
Pagi telah tiba.
Matahari mulai menampakkan wajahnya. Cahayanya yang masuk ke sela-sela jendela kamar langsung menyinari wajah damai Shafia yang masih terlelap.
Perlahan matanya terbuka, rupanya gadis itu terganggu akan sinar matahari yang tepat mengenai mata.
"Sudah pagi rupanya."
Shafia bangun duduk bersandar di kepala ranjang.
"Masih jam 06. Aku harus siap-siap."
Ceklek
Baru saja Shafia ingin masuk kamar mandi malah tidak jadi.
Gadis itu diam berdiri bak patung saat melihat seseorang yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Siapa lagi kalau bukan Abrisam. Keluar hanya dengan memakai handuk yang melilit sebatas pinggang, rambut berantakan dan basah, bahkan masih terlihat tetesan-tetesan air dari rambut jatuh ke tubuh polos bagian atas pria itu.
Shafia yang diam tidak bergerak menatap lurus ke arah Abrisam dengan matanya yang tidak berkedip sama sekali.
"Menarik." Gumam Abrisam menyeringai tipis
Ia melangkah pelan menuju Shafia. Istrinya itu tidak menyadari akan apa yang ingin dilakukannya.
Hal yang kedua kalinya di lihat oleh Shafia. Kali ini matanya kembali ternoda, kenapa juga pria itu keluar dari kamar mandi tanpa memakai baju lebih dulu.
"Apa kau menyukainya istriku sayang?" Bisik Abrisam tepat di telinga Shafia
Bahkan ia dengan beraninya menggigit kecil daun telinga gadis itu.
"Mmhh--"
Shafia mengeluarkan suara yang tidak sepantasnya itu dia lakukan.
Secepat kilat gadis itu mundur ke belakang menjauhi Abrisam. Namun sangat di sayangkan bukannya terlepas, dia justru menarik lengan suaminya hingga membuat keduanya terjatuh ke atas ranjang.
Tanpa sadar tubuh Abrisam menindih Shafia yang masih tercengang akibat kejadian barusan.
"Sayang. Ini masih pagi loh. Apa kau ingin kita melakukannya sekarang?" Bisik Abrisam menggoda
Kedua bola mata Shafia membulat sempurna. Dia yang mulai sadar berusaha untuk mendorong tubuh Abrisam sekuat tenaga, namun sepertinya tidak bisa sebab pria itu terlalu kuat.
"Kau cepat menyingkir!" Geramnya menatap tajam suaminya tersebut
Abrisam menulikan pendengarangannya.
"Apa kau ingin aku melakukan sesuatu?" Sahutnya masih tetap tidak menyingkir.
__ADS_1
Bukannya bangkit dari atas tubuh Shafia melainkan kini kepala Abrsiam berada di ceruk leher istrinya.
Aroma yang sangat wangi menyeruak masuk ke hidung Abrisam. Sepertinya ia mulai kehilangan kendali.
"KAU--," Sentak Shafia berusaha mendorong suaminya.
Ada sesuatu yang aneh mulai gadis itu rasakan.
"Suamiku. Jika kau tidak menyingkir secepatnya jangan salahkan aku berlaku kasar." Ancam Shafia tidak main-main
"Sstt. Jangan terlalu galak jadi Istri. Dosa loh nolak suami yang meminta sesuatu pada istrinya." Elak Abrisam masih tetap pada posisi semula
Shafia di buat kalang kabut, jantungnya berdetak kencang tidak karuan. Keringat dingin sudah membasahi dahinya, membuat Abrisam yang melihatnya pun sontak tertawa.
"Pufft, apa ini sayang?" Tanya pria itu seraya mengelap keringat di dahi Shafia.
"AC-nya sangat dingin loh, kenapa kau malah berkeringat." Tanyanya lagi tanpa peduli saat ini sudah semerah apa pipi istrinya
Gadis itu antara marah dan malu, hal yang baru pertama kali di alaminya semasa hidup.
"Kau cepat minggir! Aku ngga bisa nafas." Kesal Shafia memukul bahkan menyubit bagian tubuh pria itu
"Aww,, sakit Sha." Jerit Abrisam menatap kesal padanya
"Jadi cewek itu bisa kalem dikit bisa ngga sih?" Omelnya segera bangkit dari atas tubuh istrinya
"Lagian kenapa juga kamu main nyosor segala?" Bela Shafia tidak mau kalah.
