Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 30 ~ Menghabiskan Waktu Berdua


__ADS_3

Otak Shafia ternodai karena membaca beberapa paragraf yang isinya sebuah kalimat vulgar antara pasangan suami istri, hal itu tentu saja langsung di sambungkan Shafia dengan sikap Abrisam yang tiba-tiba saja ingin menginap di hotel.


"Apa jangan-jangan yang Abrisam katakan akan menginap selama dua hari di sini adalah--"


Ucapannya langsung terhenti, keringat dingin membasahi dahi dan kedua telapak tangan Shafia.


Gadis itu baru ingat jika sekarang dia sudah menikah dan tentu saja hal yang di maksudkan pria itu adalah sesuatu yang belum pernah mereka lakukan selama hampir satu bulan pernikahan.


"Apa Abrisam akan meminta haknya sekarang, tapi 'kan aku mana tahu hal begituan." Gumam Shafia begitu pelan


Gadis itu melamun membayangkan apa yang akan di lakukan suaminya


"Hii, serem ih. Apa aku kabur ajah ya."


Shafia berjalan pelan menuju pintu sambil sesekali melihat kearah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat, berharap Abrisam belum keluar sebelum dia kabur.


Klek.


Sekuat tenaga Shafia membuka pintu namun hasilnya nihil, pintu itu terkunci otomatis dan hanya dengan sidik jari Abrisam barulah akan terbuka.


Tidak henti-hentinya Shafia mengumpat kesal, kenapa juga harus ada hari di mana dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Gadis itu mondar-mandir di depan pintu kamar sambil sesekali menghela napas berat, tidak ada yang tahu sudah sepanik apa dia sekarang.


Ayah, Ibu. Tolonglah anakmu ini, jangan biarkan pria itu sampai meminta apa yang belum siap aku berikan.


Teriak Shafia dalam hati sambil menyebut Ayah dan Ibunya.


Tanpa gadis itu sadari sejak beberapa menit yang lalu gelagatnya sedang di perhatikan seseorang yang sudah keluar dari kamar mandi lengkap dengan pakaiannya.


"Apa yang kamu lakukan di depan pintu kamar, Sha?"


DEG


Shafia mematung di tempat membelakangi Abrisam yang masih memperhatikannya dari tempat tidur.


Pria itu antara ingin tertawa dan gemas melihat Shafia yang mungkin kedua pipinya sudah memerah menahan malu dan gugup.

__ADS_1


"Kamu tidak pergi mandi, sayang?" Tanya Abrisam tanpa dosa


"Aku mau mandi di rumah saja, sebaiknya kita kembali." Jawab Shafia enggan berbalik menghadap sang suami


Hal itu tentu tidak di sia-siakan Abrisam yang sudah melangkah pelan menuju posisi di mana Shafia berada.


GREEB


Tangannya langsung memeluk erat Shafia dari arah belakang, bahkan kepala Abrisam kini sudah berada tepat di bahu sebelah kanan sang istri.


"Kamu kenapa, hmm?" Tanyanya lembut


"Ngga kenapa-napa Bri, cuma pengen pulang ajah ke rumah." Jawab Shafia berharap keinginannya di turuti


Helaan napas sangat jelas terdengar keluar dari mulut pria itu.


"Kita udah jauh-jauh datang kesini, kamu malah ingin pulang ke rumah?" Sahutnya merasa tidak setuju dengan ucapan yang di lontarkan gadis itu


Abrisam sedikit kesal mendengar jawaban sang istri yang rupanya lebih memilih untuk pulang ke rumah mereka, di bandingkan menginap di hotel yang sudah susah payah ia siapkan hanya demi bisa meluangkan waktu lebih banyak dengan Shafia.


Abrisam langsung melepas pelukannya pada Shafia dan memilih duduk di sofa panjang dekat tempat tidur, rasa kecewa bercampur kesal mulai ia rasakan.


Dengan hati-hati gadis itu mulai bicara, berharap suaminya tidak marah.


"Maaf Bri, aku bukannya ngga suka kita nginap di sini. Aku cuma--, cuma ..." ucap Shafia bingung harus bilang apa, karena di otaknya kini penuh dengan hal-hal yang entahlah hanya gadis itu yang tahu.


"Cuma apa?" Tanya Abrisam dengan nada menahan kesal namun tetap berusaha untuk bersikap tenang


Dengan perasaan ragu Shafia menjawab pertanyaan sang suami, atau lebih tepatnya bukan sebuah jawaban.


