
Sebelum ke Vila, tidak lupa Hanif membawa Bos dan Nyonya nya untuk makan siang di salah satu rumah makan pinggiran jalan.
Meski terbilang sukses tidak membuat Abrisam sombong dan memilih tempat sekedar untuk makan, sejak kecil ia selalu di didik agar bisa menghargai apapun itu tanpa memandang rendah atau tingginya derajat seseorang.
Selesai makan siang, Hanif kembali melanjutkan perjalanan menuju ke Vila. Sesekali matanya melihat ke arah belakang melalui kaca guna memeriksa keadaan pasangan suami istri tersebut.
Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 2 jam lebih itu di gunakan Shafia dan Abrisam untuk istrirahat, jalanan yang lumayan macet karena banyaknya pengendara yang berlalu lalang mengingat ini sudah waktunya jam pulang kantor.
Mobil sedan berwarna hitam memasuki area pribadi yang hanya boleh di akses oleh orang tertentu, kawasan elit yang begitu mewah dan sangat indah menjadi pilihan yang tepat untuk berlibur.
Abrisam membawa istrinya ke Vila pribadi yang khusus di bangun untuk pasangan hidupnya yang tidak lain adalah Shafia.
Hanif yang sudah memarkirkan mobil di harasi lebih dulu keluar untuk bertemu dengan penjaga Vila, ia sengaja belum membangunkan pasangan suami istri yang terlihat cukup lelah.
"Assalamualaikum, Paman, Bibi." Teriak Hanif sedikit keras sambil mencari keberadaan mereka
"Pada kemana ya." Gumamnya begitu pelan menyusuri sekitar Vila yang tanpak tidak ada siapapun
Terdengar langkah kaki tergesa yang berjalan sedikit cepat dari arah belakang membuat Hanif refleks menoleh.
"Waalaikumsalam Den Hanif, maaf tadi Paman lagi bersih-bersih di halaman belakang, jadi ngga kedengaran pas orang manggil." Ucap seorang pria paruh baya berusia sekitar 55 tahun
"Tidak apa-apa, Paman."
"Oh ya. Bibi kemana? Kok ngga kelihatan dari tadi, padahal aku sudah memberi tahu Bibi kalau kita akan kemari."
Hanif mencari keberadaan wanita tua yang merupakan istri dari pria baya di depannya itu.
"Anu, tadi Bibi buru-buru keluar katanya mau beli sesuatu di antar sama Rendi ke supermarket." Jelasnya pada Hanif yang hanya mengangguk paham
"Ya sudah Paman, kalau begitu tolong siapkan makan malam saat bibi sudah datang. Aku akan kembali ke mobil untuk membangunkan Bos dan istrinya." Ucap Hanif segera keluar dari Vila
Pria baya yang bernama Hadi itu langsung bergegas menuju dapur menyiapkan beberapa bahan makanan sebelum istrinya kembali dari belanja.
.
.
#Di Garasi
Hanif yang berlari kecil menuju arah mobil sedikit khawatir, takut jika Bos dan Nyonya mudanya terbangun sebelum ia kembali.
"Wahh, ini sih udah kelewat nyaman namanya." Cebik Hanif ketika sampai di mobil, di lihatnya pasangan suami istri itu masih asik tidur begitu pulasnya dengan posisi saling berpelukan.
Kebiasaan sang Bos yang tidak pernah mengizinkan istrinya duduk selain bukan di atas pangkuannya membuat siapa saja yang melihat akan merasa seakan tidak ada lagi tempat bagi para jomblo di dunia ini.
Nasib menjadi Asisten siap siaga kadang membuat Hanif ingin protes tapi tidak bisa.
"Bos bangun, kita sudah sampai." Seru Hanif menyentuh lengan Abrisam
Bukan pria itu yang terbangun melainkan istrinya.
"Apa sudah sampai?" Tanya Shafia sedikit membuka matanya yang terasa berat
"Sudah Nyonya, setengah jam yang lalu." Jawab Hanif sudah menawan tawanya agar tidak pecah
Dasar Bos sialan. Umpatnya dalam hati.