Abrisam yang mendengar ucapan Shafia melengos keluar kamar setelah ia selesai berganti baju Kantor, tanpa mengucap sepata katapun.
BRAK
Suara pintu yang di tutup kasar membuktikan jika kemungkinan Abrisam sedang kesal.
"Astagfirullah. Apa tadi? Nggabmungkin hanya karena itu sampai membuatnya marah kan?" Kaget Shafia mengusap pelan dadanya
Gadis itu memilih masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri.
Shafia harus segera turun mengingat pagi ini juga ada keperluan.
Lima belas menit kemudian. Shafia turun ke lantai bawah langsyng menuju meja makan. Di sana sudah ada Abrisam, Papa, Mama dan seorang gadis yang Shafia tidal kenal.
"Pagi semuanya." Sapanya sewaktu tibah di meja makan
"Pagi juga sayang." Balas Papa dan Mama namun tidak dengan Abrisam
"Pagi, kakak cantik." Sambung seorang gadis yang duduk berdampingan dengan Mama Ririn
"Duduk sayang, Mama sudah minta bibi membuatkan makanan kesukaan kamu." Titah Ririn pada menantunya itu
__ADS_1
Shafia hanya mengangguk kemudian ikut duduk tepat di samping Abrisam.
Sangat jelas raut wajah masam pria itu, ada rasa bersalah di hati Shafia kala tidak sengaja menyakiti perasaan suaminya.
Sarapan sudah siap, tanpa menunggu lama semua anggota keluarga mulai sarapan dengan tenang. Tidak ada obrolan yang menemani, hanya bunyi sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring.
Usai sarapan. Masing-masing bersiap melakukan aktifitas seperti biasa.
Adnan menuju Kantor di temani Ririn yang memang biasanya sering kali ikut jika bosan di rumah, sementara Abrisam pun juga sama. Pria itu akan berangkat kerja, lain hal dengan gadis manis yang baru di lihat Shafia.
Gadis yang biasa di panggil dengan sebutan Ariana itu sejak selesai sarapan tidak pernah sekalipun lepas dari Shafia. Dia selalu mengikuti kemana langkah kaki Shafia. Mulai dari dapur, ruang tamu bahkan sampai di depan teras rumah selalu menempel.
Entah apa yang Ariana rasakan.
"Mama sama Papa berangkat ya sayang." Ririn berpamitan pada Shafia
"Iya Mah, Pah. Hati-hati di jalan." Sahut Shafia lalu mencium takzim punggung tangan kedua mertuanya
"Kenapa ngga berangkat bareng kami saja? Kan, Kantor Papa sama tempat kerja kamu searah." Tanya Adnan pada menantunya tersebut
"Ngga usah, Pah. Lagian juga nanti Shafia ada yang jemput," tolaknya halus.
"Ya sudah kalau begitu. Papa dan Mama pergi dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Usai kepergian kedua mertuanya. Shafia mulai di landa keresahan.
Sejak tadi dia fokus menatap Abrisam yang masih berada di ruang tamu. Langkah kakinya berhenti tepat di depan pria itu dan beruntungnya Ariana sudah kembali ke kamar.
Shafia merasa tidak nyaman ketika gadis itu selalu saja mengikuti kemana pun langkahnya.
"Belum berangkat kerja juga?" Tanyanya mencairkan suasana.
"Hmm."
Shafia hanya bisa menghela napas pelan, jika sudah begini pasti pria itu malas untuk ke Kantor.
CUP
Sebuah kecupan mendarat di pipi kanan Abrisam.
Sontak pria itu menoleh ke arah Shafia yang duduk manis di sampingnya.
"Jangan marah lagi ya. Maaf jika perkataan ku telah menyakiti mu." Rayu Shafia mengusap lembut pipi bayi besarnya tersebut
"Kau selalu saja begitu, setiap kali kita bertemu tetap saja bersikap kasar padaku." Ketus Abrisam berkata jujur
Shafia sadar memang setiap kali mereka bersama, selalu saja ada pertengkaran yang terjadi.
__ADS_1
Sikap keras kepala dan cuek yang Shafia miliki tentu terkadang membuat siapa saja yang dekat dengannya akan sedikit tidak nyaman. Hal itu juga sering di rasakan Abrisam.
🍃🍃🍃🍃🍃