
Setelah berbagai macam pertimbangan dan juga perdebatan yang terjadi antara pasangan suami istri itu dengan Abrisam.
Semuanya berakhir dengan sang menantu menyetujui surat perjanjian konyol tersebut.
Arqa menyimpan kembali map yang berisi perjanjian yang sengaja ia buat di dalam laci.
"Sudah jam 5 lewat, sebaiknya bersiap untuk sholat Maghrib." Ucap Arqa sambil bangkit dari duduk
Aina ikut naik ke lantai atas bersama suaminya, membiarkan Abrisam yang masih setia duduk di ruang tamu.
Entah apa yang ia lakukan, beberapa menit yang lalu Abrisam menerima sebuah pesan di ponselnya tidak tahu dari siapa.
Di rasa kedua mertuanya sudah masuk ke dalam kamar, segera pria itu menghubungi seseorang.
[Hallo Bos]
"Kau di mana, Hanif?" Tanya Abrisam
[Di apartement Bos, apa Anda memerlukan sesuatu?]
"Tidak, besok akan ada rapat jam 09 pagi. Pastikan Wanita itu tidak datang ke Kantor!" Pesan Abrisam
[Baik Bos]
Abrisam langsung mematikan telefonnya, ia ikut naik ke lantai atas menuju kamar sang istri.
.
.
Ceklek.
"Astagfirullah." Kaget Shafia melihat pintu di buka dari luar
"Tidak bisakah sebelum masuk ketuk pintu dulu atau mengucap salam?" Dengusnya kesal
Baru juga gadis itu selesai mandi, harus di kagetkan dengan kedatangan Abrisam yang tidak ada sopan-sopannya sama sekali.
"Ckck. Aku pikir kamu masih tidur, lagipula ini kamar mu berarti juga kamar ku. Terserah aku mau masuk tanpa mengetuk pintu." Sahut Abrisam membela diri
Shafia hanya menatap malas suaminya tersebut.
"Terserah kamu, cepat sana bersihkan dirimu! Sebentar lagi mau Maghrib." Titahnya langsung mendorong tubuh tinggi Abrisam agar masuk ke dalam kamar mandi
Abrisam tidak menolak, baginya tidak ada waktu sekedar menjahili istrinya.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian, Abrisam sudah siap dengan perlengkapan sholat begitu juga dengan Shafia.
Keduanya menunaikan ibadah sholat Maghrib bersama, kali ini Abrisam yang menjadi imam. Jika dulu Shafia sering melaksanakan sholat bersama Ayah dan Ibunya, sekarang berbeda karena sudah ada suaminya yang menjadi Imamnya.
Selesai sholat, tidak lupa Shafia mencium tangan suaminya, begitu pun dengan Abrisam yang mencium lembut kening sang istri. Ada rasa hangat yang menjalar di hati keduanya, hal baru yang akan terus menjadi kebiasaan mereka kedepannya.
Shafia turun ke lantai bawah menuju dapur membantu Ibunya menyiapkan makan malam. Meski ada pelayan yang bertugas tetap saja Ibu dan Anak itu betah berada di dapur. Aina lebih suka memasak sendiri makanan untuk anak dan suaminya, dan sekarang bertambah satu orang lagi yaitu Abrisam.
Usai memasak Aina bersiap untuk kembali ke kamar.
"Bibi, nanti tinggal panaskan lagi jika sudah tiba makan malam. Aku akan kembali ke atas dulu untuk Sholat." Pesan Aina pada pelayannya
"Baik Nyonya"
Aina dan Shafia langsung bergegas menuju kamar, waktu sholat telah tiba. Sebelumnya Aina sudah meminta pada putrinya itu agar mau melakukan sholat berjamaah saja, tetapi gadis itu menolak. Shafia ingin sholat di kamarnya saja.
"Tadi, Ibu bilang apa, Sha?" Tanya Abrisam setelah keduanya selesai sholat.
"Ibu ngajak kita buat sholat berjamaah, cuma aku ngga mau." Jawab Shafia singkat
"Kenapa?"
"Ngga kenapa-napa, ngga pengen ajah."
Makan malam telah tiba, Shafia dan Abrisam ikut makan bersama dengan Aina dan Arqa tanpa di temani percakapan atau obrolan sedikit pun, semuanya makan dengan keadaan tenang. Karakter Arqa yang memang tidak suka keributan saat makan sudah menjadi kebiasaan.