__ADS_1
Posisi kedua anak manusia itu membuat otak Hanif sedikit belok, satu tangan Abrisam yang berada di dalam pakaian bagian atas istrinya tentu jelas terlihat meski tertutup dengan jas yang pria itu kenakan.
Shafia yang tidak menyadari apapun seakan tidak peka dengan keterkejutan Asisten dari suaminya itu sewaktu membangunkan mereka.
"Nyonya, sebaiknya segera bangunkan Bos! Sebentar lagi akan Maghrib."
Hanif kembali lebih dulu masuk ke dalam Vila untuk membersihkan diri, seharian penuh di peras tenaganya oleh Abrisam membuat tubuh pria itu bagai remuk tidak memiliki kekuatan.
Shafia yang di tinggalkan langsung bangkit dari atas pangkuan suaminya bersiap untuk keluar dari mobil.
"By, bangun." Panggil Shafia mengusap lembut pipi suaminya
Abrisam hanya menggeliat kecil enggan membuka matanya yang begitu berat, hal itu membuat Shafia melakukan sesuatu dan--
"Sayang, jangan lagi." Desah Abrisam kala tangan jahil istrinya sudah berada di bagian dadanya bersiap untuk menyubit
"Makanya bangun!" Sentak istrinya membuat pria itu mau tidak mau harus bangun meski rasa lelah masih ia rasakan.
"Jangan salahkan aku bila tangan kecil mu itu menyentuh sesuatu yang belum pernah kamu sentuh." Ancam Abrisam tersenyum menyeringai kearah Istrinya yang tercengang dengan mata membulat sempurna
"Ishh, lama-lama aku jahit mulut mesum mu itu." Kesal Shafia berusaha keluar mobil namun tangannya sudah di cekal oleh Abrisam
"Mau kemana, hmm. Bukannya tadi begitu berani menjahili ku. Giliran di balas malah ingin kabur."
Abrisam menurunkan sandaran kursi hingga Shafia tertidur dengan posisi yang tidak menguntungkan baginya, hembusan napas suaminya menyapu habis wajah Shafia dengan detak jantung yang tidak beraturan.
Entah sejak kapan kedua bibir mereka sudah menempel, posisi Abrisam yang sangat menguntungkan tentu lebih mudah untuk melakukan apapun yang ia inginkan.
Sebuah ciuman yang menjadi luMmaAtan lembut di berikannya dengan satu tangan yang berada di salah satu bukit kembar istrinya, meremas pelan benda padat berisi tersebut sehingga menimbulkan desAahAN kecil yang keluar dari mulut Shafia.
Abrisam melepas ciumannya saat di rasa sang istri hampir saja kehabisan napas.
"Kamu yang bodoh, seluruh keluarga mu bodoh." Teriak Shafia memukul keras lengan suaminya sebelum keluar dari mobil
BRAK
Abrisam terlonjak kaget saat pintu mobil di tutup keras oleh istrinya.
Shafia berjalan cepat dengan kaki di hentakkan karena kesal dan jengkel.
"Sayang tunggu."
Shafia yang di panggil tidak peduli, gadis itu malah memilih masuk lebih dulu ke dalam Vila
Seorang wanita paruh baya yang baru saja tiba setelah kembali dari Supermarket sedikit kaget melihat kedatangan Nyonya mudanya dengan wajah masam.
"Huaa, Bibi." Teriak Shafia sudah berlari kearah wanita itu yang menyambutnya dengan tangan siap memeluk
"Nona kenapa atuh, ini Bibi lihat wajah Nona Shafia masam sekali?" Tanya Bi Murti keheranan
"Biasa Bi, suka ngambek ngga jelas." Sahut
Abrisam baru saja masuk menyusul istrinya yang merajuk
Bi Murti yang paham hanya tersenyum tanpa bertanya lagi.
"Kita ke kamar dulu ya Bi, sebentar lagi sholat Maghrib."
__ADS_1
Abrisam membawa istrinya masuk ke dalam kamar yang berada di lantai atas, meski gadis itu memberontak ingin di turunkan tidak di hiraukan.
.
.
