririn bagai mendapatkan harta karun.
"Ahaa, sekarang aku tahu." Sorak Ririn sumringah
"Jangan-jangan menantu kita lagi."
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