Usia makan malam Arqa dan sang istri terlebih dahulu masuk ke dalam kamar mereka, rasa lelah yang Arqa rasakan membuatnya harus segera istirahat.
Sementara di ruang tamu, ada Shafia yang tengah menonton sebuah film di layar TV. Abrisam yang baru masuk ke dalam rumah ikut duduk di samping istrinya tersebut.
"Ngapain keluar tadi?" Tanya Shafia tanpa basa basi
"Aku terima telefon dari Hanif." Jawab Abrisam singkat
Shafia hanya ber "Oh" saja mendengar jawaban suaminya. Akan lebih baik jika dia tetap diam dan pura-pura tidak tahu.
Padahal beberapa menit yang lalu gadis itu jelas melihat nama siapa yang tertera di layar ponsel milik Abrisam. Dia hanya tidak sengaja menoleh kearah suaminya ketika dering ponsel Abrisam berbunyi, Shafia tahu tapi tidak mau bertanya.
Alasannya cuma satu, biarkan pria itu sendiri yang bicara.
Aku takan bertanya atau mencari tahu apapun soal wanita itu Abrisam, tapi jika kamu tidak juga mau bicara kepada ku. Jangan Salahkan Aku bertindak sendiri, diam ku bukan berarti tidak tahu.
Shafia berbicara dalam hati, ada sedikit emosi menyelimuti hatinya. Sebegitu pentingkah orang yang Abrisam tutupi darinya sampai sekarang.
Lamunan Shafia buyar kala merasakan tangan Abrisam yang menyentuh pipinya.
__ADS_1
"Hey Sha, lagi lamunin apaan sih? Dari tadi aku panggil ngga nyahut," heran Abrisam mengusap pipi kanan gadis itu.
"Haa, ngga ada kok. Aku cuma sedikit lelah ajah," elak Shafia berbohong.
Tidak mungkin dia jawab sedang memikirkan wanita yang selalu berada di dekat suaminya itu.
"Ish, apaan sih. Jangan pegang-pegang pipi orang sembarangan." Ketus Shafia menepis tangan Abrisam dari wajahnya
Abrisam hanya tersenyum menanggapi sikap istrinya.
"Udah jadi istri jangan galak-galak Sha, nanti kalau aku di ambil orang baru tahu rasa." Godanya yang sebenarnya hanya pura-pura
Mata Shafia langsung membesar.
"Apa kamu bilang tadi? Jangan macam-macam Bri! Kamu coba saja buat kesalahan, akan aku pastikan adik kecil mu itu hilang selamanya." Marahnya sedikit mengancam tapi tidak main-main
"Jangan kira aku bodoh dan ngga tahu apa-apa ya, enak ajah mau kibulin aku." Lanjutnya sedikit emosi
"Memangnya aku ngapain Sha?" Tanya Abrisam seakan tidak bersalah
Mendengar pertanyaan suaminya, kekesalan Shafia sudah sampai ubun-ubun. Apa pria ini pura-pura polos atau sebenarnya bodoh.
"Lebih baik kamu ke kamar, jangan buat aku pusing." Titah gadis itu tidak tahan
Bisa-bisa Shafia mudah mengalami sakit kepala tiba-tiba menghadapi suaminya.
"Terus kamu?" Tanya sang suami.
"Jangan membuat ku kesal Abrisam, jika aku meminta mu ke kamar, artinya segera pergi jangan berdebat lagi."
Abrisam merasa ada yang sedikit aneh dari tingkah laku Shafia saat ini.
"Kamu marah? Kalau ada apa-apa ngomong dong Sha!" Tebaknya benar atau salah
"ABRISAM ...." Geram Shafia tidak tahan lagi
"Ok, ok. Aku masuk kamar sekarang, jangan marah-marah Aku ngga suka." Abrisam mengalah
Pria itu segera naik ke lantai atas menuju kamar mereka.
Selepas kepergian Abrisam, tinggal lah Shafia yang masih berada di ruang tamu. Entah sudah berapa kali Shafia membuang napas kasar, pikirannya terbang jauh kemana-mana.
Andai kamu tahu apa yang aku rasakan, mungkin kamu akan mengerti seperti apa rasanya menahan sesak sendiri, sakit sendiri, sepi sendiri, semuanya memenuhi hatiku.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1