Sebelum bicara gadis itu beberapa kali membuang napas pelan demi menormalkan detak jantungnya yang tidak beraturan.


"Kamu--, kamu--, kamu mau itu?" Jawab Shafia yang balik bertanya, entah datang dari mana keberaniannya yang begitu spontan mengeluarkan kalimat yang mungkin bisa saja salah.


Abrisam mengnyeritkan dahi tidak mengerti akan apa yang di tanyakan sang istri, namun selang beberapa detik ia baru paham akan arah pikiran Shafia.


Hampir saja pria itu kelepasan jika tidak cepat ia tahan.

__ADS_1


"Mau apa Shafia, sayang. Astaga, gini amat punya istri yang masih kecil dan terlalu polos." Gemasnya yang langsung mencubit pelan kedua pipi sang istri di susul dengan ciuman yang bertubi-tubi tetapi perlakuannya membuat sang empu protes


"Iihh, jangan becanda Bri. Aku 'kan nanya kalau kamu--, kamu--, itu kamu ..." Sahut Shafia yang lagi-lagi kalimatnya seakan sulit untuk di ucapkan


Pletak


Mata Shafia membulat sempurna, gadis itu tidak terima dahinya selalu jadi sasaran tangan Abrisam.


"Kamu mikirin apa sih sebenarnya, aku itu ngajak kamu ke sini bukan untuk hal yang sudah pasti itu wajib dan harus di lakukan oleh pasangan suami istri, walaupun aku ingin tapi ngga mungkin juga maksa kamu." Jelas Abrisam yang mungkin maksudnya sudah di salah artikan oleh Shafia


"Aku itu ngajak kamu kesini biar kita bisa mengahbiskan waktu berdua lebih banyak, tanpa harus ada gangguan dari siapa pun. Memangnya kamu pikir kedatangan kita kesini buat bulan madu gitu?" Sambungnya bertanya yang jawabannya langsung di iyakan Shafia pertanda benar


Pria itu tertawa terbahak-bahak membuat Shafia yang sejak tadi masih setia duduk di sampingnya di buat heran.


"Kok ketawa sih, emang aku salah jawab?" Ketus Shafia tidak terima jawabannya malah membuat suaminya tertawa


Pria itu tidak tahu betapa malunya Shafia ketika harus mengutarakan apa yang terlintas di otaknya.


Abrisam yang tahu kalau gadis itu sudah merajuk langsung berhenti tertawa, ia raih tubuh sang istri agar bisa masuk ke dalam pelukannya.


"Kamu ngga salah sayang, aku cuma merasa lucu ajah dengan tingkah kamu yang begitu polos. Maaf kalau aku ngga kasih tahu jelas kedatangan kita kesini buat apa." Ucapnya semakin mengeratkan pelukan pada Shafia


Meski jauh di dasar hati pria itu ingin meminta haknya pada sang istri begitu besar. Tetapi sesuatu yang terlalu terburu-buru belum tentu akan baik untuk hubungan mereka berdua.


"Kalau kamu belum siap ngga apa-apa, aku ngga akan maksa. Lagi pula kita masih punya banyak waktu untuk saling mengenal lebih dekat dan berharap apa yang kamu lakukan semua berasal dari hati dan keyakinan dirimu." Sambung Abrisam sedikit menjeda ucapannya kemudian di lanjutkan kembali.


"Jangan meberikannya padaku jika itu hanya sekedar kewajiban, aku bukan seorang pria yang hanya berstatuskan suamimu. Tapi aku Imam mu, saudaramu, keluargamu, temanmu, sahabatmu, kakakmu dan Ayah sekaligus Ibu buatmu. Aku adalah perantara antara dirimu dengan sang kuasa, aku bisa menjadi surgamu dan menjauhkan dari neraka, akan tetap menjaga da melindungimu semampu ku, sampai batas waktu yang di tetapkan."


Abrisam berbicara panjang lebar berharap apa yang ia katakan dapat di pahami oleh Shafia, ia tidak akan bersikap egois hanya untuk mendapatkan hati Shafia, pria itu akan terus berusaha walau mungkin belum ada cinta yang gadis itu berikan untuknya.


Biarlah semua berjalan dengan semestinya tanpa harus ada paksaan.


"Jangan pernah bosan untuk selalu menyayangi dan mencintaiku"


"Meski terkadang aku lupa kalau kita sudah berada dalam sebuah hubungan ikatan pernikahan.


🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Jangan lupa tetap memberikan like & komennya ya..😇🤗


Ingat dukungan kalian merupakan dorongan kuat buat Author.😉


__ADS_2