Selepas Sholat Maghrib. Baik Abrisam maupun Shafia tidak ada yang keluar dari kamar, keduanya mengisi waktu dengan membaca Al-Qur'an sambil menunggu waktu Sholat Isya tiba.
Tidak ada yang lebih indah dan bermakna selain menjalin sebuah hubungan ikatan pernikahan yang di liputi atas dasar beribadah kepada yang kuasa.
Shafia sangat bersyukur di pertemukan dengan sosok suami yang begitu bertanggung jawab, taat beribadah, beramal saleh, memiliki hati yang bersih, penyayang dan begitu tulus padanya.
Meski hari-hari suaminya tidak luput dari kesibukan masalah pekerjaan, tetapi soal ibadah tidak pernah di lupakan.
Waktu makan malam telah tiba, usai melakukan ibadah. Pasangan suami istri tersebut turun ke lantai bawah menuju ruang makan, ada begitu banyak makanan yang tersaji di atas meja hasil karya tangan lihai wanita bayah kesayangan Shafia.
Bi Murti yang di kenal baik merupakan orang terdekat dari menantu keluarga Qiemyl tersebut, tidak ingin melihat Shafia merasa tidak nyaman jika berada di sekitar mereka, akhirnya Nyonya Iriana yang merupakan Nenek Abrisam memberi perintah pada orang tua Shafia untuk membiarkan Bi Murti beserta suaminya ikut dengan Shafia.
Pasangan paruh baya tersebut langsung menyetujui permintaan dari besan majikan mereka, di mana pun Shafia berada maka di situ juga Bi murti dan suaminya berada.
Usai makan malam Hanif undur diri lebih dulu untuk istirahat begitu pula dengan Paman Hadi dan Bibi murti.
Sementara Abrisam meminta izin keluar sebentar dengan alasan membeli sesuatu, meninggalkan Shafia yang duduk santai di sofa panjang ruang tamu.
"Kau yakin jika itu adalah Chayra?" Tanya Abrisam pada bawahannya
"Benar Tuan muda, informasi yang saya dapat dari mereka mengatakan jika Nona Chayra juga ikut andil dalam masalah kecelakaan waktu itu." Terang bawahannya membuat kepala Abrisam tiba-tiba saja merasakan pusing.
"Anda tidak apa-apa Tuan?" Sambung pria itu bertanya melihat keadaan Tuan nya
Abrisam mengisyaratkan untuk tidak khawatir, ia langsung memberi perintah pada bahawahannya agar segera kembali.
*C*eklek.
Pintu utama di buka Abrisam yang langsung di dengar oleh Shafia karena posisi ruang tamu tidak jauh dari pintu.
Senyum manis istrinya lah yang pertama kali di lihat Abrisam.
Gadis cantik yang selalu peka dan mendukung setiap keputusannya dalam mengambil tindakan.
"Udah selesai?" Tanya Shafia langsung pada intinya, membuat Abrisam menyengir menahan malu karena ketahuan berbohong.
"Ngga seruh aahh." Adunya langsung berhambur ke pelukan Shafia yang tertawa
"Kan aku nanya, By." Jawab jujur Shafia sembari mengusap lembut kepala suaminya
"Udah." Sahutnya singkat membuat sang istri gemas sampai menggigit telinganya sedikit kuat
"Aww, sayang." Abrisam sedikit berteriak merasakan sakit di bagian telinganya
Shafia yang bangkit dari tidur mulai berjalan pelan naik ke atas tangga menuju kamar, Abrisam ikut mengekor di belakang gadis itu dengan salah satu tangannya memegang ujung baju Shafia.
"Kita itu datang kemari untuk bersantai bukan kerja." Sarkas Shafia tidak suka bila waktu istirahat pun harus sibuk mengurus masalah
"Maaf Sha, janji ngga akan bohong lagi." Ampun Abrisam merasa bersalah sudah berani membohongi istrinya
Shafia memilih diam sampai mereka tiba di depan pintu kamar, dia melangkah masuk ke dalam kamar tanpa mengatakan apapun.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃
Tinggalkan Like & Komennya.